MAHASISWA BERSUARA: Setara di Layar, Timpang di Kehidupan Nyata: Kesetaraan Gender dan Generasi yang Terlalu Cepat Merasa Selesai
Kesetaraan tampil sebagai simbol modernitas, bukan sebagai praktik sosial yang sungguh sungguh dihidupi.

Ariel Reza Adrian
Mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung
8 Maret 2026
BandungBergerak – Bagi banyak orang muda hari ini, kesetaraan gender kerap terasa seperti isu yang sudah selesai dibicarakan. Media sosial dipenuhi narasi pemberdayaan, kampus mengusung jargon inklusivitas, dan regulasi negara tampak progresif di atas kertas. Juga di ruang digital yang serba cepat, muncul kesan bahwa persoalan ketimpangan gender hanyalah gema masa lalu. Namun, ketika layar dimatikan dan kehidupan nyata kembali dihadapi, realitas berbicara sebaliknya. Gender masih menentukan siapa yang bekerja lebih lama, siapa yang dibayar lebih rendah, dan siapa yang paling rentan disalahkan.
Generasi muda hidup dalam paradoks. Di satu sisi, mereka tumbuh dalam ekosistem yang relatif lebih terbuka terhadap isu kesetaraan. Di sisi lain, mereka tetap mewarisi struktur sosial yang dibentuk oleh relasi kuasa lama. Paradoks ini menciptakan ilusi kemajuan: seolah-olah perubahan telah tercapai, padahal yang berubah sering kali hanya cara membicarakannya. Kesetaraan tampil sebagai simbol modernitas, bukan sebagai praktik sosial yang sungguh sungguh dihidupi.
Domestik, Kerja, dan Politik
Indonesia sesungguhnya memiliki fondasi hukum yang relatif kuat dalam menjamin persamaan hak warga negara. Konstitusi menegaskan prinsip persamaan di hadapan hukum, dan negara telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW). Secara normatif, tidak ada alasan bagi negara untuk mentoleransi diskriminasi berbasis gender. Namun, keberadaan norma hukum tidak serta-merta mengubah relasi sosial yang telah lama berakar. Hukum bekerja di dalam masyarakat, bukan di atasnya.
Di sinilah persoalan utama muncul. Banyak kebijakan kesetaraan berhenti pada tataran administratif, tanpa menyentuh struktur budaya dan ekonomi yang menopang ketimpangan. Kesetaraan dipahami sebagai kesamaan formal, bukan keadilan substantif. Akibatnya, perempuan secara hukum diakui setara, tetapi secara sosial tetap menghadapi hambatan berlapis. Jurang antara apa yang dijanjikan negara dan apa yang dialami warga menjadi semakin kasat mata.
Ketimpangan paling dekat dengan kehidupan sehari-hari hadir dalam bentuk beban ganda yang dialami perempuan. Perempuan muda hari ini didorong untuk berpendidikan tinggi dan mandiri secara ekonomi, tetapi tetap dibebani ekspektasi domestik yang nyaris tidak berubah. Kerja perawatan mengasuh anak, merawat lansia, dan mengelola rumah tangga masih diposisikan sebagai kewajiban moral, bukan kontribusi sosial. Akibatnya, kerja ini nyaris tak terlihat dalam perhitungan ekonomi.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perempuan Indonesia menghabiskan waktu jauh lebih besar untuk kerja domestik tak berbayar dibandingkan laki-laki. Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan pembagian tugas rumah tangga, melainkan refleksi dari sistem nilai yang menempatkan kerja perempuan sebagai sesuatu yang bisa diandalkan tanpa kompensasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini membatasi ruang perempuan untuk berkembang di ranah publik dan memperkuat ketergantungan ekonomi.
Di dunia kerja, ketimpangan gender tampil dalam bentuk yang lebih halus namun sistemik. Kesenjangan upah, keterbatasan promosi, dan diskriminasi berbasis status reproduktif masih menjadi realitas yang dihadapi banyak perempuan. Retorika meritokrasi sering digunakan untuk membenarkan kondisi ini, seolah-olah pasar kerja sepenuhnya netral. Padahal, merit tidak pernah dinilai dalam ruang hampa.
Perempuan usia produktif kerap dipersepsikan sebagai tenaga kerja berisiko karena kemungkinan hamil atau mengambil cuti melahirkan. Persepsi ini memperlihatkan kegagalan sistem kerja dalam mengakomodasi realitas biologis manusia secara adil. Alih-alih menyesuaikan sistem, perempuanlah yang diminta menyesuaikan diri. Logika ini bukan hanya tidak adil, tetapi juga tidak efisien dalam konteks pembangunan ekonomi jangka panjang.
Ruang politik memperlihatkan pola ketimpangan yang serupa. Kebijakan afirmasi kuota perempuan dalam pencalonan legislatif sering dipahami sebagai solusi akhir. Namun, kehadiran perempuan dalam angka tidak selalu berbanding lurus dengan pengaruh dalam pengambilan keputusan. Banyak politisi perempuan harus bernegosiasi dengan kultur politik yang maskulin, hierarkis, dan sarat kepentingan.
Argumen bahwa politik seharusnya berbasis kapasitas, bukan gender, kerap digunakan untuk menolak kebijakan afirmatif. Argumen ini tampak rasional di permukaan, tetapi mengabaikan fakta bahwa akses terhadap kapasitas itu sendiri tidak pernah setara sejak awal. Ketika arena politik dibangun di atas fondasi yang timpang, tuntutan meritokrasi justru berfungsi melanggengkan ketimpangan.
Ketimpangan gender mencapai bentuk paling ekstrem dalam kekerasan berbasis gender. Laporan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan secara konsisten mencatat tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Kekerasan ini terjadi di berbagai ruang, mulai dari rumah tangga hingga ruang publik, dari dunia nyata hingga ruang digital.
Persoalan kekerasan sering direduksi menjadi masalah individu atau moralitas personal. Pendekatan ini menutup kemungkinan untuk melihat akar strukturalnya. Budaya menyalahkan korban, lemahnya perlindungan hukum, dan relasi kuasa yang timpang menciptakan ekosistem yang permisif terhadap kekerasan. Tanpa perubahan paradigma, penanganan kekerasan akan terus bersifat reaktif dan temporer.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Perempuan Indonesia di Persimpangan: Ketika Hukum Progresif Gagal Menaklukkan Patriarki Ekonomi
MAHASISWA BERSUARA: Berteriak dalam Senyap, Menggugat Normalisasi Pembunuhan Perempuan
Keputusan Sehari-hari
Media dan budaya populer memainkan peran penting dalam membentuk kesadaran kolektif tentang gender. Di satu sisi, media sosial membuka ruang bagi narasi alternatif dan solidaritas lintas gender. Di sisi lain, stereotip lama tetap direproduksi dalam bentuk yang lebih halus. Perempuan sering dipresentasikan sebagai simbol keberhasilan jika mampu menjalani peran ganda tanpa bantuan, sementara laki-laki jarang diminta merefleksikan privilese yang mereka miliki.
Representasi semacam ini membentuk standar sosial yang tidak realistis dan timpang. Generasi muda tumbuh dengan ekspektasi bahwa ketimpangan adalah sesuatu yang wajar, bahkan patut dirayakan sebagai bentuk ketangguhan. Tanpa disadari, media turut mereproduksi nilai-nilai patriarki dalam kemasan yang tampak modern dan progresif.
Memahami kesetaraan gender sebagai isu emosional semata justru merugikan perjuangan itu sendiri. Kesetaraan gender adalah agenda rasional yang berkaitan langsung dengan kualitas demokrasi, produktivitas ekonomi, dan kesehatan sosial. Laporan Global Gender Gap dari World Economic Forum menunjukkan bahwa negara dengan kesenjangan gender rendah cenderung memiliki tingkat pembangunan manusia yang lebih berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia, mengabaikan isu kesetaraan gender berarti menyia-nyiakan potensi setengah populasi. Pembangunan yang timpang tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga menghambat kemajuan kolektif. Kesetaraan bukanlah tuntutan idealistik, melainkan prasyarat rasional bagi masyarakat yang ingin berkembang secara adil dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, generasi muda berada di persimpangan yang menentukan arah masa depan sosial Indonesia. Kesetaraan gender dapat berhenti sebagai simbol progresivitas yang nyaman dipajang di ruang digital, atau menjadi kerja intelektual dan etis yang dijalankan secara konsisten dalam kehidupan nyata. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan besar atau slogan heroik, melainkan dalam keputusan sehari-hari yang tampak sepele: siapa yang diberi ruang bicara, siapa yang dibebani ekspektasi berlebih, dan siapa yang dianggap wajar untuk dikorbankan. Dari pilihan-pilihan kecil itulah, arah perubahan sosial perlahan dibentuk atau kembali ditunda.
***
*Esai ini termasuk dalam 28 esai terpilih Sayembara Menulis Esai Kritis Mahasiswa Bersuara 2025
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

