• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Transisi Teknologi dan Prekariat Kerja Proyeksionis Bioskop Garut

MAHASISWA BERSUARA: Transisi Teknologi dan Prekariat Kerja Proyeksionis Bioskop Garut

Kelompok prekariat ekonomi bermunculan saat pekerja terampil jatuh ke dalam sektor informal yang penuh dengan ketidakpastian hukum

Akmal Fauzan

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad)

Dani Mulyana sedang menyeduh kopi untuk pelanggannya di area Pengkolan, Garut. (Foto: Akmal Fauzan)

1 Mei 2026


BandungBergerak – Pertemuan pertama saya dengan Dani Mulyana terjadi pada tahun 2021 di sebuah kedai sederhana bernama Cinema Coffee. Lokasinya berada di Jalan Ahmad Yani dan terletak tepat di samping gedung SMPN 4 Garut. Daya tarik kedai itu sebenarnya bukan berada pada menu kopi yang disajikan melainkan pada sosok pemiliknya yang merupakan seorang mantan proyeksionis, pekerja yang  mengoperasikan proyektor, pada bioskop analog. Dani telah melewati berbagai era industri film yang sangat dinamis mulai dari masa keemasan seluloid hingga keruntuhannya akibat gelombang digitalisasi yang tidak terelakkan. Interaksi kami sempat terputus cukup lama karena kesibukan akademik hingga akhirnya saya kembali menemui beliau pada pertengahan tahun 2023 di area Pengkolan Garut.

Dalam obrolan panjang tersebut, Dani mengungkapkan bahwa keterlibatannya dengan dunia bioskop berakar kuat dari tradisi keluarga. Ayah dan kakeknya adalah pekerja teknis di Bioskop Cikuray Theater Garut yang merupakan sebuah institusi hiburan sangat aktif pada masanya. Pada dekade 1990an bioskop berdiri sebagai satu satunya pusat hiburan utama bagi masyarakat urban di wilayah Garut mengingat televisi masih menjadi barang mewah dengan pilihan saluran yang sangat terbatas dari pemerintah. Dani mengenang bahwa film film saat itu memiliki nilai eksklusivitas yang sangat tinggi karena tidak ada akses instan seperti era layanan streaming sekarang ini. Setiap kemunculan judul film baru selalu dinantikan dengan antusiasme yang masif oleh warga setempat.

Karier profesional Dani dimulai dari tingkat paling dasar sekitar tahun 1991. Ia mengawali pekerjaannya dengan membantu sang kakek berjualan sebagai pedagang asong di dalam gedung Bioskop Sumber Sari Garut. Selama kurang lebih dua tahun ia menjajakan berbagai makanan ringan serta minuman kepada para penonton sambil terus mengamati bagaimana arus orang dan mekanisme operasional gedung setiap harinya. Setelah dianggap cukup memahami situasi lapangan ia kemudian bergabung dalam tim publikasi luar gedung yang saat itu sangat populer dengan istilah wawar. Tugas utamanya adalah berkeliling wilayah perkotaan Garut menggunakan mobil atau motor yang dilengkapi pengeras suara corong untuk mengumumkan judul film serta jam tayang. Metode promosi keliling ini merupakan instrumen pemasaran paling efektif dan sangat diandalkan sebelum fajar era pemasaran digital mulai menyingsing di Indonesia.

Tepat pada tahun 1995 Dani resmi ditarik untuk mulai bekerja di Bioskop Cikuray Theater. Di tempat kerja yang baru ini ia tidak langsung dipercaya untuk memegang mesin proyektor berukuran besar karena harus melewati berbagai peran fisik terlebih dahulu. Dani pernah menjalani profesi sebagai tukang sapu ruangan tim publikasi lapangan hingga menjadi penjaga pintu masuk atau portir yang bertugas memeriksa karcis para penonton. Kesempatan emas akhirnya datang saat ia mulai belajar mengenai mesin proyektor secara langsung dari kakeknya yang merupakan seorang proyeksionis senior di sana. Dani sering memanfaatkan setiap waktu luang yang ada untuk melakukan praktik teknis pada mesin proyektor raksasa tersebut demi memahami cara kerja mekanisnya secara utuh. Ia mempelajari detail sekrup cara kerja gir hingga sensitivitas komponen teknis terhadap panas lampu proyektor agar tidak merusak rol film yang sedang diputar. Ketekunannya membuahkan hasil hingga ia memiliki keberanian serta keterampilan mumpuni untuk mengoperasikan mesin secara mandiri pada tahun 1997. Namun ironisnya industri bioskop di wilayah Garut justru mulai menghadapi tantangan mematikan tepat saat ia baru saja menguasai keahlian teknis tersebut secara penuh.

Berdasarkan ingatan Dani, Bioskop Sumber Sari terpaksa berhenti beroperasi secara permanen pada akhir tahun 1999 karena penurunan jumlah penonton secara drastis. Tidak lama berselang Bioskop Cikuray tempatnya bekerja juga menyusul untuk tutup pada awal tahun 2000. Meskipun sempat muncul format bioskop baru bernama Intan Sineplek dengan kapasitas studio yang lebih kecil, Dani hanya mampu bertahan di sana hingga tahun 2002. Manajemen perusahaan yang tidak stabil akhirnya memaksa Dani berhenti dan ia pun mengalami masa pengangguran yang cukup panjang hingga tahun 2005. Untuk menyambung hidup ia melakukan berbagai pekerjaan serabutan mulai dari buruh angkut hingga berdagang barang kecil di pasar lokal. Keputusannya untuk merantau ke Jakarta membawa Dani bekerja di Pasar Induk Kramat Jati sebagai pedagang jeruk sebelum akhirnya ia bisa kembali ke dunia film sebagai proyeksionis di Mulia Agung Theater yang berlokasi di kawasan Senen Jakarta Pusat.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Mengurai Perubahan Iklim dalam Perspektif Sistem Produksi dan Kesadaran Ekologis
MAHASISWA BERSUARA: Di Dapur yang Semakin Sepi, Ada Kebijakan yang Perlu Dipertanyakan lagi
MAHASISWA BERSUARA: Dari Ketahanan Menuju Kedaulatan, Melihat Nasib Petani Hanjeli Jawa Barat Melalui Ekonomi Sirkular

Transisi Teknologi yang Menyakitkan

Masa tugas Dani di Jakarta menjadi saksi bisu atas transisi teknologi yang sangat menyakitkan bagi ekosistem bioskop independen di perkotaan. Sekitar tahun 2012 industri perfilman dunia termasuk Indonesia mulai beralih sepenuhnya dari format analog ke format digital yang dinilai jauh lebih efisien secara distribusi. Bioskop tempat Dani bekerja berupaya keras untuk bertahan dengan proyektor analog meskipun pasokan rol film dari distributor resmi semakin menipis setiap bulannya. Pada akhirnya Grand Theater dan Mulia Agung terpaksa menutup operasional mereka secara total pada akhir tahun 2015. Kondisi gedung Grand Theater berakhir sangat tragis pada tahun 2020 ketika bangunan bersejarah tersebut hangus terbakar dalam sebuah gelombang unjuk rasa besar yang terjadi di ibu kota. Kebakaran hebat itu menghancurkan sisa sisa mesin proyektor raksasa yang sebenarnya masih tersimpan di dalam ruangan.

Pada awal tahun 2025 saya menemui Dani kembali di pinggiran Jalan Ahmad Yani dalam kondisi yang tampak kian sulit karena tekanan ekonomi semakin berat. Gerobak Cinema Coffee miliknya sudah jarang bisa melapak secara normal akibat kebijakan penertiban Pedagang Kaki Lima yang semakin masif dilakukan di pusat kota Garut. Ia kini harus bertahan hidup dengan berjualan gorengan serta kopi instan kemasan di pinggir trotoar sambil terus melakukan aksi kucing-kucingan dengan petugas satuan polisi pamong praja. Terkadang ia juga terpaksa menerima pekerjaan sampingan sebagai badut ulang tahun untuk menutupi kebutuhan biaya hidup yang semakin mendesak setiap hari. Pernah ia berencananya untuk mengadakan sebuah kegiatan pameran film analog sebagai upaya merawat memori kolektif warga Garu, tapi ternyatat gagal total karena rumitnya birokrasi pemerintahan setempat.

Apa yang terjadi pada Dani Mulyana memberikan gambaran nyata mengenai ketiadaan jaminan kerja bagi tenaga terampil di sektor industri film ketika terjadi perubahan teknologi secara mendadak. Dani adalah seorang pekerja yang menghabiskan puluhan tahun untuk menguasai teknik pemutaran film analog yang menuntut presisi serta pengetahuan mekanik yang sangat mendalam. Namun ketika industri memutuskan untuk beralih sepenuhnya ke sistem digital keahlian yang telah diasahnya selama bertahun tahun tersebut seketika menjadi tidak bernilai lagi di pasar kerja formal. Masalah utamanya bukan sekadar terletak pada kemajuan teknologi itu sendiri melainkan pada bagaimana sistem industri film membiarkan para pekerjanya terombang-ambing tanpa adanya jaminan perlindungan. Tidak pernah ada program pelatihan ulang atau jaring pengaman sosial yang memadai saat profesi mereka dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan pasar modern.

Fenomena ini merupakan bentuk nyata dari munculnya kelompok prekariat ekonomi di mana pekerja terampil jatuh ke dalam sektor informal yang penuh dengan ketidakpastian hukum. Perkembangan bioskop di Indonesia saat terjadi transisi digital memang mengakibatkan penutupan massal bioskop kelas menengah ke bawah yang tidak memiliki modal besar untuk melakukan adaptasi. Hal ini berakibat langsung pada hilangnya ruang hiburan rakyat sekaligus memicu pemutusan hubungan kerja terhadap tenaga teknis secara masif tanpa adanya kompensasi yang layak.

Kondisi Dani yang kini harus berhadapan dengan petugas ketertiban di trotoar pun juga menunjukkan adanya kontradiksi besar dalam cara negara menghargai para pelaku sejarah hiburan. Di satu sisi pemerintah sering mendengungkan narasi pentingnya pelestarian budaya namun di sisi lain mereka justru memarginalkan orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dari sejarah masyarakat.

 

***

*Tulisan kolom PAYUNG HITAM merupakan bagian dari kolaborasi antara BandungBergerak dan Aksi Kamisan Bandung

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//