• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Di Dapur yang Semakin Sepi, Ada Kebijakan yang Perlu Dipertanyakan lagi

MAHASISWA BERSUARA: Di Dapur yang Semakin Sepi, Ada Kebijakan yang Perlu Dipertanyakan lagi

Persoalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar soal distribusi bantuan, tetapi juga soal arah kebijakannya.

Pingki Chandra Wardani

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Aktif dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan.

Ilustrasi - Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

28 April 2026


BandungBergerak – Beberapa waktu terakhir, percakapan di warung, pasar, hingga teras rumah warga memiliki nada yang sama: ada yang berubah di dapur. Bukan hanya soal harga yang naik, tetapi juga tentang bagaimana cara bertahan. Para ibu menjadi saksi paling jujur atas perubahan ini. Mereka yang setiap hari harus memastikan dapur tetap hidup, kini dihadapkan pada pilihan yang semakin sempit: mengurangi porsi, menurunkan kualitas bahan, atau memasak dengan apa yang tersedia, bukan yang dibutuhkan.

Kondisi ini tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan kenaikan harga. Ia lebih dalam dari itu. Ada perubahan dalam pola konsumsi dan tekanan dalam pengelolaan rumah tangga. Ketika bahan makanan tidak lagi mudah dijangkau, dampaknya bukan hanya pada jumlah, tetapi juga pada kualitas gizi, kestabilan pengeluaran, hingga beban psikologis. Dapur tidak lagi menjadi ruang yang tenang, melainkan ruang penuh pertimbangan.

Di sisi lain, jika dilihat dari perputaran ekonomi, ada dinamika yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Pasokan bahan makanan di tingkat pemasok cenderung tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Produksi berjalan seperti biasa, distribusi tidak melonjak drastis. Namun di saat yang sama, permintaan di pasar justru meningkat. Salah satu pemicunya adalah adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong daya beli masyarakat secara luas.

Sekilas, peningkatan permintaan ini terlihat sebagai tanda ekonomi yang bergerak. Namun jika tidak diimbangi dengan kesiapan pasokan, kondisi ini justru menciptakan tekanan baru. Pasar menjadi tidak seimbang. Barang yang tersedia tetap, tetapi yang membutuhkan semakin banyak. Dalam situasi seperti ini, bukan hanya harga yang terdampak, tetapi juga ketersediaan, kualitas, dan akses. Masyarakat tidak hanya berhadapan dengan mahalnya bahan makanan, tetapi juga dengan sulitnya mendapatkan bahan yang layak.

Di titik inilah kita melihat jurang antara das sollen dan das sein. Secara konsep, kebijakan seperti MBG seharusnya hadir untuk melindungi kelompok rentan, menjaga kestabilan konsumsi, dan memastikan distribusi bantuan berjalan adil. Itu adalah gambaran ideal–das sollen.

Namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda–das sein. Bantuan tidak sepenuhnya diarahkan kepada mereka yang paling membutuhkan. Ia justru tersebar secara luas, termasuk kepada kelompok yang secara ekonomi relatif mampu. Akibatnya, terjadi dorongan permintaan yang tidak terkontrol, tanpa diiringi penguatan pada sisi produksi atau distribusi.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Bukan Memberi Makan Siang Gratis, tapi Merombak Sistem Pendidikan
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Makan Bergizi Gratis Menggunakan Anggaran Pendidikan dan Kesehatan
MAHASISWA BERSUARA: Program Makan Bergizi Gratis, Keberlanjutan Fiskal, dan Ambisi Pembangunan

Masalah yang Meluas

Masalahnya menjadi berlapis. Di satu sisi, kelompok rentan tetap tidak mendapatkan perlindungan yang optimal. Di sisi lain, pasar menerima tekanan tambahan akibat lonjakan permintaan. Kebijakan yang seharusnya menjadi penyeimbang justru berpotensi menjadi pemicu ketidakseimbangan baru.

Ketimpangan pun semakin terasa, bukan hanya dalam akses terhadap bantuan, tetapi juga dalam kemampuan bertahan. Mereka yang memiliki cadangan ekonomi tentu lebih fleksibel menghadapi situasi ini. Sementara itu, masyarakat dengan kemampuan terbatas harus terus beradaptasi, bahkan berkompromi dengan kebutuhan dasar mereka sendiri.

Lebih jauh, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan yang kita hadapi bukan sekadar soal distribusi bantuan, tetapi juga soal arah kebijakan. Ketika intervensi dilakukan tanpa mempertimbangkan keseimbangan pasar, maka dampaknya tidak berhenti pada penerima bantuan, tetapi meluas ke seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai bagian dari masyarakat yang menyaksikan langsung kondisi ini, saya melihat bahwa kebijakan publik perlu lebih dari sekadar niat baik. Ia membutuhkan ketepatan, kepekaan, dan keberanian untuk mengevaluasi. Tidak cukup hanya memastikan bantuan tersalurkan, tetapi juga memastikan bahwa dampaknya tidak menimbulkan masalah baru.

Pada akhirnya, dapur adalah indikator paling jujur. Ia mencerminkan bukan hanya kondisi ekonomi, tetapi juga arah kebijakan. Ketika dapur mulai dipenuhi kompromi–bukan pilihan– maka di situlah kita perlu bertanya ulang: apakah kebijakan yang ada benar-benar menyelesaikan masalah, atau justru menciptakan persoalan baru yang lebih kompleks?

Karena kebijakan yang baik bukan hanya yang terasa hadir, tetapi yang benar-benar bekerja dengan tepat.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//