• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Dari Ketahanan Menuju Kedaulatan, Melihat Nasib Petani Hanjeli Jawa Barat Melalui Ekonomi Sirkular

MAHASISWA BERSUARA: Dari Ketahanan Menuju Kedaulatan, Melihat Nasib Petani Hanjeli Jawa Barat Melalui Ekonomi Sirkular

Negara kita masih belum mampu mengakomodasi dan mempromosikan pangan-pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

Yutaro Yoshikoshi

Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Warga Kecamatan Bandung Wetan antre untuk membeli beras dan bahan pangan murah di kolong jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Bandung, 19 Februari 2024. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

29 April 2026


BandungBergerak – Masalah utama kemanusiaan secara umum dewasa ini adalah krisis pangan. Bertambahnya populasi manusia setiap tahunnya membuat pemenuhan pangan menjadi salah satu kebutuhan utama. Solusi selama ini adalah fokus pada pemenuhan pangan. Sehingga paradigma ini hanya memperhatikan ketersediaan pangan tanpa memerdulikan asal bahkan bila itu impor. Paradigma ini menunjukkan berbagai macam kekurangan. Antara lain betapa tergerusnya para petani lokal.

Pemenuhan pangan yang bergantung pada impor dan produksi linear telah memicu berbagai bencana lingkungan dan menggerus kemampuan produksi  pangan lokal. Yang terutama terpengaruh adalah petani lokal, mereka tidak berdaya di hadapan kekuatan besar ekonomi dan politik global.  Maka, diperlukan perubahan paradigma dari ketahanan  pangan ke kedaulatan pangan. Ini dapat diwujudkan dengan mengandalkan sumber daya alam, tenaga kerja, dan berbagai pengetahuan lokal mengenai  pangan. Paradigma semacam ini adalah bagian dari paradigma lebih besar yang dinamakan ekonomi sirkular.

Di sini kondisi Jawa Barat menjadi relevan. Alih fungsi Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang terjadi di Jawa Barat pada rentang waktu 2019 sampai 2021 ada 49.585 hektar. Melansir dari data BPS sensus pertanian 2023 tahap II di Jawa Barat, rata-rata pendapatan usaha pertanian per orang adalah 32.35 juta rupiah per tahun. Data ini menunjukkan masih rendahnya tingkat kesejahteraan petani di Jawa Barat. Dengan demikian artikel ini menguraikan bagaimana kedaulatan pangan dapat dijalankan melalui prinsip dasar ekonomi sirkular.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Sisi Gelap Pembangunan Ekowisata di Taman Nasional Komodo
MAHASISWA BERSUARA: Sampah Bandung Mau Dibawa ke Mana?
MAHASISWA BERSUARA: Menilik Tengkes dalam Sempadan Kemiskinan

Tantangan Petani Hanjeli Jawa Barat

Hanjeli merupakan jenis serealia atau biji-bijian yang dapat menjadi alternatif pangan. Ia banyak ditemukan di berbagai lokasi di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa. Namun, di Indonesia membudidayakan tanaman Hanjeli sangat jarang, dan hanya beberapa daerah saja yang utama seperti Jawa Barat. Terdapat berbagai olahan dari tanaman ini, seperti bubur Hanjeli, dodol, tape, dll. Dari sekian banyaknya potensi yang terdapat di Hanjeli ini kita masih belum bisa memaksimalkannya, pun para petani Hanjeli masih memiliki beberapa tantangan dalam membudidayakan dan memasarkannya.

Dari jurnal yang diterbitkan oleh Warid dan kawan-kawan (2025), petani hanjeli masih belum bisa melakukan pertanian yang optimal sehingga mengakibatkan pada tingkat produktivitas panen. Panen yang dihasilkan hanjeli per tahun hanya 2-4 ton per hektar. Karenanya, para petani-petani dibantu oleh akademisi Unpad untuk melakukan perbaikan cara pertanian dengan memaksimalkan hasil panennya.

Selain itu, para petani juga mengeluhkan soal pemasaran hanjeli yang bernilai rendah padahal memiliki mutu yang sangat tinggi (Warid dan kawan-kawan, 2025). Produk hanjeli yang dikembangkan oleh negara Indonesia merupakan tanaman hanjeli yang berkualitas tinggi, dibandingkan produsen-produsen dari negara lain. Oleh karena itu, kedua hal tersebut menjadi suatu tantangan bagi petani.

Indonesia merupakan negara yang masih bergantung pada impor pangan dari luar negeri. Dilansir dari data BPS, Indonesia masih mengimpor beras, daging sapi, gula, kedelai dan bawang putih. Ironis jika makanan khas Indonesia yaitu tempe, masih menggunakan bahan dasar kedelai yang berasal dari Amerika. Namun, apa daya jika tidak melakukan impor, produksi lokal sendiri tidak dapat memenuhi skala nasional.

Masyarakat kita masih sangat bergantung pada beras sebagai makanan pokok. Padahal di Indonesia memiliki diversifikasi pangan yang sangat tinggi, hanya saja pemanfaatannya tidak pernah dimaksimalkan. Seperti yang terjadi pada tanaman hanjeli yang bisa diolah menjadi bubur pengganti beras atau menjadi tepung untuk dijadikan kue. Negara kita masih belum mampu mengakomodasi dan mempromosikan pangan-pangan lokal lainnya.

Jika kita benar-benar memanfaatkan pangan-pangan lokal dan mengurangi kebutuhan beras, mungkin saja bisa membantu mengurangi kebutuhan impor. Intensifikasi pertanian terhadap tanaman-tanaman lokal perlu ditingkatkan, agar dapat menjaga kualitas dan meningkatkan kapasitas produksi. Pemerintah harus mempromosikan pangan-pangan yang khas dari setiap daerah agar dapat digunakan sebagai pengganti jika terjadi krisis beras. Tanaman seperti sorgum, hanjeli, sagu, singkong merupakan salah satu alternatif yang bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Model Pertanian Sirkular

Satu tawaran solusi atas masalah krisis pangan adalah model penyediaan pangan sirkular (A.S. Karef, 2022). Inti dari model ini adalah bagaimana produksi pangan dapat ditingkatkan tapi juga dengan menjamin tidak timbulnya bencana lingkungan. Cara spesifiknya adalah dengan melakukan yang disebut biomimicry atau bisa diterjemahkan sebagai meniru alam. Maksudnya, alam telah selama beribu-ribu tahun meregenerasi dirinya dalam keterhubungan yang kompleks di mana setiap bagian dari lingkungan sebetulnya menunjang satu sama lain (A.S. Karef, 2022). Maka bila ingin mendapatkan hasil yang terbaik dari alam maka yang perlu dilakukan sebetulnya hanya mengikuti alur alamiah, bukan untuk merekayasa dengan berbagai macam teknik saintifik yang sebetulnya bertentangan dengan alam.

Di sini akan diterangkan 3 cara utama bagaimana model penyediaan pangan sirkular dapat dilakukan (A.S. Karef, 2022). Pertama, pertanian regeneratif. Model ini dapat dilakukan terutama dengan benih tanaman yang spesifik pada pangan lokal. Benih adalah hasil pengetahuan lokal yang telah diturunkan dari generasi ke generasi dalam masyarakat tertentu. Lebih lagi benih ini adalah benih dari tanaman yang memang semenjak awal semestinya tumbuh alami pada area tersebut, sehingga risiko terjadinya bencana lingkungan karena terjadinya penyimpangan menjadi lebih kecil. Karena itu juga, ekosistem sekitar di area tersebut tidak akan runtuh. Teknologi dan pengetahuan yang digunakan dalam model ini juga berasal dari kearifan lokal, di sini menekankan penting dan kuatnya indigenous knowledge. Peran budaya lokal bila demikian menjadi sangat penting.

Kedua, sistem polikultur atau tumpang sari. Pertanian monokultur (hanya satu jenis pangan ditanam di mana-mana) tidak lagi dapat dipertahankan karena terbukti membawakan dampak buruk. Sebagai pengganti sistem pertanian itu, ditawarkan sistem polikultur. Sistem polikultur lebih unggul karena terbukti lebih menunjang ekosistem yang sudah ada sebelumnya ketimbang merusak dan memaksakan jenis tanaman yang tidak cocok ke dalam ekosistem yang tersedia. Sistem polikultur atau tumpang sari lebih menyerupai bentuk ekosistem yang alamiah seadanya, maka juga metode ini disebut sebagai biomimicry. Sebuah metode yang meniru alam yang memang sudah ada. Dengan cara ini pangan yang ditanam tidak membuat bencana lingkungan, menggunakan kearifan lokal, dan tidak mengubah juga pola makan serta kerja masyarakat setempat. Dalam kasus Jawa Barat, dua cara di atas dapat dilakukan dengan fokus pada pangan khas Jawa Barat seperti hanjeli.

Ketiga, penerapan smart farming. Metode ini mengimplementasikan teknologi mutakhir ke dalam pertanian. Teknologi yang digunakan adalah seperti sensor tanah, sensor cuaca, agri drone sprayer.  Dengan memanfaatkan teknologi modern seperti ini setiap tahap dalam menanam dapat dilakukan dengan tingkat presisi yang tinggi hingga mengurangi kerugian. Maka secara total biaya produksi juga akan lebih hemat. Pemberian pupuk dan air juga akan dilakukan dengan terhitung sehingga biaya untuk keduanya akan seoptimal mungkin dengan kerugian sekecil mungkin. Di sini dapat muncul pertanyaan, bila model penyediaan pangan sirkular mementingkan kearifan lokal dan pengetahuan lokal, maka bukankan penggunaan teknologi modern justru menghilangkan kearifan tersebut? Jawabannya, di sini kearifan lokal lebih dilihat sebagai orientasi umum. Maksudnya, kearifan lokal memberi tahu jenis tanaman apa yang harus ditanam, apa yang biasa digunakan sebagai pupuk, kapan memanen, dan secara keseluruhan apa cara yang paling menjaga keseimbangan ekosistem. Teknologi pintar yang digunakan sebagai bagaimana mewujudkan orientasi tersebut seefektif mungkin. Kekhawatiran model semacam ini adalah apakah menanam pangan lokal membawakan untung yang menyaingi untuk saat menanam secara monokultur. Demi menyeimbangkan ketimpangan itu maka kerugian yang dapat muncul dari penanaman pangan lokal dicegah dengan smart farming ini. Teknologi akhirnya sebagai perpanjangan tangan para petani lokal,  algoritma pun hanya akan bekerja melalui data kebiasaan lokal.

Metode pertanian revolusi hijau yang menggunakan bahan kimia berlebih dan impor telah membawa bumi pada krisis ekologi yang dalam prosesnya mengesampingkan peran petani lokal. Dalam konteks Jawa Barat, melanjutkan model ini dapat mengakibatkan berbagai sisi buruk dimulai dari degradasi lahannya, para petani akan terus terjebak dalam ketergantungan, sampai pada hilangnya identitas sosial-budaya yang khas pada Jawa Barat.

Solusi yang dapat diterapkan untuk keluar dari krisis ini adalah mewujudkan kedaulatan pangan melalui model penyediaan pangan sirkular. Model ini sama sekali bukan model baru melainkan adalah model yang sebetulnya sudah dilakukan sejak dahulu di masyarakat adat. Model ini mengupayakan pemenuhan pangan di dalam negeri dengan bersandar pada kekuatan produksi swasembada. Model ini mengutamakan sumber daya alam, pengetahuan, dan tenaga kerja lokal.

Perubahan ini dapat dicapai dengan memadukan kearifan lokal dengan inovasi teknologi. Kearifan lokal seperti pengetahuan lokal, penggunaan benih lokal, sistem polikultur/tumpang sari, dan biomimicry adalah orientasi umum yang dituju. Cara orientasinya dapat ditempuh adalah melalui perpanjangan tangan para petani berupa teknologi. Teknologi bukan sebagai pengganti namun perpanjangan, ini dapat membantu presisi yang lebih tinggi, efisiensi (dalam arti mengurangi rugi dan pengeluaran).

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//