Prasasti Kawali dan Cermin Pemimpin Masa Kini
Prasasti Kawali tidak hanya bercerita tentang raja, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kerajaan ingin dikenang.

TH Hari Sucahyo
Pegiat pada Laboratorium Kajian Sosial Lingkungan (LKSL) “NODES”
6 Oktober 2026
BandungBergerak – Ada sesuatu yang menarik dari sebuah batu tua. Ia tidak bergerak, tidak berbicara, dan mungkin bagi sebagian orang hanya tampak seperti benda keras yang telah lama diletakkan di suatu tempat. Ketika di atas permukaannya terdapat guratan aksara, batu itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting. Ia menjadi suara dari masa yang sudah berlalu. Ia menjadi semacam surat yang dikirim manusia masa lalu kepada generasi yang bahkan belum mereka bayangkan akan lahir.
Di Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, suara semacam itu masih bisa kita temukan. Prasasti-prasasti di Situs Astana Gede Kawali mungkin tidak sepopuler Prasasti Batu Tulis di Bogor. Namanya juga tidak selalu muncul dalam percakapan sehari-hari ketika orang membicarakan sejarah Jawa Barat. Padahal, dari batu-batu sederhana itulah kita dapat melihat bagaimana masyarakat Sunda pada masa lalu memandang kekuasaan, ruang hidup, lingkungan, kesejahteraan, bahkan harapan tentang masa depan.
Justru di situlah daya tarik Prasasti Kawali: ia tidak hanya bercerita tentang raja, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kerajaan ingin dikenang. Salah satu yang paling menarik adalah Prasasti Kawali I. Prasasti ini menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno dan diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-14. Isinya antara lain menyebut Prabu Raja Wastu yang berkuasa di Kota Kawali, memperindah kedaton Surawisesa, serta membuat parit di sekeliling pusat pemerintahan.
Ada pula harapan agar penerusnya terus berbuat kebajikan sehingga kehidupan di dunia tetap berada dalam keadaan baik. Kalimat semacam itu mungkin terdengar sederhana jika dibaca dengan cara pandang sekarang. Tetapi justru karena kesederhanaannya, prasasti tersebut terasa dekat. Seorang penguasa tidak hanya ingin meninggalkan nama. Ia ingin meninggalkan pekerjaan yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Ia memperbaiki pusat pemerintahan, membangun atau membuat parit, dan menghubungkannya dengan kemakmuran desa-desa. Dengan kata lain, kekuasaan tidak semata-mata ditampilkan sebagai kebesaran seorang raja, tetapi juga melalui jejak pembangunan yang menyentuh kehidupan masyarakat. Di titik ini, dirasa Prasasti Kawali layak dibaca lebih dari sekadar peninggalan arkeologi.
Baca Juga: Prasasti Cikapundung Tenggelam dalam Dinding Kota
Melihat Pertautan Kerajaan Tarumanegara dan Sriwijaya di Candi Batujaya Karawang
Air Menangis di Bawah Prasasti Curug Dago
Pesan untuk Pemimpin
Kita sering memperlakukan prasasti sebagai benda yang harus diamankan, difoto, diberi pagar, kemudian dijelaskan dalam papan informasi. Semua itu tentu penting. Tetapi kalau berhenti sampai di sana, kita kehilangan sebagian besar maknanya. Batu itu seharusnya menjadi pintu untuk memahami cara berpikir masyarakat pada zamannya. Ada pesan yang terasa sangat kuat dari Prasasti Kawali: seorang pemimpin akan dikenang bukan hanya karena siapa dirinya, tetapi karena apa yang ia kerjakan bagi ruang hidup yang dipimpinnya.
Pesan tersebut terasa semakin relevan sekarang. Kita hidup dalam zaman ketika keberhasilan seorang pemimpin sering diukur melalui angka, proyek, gedung, jalan, dan berbagai indikator pembangunan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi pembangunan pada akhirnya harus kembali kepada pertanyaan sederhana: apakah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik?
Prasasti Kawali memberi gambaran bahwa persoalan tersebut bukan pertanyaan baru. Berabad-abad lalu, penguasa di Kawali sudah meninggalkan catatan mengenai upaya menata ruang di sekitar pusat pemerintahan. Parit yang disebut dalam prasasti bahkan dikaitkan dengan kemakmuran seluruh desa. Penelitian mengenai tata ruang Kawali juga menunjukkan bahwa kota ini memiliki unsur-unsur yang menunjukkan sebuah pusat pemerintahan, termasuk benteng atau parit dan berbagai fasilitas pendukung.
Yang menarik, prasasti itu tidak ditulis di atas bahan yang mewah. Ia hadir dalam bentuk batu. Tidak ada layar digital, tidak ada dokumen yang dapat disalin dalam hitungan detik, tidak ada arsip yang bisa disimpan di awan. Sebuah pesan harus dipahat dengan tenaga dan ketelitian. Karena itu, setiap kata yang ditinggalkan di batu terasa memiliki bobot. Ketika seseorang memilih untuk memahat sebuah pesan, tentu ada kesadaran bahwa pesan tersebut diharapkan bertahan lama. Dan memang, ia bertahan.
Bahkan ketika pusat kekuasaan berubah, bahasa berubah, sistem pemerintahan berganti, dan generasi demi generasi berlalu, batu itu tetap menyimpan sebagian kecil ingatan. Di Situs Astana Gede sendiri terdapat enam prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Kawali I sampai VI. Kawasan ini dipandang sebagai bekas pusat pemerintahan Kerajaan Sunda di Kawali dan menyimpan beragam tinggalan arkeologis.
Meski demikian, ada ironi yang patut kita renungkan. Batu yang mampu bertahan selama ratusan tahun itu justru menghadapi risiko dilupakan oleh manusia modern. Bukan karena aksaranya hilang, melainkan karena kita kehilangan keinginan untuk membacanya. Kita hidup di tengah banjir informasi. Setiap hari ribuan berita muncul di layar telepon. Foto, video, komentar, dan opini berganti begitu cepat. Apa yang ramai pagi ini bisa terlupakan sore nanti.
Dalam situasi seperti itu, prasasti terasa seperti benda dari dunia yang berbeda. Ia lambat. Ia diam. Ia meminta kita berhenti sejenak untuk membaca. Mungkin justru karena itulah kita membutuhkan prasasti. Prasasti mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa besar. Sejarah juga bisa ditemukan dalam catatan kecil tentang sebuah kota, sebuah parit, sebuah keraton, atau harapan seorang raja kepada penerusnya.
Dari hal-hal yang tampaknya sederhana itu, kita dapat menyusun kembali gambaran tentang sebuah masyarakat. Yang juga menarik adalah kenyataan bahwa tinggalan Kawali memperlihatkan perjumpaan berbagai tradisi keagamaan dan kebudayaan. Kajian terhadap Situs Astana Gede menunjukkan adanya tinggalan yang berkaitan dengan tradisi megalitik serta pengaruh Hindu-Buddha.
Ini memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat masa lalu tidak sesederhana pembagian kategori yang sering kita gunakan sekarang. Berbagai unsur budaya dapat hidup berdampingan dan membentuk karakter sebuah kawasan. Karena itu, melihat Prasasti Kawali hanya sebagai “batu bertulisan kuno” terasa terlalu sempit. Ia adalah bagian dari lanskap kebudayaan. Ia berada dalam ruang yang pernah menjadi pusat kehidupan politik dan sosial.
Di sekitarnya terdapat jejak-jejak lain yang membantu kita memahami bahwa Kawali bukan sekadar nama tempat, melainkan pernah menjadi salah satu panggung penting dalam perjalanan sejarah Sunda. Bagi masyarakat Jawa Barat, terutama masyarakat Sunda, tinggalan seperti ini seharusnya tidak berhenti menjadi kebanggaan simbolik. Kita sering bangga mengatakan memiliki sejarah panjang, kerajaan besar, tokoh-tokoh penting, dan warisan budaya yang beragam.
Tetapi kebanggaan sejarah akan kehilangan makna jika tidak disertai upaya memahami dan merawat peninggalannya. Prasasti Kawali mengingatkan kita bahwa warisan budaya bukan sekadar milik masa lalu. Ia juga milik masa kini dan masa depan. Ada hal lain yang tidak kalah penting: prasasti itu mengajarkan kerendahan hati. Kita sering menganggap zaman kita sebagai zaman paling maju.
Ingatan Peradaban
Kita memiliki teknologi, ilmu pengetahuan, kendaraan cepat, kecerdasan buatan, dan berbagai kemampuan yang tidak pernah dibayangkan manusia berabad-abad lalu. Tetapi ketika membaca pesan sederhana dari Kawali tentang bagaimana seorang penguasa seharusnya berbuat baik dan membawa kesejahteraan, kita mungkin justru menemukan pertanyaan yang sangat modern. Apa arti kemajuan jika kehidupan bersama tidak menjadi lebih baik?
Pertanyaan itu tidak membutuhkan teknologi canggih untuk menjawabnya. Ia hanya membutuhkan kesediaan untuk bercermin. Mungkin inilah alasan sebuah prasasti kecil dari Kawali masih penting untuk dibicarakan. Bukan karena batunya luar biasa besar. Bukan pula karena tulisannya panjang. Justru karena ia kecil, sederhana, dan diam, kita dipaksa untuk mendekat. Kita perlu melihat guratan aksaranya, mencoba memahami bahasanya, lalu membayangkan kehidupan manusia yang pernah berdiri di tempat itu ratusan tahun silam.
Di sana, sejarah terasa lebih manusiawi. Kita tidak lagi melihat masa lalu sebagai deretan tahun, nama raja, dan pergantian kerajaan. Kita melihat orang-orang yang pernah membangun, menata, berharap, dan meninggalkan pesan. Mereka tentu tidak tahu seperti apa Indonesia pada abad ke-21.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari bahasa yang mereka gunakan akan dipelajari para ahli. Mereka juga mungkin tidak membayangkan bahwa batu yang mereka pahat akan menjadi bahan perenungan bagi generasi yang sangat jauh dari kehidupan mereka. Tetapi mereka meninggalkan pesan. Dan tugas kita bukan hanya menjaga batunya agar tetap ada, melainkan juga memastikan pesannya tidak kehilangan arti.
Sebab pada akhirnya, prasasti bukan sekadar tulisan yang dipahat pada batu. Ia adalah ingatan yang sengaja dibuat agar manusia sesudahnya tidak sepenuhnya kehilangan jejak tentang siapa mereka dan bagaimana mereka pernah menjalani kehidupan. Dari Kawali, sebuah batu kecil mengingatkan kita bahwa sebuah peradaban tidak hanya diukur dari seberapa megah bangunannya, tetapi juga dari nilai apa yang ingin diwariskannya.
Barangkali itulah yang membuat Prasasti Kawali tetap penting hari ini: ia mengajak kita membaca masa lalu bukan untuk sekadar bernostalgia, melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri, apa yang akan kita tinggalkan untuk orang-orang yang hidup setelah kita?
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


