MAHASIWA BERSUARA: Menelusuri Penyebab Banjir di Kampung Situ PPI Lembang
Persoalan banjir di Kampung Situ PPI Lembang tak bisa dilepaskan dari perubahan fungsi kawasan tersebut.

Nadila Rindu Maulida
Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
7 Oktober 2026
BandungBergerak – Bagi sebagian warga Kampung Situ PPI Lembang, hujan deras bukan hanya soal membawa udara dingin dan kesejukan namun mengundang kekhawatiran tempat tinggalnya akan tergenang banjir. Di kawasan pemukiman yang kini berdiri di atas bekas danau (Situ PPI), masyarakatnya sudah terbiasa untuk menyambut hujan dengan bersiap-siap menghalau air agar tidak menggenangi halaman rumah, teras rumah, bahkan air masuk ke dalam rumah. Kondisi dan situasi tersebut masih dialami oleh sebagian warga meskipun tingkat genangannya tidak selalu sama dari tahun ke tahun.
Saya sendiri merupakan salah satu warga yang tinggal di kawasan Kampung Situ PPI, Desa Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sejak kecil, saya melihat bahwa hujan deras mengakibatkan lingkungan sekitar tergenang air atau banjir, termasuk rumah tempat tinggal saya ikut kebanjiran juga. Banjir tersebut tidak selalu terjadi dengan kondisi yang sama. Pada beberapa keadaan, air hanya menggenangi jalan atau halaman rumah, tetapi pada kondisi tertentu air dapat masuk ke rumah warga. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa persoalan genangan di kampung Situ PPI bukan hanya sesuatu yang terjadi sesekali, tetapi menjadi bagian dari kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan.
Berdasarkan sejarah bencana dan informasi dari pengurus warga, ada tiga peristiwa banjir besar di Kampung Situ PPI. Pertama pada tanggal 28 Februari 2017. Saat itu terjadi hujan lebat sehingga mengakibatkan jebolnya tanggul penahan selokan sebelah barat Kampung Situ PPI sepanjang 10 meter sehingga air dari selokan tumpah ke pemukiman warga. Yang kedua pada tanggal 27 Oktober 2020, saat terjadi hujan lebat yang mengakibatkan jebolnya tanggul penahan selokan sebelah barat Kampung Situ PPI sepanjang 30 meter. Akibatnya ratusan rumah terendam air. Kemudian yang ketiga terjadi pada 2 Mei 2022, saat itu hujan lebat mengakibatkan jebolnya tanggul penahan selokan di Kampung Situ PPI sepanjang 35 meter. Kejadian ini mengakibatnya ratusan rumah terendam air.
Saya bertanya pada lima warga yang telah tinggal di kawasan Kampung Situ PPI Desa Lembang selama enam hingga empat belas tahun. Kelimanya mengatakan bahwa mereka pernah mengalami genangan setelah hujan deras. Tiga dari lima warga mengatakan genangan hampir terjadi setiap hujan deras, sementara satu warga mengalaminya beberapa kali dalam setahun. Dampaknya pun berbeda-beda, mulai dari jalan, halaman, dan teras yang tergenang hingga air yang masuk ke dalam rumah. Pada beberapa kasus, genangan dapat bertahan selama 30 menit hingga tiga jam setelah hujan berhenti.
Ketika ditanya mengenai penyebab genangan, jawaban warga menunjukkan bahwa persoalannya tidak hanya berkaitan dengan hujan deras dan rendahnya lahan pemukiman dibanding saluran air. Dua warga menyebut saluran air atau drainase yang kurang lancar sebagai salah satu faktor, sementara dua lainnya juga menyinggung sampah yang dapat menyumbat saluran. Salah seorang warga bahkan menjelaskan bahwa tempat penyimpanan sampah di lingkungannya berada di atas selokan, sehingga sisa sampah terkadang jatuh atau dibuang ke dalam saluran. Kondisi tersebut dapat membuat aliran air menjadi tidak lancar, sehingga ketinggian air menjadi naik dan mengalir ke pemukiman.
Selain itu, ada pula warga yang menyebutkan bahwa telah terjadi penurunan tanah dikarenakan tanah bekas danau masih labil sehingga beberapa rumah terlihat turun bahkan ada yang miring. Ditambah pula beberapa kali terjadi peristiwa angin kencang yang mengakibatkan beberapa atap rumah beterbangan dan jatuh di halaman rumah warga dan jalan. Tentunya perubahan kawasan dan aliran air di wilayah sekitar menjadi bagian dari persoalan serius yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Sama-sama Merasa Benar di Jalan Raya
MAHASIWA BERSUARA: Krisis Iklim dan Tanggung Jawab Negara terhadap Warga
MAHASISWA BERSUARA: Jakarta, Kota yang Dipaksa Menanggung Terlalu Banyak Beban
Perubahan Fungsi Kawasan
Kondisi yang dialami warga Kampung Situ PPI saat ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan kawasan tersebut. Menurut tulisan Malia Nur Alifa di BandungBergerak pada 2024, Situ PPI dahulu merupakan salah satu situ terbesar di Lembang dan berada bersebelahan dengan Situ Umar, yang kini dikenal sebagai kawasan Floating Market Lembang. Nama PPI sendiri merupakan singkatan dari Persatuan Pedagang Ikan. Seiring waktu, kondisi Situ PPI berubah dan pada sekitar 1999 kawasan tersebut mulai berkembang menjadi permukiman yang semakin padat. Perubahan dari kawasan yang sebelumnya berupa danau (situ) menjadi permukiman membuat sejarah lingkungan Kampung Situ PPI penting untuk dilihat ketika membahas persoalan genangan yang masih dialami warga hingga sekarang.
Perubahan fungsi kawasan tersebut membuat kondisi Kampung Situ PPI hari ini berbeda dengan masa ketika Situ PPI masih menjadi bagian dari kawasan perairan. Ruang yang dahulu berfungsi sebagai tempat menampung air kini telah menjadi kawasan permukiman dengan rumah-rumah yang berdiri berdekatan serta berdiri bangunan sekolah-sekolah. Dalam kondisi seperti ini, persoalan air hujan tidak hanya berkaitan dengan seberapa deras hujan turun, tetapi juga dengan bagaimana air mengalir dan ditampung di lingkungan permukiman. Karena itu, kondisi saluran air dan ruang yang dapat menyerap air menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.
Menariknya, genangan yang masih terjadi saat ini tidak berarti kondisinya selalu sama seperti beberapa tahun sebelumnya. Kelima warga yang saya wawancarai mengatakan bahwa genangan di lingkungan mereka sekarang cenderung lebih jarang atau lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Meski begitu, hujan deras masih dapat menimbulkan genangan, bahkan pada beberapa rumah air masih dapat masuk ke dalam rumah. Artinya, perubahan kondisi memang terjadi, tetapi persoalan genangan belum sepenuhnya hilang dari kehidupan warga Kampung Situ PPI.
Di tengah kondisi tersebut, warga juga tidak hanya diam menghadapi persoalan genangan. Dari lima warga yang saya wawancarai, semuanya menyebutkan adanya upaya yang dilakukan di lingkungan masing-masing. Bentuknya berbeda-beda, mulai dari kegiatan edukasi mitigasi bencana dan pengolahan sampah, gotong royong membersihkan sampah dan saluran air, normaslisasi saluran dengan mengangkat lumpur yang menghambat aliran, memperbaiki saluran yang tersumbat, hingga meninggikan tanggul drainase. Upaya sederhana seperti ini menunjukkan bahwa menjaga kondisi lingkungan juga menjadi bagian dari kehidupan warga Kampung Situ PPI.
Selain upaya yang sudah dilakukan warga, masih ada beberapa hal yang mereka anggap perlu diperhatikan untuk mengurangi genangan. Dari wawancara yang dilakukan, usulan yang muncul antara lain memperbaiki dan merawat saluran air secara rutin, menjaga agar drainase tidak tersumbat sampah, serta menambah area yang dapat menyerap air. Selain itu melakukan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi untuk kegiatan edukasi mitigasi banjir, penurunan tanah dan pengolahan sampah.
Salah satu warga juga menyoroti pentingnya kebiasaan membuang sampah pada tempatnya karena sampah yang masuk ke saluran dapat menghambat aliran air. Hal-hal tersebut memang terlihat sederhana, tetapi menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan permukiman agar tetap mampu mengalirkan air dengan baik.
Pada akhirnya, persoalan genangan air di Kampung Situ PPI Lembang tidak cukup dilihat hanya sebagai masalah air yang muncul ketika hujan deras. Ada sejarah perubahan kawasan, kondisi permukiman, saluran air, kebiasaan menjaga lingkungan, serta pengalaman dan partisipasi warga yang saling berkaitan. Wawancara sederhana dengan empat warga juga menunjukkan bahwa kondisi genangan saat ini sudah lebih ringan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, meskipun belum sepenuhnya hilang. Karena itu, menjaga lingkungan di kampung Situ PPI bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak.
Perawatan drainase, pengelolaan sampah, dan upaya warga menjaga lingkungan perlu terus dilakukan agar kawasan tempat tinggal ini dapat menjadi ruang yang lebih siap menghadapi hujan.
Terakhir, di kampung ini didirikan juga poskamling yang di atasnya terdapat patung ikan. Menurut salah satu pengurus warga, patung ikan tersebut dibuat sebagai usaha membangun kesadaran masyarakat bahwa lahan pemukiman yang menjadi tempat tinggal dahulunya merupakan sebuah danau. Dengan upaya ini semoga kewaspadaan dan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi banjir semakin meningkat.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


