Harusnya Sepak Bola Bisa Bersuara
Sepak bola tak berdiri di luar masyarakat. Sepak bola tak pernah bisa lepas dari kenyataan sosial para pendukungnya.

Lekasmati
Penulis dan desainer grafis yang menaruh perhatian pada isu politik, kebudayaan, sepak bola, dan kehidupan sosial masyarakat.
19 Oktober 2026
BandungBergerak – Pada partai final FIFA ASEAN Cup 2026 kemarin, yang digelar pada hari Senin, 5 Oktober 2026, di Stadion Gelora Bung Karno, kita melihat sebuah antusiasme penuh para pendukung sang garuda di tanah Jakarta. Setidaknya hampir 67.000 tiket terjual habis untuk mengisi hampir seisi stadion dengan gemuruh dukungan demi mengamankan satu gelar juara yang telah dinantikan hampir selama tiga dekade lebih. Tetapi mari kesampingkan itu semua, saya tidak akan bersusah diri membahas mengenai taktis, teknis, ataupun perjalanan panjang keberhasilan tim nasional Indonesia.
Kita tahu setidaknya ada dua kubu pendukung yang sangat tersohor fanatik untuk membela Sang Garuda yakni La Grande Indonesia (LGI) serta Ultras Garuda (UG), selebihnya mungkin hanya penonton umum yang senang sepak bola dan datang mendukung timnas. Setidaknya itu yang saya ketahui dalam sempitnya wawasan saya mengenai Tim Nasional (Timnas ) Indonesia. Ada satu hal yang sangat menarik untuk kita bahas dan diskusikan bersama terkait bagaimana sepak bola seharusnya bisa bersuara. Ya, bersuara tentang bagaimana situasi sosial kita hari ini sebagai rakyat Indonesia yang gila akan sepak bola; yang mencintai Timnas Indonesia.
Sangat disayangkan, di tengah hadirnya para petinggi politik Indonesia–baik Prabowo, Kapolri beserta jajarannya, Erick Thohir, maupun Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA–tidak tampak adanya upaya dari tribun untuk membawa isu-isu tersebut ke permukaan. Entah melalui tifo, chants, ataupun berbagai bentuk ekspresi lain yang sebenarnya dapat dilakukan oleh suporter sepak bola. Yang saya dengarkan justru sorakan kepada Prabowo ketika ia tersorot kamera dan dipanggil oleh pengumum stadion, tak lebih.
Itu semua terjadi seolah dalam altar tribun, kenyataan sosial telah berjalan berlainan. Seakan pendukung Timnas tak lagi mewakili sebagian besar rakyat Indonesia yang tengah menderita–padahal merekalah basis terbesar pendukung Sang Garuda. Seolah pada saat masuk gerbang enterance Stadiun, mereka bukan lagi seorang buruh, pekerja, mahasiswa, pengangguran, pedagang kecil, ataupun bagian dari rakyat yang setiap hari berhadapan dengan kerentanan persoalan hidup sendiri. Seolah identitas pendukung Timnas menyingkirkan seluruh pengalaman sosial tersebut untuk sementara waktu.
Simon Kuper dalam bukunya, Football Against the Enemy, telah memberikan kita suatu gambaran yang baik bagaimana sepak bola justru erat kaitannya dengan hal-hal yang di luar sepak bola itu sendiri seperti telah dikatakan di atas. Kuper misalnya, mengisahkan dengan sangat epik bagaimana kemenangan Belanda dirayakan begitu hebat oleh warganya atas Jerman Barat pada semifinal EURO 1988. Pertadingan yang tak hanya mempertemukan dua negara tersebut tetapi juga tampil sebagai panggung ingatan sejarah masyarakat Belanda atas pendudukan nazi dan kekerasan Perang Dunia II yang mereka alami.
Tak hanya di sana, para pendukung Belanda tersebut juga seolah mendapatkan kesempatan untuk menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu pihak yang toleran, baik, dan berada dalam sisi sejarah yang benar atas Jerman Barat. Ironi yang sungguh membuat kita dapat tertawa mengingat masyarakat Belanda sendiri memiliki persoalan diskriminasi terhadap kelompok Turki, Maroko, dan juga Suriname. Bahkan salah satu pemain tersohornya, Ruud Gullit, merupakan pemain keturunan Suriname.
Apa yang ditulis oleh Kuper menjadi sangat penting untuk kita semua bahwa sebuah pertandingan sepak bola tak hanya berisi 90 menit permainan. Di dalamnya juga hadir ingatan akan perang, masa lalu, identitas nasional, kebanggan, rasialisme, kelas sosial bahkan kontradiksi-kontradiksi yang tersimpan baik di dalam suatu identitas masyarakat tertentu. Sepak bola tak berdiri di luar masyarakat, tetapi ia jadi medium yang juga masyarakat hidup dengan berbagai cara seperti mengingat, melupakan, merayakan dan juga mempertentangkan dirinya sendiri.
Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri?
Baca Juga: Rivalitas Suporter dan Politik Identitas pada Sepak Bola di Indonesia
Ada Apa dengan Dunia Sepak Bola Hari ini?
Membedah Sentimen Kelas dalam Selebrasi Sepak Bola
Jangan Lupakan Kenyataan
Saya tidak mengatakan bahwa kemenangan tersebut tak pantas dirayakan masyarakat Indonesia. Setelah menunggu hampir tiga dekade, rakyat tentunya berhak untuk bersukacita. Tetapi apa artinya suatu perayaan saat kita lupa akan kenyataan yang sedang dihadapi?
Rasanya terlalu sayang suatu kesempatan untuk menghimpun kekuatan massa sebanyak itu, di tengah situasi yang sedang genting di Indonesia, hanya digunakan untuk menghabiskan energi untuk merayakan kemenangan saja atau sebatas mendukung tok saja gitu. Sementara berbagai persoalan di luar stadion kadang tak mendapatkan tempatnya sendiri untuk bersuara dan mendesak penguasa. Rasa-rasanya perayaan tak seharusnya menjadi ajang menghapus ingatan.
Jika kita memang muak terhadap federasi serta rezim yang mengotak-atik sepak bola demi kepentingan sendiri, sebuah dukungan terhadap kesebelasan pemain tak berarti harus selalu diam di hadapan para baron tersebut. Justru karena kita tahu kesebelasan pemain tersebut membawa identitas kita semua–terlebih identitas seluruh kaum miskin Indonesia–maka tak ada salahnya untuk mendesak kenyamanan penguasa dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan sebagai pendukung di dalam stadion.
Tak hanya bagi semua keluarga pendukung Timnas Indonesia, ini jadi semacam pengingat untuk kita semua sebagai seorang suporter klub sepak bola baik lokal, nasional maupun Internasional bahwa untuk sekali lagi: sepak bola tak pernah bisa lepas dari kenyataan sosial para pendukungnya. Ia menghidupi serta dihidupi oleh kenyataan tersebut. Dari Papua sampai Kalimantan yang hutannya sedang dibakar habis; dari mereka yang menunggu keadilan tragedi Kanjuruhan; juga para pengangguran yang berharap-cemas panggilan kerja di esok hari; sampai kita yang terninabobokan kenyamanan semu dari kemenangan-kemenangan kecil bersifat seremonial.
Seluruh pendukung sepak bola yang dimiskinkan dan terasing, bersatulah!
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


