Membedah Sentimen Kelas dalam Selebrasi Sepak Bola
Pada nyatanya suporter klub sepak bola terdiri dari lapisan kelas yang kompleks.

Firall Ar Dunda
Desainer grafis dan penulis yang menaruh minat pada manusia dan budaya Nusantara.
10 Juni 2026
BandungBergerak – Jalanan di Bandung berubah menjadi lautan biru menyusul selebrasi kemenangan three-peat Persib Bandung yang mencetak sejarah dengan memenangkan liga tiga kali berturut-turut. Di minggu yang sama, hal serupa terjadi di Paris. Sesaat setelah PSG memenangkan Liga Champions, jalanan Paris dipenuhi suporter yang riuh merayakan kemenangan klub kebanggaan mereka. Namun, persamaan fenomena ini tidak berhenti pada euforia semata. Keduanya menjadi perbincangan hangat di media sosial, di mana para suporter dicap sebagai "hama masyarakat" yang mengganggu ketertiban umum. Bahkan, sentimen ini memicu munculnya isu rasial dan klasisme yang terang-terangan. Tulisan ini tidak bertujuan untuk meromantisasi hooliganisme atau membenarkan vandalisme yang merugikan ruang publik, melainkan sebuah kajian singkat untuk membongkar bagaimana prasangka kelas dan ras muncul saat kelompok marginal merayakan eksistensinya.
Sepak bola, baik secara historis maupun sosiologis, adalah nadi gerakan akar rumput. Di berbagai belahan dunia, dari Brazil hingga Afrika Selatan, olahraga ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kaum proletar karena inklusivitasnya. Di jalanan Indonesia saja, sering ditemui anak-anak yang bermain menggunakan tumpukan sandal jepit sebagai gawang. Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola adalah olahraga yang adaptif, ia dapat mengikuti bagaimana kondisi sosiologis masyarakatnya. Maka tidak heran jika di Paris, euforia pasca kemenangan banyak digerakkan oleh kelompok dari kawasan suburban (banlieue) sekitar Paris yang menjadi melting pot berbagai kelas pekerja dan imigran. Massa yang memenuhi jalanan ini merupakan representasi nyata dari wajah masyarakat kelas pekerja di kota itu. Di Bandung pun, identitas Persib sudah bukan sekadar entitas klub bola saja, Persib mengalir dalam nadi masyarakat Bandung. Bahkan ada istilah, "Persib mah bahasa haté" (Persib adalah bahasa hati). Kedekatan emosional ini menghasilkan basis suporter yang sukses melampaui batas kelas sosial. Di Bandung, seorang Bobotoh dapat berasal dari mana saja, mulai dari kelompok akar rumput seperti pedagang cuankie, hingga kalangan elite sekelas pebisnis dan bahkan rektor institusi pendidikan.
Namun, ketika massa suporter ini turun ke jalan, bias kelas masyarakat urban sering kali langsung bermunculan. Di Bandung, selebrasi euforia kemenangan ini dikritik keras dan direduksi menjadi sekadar ajang selebrasi kelompok SDM rendah bahkan sering ditemukan komentar netizen yang menulis “SDM Rendah Day.” untuk menyindir istilah Persib Day yang sering kali digunakan para Bobotoh. Bahkan, muncul juga slur berbasis rasial seperti "Sundog" (gabungan kata Sunda dan anjing) yang memperparah keadaan hingga menyeret salah satu institusi pendidikan tinggi di Bandung. Disadari atau tidak penggunaan istilah seperti ini adalah sebuah alat dehumanisasi yang secara sadar digunakan untuk mencabut martabat kemanusiaan kelompok tersebut demi memvalidasi kebencian sang penutur.
Hal serupa terjadi di Paris. Komentar bernada rasial dilayangkan oleh tokoh politik right-wing, Geert Wilders di platform X. Di unggahannya beliau menulis, "If you import Africa you become Africa." Ia mengabaikan fakta bahwa selebrasi tersebut diikuti oleh suporter PSG dari berbagai latar belakang ras dan kelas. Komentar Wilders ini relevan untuk disorot karena ia menunjukkan bagaimana isu klasisme dan rasisme bertemu di sebuah persimpangan yang sama. Ketika ekspresi massa kelas bawah dianggap terlalu liar dan berada di luar standar kesopanan masyarakat elite Eropa, perilaku tersebut secara langsung diidentikkan dengan identitas ras atau benua tertentu.
Baca Juga: Rivalitas Suporter dan Politik Identitas pada Sepak Bola di Indonesia
Ada Apa dengan Dunia Sepak Bola Hari ini?
Ilusi ‘Overrated’ di Panggung Termahal Sepak Bola
Pola Lama yang Berulang
Komentar Wilders dan label "SDM Rendah" di Bandung sejatinya bukan anomali, melainkan bagian dari pola lama yang telah berulang setiap kali kelas bawah mengambil alih ruang publik. Jika ditelaah melalui kacamata antropologi, selebrasi suporter ini pada dasarnya adalah sebuah bentuk dari kebutuhan evolusioner manusia untuk berkelompok. Sejarah mencatat bahwa polarisasi suporter olahraga telah terjadi sejak zaman kekaisaran Romawi. Hal ini terekam dalam Peristiwa Nika Riots pada 532 M di Konstantinopel. Kerusuhan ini bermula dari perseteruan antara pendukung balap kereta kuda (Chariot Race) kubu Biru dan Hijau.
Kubu-kubu ini juga merupakan representasi dari kelas sosial dan afiliasi politik yang berbeda. Kerusuhan memanas dan membesar bukan murni karena olahraga, melainkan akibat instabilitas ekonomi dan represi pajak oleh Kaisar Justinian. Arena olahraga pada masa itu sama seperti jalanan Bandung dan Paris saat ini. Ia menjadi ruang katarsis bagi kelompok masyarakat dari kelas bawah hingga atas untuk mengekspresikan eksistensi dan rasa frustrasi mereka terhadap struktur hirarki yang menekan mereka.
Untuk memahami mengapa euforia ini begitu meluap, kita bisa meminjam pemikiran antropolog Perancis Émile Durkheim mengenai Collective Effervescence (Efekervesensi Kolektif). Durkheim menjelaskan, ketika sebuah kelompok berkumpul untuk satu tujuan yang sama dan dalam hal ini merayakan kemenangan klub, mereka menghasilkan sebuah energi kolektif temporer yang menyatukan mereka. Euforia massal ini menciptakan perasaan solidaritas yang sangat kuat, di mana individu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri. Menariknya, sifat temporer dari euforia ini terekam secara organik dalam percakapan media sosial saat konvoi juara di Bandung berlangsung, melalui munculnya istilah "Batur sakali paké" (teman sekali pakai). Istilah ini menangkap esensi teori Durkheim yaitu begitu euforia selesai, ikatan kolektif tersebut seketika melebur dan mereka kembali menjadi individu-individu yang terlepas dari entitas kolektif.
Energi kolektif tersebut kemudian mengantarkan massa pada apa yang disebut oleh antropolog Victor Turner sebagai kondisi Communitas, sebuah fase liminal (ambang batas) di mana sekat-sekat kelas sosial, aturan hierarki sehari-hari, dan norma-norma individualistik runtuh untuk sementara waktu. Di selebrasi konvoi Persib, seorang pedagang cuankie, sopir angkot, pekerja kantoran, dan pemilik bisnis melebur dalam satu identitas yang sama dan setara yaitu menjadi Bobotoh. Namun, Turner sendiri menekankan bahwa fase liminal yang sehat membutuhkan wadah yang terkelola dengan baik agar energi kolektif tersebut tidak melampaui batasnya.
Dalam konteks ini, vandalisme dan perusakan fasilitas umum yang kadang menyertai selebrasi adalah tanda bahwa wadah tersebut belum difasilitasi secara memadai, bukan bukti bahwa massa tersebut memiliki sifat destruktif secara bawaan. Momen Communitas ini tetap menjadi krusial karena bagi kaum proletar, selebrasi kemenangan klub adalah salah satu dari sedikit kesempatan di mana mereka bisa merebut kembali ruang publik yang sehari-hari sering kali jarang mereka nikmati.
Sayangnya, kondisi liminal ini berbenturan keras dengan standar kelompok di luar kebudayaan tersebut. Klasisme dalam merespons selebrasi sepak bola berakar dari pertarungan "Modal Budaya" (Cultural Capital) yang digagas oleh sosiolog Pierre Bourdieu. Kelas menengah dan elite urban memiliki standar sendiri tentang bagaimana seharusnya kemenangan dirayakan, yaitu dengan terstruktur, berizin, tidak berisik, dan terkendali. Ketika suporter sepak bola merayakan kemenangan dengan menutup jalan, menyalakan flare, dan melakukan hal-hal nyeleneh lainnya, ekspresi ini dianggap menyalahi standar tersebut. Namun perlu diperhatikan bahwa Bourdieu juga menunjukkan bagaimana mekanisme ini tidak selalu berasal dari “elite” sungguhan. Bisa juga kata "SDM Rendah" di media sosial ikut dilontarkan oleh masyarakat kelas menengah bawah yang sedang melakukan distinction, memisahkan diri dari kelompok mereka untuk mengamankan posisi sosialnya sendiri. Artinya, klasisme bukan semata pertarungan antara elite dan kaum akar rumput, melainkan sebuah hierarki yang terbangun dari dalam lapisan masyarakat itu sendiri.
Lalu harus diakui bahwa tidak semua yang terganggu oleh selebrasi ini hanya masyarakat kelas menengah atas. Pekerja yang ingin pulang ke rumah-pun kadang harus terjebak macet berjam-jam atau warga lainnya yang memiliki keperluan mendesak dipaksa untuk mengalah, banyak dari mereka juga bagian dari kelas yang sama dengan para suporter. Yang perlu digaris-bawahi adalah mana keluhan yang lahir dari kerugian realistis dan mana penghakiman yang lahir dari prasangka kelas. Seperti keluhan atas kemacetan, ini adalah respons yang sangat sah dari masyarakat yang terdampak dan respons-respons masyarakat yang seperti inilah yang perlu diakomodasi melalui tata kelola selebrasi dan tata kota yang lebih baik. Karena, jika infrastruktur kota didesain dengan inklusif maka gesekan semacam ini tentu dapat diminimalisir. Namun tetap, pelabelan "Hama" dan "SDM Rendah" adalah mekanisme klasisme yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
Bahasa Kebersamaan
Fenomena saling hujat ini merupakan bentuk dari bias Ingroup dan Outgroup dalam Teori Identitas Sosial. Bagi mereka yang tidak pernah menjadi bagian dari kultur sepak bola (outgroup), api flare dan kerumunan yang berisik di jalanan dinilai sebagai ancaman dan bentuk dari ketidakaturan atau anarki. Karena, mereka tidak memiliki konteks emosional untuk memahaminya. Sebaliknya, bagi para suporter bola (ingroup), tindakan yang sama diterjemahkan sebagai loyalitas dan puncak romantisisme kebahagiaan atas perjuangan setelah satu musim mendukung tim kebanggaannya. Euforia ini adalah sebuah "bahasa" kebersamaan yang tidak didesain untuk dipahami oleh kelompok dari luar.
Oleh karena itu, narasi bahwa selebrasi suporter identik dengan kebodohan atau "SDM Rendah" harus dibongkar. Karena, pada nyatanya suporter terdiri dari lapisan kelas yang lebih kompleks. Sekali lagi, hal ini tidak menjustifikasi tindakan vandalisme atau perusakan fasilitas umum. Vandalisme tetaplah pelanggaran hukum yang harus ditindak. Namun, kajian singkat ini ditujukan mengajak kita melihat gesekan sosial ini bukan sebagai sifat bawaan dari kelompok "SDM Rendah", melainkan sebagai reaksi dari euforia dalam fase liminal yang meluap tanpa wadah yang memadai, serta cerminan dari ketimpangan struktural jangka panjang. Menyederhanakan dan mereduksi kompleksitas perilaku massa akar rumput hanya sebagai "sampah masyarakat" adalah bentuk kemalasan berpikir yang justru melanggengkan klasisme dan rasisme di era modern seperti saat ini.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


