• Opini
  • Rivalitas Suporter dan Politik Identitas pada Sepak Bola di Indonesia

Rivalitas Suporter dan Politik Identitas pada Sepak Bola di Indonesia

Jika rivalitas terus dipelihara sebagai politik kebencian, maka stadion bukan lagi ruang perayaan olahraga, melainkan arena konflik identitas.

Ari Ganjar Herdiansah

Kepala Pusat Studi Politik dan Demokrasi Universitas Padjadjaran (Unpad)

Ilustrasi – Sepak bola. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

27 Maret 2026


BandungBergerak – Awal Maret 2026 lalu menjadi pengingat pahit betapa rapuhnya kedamaian sepak bola kita. Menjelang laga Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo, sekitar 30 oknum suporter menyerang rombongan pendukung Persib di Hotel Oval, Surabaya. Insiden yang melibatkan penyerangan fisik dan penjarahan ini seketika mengoyak persaudaraan yang telah dibangun kedua kelompok sejak lama.

Di pertandingan lain, masih dalam rentang waktu yang sama, suporter Persijap Jepara terlibat bentrok dengan pendukung Persis Solo. Berawal dari saling ejek selama pertandingan, situasi memanas ketika sejumlah suporter Persis mencabut kursi-kursi Stadion Gelora Bumi Kartini dan melemparkannya ke tribun suporter lawan. Selepas laga, kerusuhan pecah hingga merusak fasilitas publik di sekitar stadion.

Menengok ke belakang, kita masih ingat beberapa orang yang tewas pada tahun 2017 dan 2018 akibat kekerasan di kalangan suporter. Dan yang paling mengenaskan, yakni insiden di stadion Kanjuruhan Malang pada 2022 yang menewaskan sekitar 135 orang.

Rentetan insiden dan kekerasan fisik ini ibarat puncak gunung es. Di bawah permukaan, api kebencian terus membara melalui nyanyian rasis di tribun, unggahan media sosial penuh sumpah serapah, hingga meme yang mengolok-olok kekalahan tim lawan.

Rivalitas yang seharusnya menjadi bumbu penyedap sepak bola agar menarik untuk diikuti justru beralih menjadi arena permusuhan yang merasuki kehidupan sosial.

Apa yang menyebabkan atmosfer suporter sepak bola di Indonesia dipenuhi amarah dan kekerasan? Mengapa, meski organisasi-organisasi suporter senantiasa berkomitmen memperbaiki diri dan bahkan saling berkomunikasi, insiden kekerasan terus berulang?

Baca Juga: Pertandingan Sepak Bola Tanpa Suporter adalah Kegagalan Pemerintah Memenuhi Hak Warga Negara
Mengelola Politik Identitas
Kontroversi Sponsor Persib Bandung

Politik Identitas

Fenomena kekerasan dalam rivalitas sepak bola dapat dipahami melalui sudut pandang politik identitas, yaitu ketika identitas sosial dijadikan basis utama dalam bersikap, bereaksi, atau bahkan bertindak agresif. Dalam konteks ini, “politik” mengemuka sebagai perebutan pengakuan, martabat, dan supremasi antar-kelompok.

Bagi seorang fanatik, mereka tidak lagi sekadar “menyukai” sebuah klub; mereka “menjadi” bagian dari klub tersebut. Klub melebur ke dalam citra dirinya. Kemenangan atau kekalahan tim, karenanya, dirasakan sebagai pencapaian atau penghinaan personal.

Masalahnya, ketika identitas itu berubah menjadi politik identitas, kecintaan pada klub tidak lagi dibatasi norma sosial. Rivalitas berubah menjadi pembelahan hitam-putih: siapa “kita” dan siapa “mereka.”

Filsuf Yunani Plato mengidentifikasi bahwa dalam diri manusia sebuah dorongan yang ia sebut thymos, yakni hasrat untuk diakui martabatnya. Francis Fukuyama (2018) lalu menghidupkan kembali konsep tersebut untuk menjelaskan banyak gejolak politik identitas dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Fukuyama membedakan dua wajah thymos: isothymia, hasrat untuk diakui setara dengan orang lain; dan megalothymia, hasrat untuk diakui lebih unggul dari orang lain. Politik identitas yang sehat bertumpu pada isothymia: para suporter sama-sama mencintai sepak bola dan rivalitas adalah cara merayakan perbedaan yang setara. Tidak ada yang lebih mulia atau lebih rendah.

Yang kerap merusak adalah ketika megalothymia mengambil alih sehingga politik identitas menghasilkan kebencian. Kemenangan tim tidak lagi sekadar dirayakan sebagai prestasi olahraga, melainkan dipandang sebagai bukti bahwa suporter sendiri lebih unggul dan suporter lawan lebih rendah. Kekalahan pun tidak lagi sekadar angka di papan skor atau posisi di klasemen, melainkan penghinaan terhadap martabat.

Kondisi ini kemudian membentuk polarisasi afektif (affective polarization), yaitu keadaan di mana permusuhan terhadap kelompok lain membuahkan kebencian emosional: rasa jijik, takut, dan merendahkan. Lebih dari itu, mereka membayangkan tim lawan sebagai ancaman terhadap identitas dan martabatnya.

Manakala identitas kolektif “Hijau”, “Biru”, atau “Oranye” terancam, kemanusiaan individu segera menguap dan digantikan oleh naluri purba untuk menghancurkan “mereka”. Pada titik inilah megalothymia membuat suporter fanatik gelap mata, mereka tidak lagi peduli soal siapa yang menang di lapangan, melainkan soal siapa yang berhak atas ruang, pengakuan, dan eksistensi.

Algoritma Kebencian dan Permusuhan

Fenomena rivalitas antarsupoter yang cenderung destruktif kian diperparah oleh media sosial. Platform digital pada dasarnya dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna (user engagement) melalui konten yang mampu membangkitkan emosi kuat.

Dalam ekosistem ini, algoritma dapat bekerja secara senyap sebagai penghasut yang mengurung individu dalam ruang gema (echo chamber), ruang yang hanya memantulkan pandangan provokatif yang sudah ada, dan dengan cara tersebut mengubah rivalitas sepak bola menjadi perang identitas yang berlangsung terus menerus.

Paradoksnya, politik kebencian ini justru merugikan pihak yang paling dicintai, yakni tim sepak bola itu sendiri. Para pemain terbebani oleh oknum suporter yang selalu menuntut kemenangan dengan ancaman kemarahan.

Selain itu, ketika sebagian suporter dikenal dengan kekerasan dan ujaran kebencian, citra klub ikut tercoreng. Konsekuensinya cukup berat. Sponsor akan berpikir dua kali untuk kembali memberikan sokongan dana. PSSI dapat menjatuhkan sanksi berupa laga tanpa penonton yang justru merugikan tim di lapangan.

Sebagai jalan keluar, kita harus menggeser kesadaran suporter dari megalothymia kembali menuju isothymia. Rivalitas yang sehat menuntut pengakuan mutual bahwa di balik jersey yang berbeda, ada kelompok lain yang merasakan kecintaan sama besarnya terhadap timnya dan layak dihormati.

Upaya ini merupakan tanggung jawab lintas sektoral. Klub memiliki kewajiban untuk mengedukasi basis pendukungnya bahwa mencintai sebuah tim tidak perlu dan memang tidak boleh dibangun di atas kebencian pada pihak lain.

Organisasi suporter harus terus menerus membangun nilai-nilai positif dalam memberikan dukungannya, termasuk berupaya menjangkau para pendukung tim yang berada di luar organisasi. Mereka harus gencar melakukan kontra narasi terhadap narasi-narasi permusuhan.

Meski insiden terus berulang, organisasi suporter tidak boleh berhenti atau putus harapan untuk menjalin komunikasi konstruktif dengan suporter-suporter lain, terutama terhadap mereka yang selama ini kadung dipersepsikan sebagai ‘lawan.’

Ke depan, PSSI pun harus mengevaluasi kebijakan segregasi, yakni larangan bertandang bagi suporter tim tamu. Secara gradual, tim tamu dapat diperkenankan untuk bertandang dengan semangat kekeluargaan antarsuporter. Hal ini penting sebagai langkah mengintegrasikan antarsupporter dalam ikatan solidaritas dan sportivitas.

Jika rivalitas terus dipelihara sebagai politik kebencian, maka stadion bukan lagi ruang perayaan olahraga, melainkan arena konflik identitas. Sepak bola Indonesia hanya akan maju ketika suporter mampu merayakan perbedaan tanpa harus menghapus sisi kemanusiaan pihak lain.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//