Kontroversi Sponsor Persib Bandung
Dilema bobotoh ketika Persib Bandung mendapat sponsor dari perusahaan yang berada di tengah pusaran konflik Israel-Palestina.

Muhammad Hafizh Firdaus
Pegiat literasi. Alumni Politeknik Negeri Bandung
27 Februari 2026
BandungBergerak.id – Ketika Persib Bandung mengumumkan kemitraan dengan Unilever Indonesia melalui brand Rinso dan Sunlight pada akhir Januari 2026, reaksi yang muncul tidaklah tunggal. Di satu sisi, manuver ini dibaca sebagai langkah bisnis strategis: kolaborasi antara klub dengan basis suporter terbesar di Indonesia dan perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) raksasa yang ingin memperkuat pijakan pasar. Di sisi lain, kemitraan ini langsung bersentuhan dengan diskursus yang lebih luas: aksi boikot terhadap produk-produk yang dianggap beririsan dengan konflik Israel di Palestina. Di sinilah pertanyaan yang tampak sederhana berubah menjadi kompleks: ketika klub kebanggaan daerah menjalin kerja sama dengan korporasi global yang sedang berada dalam pusaran kontroversi geopolitik, bagaimana seharusnya suporter bersikap?
Sepak bola profesional hari ini adalah industri. Klub modern tidak lagi sekadar organisasi olahraga, melainkan entitas bisnis yang bergantung pada arus pendapatan dari hak siar, tiket, dan terutama sponsor. Persib, juara liga back-to-back sekaligus peserta langganan kompetisi Asia, kini sedang bergerak menuju fase persiapan Initial Public Offering (IPO). Ambisi kompetitif semacam ini jelas membutuhkan dukungan finansial yang masif. Dalam konteks liga Indonesia, sponsor bukan pelengkap. Bali United, klub yang lebih dulu IPO, menunjukkan bagaimana dominasi logo sponsor di jersey menjadi tulang punggung operasional klub. Tanpa mitra komersial besar, sulit membayangkan klub mampu mempertahankan daya saing lintas pulau.
Pendapatan Persib dari kompetisi Asia yang mencapai ratusan ribu dolar Amerika Serikat memang signifikan, tetapi tetap bersifat episodik. Operasional klub berjalan sepanjang musim: gaji pemain, staf, akademi, logistik, hingga infrastruktur. Kemitraan klub dengan korporasi sekelas Unilever karena itu dapat dibaca sebagai bagian dari strategi profesionalisasi klub. Sebaliknya, masuknya Unilever dapat dibaca sebagai sinyal kepercayaan korporasi besar terhadap nilai komersial Persib. Dari sudut pandang bisnis murni, kemitraan ini rasional: klub ingin naik kelas, baik secara regional maupun global, sehingga membutuhkan mitra dengan kapasitas finansial dan jaringan distribusi kuat.
Namun, bisnis sepak bola modern tidak pernah berdiri terpisah dari lanskap sosial. Sponsor membawa bukan hanya modal, tetapi juga reputasi dan nilai simbolik yang ikut menempel pada identitas klub. Kontroversi serupa pernah mencuat pada era rumor kerja sama pengelolaan Gelora Bandung Lautan Api dengan Allianz. Dalam era ketika konsumen semakin sadar etika dan geopolitik, klub tidak hanya dituntut untuk mengelola neraca keuangan, tetapi juga tanggung jawab sosial yang melekat pada setiap keputusan komersialnya.
Baca Juga: Sepak Bola adalah Perlawanan
Pertandingan Sepak Bola Tanpa Suporter adalah Kegagalan Pemerintah Memenuhi Hak Warga Negara
Laga Persib vs. Persija, Calo Tiket, dan Loyalitas yang Diperas
Boikot sebagai Ekspresi Moral Konsumen
Boikot adalah bahasa moral dalam masyarakat pasar sebagai cara individu dan kelompok mengekspresikan nilai melalui pilihan konsumsi. Dalam sejarah ekonomi modern, boikot sering menjadi alat protes terhadap praktik yang dianggap tidak adil. Salah satu gerakan yang berbuntut panjang adalah boikot terhadap produk yang diasosiasikan dengan Israel. Di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar, sebanyak 80,2 persen warga Indonesia setuju dengan aksi boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israel.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina dan pernyataan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto, mendorong umat untuk bersikap kritis terhadap produk yang dinilai berafiliasi dengan kepentingan Israel. Pandangan keagamaan juga datang dari ulama Saudi, Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, yang menanggapi perdebatan tentang kewajiban boikot produk terafiliasi zionis. Dalam fatwanya, beliau menegaskan bahwa muamalah dengan non-Muslim pada dasarnya dibolehkan dalam syariat, kecuali dengan pihak yang tergolong kafir harbi. Kemudian, beliau juga menyimpulkan bahwa keputusan pemboikotan secara kolektif adalah domain kebijakan negara.
Laporan dari CNN Indonesia (2024) memperlihatkan bahwa aksi boikot terhadap produk-produk yang dikaitkan dengan isu Israel di Palestina telah memaksa Unilever Indonesia melakukan perubahan strategis dalam operasional bisnis. CEO global Unilever mengakui bahwa unit bisnis Indonesia mengalami penurunan pendapatan sekitar 18 persen pada kuartal III tahun 2024. Penurunan ini secara eksplisit dikaitkan dengan reaksi konsumen terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah. Manajemen perusahaan bahkan menyebut perlunya intervensi signifikan serta perombakan sistem distribusi untuk menstabilkan harga dan memulihkan kepercayaan pasar.
Fakta bahwa korporasi multinasional sekaliber Unilever harus menyesuaikan strategi bisnisnya menunjukkan satu hal penting: pilihan konsumsi kolektif masyarakat memiliki daya tekan yang riil. Boikot, dalam konteks ini, bukan hanya ekspresi moral individual, melainkan kekuatan ekonomi yang mampu memengaruhi arah kebijakan perusahaan. Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa pasar bukanlah ruang netral yang steril dari nilai. Ia adalah arena tempat preferensi etis publik diterjemahkan menjadi konsekuensi finansial. Di sinilah dilema bagi komunitas suporter menjadi semakin tajam. Ketika logika ini masuk ke ranah sepak bola, ia menciptakan ketegangan baru. Kemitraan sponsor tidak lagi berdiri di ruang hampa, melainkan berada di persimpangan antara kebutuhan finansial klub dan sensitivitas moral sebagian basis pendukung.
Suporter Bukan Konsumen Pasif
Bagi Bobotoh, Persib bahkan bukan sekadar tim, melainkan identitas kultural. Oleh karena itu, setiap keputusan komersial klub dibaca sebagai pernyataan nilai. Di sinilah muncul dilema klasik dalam teori etika modern: bagaimana menyeimbangkan loyalitas terhadap komunitas dengan komitmen terhadap prinsip kemajuan global?
Untuk sisi suporter, pertanyaan lainnya adalah soal konsistensi. Apakah sikap memboikot produk terafiliasi Israel diterapkan secara menyeluruh dalam perilaku konsumsi sehari-hari atau hanya muncul ketika bersinggungan dengan simbol emosional seperti klub sepak bola? Tanpa konsistensi, boikot berisiko menjadi gestur simbolik yang kehilangan daya transformasinya. Sebaliknya, menerima sponsor tanpa refleksi juga membawa risiko lain: menormalisasikan gagasan bahwa kesuksesan olahraga sepenuhnya dapat dipisahkan dari pertimbangan etis.
Berikutnya, apakah Bobotoh boleh memisahkan kecintaan pada tim dari pilihan konsumsi pribadi? Sejarah sepak bola global menunjukkan bahwa ketegangan ini bukan hal baru. Ketika Newcastle United diakuisisi konsorsium Saudi, perdebatan etika langsung muncul. Demikian pula saat FC Barcelona menjalin kemitraan dengan sponsor dari Qatar. Dalam banyak kasus, fans terpecah, namun klub tetap berjalan, dan diskusi publik justru memperkaya kesadaran kolektif. Untungnya, Persib kini memasuki fase serupa. Ini adalah tanda kedewasaan ekosistem. Dalam ekosistem sepak bola modern, suara fans sepatutnya menjadi bagian dari tata kelola klub. Menyuarakan kegelisahan secara rasional adalah bentuk cinta yang lebih matang daripada diam.
Sepak bola modern tidak pernah lagi netral dan sudah selalu bersinggungan dengan politik, ekonomi, dan moralitas. Kemitraan Persib-Unilever hanyalah satu episode dari kenyataan yang lebih besar: klub yang ingin bersaing di level tinggi harus bermain dalam arena kapital global. Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana suporter meresponsnya? Diam berarti menerima status quo. Reaktif tanpa arah berarti terjebak dalam emosi sesaat. Yang dibutuhkan adalah posisi sadar: mendukung klub sambil terus mengawasi arah nilai yang dibawanya.
Jika Persib ingin tumbuh menjadi institusi yang semakin besar, ia selalu membutuhkan Bobotoh yang bukan hanya loyal, tetapi juga kritis. Jika Bobotoh ingin dihormati sebagai komunitas dewasa, mereka harus berani menempatkan cinta pada klub dalam kerangka tanggung jawab sosial yang lebih luas. Di situlah sepak bola berhenti menjadi sekadar hiburan dan mulai menjadi ruang pendidikan publik. Persoalan sekarang adalah bagaimana Bobotoh memahami posisi diri masing-masing di dalam ekosistem yang kompleks ini. Apakah mungkin menjadi suporter yang setia sekaligus konsumen yang kritis? Kemudian, ketika kecintaan pada klub bertemu dengan kegelisahan moral, bagaimana Bobotoh memilih untuk hidup dengan ketegangan itu?
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

