• Opini
  • Laga Persib vs. Persija, Calo Tiket, dan Loyalitas yang Diperas

Laga Persib vs. Persija, Calo Tiket, dan Loyalitas yang Diperas

Persib sedang menatap Asia dan membawa status juara bertahan, tetapi harga tiket melonjak pada laga melawan Persija yang lebih banyak dijual sebagai drama.

Galih

Warga Biasa

Ilustrasi – Sepak bola. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

20 Januari 2026


BandungBergerak.id – Euforia pertandingan Persib vs. Persija selalu datang lebih cepat daripada tiketnya. Rivalitas panjang, gengsi kota, dan rasa memiliki terhadap klub membuat laga ini bukan sekadar pertandingan sepak bola, melainkan peristiwa sosial. Namun seperti musim-musim sebelumnya, tiap kali kedua tim berjumpa maka tiket menjadi barang langka. Dalam hitungan menit, kursi stadion raib. Anehnya di waktu yang hampir bersamaan, tiket-tiket itu muncul kembali di media sosial lengkap dengan harga yang naik berkali-kali lipat.

Di titik ini, kita biasanya menunjuk satu pihak yaitu calo. Mereka menjadi langganan tokoh antagonis. Disumpahi, dimaki, dan dijadikan biang keladi. Padahal, kalau mau jujur, calo bukan makhluk asing yang turun dari langit. Mereka tumbuh dari kebiasaan yang akrab dengan keseharian kita.

Fenomena calo tiket sebenarnya bukan cerita baru. Ia muncul di setiap ruang yang mempertemukan permintaan tinggi dan ketersediaan barang yang terbatas. Konser musik, tiket mudik, bantuan sosial, hingga lowongan pekerjaan, selalu ada pihak yang berdiri di tengah, mengambil keuntungan dari kelangkaan. Sepak bola, dengan basis massa yang emosional, menjadi ladang paling subur.

Dalam konteks Persib vs. Persija, ironi itu terasa lebih tajam. Banyak calo yang mengaku pendukung klub. Menggunakan atribut dan simbol yang sama dengan suporter, tetapi di saat bersamaan menjual tiket dengan harga dua atau tiga kali lipat. Cinta pada klub berubah menjadi komoditas. Loyalitas digantikan kalkulasi untung rugi.

Baca Juga: Perjalanan Juara Persib dari Zaman Perserikatan hingga Liga Indonesia
Dari Tegallega ke Sukahaji dan Persib sebagai Belati
Haru Bulao Merayakan Persib Juara

Mentalitas “Mumpung” yang Dipelihara

Masalahnya, ini bukan sekadar soal calo tiket. Ini soal kebiasaan. Kebiasaan melihat setiap celah sebagai kesempatan pribadi, tanpa mempertimbangkan dampaknya pada orang lain. Dalam keseharian, mentalitas ini sering dibungkus dengan kalimat pembenaran “mumpung ada kesempatan”, “yang lain juga melakukan”, atau “ini cuma tiket, bukan kejahatan besar”.

Justru karena dianggap kecil. Praktik semacam ini terus berulang dan dinormalisasi. Kerugian orang lain dianggap bukan urusan pribadi. Padahal jika ditarik lebih jauh, inilah akar dari banyak masalah struktural di Indonesia: ketidakadilan kecil yang dikumpulkan dan dibiarkan.

Kita juga terlalu mudah menyalahkan sistem. Tentu, sistem penjualan tiket bukan tanpa cela. Masih ada celah teknis yang memungkinkan pembelian massal, kedekatan orang dalam, atau percaloan terorganisir. Namun sistem yang lemah tidak otomatis membenarkan pilihan untuk memanfaatkannya.

Calo tidak akan hidup tanpa pembeli. Selama masih ada yang bersedia membayar lebih mahal demi masuk stadion, praktik ini akan terus berulang. Di titik ini, kita perlu jujur mengakui bahwa persoalan calo bukan hanya soal mereka yang menjual, tetapi juga mereka yang membeli dan membenarkan.

Loyalitas suporter sering dipuja sebagai bentuk cinta paling murni dalam sepak bola. Tapi di era digital, loyalitas justru berubah menjadi celah kejahatan. Website palsu penjualan tiket muncul dari keyakinan bahwa mencintai klub berarti harus hadir langsung di stadion, apa pun caranya.

Penipu memahami betul psikologi ini. Mereka tidak menjual tiket, mereka menjual rasa “takut tertinggal". Kalimat seperti “laga mempertaruhkan harga diri”, “laga besar spesial”, bukan sekadar strategi marketing, melainkan alat manipulasi emosi. Di titik ini, nalar sering kalah oleh afeksi.

Ironisnya, ketika penipuan terjadi yang pertama kali disalahkan justru suporternya. Dianggap ceroboh, kurang literasi digital, atau terlalu nafsu. Padahal, kejahatan ini tumbuh karena sistem membiarkan loyalitas bekerja sendirian tanpa perlindungan.

Sepak bola akhirnya kehilangan martabatnya. Loyalitas yang mestinya dihormati justru diperas, lalu ditertawakan setelah menjadi korban. Selama cinta suporter terus dimaknai sebagai kesediaan untuk nekat, bukan hak yang harus dilindungi, website palsu akan selalu menemukan mangsa.

Narasi bahwa laga Persib vs. Persija adalah pertandingan spesial sering diterima tanpa jeda berpikir. Padahal, konteks Persib hari ini sudah berubah. Klub ini sedang berlaga di level Asia dan sudah mencatat prestasi juara liga secara back to back. Target, beban, dan arah kompetisi tak lagi semata soal rivalitas domestik, melainkan  konsistensi dan reputasi di panggung yang lebih luas.

Dalam konteks itu, laga melawan Persija tetap penting, tapi tidak lagi sakral. Ia bukan penentu musim, bukan pula satu-satunya momen pembuktian. Di sinilah ironi muncul, pertandingan yang secara teknis hanyalah satu dari banyak laga domestik, diperlakukan sebagai peristiwa tunggal yang wajib disaksikan, bahkan dengan risiko tertipu website palsu atau terkena getok harga calo tiket.

Mungkin yang perlu ditanyakan bukan hanya mengapa penipu bermunculan, tapi mengapa sebuah pertandingan masih diposisikan seolah lebih penting dari nalar. Selama rivalitas terus dirawat sebagai dogma, bukan ditempatkan dalam konteks prestasi dan tujuan klub yang lebih besar, maka loyalitas akan terus jadi bahan bakar kejahatan.

Sepak Bola yang Perlahan Menjadi Elitis

Dampak jangka panjangnya tidak sederhana. Sepak bola perlahan berubah makin mahal, makin eksklusif, dan makin jauh dari akar suporternya. Stadion yang seharusnya menjadi ruang publik bagi semua lapisan pendukung, berubah menjadi tontonan elitis dan tempat bagi mereka yang mampu membayar harga tinggi. Suporter akar rumput yang datang dengan menyisihkan penghasilan, menabung, dan setia mengikuti klub justru tersingkir. Sepak bola kehilangan sifat kolektifnya. Ia berubah menjadi pasar. Hubungan emosional diganti dengan transaksi.

Ada pola yang terlalu konsisten untuk dianggap kebetulan. Harga tiket naik justru ketika Persib berhadapan dengan Persija. Bukan saat laga Asia, bukan juga ketika menjaga ritme juara, melainkan pada satu pertandingan yang dibebani rivalitas historis. Masalahnya, harga tiket yang melonjak bukan sekadar urusan dompet, tapi soal sinyal. Ia mengirim pesan bahwa rivalitas lebih bernilai daripada prestasi, bahwa gengsi lebih laku daripada kualitas permainan. Ketika harga resmi naik, calo pun seakan mendapat pembenaran. Kalau yang resmi saja mahal, versi reseller terdengar masuk akal.

Dititik ini kenaikan harga justru mempercepat siklus kejahatan. Ironisnya, semua ini terjadi pada pertandingan yang secara kompetitif tak lagi sepenting narasinya. Persib sedang menatap Asia dan membawa status juara bertahan, tetapi harga tiket melonjak pada laga yang lebih banyak dijual sebagai drama.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya marah. Barangkali masalah terbesar kita bukan kekurangan aturan, melainkan kekurangan rasa malu. Malu mengambil untung dari kesulitan sesama pendukung. Malu menjadikan kelangkaan sebagai prestasi pribadi. Malu menyebut diri pecinta klub, sambil menyingkirkan orang lain dari tribun.

Karena jika setiap kesempatan selalu kita sambut dengan niat menjadi calo atau penipu, mungkin yang sebenarnya kita rayakan bukan kemenangan tim kebanggaan, melainkan kemenangan mental oportunistik kita sendiri.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//