• Opini
  • Ilusi ‘Overrated’ di Panggung Termahal Sepak Bola

Ilusi ‘Overrated’ di Panggung Termahal Sepak Bola

Fenomena pemain overrated di Premier League adalah paradoks modern. Ia adalah cermin dari industri hiburan yang telah melampaui hakikat olahraganya itu sendiri.

Taufik Hidayat

Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Pertama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat

Ilustrasi – Sepak bola. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

3 Juni 2026


BandungBergerak – Malam itu, di suatu stadion klub liga Inggris, udara terasa lebih tebal. Ada bau khas dari rumput yang baru disiram, bercampur dengan uap napas puluhan ribu manusia yang membawa satu hal yang sama di dada mereka. Ya, ekspektasi. Ketika pemain baru, pemuda 22 tahun yang baru didatangkan dengan harga £80 juta, melangkah keluar dari lorong ganti, lampu sorot tidak hanya menerangi wajahnya. Lampu itu menelanjangi tiap inci keraguan di matanya. Ia baru saja tiba dari liga di luar daratan Inggris, membawa bekal video highlight berdurasi lima menit di YouTube yang telah ditonton jutaan kali, diiringi musik techno yang mengentak, menampilkan trik-trik magisnya melewati bek-bek lawan.

Namun, di atas lapangan hijau Inggris, realitas memiliki cara yang kejam untuk mengoreksi ilusi. Pada sentuhan pertamanya, bola bergulir agak jauh. Sebelum ia sempat mengoreksi kesalahan itu, gelandang bertahan lawan telah menerjangnya, merebut bola, dan meninggalkannya terduduk di atas rumput. Di tribun, gumaman mulai terdengar. Di media sosial, ribuan jemari mulai mengetik satu kata yang akan menjadi bayang-bayang panjang dalam kariernya. Ya, "Overrated".

Kegelisahan ini yang menjadi titik tolak kita. Mengapa beberapa pemain bintang dari liga-liga Eropa lainnya tiba-tiba terlihat seperti amatir yang kebingungan saat menginjakkan kaki di English Premier League (EPL)? Apakah mereka berlindung di balik reputasi palsu, atau kita sebagai penonton, media, dan industri, yang sebenarnya sedang menonton pertunjukan di atas panggung yang telah terdistorsi oleh kapitalisme, narasi, dan hype yang tak masuk akal?

Untuk memahami mengapa pemain di Liga Inggris sering dinilai terlalu tinggi, kita harus terlebih dahulu mundur selangkah dan melihat panggung di mana mereka berdiri. Premier League adalah mesin raksasa penyiaran global yang menjangkau lebih dari 189 negara. Hak siar EPL bernilai miliaran poundsterling, jauh melampaui gabungan dari La Liga, Serie A, atau Bundesliga (Szymanski, 2022).

Uang dalam jumlah masif ini menciptakan "ekosistem simbolik" (Bourdieu, dalam konteks sosiologi modern, 2020). Dalam ekosistem ini, sepak bola berhenti menjadi sekadar olahraga 11 lawan 11. Ia menjadi sebuah komoditas tontonan (Debord, 1967). Ketika klub Inggris membeli pemain dari Eredivisie Belanda atau Ligue 1 Prancis, mereka tidak hanya membeli kemampuan sang pemain menendang bola. Mereka membeli cerita. Mereka membeli klik, penjualan jersei, dan interaksi di media sosial.

Di sini letak konfliknya. Eksposur media yang masif membutuhkan narasi yang dramatis. Media olahraga Inggris dan global, yang bergerak dengan ritme 24 jam sehari secara terus-menerus memproduksi hype. Pemain yang tampil impresif dalam lima pertandingan berturut-turut di liga asalnya tiba-tiba dibingkai sebagai "Bakat Generasional" atau "Penyelamat Klub". Reputasi mereka tidak lagi terbentuk dari performa objektif yang organik, melainkan dikonstruksi oleh mekanisme publikasi (Giulianotti & Robertson, 2021).

Maka, ketika pemain seperti Antony atau Mykhaylo Mudryk dibeli dengan harga yang memecahkan rekor, yang terjadi adalah penilaian atas seberapa besar kebisingan yang bisa mereka hasilkan di pasar global. Pembeli dan penjual sama-sama tahu, bahwa ada kamera dari 189 negara yang siap menyorot. Dan di depan kamera sebanyak itu, segala sesuatu cenderung terlihat lebih besar dari aslinya.

Baca Juga: Sepak Bola adalah Perlawanan
Rivalitas Suporter dan Politik Identitas pada Sepak Bola di Indonesia
Ada Apa dengan Dunia Sepak Bola Hari ini?

"English Tax" dan Inflasi Valuasi

Jika kita berbicara tentang pemain lokal Inggris, ceritanya menjadi lebih absurd lagi. Ada fenomena nyata di pasar transfer yang oleh para ekonom dan pandit sebut sebagai "English Tax". Regulasi Premier League dan UEFA mengharuskan klub untuk mendaftarkan sejumlah pemain berstatus homegrown (pemain yang dididik di klub atau negara tersebut selama minimal tiga tahun sebelum usia 21 tahun).

Aturan yang niat awalnya baik untuk pembinaan usia dini ini, pada praktiknya, menciptakan distorsi pasar yang luar biasa. Hukum permintaan dan penawaran bekerja dengan kejam. Karena jumlah pemain homegrown berkualitas elite sangat terbatas, sementara klub-klub top dengan dompet tebal wajib memilikinya, harga pemain berpaspor Inggris meroket tak terkendali.

Penelitian dan analisis pasar menunjukkan, bahwa faktor English Tax ini dapat menciptakan inflasi harga hingga 40 persen di atas nilai pasar wajar (Fair Market Value) seorang pemain (Dobson & Goddard, 2011; Transfermarkt Data Analysis, 2023). Ketika klub seperti Chelsea atau Manchester United membayar £80 juta untuk Harry Maguire atau pemain lokal lainnya, pasar global terperangah. Nilai tersebut menjadi jangkar psikologis (psychological anchor).

Jika seorang bek tengah Inggris dihargai £80 juta, maka penyerang sayap asal Brasil otomatis akan diberi label harga yang serupa oleh klub asalnya, hanya karena mereka tahu klub EPL memiliki kapasitas finansial untuk membayarnya. Di sini, terjadi kesenjangan sistematis. Pemain dengan statistik (gol, assist, tekel) yang persis sama, yang bermain di Ligue 1 atau Eredivisie, secara konsisten akan dihargai jauh lebih rendah (Poli et al., 2022).

Oleh karena itu, ketika publik melabeli pemain ini sebagai "overrated", mereka sebenarnya sedang memprotes label harga tersebut. Yang mengalami inflasi bukan kemampuan pemain secara personal, melainkan nilai pasar dan persepsi publik yang dipaksakan kepada mereka.

Namun, ekonomi dan media hanya separuh dari cerita. Separuh lainnya terjadi di atas rumput hijau, di mana tidak ada tempat untuk bersembunyi. Mari kita kembali ke adegan pembuka kita, sang pemuda yang kehilangan bola pada sentuhan pertamanya. Mengapa itu terjadi? Apakah dia tiba-tiba lupa cara bermain sepak bola saat melewati Selat Inggris?

Liga Premier tidak bisa serta-merta disebut sebagai "liga terbaik di dunia" secara murni teknis, jika yang kita maksud dengan teknis adalah estetika tiki-taka Spanyol atau kecerdasan taktikal lambat ala Italia. Premier League lebih tepat didefinisikan sebagai liga yang brutal, mahal, dan menguras fisik di muka bumi.

Kajian metrik performa lintas liga membuktikan hal ini. Di Premier League modern, tuntutan fisiknya berada di luar nalar. Rata-rata seorang pemain dituntut melakukan sprint dengan kecepatan mencapai 32,5 km/jam berulang kali sepanjang pertandingan (Bradley et al., 2013; Opta Sports, 2023). Gaya bermain Gegenpressing yang diperkenalkan oleh manajer elite, seperti Jurgen Klopp dan Pep Guardiola telah mengubah liga ini menjadi mesin giling raksasa.

Ketika seorang gelandang di La Liga menerima umpan, ia mungkin memiliki waktu 2 hingga 3 detik untuk mengangkat kepala, memindai lapangan, dan melepaskan umpan presisi. Di Premier League, waktu itu menyusut drastis. Waktu rata-rata seorang pemain menguasai bola sebelum mendapat tekanan (pressing) lawan di EPL secara signifikan lebih pendek dibandingkan liga top Eropa lainnya.

Ini adalah lingkungan pengujian performa yang paling ketat. Kedalaman kualitas skuad sangat merata. Di liga lain, pertandingan antara tim peringkat pertama melawan juru kunci mungkin menjadi ajang rotasi pemain dan kemenangan mudah. Di Inggris, tim juru kunci yang terancam degradasi pun memiliki kemampuan finansial untuk membeli pemain tim nasional dari negara-negara Amerika Latin atau Eropa Timur. Tidak ada pertandingan yang mudah. Tidak ada hari libur.

Di sini kita menemukan titik terang dari kebingungan. Untuk mengukur apakah seorang pemain benar-benar overrated atau menjadi korban dari sistem, kita membutuhkan metrik multidimensi yang melampaui jumlah gol atau assist.

Studi analitis kuantitatif menggunakan model VAEP (Valuing Actions by Estimating Probabilities), kerangka kerja berbasis machine learning yang menilai setiap aksi pemain di lapangan (umpan, tekel, dribel) dan dampaknya terhadap probabilitas mencetak atau kebobolan gol, memberikan kesimpulan yang mencerahkan (Decroos et al., 2019).

Berdasarkan analisis terhadap ribuan pemain di liga top Eropa selama satu dekade, model VAEP menangkap tren yang konsisten. Ketika pemain elite pindah ke Premier League (khususnya dari Bundesliga atau Eredivisie), performa statistiknya hampir pasti akan mengalami penurunan, berkisar antara 5 persen hingga 17 persen.

Pertanyaannya, apakah pemain tersebut menjadi lebih bodoh atau kehilangan bakatnya dalam semalam? Tentu tidak. Penurunan VAEP ini membuktikan, bahwa liga yang mereka tuju memiliki tingkat kesulitan yang secara inheren lebih tinggi. Lawan lebih cepat menutup ruang, penjaga gawang lebih tangkas, dan pertahanan lebih rapat. Penurunan output statistik yang kerap disalah-tafsirkan oleh penonton dan pandit televisi sebagai "penurunan kualitas" sesungguhnya adalah bentuk kalibrasi alami terhadap kompetisi yang lebih keras.

Pemain seperti Paul Pogba adalah contoh klasik. Ketika dibeli kembali oleh Manchester United dengan rekor transfer £89 juta, dunia mengharapkan ia menjadi reinkarnasi gabungan antara Zinedine Zidane dan Roy Keane. Publik lupa, bahwa di Juventus, Pogba bermain di liga dengan tempo yang lebih pelan, dilindungi oleh maestro taktik seperti Pirlo, dan dikelilingi pertahanan beton khas Italia. Di Inggris, ia dilempar ke medan perang yang chaos, dituntut melakukan tekel, mendikte permainan, sekaligus mencetak gol, dengan harga £89 juta tergantung bagai bandul di lehernya. Ia tidak overrated. Ia hanya manusia unggul yang dituntut melakukan keajaiban di lingkungan yang dirancang untuk menekan keajaiban itu sendiri.

Kasus Individual vs. Fenomena Struktural

Tentu saja, kita tidak bisa membutakan diri dari fakta, bahwa memang ada kasus-kasus kegagalan individual yang epik. Ada pemain yang memang tidak sepadan dengan nilai transfernya. Nama-nama seperti Kepa Arrizabalaga (£71.6 juta) atau João Félix (yang sering dipinjamkan dengan biaya mahal) menjadi poster boy dari pemborosan klub-klub Inggris. Ada pula sosok Marcus Rashford, pemain yang di satu musim tampak sekelas pemenang Ballon d'Or, namun di musim berikutnya tampak kebingungan di depan gawang.

Namun, menggeneralisasi kegagalan satu atau dua individu ini sebagai bukti, bahwa "pemain Liga Inggris itu overrated" adalah kecacatan logika. Jika kita melihat secara kolektif, dominasi klub-klub Inggris di kompetisi antarklub Eropa dalam satu dekade terakhir, seperti kemenangan Manchester City, Chelsea, Liverpool di Liga Champions, adalah bukti tak terbantahkan. Kualitas teknis pemain di liga ini tetap berada di level elite global. Pemain-pemain terbaik dunia pada akhirnya memang berkumpul di sana, karena tingkat kesulitan dan hiburannya yang luar biasa.

Label "overrated" ini, pada akhirnya, berguna sebagai pemicu diskusi di warung kopi atau ruang editorial media, namun terbilang miskin makna jika digunakan sebagai alat ukur analitis. Label tersebut lahir dari ekspektasi publik yang salah asuhan. Kita menginginkan konsistensi performa seperti yang dimainkan di konsol video game, lupa bahwa yang berlari di atas rumput itu adalah serabut otot yang bisa robek, mental yang bisa lelah, dan manusia yang harus beradaptasi dengan budaya, cuaca, dan tekanan baru.

Untuk memberikan penilaian yang adil terhadap pemain yang dituduh overrated, kita harus menghentikan kebiasaan membaca sepak bola dari sekadar cuplikan video atau nominal di berita transfer. Kerangka penilaian yang holistik harus mempertimbangkan konteks taktis tim, metrik Expected Goals/Assists (xG/xA), konsistensi lintas musim, dan peran yang diberikan pelatih kepadanya. Pemain sayap yang tidak mencetak banyak gol mungkin tidak pantas dilabeli overrated, jika tugas utamanya dalam skema pelatih adalah menarik dua pemain bertahan lawan untuk menciptakan ruang bagi penyerang tengah.

Pada akhirnya, fenomena pemain overrated di Premier League adalah paradoks modern. Ia adalah cermin dari industri hiburan yang telah melampaui hakikat olahraganya itu sendiri. Di satu sisi, uang bernilai triliunan rupiah yang berputar di liga ini menjamin fasilitas terbaik, pelatih paling cerdas, dan stadion termegah. Namun di sisi lain, tumpukan uang itu menciptakan bias ekspektasi yang hampir tidak mungkin dipenuhi oleh manusia biasa.

Kita menghukum pemain bukan karena mereka tidak bisa bermain bola, melainkan karena mereka tidak bisa memvalidasi angka-angka irasional yang disepakati oleh agen, CEO klub, dan media massa. Kita marah pada inflasi yang diciptakan oleh struktur pasar global, tetapi kita menumpahkan kemarahan itu pada seorang pemuda/seorang pemain yang mencoba melakukan pekerjaan terbaiknya di tengah sorakan puluhan ribu orang dan cacian jutaan netizen.

Kembali ke adegan di stadion. Pertandingan berlanjut. Pemuda yang tadi terjatuh kini kembali berdiri. Napasnya memburu. Keringat bercampur hujan mulai membasahi jersinya. Saat bola kembali melayang ke arahnya, ia tidak memikirkan harga £80 juta. Ia tidak memikirkan English Tax, model VAEP, atau hak siar global. Di detik itu, di bawah tekanan bek lawan yang berlari secepat 32 km/jam ke arahnya, ia hanya fokus pada satu hal esensial. Ya, bagaimana cara menahan bola ini dengan benar.

Liga Inggris mungkin tidak selalu berisi pemain-pemain dengan teknik paling elegan di dunia. Liga ini mahal, brutal, dipenuhi hype, dan sarat dengan penilaian yang melebihi porsinya. Namun, ketika sang pemain berhasil mengontrol bola itu, memutar badannya, dan melepaskan umpan belah pertahanan yang sempurna di tengah segala kekacauan struktural tersebut, kita diingatkan pada satu kebenaran sederhana, yakni standar permainan di liga ini tetap berada di strata tertinggi.

Bukan pemainnya yang berlebihan. Hanya dunia di sekeliling mereka saja yang terlalu bising. Dan tugas kita sebagai pengamat, penulis, dan penikmat sepak bola bukan menambah kebisingan itu, melainkan menjernihkan pandangan, mencari kebenaran di balik angka, dan pada akhirnya, menghargai keringat manusia di atas panggung yang kejam.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//