Ada Apa dengan Dunia Sepak Bola Hari ini?
Di sepak bola, kegagalan saat eksekusi penalti atau pelatih yang tidak mampu membawa tim juara, sering kali jadi bahan tertawaan, bullying, bahkan pelecehan.

Raden Muhammad Wisnu Permana
Warga Bandung bisa dihubungi di Instagram Rwisnu93
9 April 2026
BandungBergerak – Dua puluh tahun yang lalu, bisa dibilang saya merupakan salah satu orang yang gila sepak bola. Pertandingan sepak bola mana pun, mulai dari Liga Indonesia hingga Liga Inggris, selalu saya tonton jika saya ada waktu luang. Bahkan, tidak jarang saya meluangkan waktu buat nonton pertandingan sepak bola yang berlangsung pada pukul tiga dini pagi. Saya juga beberapa kali sengaja datang langsung ke stadion untuk mendukung Persib Bandung maupun Timnas Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno pada beberapa kesempatan.
Saya menyaksikan banyak hal indah, mulai dari Treble Winner Manchester United tahun 1999, Invincible Arsenal 2004, persaingan Ronaldo–Messi, hingga back to back juara Persib Bandung. Saya juga menyaksikan hal-hal tidak menyenangkan seperti peristiwa cardiac arrest Christian Eriksen, wafatnya Choirul Huda di lapangan, hingga Peristiwa Kanjuruhan yang sampai tulisan ini saya tulis masih belum menemui titik terang.
Tentu, ada banyak peristiwa lain dalam dunia sepak bola yang membekas dalam ingatan saya. Tapi tak bisa saya sebutkan satu persatu karena keterbatasan kurasi tulisan.
Sepuluh tahun terakhir ini, saya menekuni olahraga lari. Saya berusaha menjadi versi terbaik setiap harinya dengan tidak saja fokus berlari, tapi rutin latihan beban di gym, menjaga asupan gizi, serta berusaha tidur cukup berkualitas di sela-sela kesibukan saya sebagai pelari rekreasional.
Nah, ada hal yang saya sadari dari olahraga lari, yang tidak dimiliki sepak bola. Apa itu?
Baca Juga: Sepak Bola adalah Perlawanan
Pertandingan Sepak Bola Tanpa Suporter adalah Kegagalan Pemerintah Memenuhi Hak Warga Negara
Rivalitas Suporter dan Politik Identitas pada Sepak Bola di Indonesia
Mengapa Kegagalan yang Diingat?
Dalam olahraga lari, jika seorang atlet profesional gagal mencapai garis finish (DNF) atau kalah dalam sebuah event maraton, ia tidak akan diolok-olok pelari profesional lainnya apalagi penonton yang gak ikut lari. Sebaliknya, ia akan mendapat dukungan semangat dari sesama atlet dan penonton agar bisa comeback stronger pada event berikutnya.
Coba bandingkan dengan olahraga sepak bola. Ketika Steven Gerrard maupun John Terry tidak sengaja terpeleset pada laga krusial sehingga menyebabkan tim yang mereka bola kalah, ia menjadi bahan olok-olokan fan sepak bola hingga detik ini. Padahal, jasa Gerrard dan Terry untuk Liverpool dan Chelsea ini kurang banyak apa? Tapi yang diingat hanya satu peristiwa ini saja.
Contoh lain, saat Lionel Messi berhasil meraih predikat juara Piala Dunia bersama Argentina, tidak terhitung lagi berapa banyak fan sepak bola yang mencibir Cristiano Ronaldo hanya karena ia belum berhasil (atau bahkan sampai pensiun tidak akan berhasil) membawa Portugal juara Piala Dunia. Jangankan itu, saat Cristiano gagal mengeksekusi tendangan penalti, baik untuk Manchester United, Real Madrid, Juventus, Al Nassr, maupun timnas Portugal, ia pun langsung dihujat. Ada apa sebenarnya?
Tiga puluh tiga tahun yang lalu, pada ajang Olimpiade Barcelona 1992, Derek Redmond, sprinter Inggris gagal meraih gelar juara karena tiba-tiba ototnya cedera sampai harus dibopong ke garis finish oleh ayahnya. Alih-alih dicemooh oleh penonton, ia malah dapat standing ovation meski gagal total.
Gak usah jauh-jauh 33 tahun yang lalu. Tiga tahun lalu, saat ajang SEA Games 2023, Bou Samnang finish lari lima kilometer dengan selisih waktu enam menit dari pelari paling cepat. Ia berusaha menyelesaikan apa yang ia mulai di tengah hujan deras dan sakit yang dideritanya demi negaranya. Lagi-lagi, alih-alih dicemooh, ia dapat standing ovation dari penonton.
Dua peristiwa di atas bisa kalian lihat sendiri videonya.
Gak cukup dengan hujatan pada pemain atau pelatih saja. Fan sepak bola pun banyak yang menghujat sesama suporter sepak bola. Di Inggris, hanya karena seseorang itu fan Liverpool, bisa saja dicemooh atau bahkan dipukuli fan Manchester United. Dalam skala lokal, hanya karena seseorang itu fan Persija Jakarta, bisa saja ia dicemooh bahkan dipukuli fan Persib Bandung. Bahkan tidak sedikit dari hal yang saya sebutkan tersebut berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.
Semakin ke sini, saya jadi berpikir, “Apakah kita benar-benar menyukai sepak bola? Atau kita hanya menikmati kesempatan pelampiasan untuk membenci pihak lain?”
Hormati Perjuangannya, Jangan Dihina
Banyak pelari elite maraton yang gagal finis (DNF) dalam event penting, tapi mereka tetap diapresiasi karena sudah berusaha keras hingga batas kemampuan. Mereka dihormati atas perjuangannya, bukan dihina.
Sementara itu, di sepak bola, kegagalan seperti gagal eksekusi penalti atau pelatih yang tidak mampu membawa tim juara sering kali jadi bahan tertawaan, bullying, bahkan pelecehan. Bukan kritik sehat lagi, tapi sudah melewati batas jadi penghinaan yang menjatuhkan martabat.
Kritik adalah hal yang wajar. Kita semua pernah merasa kecewa saat tim kesayangan bermain jelek. Tapi ada perbedaan jelas antara kritik dan menghina. Dan banyak fan sepak bola hari ini tampaknya tak tahu di mana batas itu berada.
Itulah sejumlah alasan kenapa saya menjauh dari dunia sepak bola. Bukan karena saya benci dengan olahraganya. Saya sangat menyukainya, tapi saban hari, saya melihat bahwa olahraga yang saya sukai ini hanya menjadi tempat pelampiasan amarah, ego, dan kebencian saja. Pelampiasan dari fan suatu tim tertentu pada tim lainnya, mau pun pelampiasan dari fan suatu tim pada timnya sendiri. Bahkan ada bentuk kebencian pada individu tertentu yang bisa kalian saksikan sendiri di internet. Ini jelas sudah sangat tidak sehat.
Bukankah seharusnya olahraga mengajarkan kita tentang arti perjuangan? Bukan berlomba-lomba untuk menertawakan kegagalan orang lain?
Sebagai penutup, tentu tidak semua pencinta sepak bola punya sifat atau berperilaku seperti itu. Banyak pencinta sepak bola yang menjunjung tinggi arti sportivitas. Namun fenomena yang saya bahas di atas terasa lebih nyata dan terus berulang.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

