• Narasi
  • Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club

Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club

Saya hanya ingin menjadi seperti perempuan-perempuan yang menari di hari itu. Tidak tahu bagaimana caranya, tetapi suatu hari saya akan ke sana.

Iqa Kinanti Nandakasih

Seorang junior writer dan alumnus Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran (Unpad).

Para peserta menari di workshop “Menari di Kalantara” bersama Hot Mamah Dance Club. (Foto: Tim Dokumentasi NDBF 7.0)

8 Oktober 2026


BandungBergerak – Hidup bersama ayah dan saudara laki-laki yang memenjarakan. Hidup bersama ibu yang tidak pernah mengajarkan tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan, tentang tubuh yang akan terus berubah dan dijajah.

Tidak ada satu pun percakapan yang saya ingat di rumah tentang, “Ini yang perlu kamu tahu tentang tubuhmu, ini yang akan terjadi pada tubuhmu, ini yang tidak boleh orang lain lakukan pada tubuhmu, ada banyak norma yang membelenggu perempuan dan ini yang bisa kamu lakukan untuk membebaskan dirimu sendiri.” Yang saya ingat hanya, “Perempuan harus ini-itu, tidak boleh ini-itu, nanti ini-itu. Perempuan tidak boleh begini karena perempuan, laki-laki boleh begitu karena laki-laki. Perempuan boleh sekolah, tetapi jangan kejauhan. Perempuan boleh bicara, tetapi tidak boleh lebih banyak bicara dari ayah dan saudara laki-laki. Perempuan boleh punya mimpi, tetapi kalau ketinggian mending pulang ke rumah.”

Dengan informasi-informasi yang tidak pernah utuh, tindak-tanduk yang tidak tahu apakah itu bisa ditiru, luka-luka yang tidak pernah dibicarakan di ruang keluarga, saya tumbuh dengan cara mengamati. Pengamatan yang tidak sempurna tentunya. Dari semua kebingungan yang tidak tahu harus diletakkan ke mana, berubah menjadi pertanyaan: Bagaimana rasanya pergi jauh dan lepas dari semua luka menjadi perempuan di rumah?

Di lain waktu, saya melihat sekumpulan ibu-ibu berkebaya dan selendang warna-warni, riasan gonjreng, rambut berkonde pun yang tergerai lengkap hiasan bunga-bunganya, ada pula yang berhijab, disambut antusias oleh para penonton. Hot Mamah Dance Club namanya. Sebuah komunitas perempuan menari yang menjadi wadah dan ruang aman bagi para perempuan untuk berekspresi dan mengeksplorasi tubuh melalui tari tanpa harus memiliki latar belakang di bidang tari. Menelusuri sekilas profil anggotanya, perempuan yang terlibat terdiri dari beragam profesi, mulai dari ahli bahasa, sastrawan, ibu rumah tangga, arsitek, pengusaha, musisi, penata busana, guru, ahli kuliner, influencer otomotif, dan banyak lagi.

Meski komunitasnya sudah beken dan tampil di mana-mana, hari itu pertama kalinya saya bisa melihat langsung penampilan mereka di pesta literasi Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 7.0 yang diselenggarakan di Nara Park Bandung pada 15 Agustus 2026. Sejalan dengan tema NDBF 7.0, “Pelita di Kalantara”, komunitas mamah-mamah tersebut turut memeriahkan acara dengan kegiatan “Menari di Kalantara”. Tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada para peserta, khususnya perempuan dalam mengeksplorasi diri dan membebaskan tubuh melalui gerak tubuh.

Diawali dengan sesi bincang-bincang, topik menyoal tubuh perempuan yang sering terpenjara oleh konstruksi sosial itulah yang membawa saya kembali pada ingatan dan pengalaman-pengalaman menjadi perempuan di rumah dan di luar rumah. Sekelindan ingatan yang membuat saya hanya bisa duduk sendirian di tengah riuh dan heboh panggung.

Di sepanjang sejarah, perempuan selalu mengalami kekerasan simbolik dan fisik. Di rumah, di sekolah, di tempat ibadah, di mana-mana. Berbagai kontrol sosial yang mengekang pun kerap melekatkan perempuan dengan “kemiskinan”. Miskin pendidikan, miskin pilihan, miskin hak atas tubuhnya sendiri. Apa sebenarnya makna dari perempuan merdeka?

Di ruang publik saya belajar tentang kebebasan, tetapi di rumah saya belajar tentang perempuan yang tahu batas. Di ruang kelas saya belajar tentang berani bersuara, tetapi di berita yang saya baca ada perempuan yang dikurung dan dipukul. Di luar rumah saya belajar tentang meyakini mimpi yang saya punya, tetapi di kamar saya belajar untuk harus selalu bisa mengalah bahkan ketika tidak ada yang harus diperebutkan. Di kitab-kitab suci saya mendengar bahwa semua makhluk setara, tetapi piring perempuan selalu diisi paling akhir di meja makan setelah suami, ayah, dan saudara laki-lakinya selesai makan. Di sepanjang sejarah dituliskan semua orang mau memperbaiki dunia, tetapi di dapur tidak pernah ada yang mau membantu perempuan mencuci piring.

Belum cukup, kuasa itu terus bekerja dengan mengendalikan tubuh dan cara perempuan berpakaian. Di saat yang sama, kekerasan terus terjadi dan tidak pernah dibicarakan. Tubuh perempuan selalu diawasi dalam berbagai struktur sosial dan budaya. Tidak ada yang pernah mempertanyakan mengapa mereka begitu lapar dan gelisah akan perempuan. Tidak ada perempuan yang benar-benar merdeka di kehidupan nyata. Tidak ada bedanya menjadi perempuan yang dikurung di kamar dan hidup di luar rumah, pikir saya.

Hot Mamah Dance Club di pesta literasi NDBF 7.0. (Foto: Tim Dokumentasi NDBF 7.0)
Hot Mamah Dance Club di pesta literasi NDBF 7.0. (Foto: Tim Dokumentasi NDBF 7.0)

Baca Juga: Menstruasi dan Harga Mahal yang Harus Dibayar Perempuan
Teater Sapu Tangan Jelaga: Di Antara Adat dan Kebebasan Perempuan
Paradoks Perempuan Sunda: Setara di Ranah Budaya, Jadi Bahan Banyolan Seksis di Dunia Nyata

Apa Itu Keberanian dan Kebebasan Bagi Perempuan?

Dulu saya berpikir bahwa dengan saya bisa pergi jauh dari rumah artinya saya sudah bebas. Keberanian itu mungkin memang ada, tetapi apakah itu juga berarti bebas? Belakangan saya sadari jawabannya ternyata tidak.

Bebas dari Ketakutan, sebuah buku karya Thubten Chodron menjadi pemantik diskusi hari itu. Buku tersebut menyajikan bahasan tentang Arya Tara sebagai sosok pembebas semua makhluk dari penderitaan dan dijuluki sebagai “ibu dari semua Buddha.”

Konon, sebelum menjadi Buddha, Arya Tara adalah seorang dewi bernama Yeshe Dawa. Ia bersumpah untuk mencapai pencerahan dalam tubuh perempuan dan terus terlahir sebagai perempuan demi kepentingan semua makhluk. Di lain kisah, Tara lahir dari air mata Awalokiteshwara, Buddha Welas Asih, yang saat itu meratap karena neraka dipenuhi oleh makhluk-makhluk yang terlahir di sana. Adanya Tara adalah untuk membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaan dengan cepat dan tangkas.

Di Nusantara, Arya Tara memiliki “rumah” di Candi Kalasan yang dibangun pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno. Arca-arca Arya Tara juga dapat ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang pada masa lampau menjadi pusat kekuasaan Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya, serta meluas hingga wilayah Jawa Timur tempat berdirinya beberapa kerajaan besar, seperti Kediri, Panjalu, Singasari, hingga Majapahit. Eksistensi Arya Tara juga beririsan dengan kepercayaan masyarakat agraris di pulau Jawa. Dalam masyarakat petani, Dewi Sri atau Dewi Padi yang merupakan sosok pemujaan agar hasil panen padi selalu berlimpah setiap tahunnya juga diyakini sebagai salah satu perwujudan Dewi Tara.

Selaras dengan workshop gerak tari, secara visual tubuh Arya Tara tampak seperti seseorang yang sedang menari. Kaki kanannya yang terjulur ke depan menunjukkan kesiapannya untuk masuk ke alam para makhluk yang menderita untuk membebaskannya. Tangan kanan yang berada di atas lutut kanannya dengan telapak tangan terbuka yang melambangkan cinta kasih dan perlindungan. Sementara ibu jari dan jari manis tangan kirinya saling menyentuh dan tiga jari lainnya terentang ke atas seperti gerakan menari. Kaki kirinya yang terlipat ke dalam menunjukkan bahwa ia punya kendali penuh atas dirinya sendiri, tidak peduli jika ada yang memuji atau menghakimi. Dengan kualitas-kualitas yang dimilikinya tersebut, Tara menghadapi seluruh penderitaan tanpa rasa takut. Semua kualitas-kualitas Tara itu pula sebenarnya dimiliki oleh setiap orang.

Itu yang saya tuliskan dari apa yang saya ketahui tentang buku itu, tentang diskusi itu. Saya membaca tentang figur-figur perempuan yang kuat, mencoba memahami apa yang membuat mereka berani, lalu menuliskannya seakan tidak ada hal yang menjadi beban di pikiran. Ironisnya, saya tetap tidak tahu bagaimana cara keluar dari semua belenggu yang setiap hari saya bawa sampai hari ini. Tidak ada yang bisa saya jadikan petunjuk. Aturan-aturan sosial itu sudah sejak lama merampas hak-hak dan keberanian saya untuk menjadi diri sendiri secara utuh. Saya kelimpungan untuk mencoba melihat potensi dalam diri.

Ada waktu di mana saya merasa asing dengan tubuh saya sendiri, dengan suara saya sendiri. Yang saya punya hanya rasa takut. Takut dengan semua mata yang memandang, takut dengan perubahan yang akan terjadi pada tubuh saya, takut mencoba hal baru, takut bersuara, takut merasakan, takut bermimpi, takut melihat setiap celah dan ketidaksempurnaan dalam diri saya, takut menjadi berani. Bahkan saya takut untuk menuliskan semua ketakutan itu. Menjadi perempuan bagi saya ialah setiap hari hidup bersama penderitaan dan ketakutan. Tidak ada kualitas Arya Tara di dalam diri saya. Saya tidak pernah tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan keberanian dan kebebasan.

Penampilan Hot Mamah Dance Club di NDBF 7.0. (Foto: Tim Dokumentasi NDBF 7.0)
Penampilan Hot Mamah Dance Club di NDBF 7.0. (Foto: Tim Dokumentasi NDBF 7.0)

Saya Tidak Ingin Menari, Saya Ingin Duduk Bersama Ketakutan

Saya masih duduk di tempat paling pinggir. Mengamati tubuh-tubuh yang berlenggak-lenggok, jemari yang tanpa beban bergerak sesuka hati, kaki-kaki yang dengan mudah mengikuti ritme musik. Wajah-wajah itu, hanya ada kegembiraan. Wajah yang seharusnya dimiliki semua perempuan setiap harinya. Tiada takut, tiada waswas, tiada menunduk.

Belum ada keinginan untuk saya ikut menari di hari itu. Saya tidak ingin menjadi berani. Keberanian bagi saya adalah sesuatu yang masih terlalu sulit untuk saya jamah. Saya baru mulai belajar untuk duduk berhadapan dengan ketakutan di dalam diri saya, satu demi satu. Saya baru belajar memahami kemudian mengurainya dengan semua pengamatan saya yang tidak utuh itu.

Saya tidak tahu apa artinya menjadi perempuan yang bebas dan merdeka. Saya tidak pernah diajarkan tentang itu. Saya hanya tahu bahwa saya tidak ingin lagi mengingat warna gincu apa yang cocok untuk bibir saya, mengapa tubuh saya begini, mengapa pakaian saya begitu. Saya ingin melupakan cara-cara untuk menjadi sempurna. Saya hanya ingin menjadi seperti perempuan-perempuan yang menari di hari itu. Tidak tahu bagaimana caranya, tetapi suatu hari saya akan ke sana.

Dari tempat yang paling pinggir itu saya melihat dengan jelas hanya ada tawa. Saya tidak ingat satu demi satu gerakan tubuh yang diperagakan, tetapi samar-samar saya melihat bayangan tentang keberanian. Tentang kekuatan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//