Teater Sapu Tangan Jelaga: Di Antara Adat dan Kebebasan Perempuan
Lewat kisah sebuah desa rekaan, Niskala Anagata menampilkan wajah adat yang rumit: menjadi pelindung sekaligus alat untuk membungkam pilihan perempuan.
Penulis Anisa Putri Balqis3 Agustus 2026
BandungBergerak - Sekar menjadi sasaran tuduhan. Warga meyakininya sebagai penyebab wabah penyakit dan gagal panen yang melanda desa. Namun, seiring cerita bergulir, tuduhan itu menguak persoalan yang jauh lebih rumit. Ada pihak yang sesungguhnya bertanggung jawab, sementara kepentingan pribadi berlindung di balik legitimasi aturan adat.
Tokoh Sekar hidup di sebuah desa fiktif yang memegang teguh hukum adat. Di sana, perempuan yang menikah dengan laki-laki dari luar desa dipercaya akan mendatangkan petaka bagi kampung halamannya. Kepercayaan itulah yang membuat ayahnya memaksanya menerima perjodohan. Mampukah Sekar melawan nasib yang telah ditentukan keluarganya sekaligus menggugat aturan adat yang membelenggunya?
Pergulatan itu dihadirkan dalam pementasan teater Sapu Tangan Jelaga, garapan kelompok Niskala Anagata yang disutradarai Dini Nurlaila. Pertunjukan berlangsung di Padepokan Seni Mayang Sunda, Sabtu, 18 Juli 2026. Berdasarkan pengamatan di lokasi, seluruh kursi di gedung pertunjukan terisi penuh pada pementasan siang itu.
Bagi Dini, cerita Sekar tidak dimaksudkan untuk menghakimi adat maupun memuliakan modernitas.
"Pementasan sengaja dibangun dari dua sudut pandang, agar penonton tidak digiring untuk menyimpulkan bahwa adat sepenuhnya salah maupun bahwa segala yang modern otomatis lebih benar," ujarnya, setelah pertunjukan.
Perempuan 21 tahun itu menjelaskan, isu perjodohan dipilih karena masih menjadi kenyataan bagi sebagian perempuan Sunda maupun Jawa pada masa lalu, ketika perempuan kerap dilarang menikah dengan laki-laki dari luar daerahnya. Gagasan itu berangkat dari pengalaman pribadinya, lalu dikembangkan menjadi cerita tentang sebuah desa fiktif dengan aturan adat yang mengikat.
Selain perjodohan, naskah ini juga menyinggung persoalan perselingkuhan, relasi keluarga, dan feminisme. Seluruhnya dirangkai dalam bingkai adat yang tercermin melalui bahasa, busana, hingga kebiasaan masyarakat desa.
Menariknya, Sapu Tangan Jelaga bukanlah rencana produksi awal kelompok ini. Semula, tim hendak mementaskan naskah Suara Riuh Belenggu, yang juga mengangkat tafsir budaya tentang seorang anak perempuan yang dilarang mengikuti tradisi tertentu.
Rencana itu berubah, lalu gagasannya kami tulis ulang menjadi naskah baru berdasarkan pengalaman personal yang terasa lebih relevan.
Pemilihan judul pun memiliki makna tersendiri. "Sapu tangan" terinspirasi dari sapu tangan khas Bandung Selatan yang terlintas saat proses pencarian judul, sedangkan "jelaga" dipilih sebagai metafora kebebasan, melalui citra asap yang mengepul dan burung yang terbang lepas.
Semangat kebebasan itu juga memengaruhi proses kreatif pertunjukan. Meski mendapat arahan untuk mengangkat tema budaya, tim memilih tidak menampilkan adat secara kolosal. Sebaliknya, adat dihadirkan secara realistis melalui bahasa, pakaian, dan kebiasaan masyarakat desa rekaan. Karena itu, hukum adat yang muncul di dalam cerita sepenuhnya merupakan konstruksi fiksi dan tidak merujuk pada praktik adat tertentu di Jawa Barat.
Prinsip yang sama diterapkan selama proses produksi. Para pemeran diberi ruang untuk mengembangkan karakter sesuai pendekatan masing-masing. Penulis naskah pun hanya dibekali gagasan dasar dan judul sebelum mengembangkannya secara mandiri. Kebebasan berekspresi itu menjadi cerminan dari perjuangan Sekar sendiri: mempertahankan hak untuk menentukan jalan hidupnya.
Baca Juga: Tumpeng Cikondang Menjaga Zaman
Teater Payung Hitam Dilarang Menampilkan Lakon Wawancara Dengan Mulyono, Kebebasan Berekpresi Kampus ISBI Dibungkam

Pesan tersebut juga sampai kepada penonton. Bagi Al Purya Futri Susanto, 23 tahun, beberapa adegan musikal menjadi bagian yang paling membekas.
"Musik, nyanyian, sama penampilan pemeran bikin bagian itu jadi berkesan," ujarnya.
Secara keseluruhan, ia menilai tata musik pertunjukan tergarap rapi dan selaras dengan setiap babak. Tata cahaya juga dinilai cukup baik, meski pada beberapa adegan perpindahan lampu terasa sedikit terlambat. Kostum dianggap berhasil menggambarkan latar cerita, walaupun detailnya tidak terlalu ia ingat.
Catatan utamanya justru tertuju pada tata panggung. Menurutnya, latar sebuah desa akan terasa lebih kuat apabila jumlah rumah warga di atas panggung diperbanyak. Meski demikian, ia menilai set warung menjadi elemen yang paling berhasil menghadirkan kehidupan sosial masyarakat desa.
Al Purya juga menyoroti blocking pada adegan penutup ketika seluruh tokoh berkumpul di rumah kepala desa. Tokoh Sekar diperankan Annisa Astriani, Wira oleh Azizil Afridiva, dan Bu Haji oleh Siti Ayu Wulandari.
"Itu terlalu banyak tokoh yang posisinya di bawah panggung. Kalau dari kursi penonton, rasanya jadi butuh effort buat nengok-nengok. Kalau semuanya di atas panggung kan penonton jadi bisa fokus lihat ke panggung aja," katanya.
Ia mengaku merasakan hal itu karena duduk di barisan paling depan. Di antara seluruh pemeran, tokoh Bu Haji menjadi favoritnya.
"Dia bisa bikin penonton ketawa sama ucapan dan kelakuannya," ujarnya.
Meski berlatar desa rekaan, persoalan yang diangkat Sapu Tangan Jelaga terasa dekat dengan kenyataan. Kisah tentang perempuan yang harus berhadapan dengan aturan kolektif demi menentukan jalan hidupnya sendiri masih terus bergema di tengah perdebatan mengenai batas antara tradisi, kuasa keluarga, dan kebebasan perempuan. Perjuangan Sekar di atas panggung menjadi cermin bagi pergulatan yang hingga kini masih dialami banyak perempuan di luar panggung.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


