Tumpeng Cikondang Menjaga Zaman
Di Kampung Adat Cikondang, Wuku Taun bukan sekadar perayaan syukur. Tradisi diwariskan sejak 1702. Setiap butir nasi menjadi penanda hubungan manusia dengan alam.
Di Kampung Adat Cikondang, Wuku Taun bukan sekadar perayaan syukur. Tradisi diwariskan sejak 1702. Setiap butir nasi menjadi penanda hubungan manusia dengan alam.
BandungBergerak - Sinar matahari menerobos hutan di kaki Gunung Tilu, membentuk garis-garis cahaya di tanah. Cahaya itu seolah menuntun empat perempuan paruh baya berjalan perlahan menuju rumah adat di Kampung Adat Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, pada 2 Juli 2026, bertepatan dengan rangkaian bulan Muharam.
Masing-masing membawa boboko, wadah anyaman bambu berisi beras yang akan dimasak secara tradisional di atas hawu (perapian) di dalam rumah adat. Beras putih dan kuning itu akan diolah menjadi nasi tumpeng sebagai bagian dari tradisi Wuku Taun, ungkapan syukur masyarakat adat atas limpahan rezeki.
Namun, Wuku Taun bukanlah perayaan yang berlangsung dalam sehari. Rangkaian ritual telah dimulai dua hari sebelumnya.
Pada 30 Juni 2026, warga bergotong royong membuat wadah-wadah dari daun pisang di balai adat, rumah panggung yang berada di bawah kawasan rumah adat. Di sampingnya terdapat lisung (lesung) berusia ratusan tahun untuk menumbuk padi. Sementara di lahan terbuka di bawah balai adat, hamparan sawah adat tampak menghijau dengan padi yang baru ditanam.
Sehari kemudian, 1 Juli 2026, para tetua dan warga adat tertentu melaksanakan prosesi pencucian pusaka. Ritual yang berlangsung tengah malam itu tertutup bagi masyarakat umum. Pengambilan foto maupun video juga dilarang.
"Besok saja, tanggal 2 Juli, boleh masuk rumah adat dan meliput di dalam," kata salah seorang tetua adat sekaligus juru kunci Kampung Adat Cikondang, Anom Juhana.
Keesokan paginya, rumah adat mulai dipenuhi aktivitas. Sejak pagi, para perempuan membagi tugas. Ada yang meracik bumbu, menyiapkan bahan masakan, hingga menanak nasi tumpeng menggunakan langseng, semacam dandang dengan kukusan bambu berbentuk segitiga, di atas hawu.
Sementara itu, di halaman rumah adat, perempuan lain memasak lauk-pauk seperti ayam kampung, ikan air tawar, sambal goreng kentang, dan telur. Kaum pria hilir mudik membawa ayam yang telah dibersihkan, mengangkut kayu bakar dari hutan adat, serta membagikan beras ke rumah-rumah warga yang ikut menanak nasi tumpeng.
Kesibukan itu terus berlangsung hingga puncak acara Wuku Taun. Kaum pria berpakaian pangsi putih tak henti mengangkut kayu bakar dan mendistribusikan beras ke rumah-rumah warga.

"Nanti kalau beras sudah diolah jadi nasi tumpeng, kami jemput lagi. Semuanya dikumpulkan di rumah adat, lalu dibagikan kembali kepada seluruh warga dalam bentuk hidangan lengkap," kata Elis Ervina Permana, manajer Cikondang Nanjeur, organisasi yang mengelola wisata budaya Kampung Adat Cikondang.
Jumlah hidangan yang dibagikan bisa mencapai lebih dari 900 bungkus. Sebagian besar bahan pangan berasal dari kampung sendiri, mulai dari hasil sawah, ternak, budidaya ikan, hingga kebun.
Di balik ratusan hidangan itu, perempuan memegang peran utama. Khusus di dalam rumah adat, nasi tumpeng putih dan kuning yang berisi seekor ayam utuh hanya boleh diolah oleh perempuan lanjut usia. Remaja maupun perempuan yang belum menikah tidak diperkenankan mengerjakannya.
Sambil terus mengawasi langseng, para ibu juga menyiapkan rujak Suro dari irisan pisang emas dan nanas.
Di dapur luar, Yati dan Reni sibuk memasak sambal goreng kentang, merebus telur, serta menyiapkan pelengkap hidangan. Yati telah lama menjadi relawan dalam Wuku Taun, sedangkan Reni baru pertama kali ikut terlibat.
"Kita nggak bisa maksa atau menyuruh warga lainnya untuk membantu. Harus dari hati mereka sendiri. Intinya tidak boleh ada ajakan atau paksaan," kata Yati.
Di sebelahnya, Nova membantu mengupas telur rebus, mencuci gelas, dan membersihkan piring-piring kaleng. Perempuan berusia 20 tahun itu menjadi peserta termuda di antara mereka yang menyiapkan hidangan.
"Ibu saya selalu sibuk saat Wuku Taun. Dia nggak pernah ngajak atau memaksa saya ikut aktif. Tahun ini baru pertama kali saya membantu. Nggak tahu, tiba-tiba saja dalam hati pengen ikut," katanya.
Di pawon lain, sejumlah perempuan paruh baya tak kalah sibuk menggoreng ayam, ikan nila, tahu, dan tempe. Satu baskom lauk yang matang segera dikirim ke bagian lain sebelum mereka kembali mengolah bahan berikutnya.
Menjelang tengah hari, hampir seluruh masakan telah tersusun rapi di dalam wadah daun pisang. Setiap wadah berisi hidangan lengkap beserta kue-kue tradisional khas Cikondang, seperti kolontong, rangginang, opak, dan aneka kudapan manis. Satu paket disiapkan untuk satu keluarga.
Setelah semua siap, giliran kaum pria mengantarkannya ke seluruh penjuru desa. Puluhan paket dimuat ke dalam tolombong, wadah bambu besar yang dipikul dua orang. Untuk tujuan yang lebih jauh, tolombong diangkut menggunakan sepeda motor karena jalan desa di kaki gunung itu menanjak dan menurun dengan lereng yang cukup curam.
Tolombong-tolombong itu melintasi jalan dan gang berkelok di tengah perkampungan. Hampir setiap rumah memiliki halaman, kandang ayam kampung, dan kolam ikan. Halamannya ditanami sayuran, bunga, serta pohon kopi, sementara kolamnya dipenuhi ikan nila dari berbagai ukuran.
Kemeriahan Wuku Taun tidak hanya dinikmati warga yang menetap di kampung. Kerabat dan warga yang telah merantau pun pulang ke Cikondang untuk bersilaturahmi, membawa pulang hidangan Wuku Taun serta air yang dianggap keramat dalam bumbung bambu.
Bagi masyarakat adat Cikondang, Wuku Taun merupakan ungkapan syukur atas rezeki dan keberkahan. Tradisi ini digelar 16 hari setelah Tahun Baru Islam, 1 Muharam, sebagai penanda memasuki lembaran baru dengan doa, harapan, dan ikhtiar, sekaligus mengenang keberkahan yang diterima sepanjang tahun sebelumnya.
Tradisi yang telah diwariskan sejak 1702 itu terus bertahan melintasi zaman. Lebih dari sekadar upacara adat, Wuku Taun menjadi cara masyarakat Cikondang menjaga hubungan dengan alam. Hutan adat, sawah, kebun, kolam, dan pekarangan dipelihara sebagai sumber kehidupan sekaligus fondasi ketahanan pangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS