• Berita
  • Paradoks Perempuan Sunda: Setara di Ranah Budaya, Jadi Bahan Banyolan Seksis di Dunia Nyata

Paradoks Perempuan Sunda: Setara di Ranah Budaya, Jadi Bahan Banyolan Seksis di Dunia Nyata

Di tengah kebudayaan yang menempatkan perempuan sebagai sumber kehidupan, seksisme justru terus hadir dalam candaan, ruang publik, hingga perilaku para pejabat.

Konsep perempuan dalam kultur Sunda, didiskusikan di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 5 September 2026. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Penulis Fitri Amanda 7 September 2026


BandungBergerak - Di sebuah kampung di Sumedang, seorang anak perempuan tumbuh dengan mengenal dua pandangan tentang menjadi perempuan Sunda. Di rumah, ia mengenal Sunda sebagai kebudayaan yang menjunjung kesetaraan. Namun, ketika di luar rumah ia justru menemukan bagaimana perempuan diperlakukan sebaliknya.

Banyolan seksis atau menjadikan tubuh dan status perempuan sebagai bahan guyonan, menurut Ismi Rinjani hanyalah bagian paling bawah dari piramida persoalan yang telah dihadapi perempuan sejak lama. Ia menemukan bentuk-bentuk misogini itu sejak berada di bangku sekolah, misalnya di antara teman-teman laki-lakinya, ia mendengar obrolan yang menjadikan kekerasan seksual sebagai bahan lelucon, seperti menyingkap rok teman perempuan, hingga menyaksikan berbagai perilaku lain yang menurutnya menunjukkan betapa mudah perempuan dijadikan objek.

“Banyak banget sebenarnya perbuatan busuk yang diterima oleh perempuan-perempuan Sunda sejak (mereka) kecil,” ucap Ismi Rinjani, penulis buku Semesta Manusia Sunda: Hidup Selaras dengan Alam dan Leluhur” dalam diskusi Sabtu Sore di Perpustakaan Bunga di Tembok, 5 September 2026.

Ketika Ismi keluar dari Sumedang, ia kembali melihat persoalan yang sama. Menurutnya, pendidikan tinggi yang ditempuh oleh seorang laki-laki tidak menjadi jaminan ia tidak melakukan perbuatan yang sama. Masih banyak laki-laki yang memandang perempuan sebagai manusia kelas dua, bukan sebagai manusia yang setara.

Semua itu berbanding terbalik dengan ajaran budaya Sunda yang diturunkan oleh ayahnya. Sepengetahuannya, budaya Sunda sebagai budaya yang menjunjung nilai kesetaraan, baik laki-laki dan Perempuan. Kesetaraan itu tidak hanya berlaku antarsesama manusia, tetapi juga dengan alam. Bagi Ismi, cara pandang tersebut menunjukkan bahwa hierarki bukanlah satu-satunya cara masyarakat Sunda memahami hubungan antarmakhluk.

Pandangan serupa disampaikan Lisan Shidqi, seorang peneliti yang berfokus pada bahasa, sastra, dan multikulturalisme. Ia menjelaskan, dalam kebudayaan Sunda tradisional, perempuan justru ditempatkan pada posisi yang tinggi.

Hal itu tercermin dalam peribahasa Sunda “indung tunggul rahayu, bapa tangkal derajat” yang artinya adalah ibu atau indung diibaratkan sebagai akar kehidupan, sementara bapak sebagai pohon atau ranting yang tumbuh dari akar tersebut. Ketika ranting patah, pohon masih dapat menumbuhkan tunas baru. Namun ketika akarnya yang mati, kehidupan pohon juga akan ikut mati.

Lisan juga menjelaskan bahwa penghormatan terhadap perempuan dalam budaya Sunda tidak hanya berhenti di peribahasa. Dalam kepercayaan Sunda tradisional, ada Sunan Ambu atau susunan ambu, yang diyakini sebagai sosok ibu pelindung, mengatur, sekaligus melahirkan kehidupan. Ada juga Nyi Pohaci Sanghyang Sri, tokoh perempuan dalam sastra Sunda kuno yang dikaitkan dengan hadirnya padi dan berbagai tumbuhan yang menjadi sumber kehidupan manusia.

Kisah-kisah seperti Nini Anteh juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang yang kuat dalam sastra dan imajinasi masyarakat Sunda. Namun hari ini terasa kontras. Perilaku seksis justru dipertontonkan oleh para pemimpin Jawa Barat. Contoh paling mutakhir adalah munculnya lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang dibuat oleh Bupati Purwakarta. 

“Kok bisa orang Sunda itu begitu kontras dengan masa lalunya yang apik terdokumentasikan dalam karya sastranya yang mengagungkan dan menghormati kedudukan perempuan,” ungkap Lisan

Menanggapi hal tersebut, Nabila Eva, pengelola Perpustakaan Bunga di Tembok, menyoroti perilaku beberapa pejabat yang secara terbuka membawa identitas Sunda yang dapat dengan mudah dibaca sebagai representasi dari kebudayaan Sunda itu sendiri. Namun, ketika pemimpin melontarkan candaan atau banyolan seksis, yang ikut terseret bukan hanya reputasi pribadi, tetapi juga gambaran masyarakat terhadap budaya yang diklaim ia wakili. 

“Jadi seakan-akan budaya Sunda itu seksis dan tidak menghargai perempuan,” ucapnya.

Baca Juga: Perlawanan terhadap Pelaku Seksis di Ruang Skena Musik Bandung
Kritik Seksis pada Politisi Perempuan dan Pelanggengan Budaya Patriarki

Diskusi Sabtu Sore tentang perempuan Sunda di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 5 September 2026. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)
Diskusi Sabtu Sore tentang perempuan Sunda di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 5 September 2026. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Posisi Perempuan dalam Kebudayaan Sunda

Jejak mengenai tingginya posisi perempuan dalam kebudayaan Sunda tidak hanya ditemukan dalam cerita lisan, tetapi juga dalam bahasa, mitologi, sejarah, hingga ritual yang hingga saat ini masih dijalankan.

Dalam bahasa Sunda, perubahan cara menyebut perempuan ikut merekam perubahan posisi mereka. Penelitian Susi Yuliawati terhadap majalah Mangle sepanjang 1958 - 2013, menunjukkan bahwa sejumlah kosakata yang merujuk pada perempuan mengalami perubahan penggunaan dan makna. Salah satunya adalah kata wanoja yang penggunaannya meningkat seiring semakin aktifnya perempuan di ruang publik.

Berbeda dari sejumlah istilah lain yang mendefinisikan perempuan melalui relasinya dengan laki-laki, wanoja tidak memiliki pasangan istilah yang maskulin. Ia merujuk pada perempuan sebagai individu yang berdiri dengan kepentingannya sendiri.

Dalam penelitian lain yang bertajuk Perempuan dalam Sistem Budaya Sunda (Peran dan Kedudukan Perempuan di Kampung Geger Hanjuang Leuwisari Tasikmalaya) menunjukkan bahwa perempuan Sunda pernah menempati posisi penting dalam sejarah. Contohnya seperti Bhatari Hyang yang tidak hanya memimpin Galunggang tetapi juga dikenal sebagai resi yang dihormati karena pengetahuannya. Meski begitu, posisi perempuan kemudian mengalami pergeseran seiring masuknya berbagai pengaruh dari luar tatar Sunda.

Dalam kehidupan masyarakat Kampung Geger Hanjuang, dinamika peran dan kedudukan perempuan Sunda terjadi. Di  sebelum 1980-an, perempuan Sunda di kampung Geger Hanjuang tidak memiliki kesempatan untuk berkiprah di ruang publik. Perempuan lebih banyak ditempatkan dalam ranah domestik, sementara laki-laki dipandang sebagai pemimpin utama keluarga. Tetapi hal tersebut kemudian bergeser kembali pada masa kini di mana perempuan Sunda dapat memiliki peran di ruang publik dan memiliki kedudukan sebagaimana laki-laki di masyarakat.

Gambaran yang berbeda terlihat dalam penelitian Jajang A. Rohmana dan Enawati, melalui kajian terhadap ritual Mapag Dewi Sri di Kampung Banceuy, Subang. Penelitian ini menunjukkan bahwa meski laki-laki memegang peran penting, tetapi kaum perempuan adat Banceuy juga mempunyai fungsi dan peran yang khas yang tidak boleh dilakukan oleh laki-laki.

“Sebagai sebuah simbol penghormatan, perempuan lebih banyak memegang peranan dari sejak acara persiapan ritual hingga pasca ritual,” tulis peneliti.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//