• Opini
  • Ranca Upas, Lahan Gambut Pegunungan yang Perlu Diselamatkan

Ranca Upas, Lahan Gambut Pegunungan yang Perlu Diselamatkan

Ranca Upas menjadi contoh langka ekosistem gambut pegunungan yang dapat menjadi laboratorium alam sekaligus ruang pendidikan publik. Kelangsungannya kini terancam.

Eko Yulianto

Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Pengeboran tangan di lahan gambut Ranca Upas. Permukaan lahan gambut ditumbuhi rerumputan tebal yang tumbuh di atas permukaan air rawa (Foto: Eko Yulianto)

9 Oktober 2026


BandungBergerak – Lahan gambut tropis pegunungan yang mudah dijangkau masyarakat tidak banyak. Salah satunya bisa ditemukan di wilayah pegunungan Selatan Bandung, tepatnya di Ranca Upas, Ciwidey, Jawa Barat. Karena itu, Ranca Upas, memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kawasan wisata. Di sini terdapat satu contoh langka ekosistem gambut pegunungan yang dapat menjadi ruang penelitian sekaligus laboratorium pendidikan publik tentang air, karbon, keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan sejarah lingkungan.

Sayangnya, ekosistem langka ini sedang menghadapi ancaman tersembunyi. Ranca-ranca di sekitar Ranca Upas mulai dimanfaatkan untuk pertanian, termasuk budidaya stroberi, dengan sebagian lahan dikeringkan melalui pembuatan saluran yang mengalirkan air keluar dari rawa. Bagi pertanian, drainase membuat lahan lebih mudah dikelola, tetapi bagi gambut, keluarnya air berarti hilangnya salah satu syarat utama yang mempertahankan ekosistemnya.

Ancaman tersebut tidak hanya menyangkut hilangnya habitat flora dan fauna di rawa. Ketika muka air gambut turun, lapisan organik menjadi lebih kering dan lebih mudah teroksidasi. Dalam kondisi yang cukup kering, gambut juga menjadi lebih rentan terbakar. Karena itu, mempertahankan air di dalam gambut bukan sekadar persoalan konservasi tumbuhan, melainkan juga bagian dari upaya untuk mengurangi risiko kebakaran.

Beberapa waktu lalu saya melihat langsung dunia yang tersembunyi di bawah permukaan Ranca Upas melalui pengeboran tangan. Hingga kedalaman 9 meter, sebagian besar inti yang diperoleh berupa gambut. Pengeboran belum mencapai batas bawahnya karena saya berhenti setelah tidak lagi mampu melanjutkan pekerjaan itu sendiri.

Temuan itu memperlihatkan bahwa rawa Ranca Upas jauh lebih kompleks daripada yang terlihat dari permukaan. Di antara lapisan gambut tersebut terdapat beberapa lapisan abu gunung api. Gambut dan abu itu tersusun seperti halaman-halaman sebuah buku. Bahan organik terakumulasi perlahan menyimpan catatan kondisi lingkungan dari waktu ke waktu selama ribuan tahun, lalu beberapa kali letusan gunung api menjatuhkan abu dan menyisipkannya sebagai lapisan-lapisan di antara gambut.

Ada karakter lain yang juga menarik. Gambut yang diperoleh tidak tampak didominasi sisa tumbuhan berkayu, melainkan terutama sisa tumbuhan rendah, khususnya rerumputan. Jika analisis makrofosil dan serbuk sari nantinya mengonfirmasi dominasi tersebut pada berbagai kedalaman, hal itu dapat menjadi petunjuk bahwa lingkungan rawa berumput yang kita lihat sekarang telah menjadi karakter penting kawasan ini dalam waktu yang sangat panjang.

Dengan demikian, selimut rumput di permukaan mungkin bukan sekadar vegetasi masa kini. Ia mungkin merupakan kelanjutan dari karakter ekosistem yang, dalam waktu panjang, menghasilkan bahan organik dan membentuk gambut di bawahnya.

Baca Juga: Bukan Bunga Rawa saja yang Hancur di Ranca Upas, Kesadaran Lingkungan Turut Tercerabut
Belajar dari Perusakan Ranca Upas, Hutan Lindung Harga Mati!
Berkaca dari Kasus Motor Trail Ranca Upas, Hutan Lindung Memerlukan Zonasi Berbasis Kearifan Lokal

Rawa yang Terasa Seperti Trampolin

Keunikan gambut Ranca Upas bahkan dapat dirasakan tanpa mata bor. Pada bagian tertentu, berjalan di atas hamparan rumput rawa terasa berbeda dari berjalan di atas tanah mineral. Permukaannya kenyal dan sedikit bergoyang ketika diinjak, seperti berjalan di atas trampolin.

Penyebabnya adalah kombinasi vegetasi, gambut, dan air. Di bawah lapisan rumput terdapat bahan organik yang jenuh air dalam jumlah besar. Ketika diinjak, lapisan tersebut tertekan; setelah beban dilepaskan, permukaan kembali bergerak. Sensasi sederhana ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai padang rumput sebenarnya adalah bagian atas sebuah sistem hidrologis yang basah.

Karena itu, air harus dipandang sebagai unsur utama yang menjaga gambut. Selama kondisi jenuh air bertahan, kekurangan oksigen memperlambat penguraian bahan organik. Ketika air dialirkan keluar melalui saluran drainase, oksigen dapat masuk lebih jauh ke dalam lapisan gambut, sehingga proses penguraian dan oksidasi meningkat.

Di sinilah praktik pengeringan dalam pertanian menjadi persoalan lingkungan. Petani memang membutuhkan lahan produktif, tetapi gambut membutuhkan air. Yang perlu dikendalikan bukan keberadaan petaninya, melainkan perubahan hidrologi yang membuat ekosistem rawa kehilangan fungsi alaminya.

Jika drainase berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat menjalar dari hilangnya tandon air alami dan flora fauna khas rawa hingga meningkatnya kerawanan kebakaran. Gambut yang kering juga dapat mengalami penyusutan dan perubahan sifat fisik, sehingga pemulihannya ke kondisi semula menjadi semakin sulit.

Pengeboran tangan tersebut tentu bukan penelitian stratigrafi yang lengkap. Belum ada penanggalan radiokarbon, analisis mikroskopis, analisis kandungan karbon, maupun analisis geokimia terhadap inti bor. Karena itu, umur gambut dan setiap lapisan di dalamnya belum dapat ditentukan hanya berdasarkan kedalamannya. Meskipun dari pengalaman, saya menduga bahwa 9 meter inti bor itu mulai diendapkan sekitar 8-9 ribu tahun lalu.

Namun, struktur inti bor menimbulkan pertanyaan penting. Jika hingga 9 meter sebagian besar materialnya berupa gambut dan pengeboran belum mencapai dasarnya, seberapa tebal sebenarnya tubuh gambut Ranca Upas?

Pertanyaan tersebut penting karena ketebalan gambut merupakan hasil interaksi berbagai proses dalam jangka panjang. Komposisi bahan penyusunnya juga dapat memberikan petunjuk tentang vegetasi yang hidup saat gambut terbentuk. Jika dominasi sisa tumbuhan rendah terbukti konsisten, kita mungkin mendapatkan gambaran bahwa rawa berumput bukan fenomena baru, melainkan karakter lanskap yang telah bertahan ribuan tahun.

Lapisan abu gunungapi (tefra) menambah dimensi lain. Letusan gunung api dapat menebarkan abu dalam waktu singkat ke wilayah yang luas. Jika abu jatuh di atas rawa dan kemudian tertutup oleh bahan organik, ia dapat tersimpan sebagai lapisan tefra yang berpotensi menjadi penanda waktu.

Analisis geokimia dapat digunakan untuk menentukan sumber material tersebut. Jika dapat dicocokkan dengan produk letusan gunung api tertentu, lapisan abu itu bahkan dapat membantu menghubungkan sejarah Ranca Upas dengan arsip vulkanik di tempat lain.

Ranca Upas sebenarnya telah lama menarik perhatian ilmu pengetahuan. Ahli palinologi Inge-Lise M. Stuijts menggunakan sedimen dari sejumlah lokasi pegunungan Jawa Barat untuk merekonstruksi sejarah vegetasi dan perubahan lingkungan. Ranca Upas termasuk salah satu lokasi yang diteliti, dengan rekaman mencapai sekitar 10.400 tahun lalu.

Analisis serbuk sari memperlihatkan perubahan komposisi vegetasi selama Holosen, termasuk perubahan dominasi kelompok pohon seperti Engelhardia (Ki Hujan) dan Quercus (Ki Pasang). Artinya, jauh sebelum Ranca Upas menjadi kawasan wisata, tempat ini telah menyimpan rekaman perubahan lingkungan selama ribuan tahun.

Temuan pengeboran saat ini membuka pertanyaan baru: apakah gambut sembilan meter tersebut merupakan bagian dari arsip lingkungan yang sama? Apakah lapisan abu di dalamnya dapat menjadi penanda waktu? Dan apakah perubahan vegetasi yang tercermin dalam penelitian Stuijts dapat ditemukan kembali pada intibor gambut tersebut?

Semua itu membutuhkan penelitian lebih lanjut. Namun, justru karena potensinya itulah Ranca Upas perlu dipertahankan.

Bunga Edelweis rawa dari Ranca Upas. (Foto: Woro S. Sukapti)
Bunga Edelweis rawa dari Ranca Upas. (Foto: Woro S. Sukapti)

Menjaga Laboratorium Alam

Petunjuk mengenai karakter lahan basah Ranca Upas bahkan tersimpan dalam namanya. Dalam bahasa Sunda, ranca berarti rawa. Di Jawa Barat terdapat sejumlah nama tempat yang mengandung unsur  “ranca”. Nama tersebut tentu tidak membuktikan bahwa setiap ranca merupakan gambut, tetapi dapat menjadi petunjuk awal untuk mencari kembali lahan basah yang telah berubah.

Ranca Upas juga memiliki tumbuhan khas yang dikenal masyarakat sebagai edelweis rawa. Nama ini tidak berarti bahwa tumbuhan tersebut sama dengan edelweis Jawa (Anaphalis javanica). Pakar taksonomi Universitas Padjadjaran, Joko Kusmoro, mengidentifikasinya sebagai Eriocaulon brownianum Mart., anggota famili Eriocaulaceae.

Nilai tumbuhan tersebut bukan semata-mata pada bentuk bunganya, melainkan pada habitat basah yang menopang kehidupannya. Karena itu, ketika habitat rawa dikeringkan atau rusak, yang terancam bukan hanya tanaman, tetapi seluruh komunitas yang bergantung pada kondisi tersebut.

Pada 2023, kawasan Ranca Upas menjadi perhatian setelah kegiatan motor trail merusak lahan yang ditumbuhi dan dibudidayakan edelweis rawa. Peristiwa itu sering dipahami sebagai kerusakan bunga, padahal yang rusak adalah bagian dari habitat. Kasus tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa ekosistem rawa yang tampak sederhana di permukaan memiliki daya pulih yang berbeda dari lapangan biasa.

Nilai terbesar Ranca Upas mungkin justru terletak pada kenyataan bahwa ekosistem ini dapat dijangkau dengan relatif mudah. Masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan peneliti dapat melihat langsung bagaimana air mempertahankan gambut, bagaimana tumbuhan rawa beradaptasi, dan bagaimana lapisan tanah menyimpan sejarah lingkungan.

Karena itu, Ranca Upas seharusnya dipandang sebagai laboratorium alam sekaligus ruang pendidikan publik. Anak-anak tidak perlu pergi jauh ke pedalaman Sumatra atau Kalimantan untuk memahami hubungan antara air dan gambut. Mereka dapat merasakan sendiri permukaan yang kenyal seperti trampolin dan melihat bahwa beberapa meter di bawahnya tersimpan bahan organik khususnya karbon dan air yang terbentuk melalui proses sangat panjang.

Justru karena mudah dijangkau, perlindungannya menjadi semakin penting. Ranca-ranca di sekitarnya tidak semestinya dianggap sebagai lahan kosong yang dapat dikeringkan sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan budidaya. Setiap saluran yang mengeluarkan air dari gambut akan mengubah ekosistem yang telah bekerja selama ribuan tahun.

Ranca Upas memperlihatkan bahwa nilai sebuah tempat tidak selalu terletak pada apa yang terlihat di permukaan. Di bawah hamparan rumput terdapat air, bahan organik, dan sejarah alam ribuan tahun. Ada lapisan abu yang merekam letusan gunung api, sisa tumbuhan yang membentuk gambut, serta jejak perubahan vegetasi yang sebagian telah dibaca melalui penelitian paleoekologi.

Sembilan meter inti bor yang saya peroleh mungkin hanya sebagian kecil dari arsip tersebut. Tetapi justru karena kita belum selesai membacanya, kita memiliki alasan kuat untuk menjaganya.

Ranca Upas bukan hanya tempat untuk dikunjungi. Ia adalah laboratorium alam yang mengajarkan bahwa sebuah ekosistem dapat terbentuk selama ribuan tahun, tetapi fungsi ekologisnya dapat terganggu hanya dalam waktu yang jauh lebih singkat ketika airnya kita keluarkan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//