• Opini
  • Mesin Aspal, Critical Mass, dan Kota yang Membenci Kegembiraan: Catatan dari Pinggir atas Jalan yang Hilang

Mesin Aspal, Critical Mass, dan Kota yang Membenci Kegembiraan: Catatan dari Pinggir atas Jalan yang Hilang

Kota-kota hari ini tidak sedang merancang tempat hidup; mereka sedang mengecor pabrik raksasa.

JIM

Warga sipil

Ilustrasi sepeda. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

19 Oktober 2026


BandungBergerak – Beberapa waktu lalu, persis di akhir pekan yang menggantung malas menjelang ujung bulan, jalanan aspal direbut paksa. Ratusan, mungkin ribuan pesepeda tumpah ruah di Kota Bandung. Ini Critical Mass pertama saya. Dan di atas pelana itu, pemandangan paling janggal sekaligus paling radikal tersaji begitu telanjang: sekat-sekat kelas sosial, batas-batas artifisial antar-individu, luluh lantak begitu saja tanpa sisa. Orang-orang berbaur, saling menyapa lintas komunitas, melebur dalam irama kayuhan yang tidak tunduk pada komando birokrasi mana pun. Sebuah gerakan murni yang menolak diikat oleh rantai kepatuhan.

Namun, euforia di atas aspal itu kontras dengan watak asli sang metropole. Kota ini menampakkan giginya yang busuk: ia didesain mati-matian bukan untuk kebahagiaan warganya, apalagi untuk sekadar bersenang-senang. Kebahagiaan, dalam kalkulasi para perencana tata ruang dan oligarki real estate, adalah sebuah anomali berbahaya; ia tidak menghasilkan pajak, tidak mendongkrak PDB, dan tidak bisa dicicil lewat bank.

Mari jujur pada pembuluh darah kota ini. Jalan raya, lampu pengatur lalu lintas, dan blok-blok beton pencakar langit tidak pernah dimaksudkan agar manusia bisa tertawa lepas, nongkrong tanpa beban, atau merayakan hari tua dengan tenang. Semua itu adalah cetak biru akumulasi kapital. Kota adalah mesin besar yang disetel agar alur perputaran modal bergerak sekencang-kencangnya.

Susunan tata ruang ini memaksa kita–sadar atau tidak; terkondisikan sekadar menjadi komponen mesin. Rumah hanyalah tempat mengisi ulang tenaga agar besok pagi otot-otot kita siap kembali diserap pabrik atau bilik kubikal kantor; jalanan adalah sabuk konveyor (conveyor belt) untuk memindahkan komoditas dan tenaga kerja tanpa jeda. Manusia direduksi jadi baut dan mur yang melumasi roda ekonomi segelintir borjuis.

Di sinilah lalu lintas menjelma menjadi teror paling harian dari alienasi modern. Kita sering mengira kemacetan adalah sekadar masalah teknis tata kota atau kurangnya pelebaran jalan.

Itu omong kosong yang dipelihara oleh para pengembang.

Baca Juga: Ruang yang Hilang, Kota yang Mati Rasa: Dago Elos, Sukahaji, Melankolia di Kolong, dan Bagaimana Kita Merayakan Hidup
Bandung, Interpol, dan ‘Disarankan Di Bandung’: Kota yang Terlalu Ramai untuk Dirasai
‘Bread & Circus’ dan Depolitisasi Masyarakat: Dari Juneval, Guy Debord, Marx, hingga Kuasa Algoritma

Ketika Sepeda Mengambil Alih Jalan Raya

Lalu lintas adalah manifestasi fisik dari komodifikasi ruang dan benda. Kendaraan bermotor–khususnya mobil pribadi; bukan sekadar alat transportasi untuk berpindah dari titik A ke titik B. Ia adalah komoditas agung yang dipuja-puja oleh industri otomotif, disubsidi oleh kebijakan negara, dan dibeli dengan mengorbankan separuh umur keringat kelas pekerja lewat jeratan kredit konsumtif.

Mobil adalah benteng individualisme yang kejam. Di dalam kabin ber-AC yang kedap suara, manusia diisolasi dari sesamanya. Orang-orang disumpal rasa curiga di jalanan, saling klakson, saling sikut, berlomba menjadi yang tercepat demi sampai di tempat kerja. Industri otomotif dan perencana kota berkolaborasi merampas ruang publik yang dulunya milik pejalan kaki dan anak-anak, lalu mengubahnya menjadi lautan aspal dan beton demi memuluskan sirkulasi logam beroda tersebut.

Lalu lintas memenjarakan waktu kita dalam deretan besi, menuntut efisiensi mekanis, dan melarang siapapun untuk sekadar berhenti dan menikmati hari tanpa alasan ekonomis. Kota memetakan hidup kita di atas kertas grafik profit, di mana pejalan kaki dicurigai sebagai pengangguran dan orang yang bersantai di pinggir jalan dianggap mengganggu kelancaran “bisnis”.

Kaum Situasionis sudah lama memperingatkan karamnya kapal ini jauh sebelum kita sempat berpikir untuk melawan. Mereka membongkar bagaimana “masyarakat tontonan” (the spectacle) mereduksi hidup yang autentik menjadi sekadar citra dan komoditas yang dikonsumsi.

Kota modern adalah panggung tontonan itu. Di dalamnya, kita tidak lagi mengalami kota secara langsung; kita hanya melewatinya sebagai konsumen yang patuh. Ruang-ruang kota di zonasi secara kaku–zona komersial, zona industri, zona pemukiman; agar mobilitas modal tidak terganggu oleh kekacauan yang manusiawi. Spontanitas dibunuh. Kegembiraan dikomersialkan ke dalam tiket-tiket masuk mal dan tempat rekreasi berbayar.

Itulah kenapa Critical Mass kemarin terasa seperti letupan mesiu di tengah kuburan yang sunyi.

Ketika para pesepeda mengambil alih jalanan dan menghentikan deru mesin kapitalisme, mereka sedang melakukan sabotase kultural yang paling telak. Mereka meruntuhkan logika kota fungsional dengan cara yang paling sederhana: bersenang-senang secara kolektif, tanpa izin, tanpa tiket masuk, dan tanpa tujuan produktif.

Di atas sepeda, rantai komodifikasi kendaraan diputus sejenak. Kecepatan digantikan oleh ritme kayuhan kaki manusia sendiri. Jalan raya yang tadinya dirancang untuk membunuh interaksi sosial lewat deru mobil pribadi, tiba-tiba direbut kembali menjadi ruang publik yang hidup, riuh, dan penuh tawa.

Sebab di dalam kota yang dirancang untuk membunuh kebahagiaan demi merawat dompet para pemilik modal, menolak tunduk pada ritme mesin lalu lintas, memilih menolak kredit mobil, dan bersenang-senang secara kolektif di jalanan adalah bentuk perlawanan yang paling masuk akal.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//