• Opini
  • Bandung, Interpol, dan ‘Disarankan Di Bandung’: Kota yang Terlalu Ramai untuk Dirasai

Bandung, Interpol, dan ‘Disarankan Di Bandung’: Kota yang Terlalu Ramai untuk Dirasai

Bandung tetap ramai. Krisis tetap menunggu di depan pintu.

JIM

Warga sipil

Keluhan atau keresahan warga menjadi sumber wawasan untuk memperbaiki kota. (Ikustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

2 September 2026


BandungBergerakDi Bandung, di Ganesha / Waktu-waktu merintis / Di Bandung, di Ganesha / Rasa kita dibaptis –Dongker & Jason Ranti

Dua hari yang lalu, saya kembali ke kota yang konon katanya kota romantis, sebuah klaim yang, seperti hampir semua orang bayangkan tentang kota, lebih banyak berasal dari brosur wisata daripada dari pengalaman hidup siapa pun di dalamnya. Bandung, dengan segala keanggunan kolonialnya yang telah lama pudar, tetap saja merawat reputasinya sebagai kota asmara dengan kesetiaan yang hampir menyentuh hati–seandainya kesetiaan semacam itu tidak terasa begitu mirip dengan kebohongan yang diulang-ulang hingga menjadi kebenaran.

Ada yang mencintai kota ini dengan cara yang tidak saya mengerti atau lebih tepatnya, yang tidak lagi saya mampu pahami. Bagi mereka. Bandung adalah nama yang bisa diucapkan dengan hangat: sebuah lapang kampus, bibirnya merah di kanvas, nama yang terukir jelas di suatu buku kelas. Cinta semacam itu nyata. Saya tidak meragukan itu.

Yang saya ragukan adalah apakah kota ini–atau kota mana pun–layak menjadi wadah dari kenangan yang sebetulnya milik kita sendiri, bukan milik tempat itu.

Saya melewati alun-alun di sore hari yang penuh sesak. Para pelancong berfoto–karena di zaman ini, sebuah tempat belum benar-benar terasa dikunjungi sebelum menjadi konten. Para pedagang berteriak menjajakan dagangan mereka dengan kegirangan seorang nabi yang tahu betul bahwa wahyunya tidak akan didengar. Dan para tukang parkir, para ksatria tanpa nama yang membangun tatanan kecil mereka sendiri di sela-sela kendaraan, merawat semesta kecil yang tidak seorang pun peduli untuk mencatatnya dalam sejarah.

“Kemacetan adalah satu-satunya demokrasi sejati yang kita miliki: ia memperlakukan semua orang dengan rasa frustasi yang sama.”

Kemacetan datang, sebagaimana kemacetan selalu datang—tiba-tiba dan tanpa permohonan maaf. Dan di dalam jeda yang dipaksakan itu, sesuatu yang aneh muncul dalam pikiran saya: bahwa tidak seorangpun di antara kerumunan ini, tidak si pelancong, tidak si pedagang, tidak si pengemudi yang membunyikan klakson dengan penuh harapan, tampaknya menyadari bahwa krisis ekonomi sedang berdiri di depan pintu rumah mereka, mengetuk dengan sopan, menunggu untuk dipersilakan masuk.

Kami sudah muak, putus asa besar / Mimpi tak pernah berjalan lancar –Dongker & Jason Ranti

Di situlah letak persamaan yang tidak nyaman antara lagu-lagu Dongker dengan pengamatan saya di alun-alun kala itu: kita semua yang merindu, yang muak, yang terperangkap dalam kemacetan–hidup di dalam sela sempit hidup ini. Perbedaannya hanya pada cara menyikapinya. Dongker dan Jason Ranti memilih untuk memeluk semua kemarahan, kerinduan, dan syukur, dalam satu tarikan nafas yang sama. Saya, di antara kemacetan, memilih untuk bertanya siapa yang membangun sempitnya itu.

Dalam pandangan saya itu saya melihat sesuatu sebuah moral kontemporer, moral yang  tidak dibangun dari kesadaran, melainkan dari ketidaksadaran yang terstruktur dengan rapi. Sistem tidak perlu memaksamu untuk tidak berpikir, ia cukup memberimu cukup banyak hal untuk dinikmati agar kamu tidak sempat bertanya. Hegemoni yang paling halus bukanlah yang berbicara dengan lantang, melainkan yang berbisik dalam bentuk diskon, notifikasi, dan unggahan yang terus mengalir.

Moral kita, sebagaimana Abdul Harahap mungkin akan berkata dengan senyum tipis, adalah pakaian pinjaman dari orang-orang yang telah lama mati, dan kita memakainya seolah itu milik kita sendiri, bahkan ketika ukurannya sudah lama tidak pas. Kita belajar dari kecil bahwa kerja keras adalah kebajikan, bahwa tunduk adalah kedewasaan, bahwa diam adalah ketenangan tanpa pernah ditanya siapa yang pertama kali menulis aturan-aturan itu, dan lebih penting lagi, untuk kepentingan siapa.

Saya tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Saya hanya percaya pada penindasan pada pandangan yang ke sekian—karena hanya dengan melihatnya berkali-kali, kita akhirnya berhenti melihatnya sama sekali.

Baca Juga: Antara Cikudapateuh dan Kiaracondong: Anak-anak Sebagai Situasionis Tanpa Nama
Taman Kota yang Membunuhmu Sambil Tersenyum: Catatan dari Kota Bandung yang Sedang Difoto Sampai Mati
Ruang yang Hilang, Kota yang Mati Rasa: Dago Elos, Sukahaji, Melankolia di Kolong, dan Bagaimana Kita Merayakan Hidup

Wajah lain Bandung

Silau layar ponsel terlihat ajakan / Bertemu di lapang kampusku yang lama / Mengenang obrolan dan berbagai ingatan / Peristiwa penting di masa laluku –Dongker & Jason Ranti

Perhatikan bagaimana lagunya dimulai: bukan dengan nostalgia, tapi dengan layar ponsel yang menyala. Algoritma yang menyodorkan ajakan. Pertemuan yang dimediasi oleh platform. Ini bukan kebetulan, ini adalah peta dari cara kita mengalami perasaan di zaman ini: semua emosi disaring dulu melalui antarmuka sebelum sampai ke hati. Kota Bandung dalam lagu itu mungkin nyata, tapi pintu masuknya adalah notifikasi.

Masyarakat kontemporer telah menyempurnakan seni membuat penindasan terasa nyaman. Ia memberikan kita gawai agar kita tidak perlu menggunakan pikiran kita sendiri. Ia memberikan kita pilihan yang tak terbatas di antara merek-merek yang dimiliki oleh perusahaan yang sama. Ia memberikan kita kebebasan berekspresi selama ekspresi kita tidak benar-benar mengancam siapapun yang berkuasa. Ini bukan tirani—ini adalah layanan pelanggan yang sangat baik.

Paul Banks dari Interpol pernah bernyanyi: I had seven faces, thought I knew which one to wear. Saya memikirkan lirik itu di antara kemacetan Bandung, tentang betapa kita semua merawat koleksi wajah-wajah yang berbeda, satu untuk kantor, satu untuk keluarga, satu untuk media sosial, satu yang kita simpan rapat-rapat dan hampir tidak pernah kenakan karena terlalu jujur untuk ditampilkan di ruang publik mana pun.

Di Bandung, di sana / Kulihat wajah yang lain Di Bandung, di mana Gerangan dia berada? –Dongker & Jason Ranti

Ada kesamaan yang mengejutkan antara Interpol dan Dongker-Jason Ranti di sini, bukan dalam suara atau genre, melainkan dalam cara merasakan orang lain sebagai teka-teki. Wajah yang lain di Bandung. Tujuh wajah yang tidak tahu mana yang harus dipakai. Keduanya berbicara tentang fragmentasi, tentang betapa sulitnya mengenali diri sendiri di tengah kota, di antara keramaian, di dalam cermin yang terus berganti-ganti.

Alienasi dalam lagu-lagu Interpol bukan sekadar melankolia seorang pemuda yang patah hati. Ia adalah diagnosa struktural: bahwa dalam kota modern, manusia menjadi asing bukan kepada orang lain—melainkan kepada dirinya sendiri. NYC–it's a hell of a town, kata mereka. Dongker dan Jason Ranti tidak mengucapkan kalimat sepedas itu tentang Bandung. Mereka memeluk segala perasaannya. Tapi pelukan itu pun, jika kita perhatikan, datang dari kelelahan dari rasa muak, dari rasa putus asa besar, dan dari mimpi yang tak pernah berjalan lancar.

Obstacle 1 isn't about a relationship, it's about the self that got lost in someone else's gravity.Interpol, Turn on the Bright Lights, 2002

Perbedaan antara Interpol dan Dongker-Jason Ranti, jika kita harus mencarinya, adalah perbedaan antara kota sebagai labirin dan kota sebagai altar. Interpol hidup di dalam kota dan tidak bisa keluar. Dongker-Jason Ranti pergi dari kota, merindukan kota, dan kembali ke kota dalam bentuk lagu, dan di sana, paradoks itu menjadi indah: bahwa kerinduan kepada tempat yang menyimpan kepahitan adalah salah satu bentuk cinta yang paling manusiawi.

Saya tidak bermaksud menghakimi mereka yang berfoto, yang membeli, yang berteriak, yang merapikan kendaraan. Menghakimi orang atas ketidaksadaran yang ditanamkan sistem kepada mereka sejak lahir adalah seperti menyalahkan tanaman karena tumbuh ke arah matahari— elegan sebagai metafora, tapi kejam sebagai etika. Yang perlu dihakimi bukanlah individu yang terperangkap, melainkan jeruji yang tidak kasat mata yang membentuk penjara itu sendiri.

Tapi inilah paradoks yang paling menyakitkan: bahwa bahkan tulisan ini, bahkan kesadaran ini–berpotensi menjadi komoditas lain. Sebuah unggahan yang mendapat banyak tanda suka.

Bandung Tetap Ramai

Sebuah kutipan yang disebarkan tanpa konteks. Kritik terhadap sistem yang diserap oleh sistem dan dijual kembali sebagai estetika perlawanan, lengkap dengan tipografi yang bagus dan palet warna yang menarik.

Bajingan! Keparat! / Baiknya mereka masuk neraka / Untungnya ku bertemu denganmu / Di sela sempit hidup ini –Dongker & Jason Ranti

Mungkin di sinilah Dongker dan Jason Ranti lebih jujur dari saya. Mereka tidak mencoba menyelamatkan siapa-siapa dari sistem, mereka hanya ingin menyelamatkan satu pertemuan, satu kenangan, satu nama yang terukir di buku kelas. Kemarahan mereka nyata, tapi tidak mengonsumsi semuanya. Di sela sempit hidup ini, mereka masih menemukan seseorang yang layak disyukuri.

“Hal yang benar-benar mengerikan tentang sistem moral bukanlah bahwa sistem itu menindas kita. Melainkan bahwa sistem itu mengajarkan kita untuk menyebut penindasan kita dengan nama lain”

Kemacetan akhirnya pecah. Kendaraan kembali bergerak. Orang-orang melanjutkan perjalanan mereka menuju tujuan-tujuan yang tampak penting. Dan saya melanjutkan perjalanan saya menuju hunian panti burung–tempat berteduh yang sederhana, yang setidaknya jujur tentang apa adanya, tidak seperti kota-kota yang mengklaim lebih dari yang mereka bisa berikan.

Bandung tetap ramai. Krisis tetap menunggu di depan pintu. Dongker dan Jason Ranti masih bernyanyi tentang Ganesha. Dan kita semua, dengan sangat elegan, terus berpura-pura tidak mendengar ketukan itu–sambil, di sela-selanya, sesekali merindukan seseorang yang pernah ada di sana.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//