Taman Kota yang Membunuhmu Sambil Tersenyum: Catatan dari Kota Bandung yang Sedang Difoto Sampai Mati
Apa yang sedang terjadi pada taman-taman kota kita adalah semacam détournement yang dibalik arahnya.

JIM
Warga sipil
29 Juli 2026
BandungBergerak – Saya pernah duduk di sebuah taman Kota Bandung yang baru saja diresmikan, mengamati bagaimana orang-orang bergerak. Bukan bergerak dalam arti berjalan dari satu titik ke titik lain, itu terlalu sederhana. Mereka bergerak dalam pola yang lebih aneh: berhenti, berpose, memeriksa hasil, mengulang, berpindah ke spot berikutnya, berhenti, berpose, memeriksa hasil, mengulang. Seperti menyaksikan sebuah ritual yang koreografinya sudah ditulis di tempat lain, oleh orang lain, untuk tujuan yang tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memahaminya.
Dan saya pikir. Ini dia. Inilah wajah paling jernih dari apa yang Guy Debord coba peringatkan kepada kita hampir enam puluh tahun yang lalu, ketika ia menulis La Société du Spectacle di tengah Paris yang sedang mabuk oleh kemakmuran pascaperang. Ia menulis dengan nada yang hampir seperti nubuat: “Seluruh kehidupan masyarakat di mana kondisi-kondisi produksi modern berkuasa, menampilkan dirinya sebagai akumulasi tontonan. Apa yang dulu dijalani secara langsung, kini hanya menjadi representasi.”
Saya tidak akan berpura-pura bahwa kalimat itu hanya teori abstrak yang relevan untuk Prancis tahun 1967. Kalimat itu adalah deskripsi yang sangat tepat tentang taman kota di Bandung pada Sabtu sore ini.
Mari kita mulai dari yang paling sederhana: rumput.
Rumput, secara historis, adalah salah satu permukaan paling demokratis yang pernah ada. Ia tidak punya pintu, tidak punya tiket masuk, tidak punya dress code. Kau bisa duduk, berbaring, berguling, tidur siang, membaca buku sambil menggigit rumput, seperti yang dilakukan anak-anak dan orang-orang yang belum sepenuhnya patuh pada logika produktivitas.
Tapi perhatikan taman-taman kota yang baru. Rumputnya hijau, rapi, dipotong dengan presisi yang hampir militeristik, dan dipagari. Bukan dengan pagar besi yang kasar, tentu saja, itu akan merusak estetika. Pagarnya halus: tanda kecil bertuliskan “dilarang menginjak rumput”, garis pembatas yang dirancang sedemikian rupa hingga terlihat seperti bagian dari desain, bukan sebagai pembatasan. Rumput itu ada bukan untuk diduduki. Rumput itu ada untuk dilihat. Ia adalah latar. Ia adalah properti panggung.
Inilah yang oleh Situationist International (SI) disebut sebagai logika spektakel, bukan sekadar “tontonan” dalam arti sehari-hari (hiburan, pertunjukan), melainkan sebuah hubungan sosial yang dimediasi oleh gambar-gambar. Rumput itu tidak lagi berfungsi sebagai rumput. Ia berfungsi sebagai gambar tentang rumput yang indah, dan gambar itu hanya bisa dipertahankan keindahannya jika tidak ada manusia yang benar-benar menggunakannya sebagaimana rumput seharusnya digunakan. Kehadiran tubuh manusia yang hidup, yang berkeringat, yang membawa tas kumal, yang mungkin sedang makan gorengan sambil duduk bersila, itu adalah gangguan terhadap komposisi visual. Tubuh yang hidup mengotori gambar.
Maka ruang itu dibersihkan dari kehidupan, agar gambar tentang kehidupan bisa tampil lebih sempurna. Ironi ini begitu telanjang sampai hampir menggelikan, kalau saja efeknya tidak begitu nyata.
Baca Juga: Vandalisme, Sampah, dan Pencurian di Taman-taman Kota Bandung
Ketika Taman Menjadi Rumah Kedua Warga Kota
Taman Pramuka Kota Bandung dan Ruang Ketiga yang Tertutup
Détournement yang Terbalik: Ketika Kota Mencuri dari Kita
Saya ingin menyebut sesuatu yang menurut saya lebih mengerikan dari sekadar “komodifikasi ruang publik”, sebuah frasa yang sudah terlalu sering diucapkan sampai kehilangan taringnya. Apa yang sedang terjadi pada taman-taman kota kita adalah semacam détournement yang dibalik arahnya.
Détournement, dalam kosakata Situsasionis Internasional, adalah praktik mengambil elemen-elemen budaya yang sudah ada, iklan, komik, slogan, citra, dan membengkokkan maknanya untuk tujuan subversif. Aslinya, ini adalah senjata kaum radikal: mencuri bahasa kapital dan mengubahnya menjadi kritik terhadap kapital itu sendiri.
Tapi sekarang yang terjadi adalah kebalikannya. Kota itu sendiri melakukan détournement terhadap kita. Ia mengambil bahasa kita, bahasa “ruang hijau”, “ruang ketiga”, “ruang interaksi sosial”, “taman rakyat”, bahasa yang lahir dari perjuangan panjang untuk hak atas kota (right to the city, kata Lefebvre, seorang yang pengaruhnya juga mengalir ke dalam pemikiran Situasionis), dan membengkokkan maknanya menjadi alat pemasaran. “Ruang hijau” tidak lagi berarti tempat di mana warga bisa bernapas dan bertemu tanpa diawasi. Ia berarti: latar belakang yang menambah nilai jual properti di sekitarnya. “Ruang ketiga” tidak lagi berarti tempat netral di luar rumah dan tempat kerja di mana solidaritas spontan bisa tumbuh. Ia berarti: titik foto yang akan membuat sebuah kota masuk daftar “10 destinasi instagramable”.
Mereka mencuri kosakata pembebasan dan menjualnya kembali kepada kita sebagai kosakata konsumsi. Inilah recuperation dalam bentuknya yang paling licik, bukan recuperation terhadap sebuah gerakan atau subkultur, melainkan recuperation terhadap “bahasa harapan itu sendiri.”
Debord punya satu pengamatan yang menurut saya semakin tajam justru semakin lama ia ditulis: dalam masyarakat tontonan, “penonton tidak merasa kehilangan apa pun karena mereka tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang.” Alienasi di sini bukan alienasi yang menyakitkan dan terasa, seperti alienasi buruh pabrik yang dijelaskan Marx, di mana si buruh tahu ia dieksploitasi, hanya tidak punya pilihan. Alienasi tontonan adalah alienasi yang menyenangkan. Ia datang dengan dopamin. Ia datang dengan likes.
Coba perhatikan lagi orang-orang di taman itu. Mereka tidak datang dengan paksaan. Tidak ada yang menyeret mereka. Mereka datang dengan sukarela, bahkan dengan antusiasme, untuk melakukan sesuatu yang, jika dipikirkan baik-baik, sangat aneh: mendokumentasikan diri mereka berada di sebuah tempat, untuk ditunjukkan kepada orang-orang yang tidak ada di tempat itu, sebagai bukti bahwa mereka hadir secara penuh di sana, padahal justru tindakan mendokumentasikan itulah yang membuat mereka tidak pernah benar-benar hadir.
Inilah yang dimaksud Debord ketika ia menulis bahwa dalam masyarakat tontonan, “yang nyata digantikan oleh gambar tentang yang nyata, dan gambar itu kemudian menjadi lebih nyata daripada yang nyata itu sendiri.” Taman itu sendiri, rumputnya, pepohonannya, anginnya, suara orang-orang yang lewat, menjadi tidak penting. Yang penting adalah bukti bahwa taman itu telah dikunjungi. Dan bukti itu hanya punya nilai jika ia bisa disirkulasikan, dilihat, dikonsumsi oleh orang lain, yang kemudian akan melakukan hal yang sama di tempat yang sama, menciptakan lingkaran tanpa ujung dari gambar yang mereproduksi gambar.
Penonton telah menjadi penonton bagi dirinya sendiri. Ini adalah pencapaian tertinggi dari logika tontonan: ia tidak lagi membutuhkan agen eksternal untuk menjalankannya. Kita telah menginternalisasi kameranya. Kita adalah kameranya.
Sekarang mari kita bicara tentang siapa yang diusir dari taman-taman ini, karena di sinilah politik sesungguhnya bersembunyi, bukan dalam estetikanya, tapi dalam apa yang dihilangkan demi estetika itu.
Pedagang kaki lima yang dulu mangkal di pinggir taman, dengan gerobak yang catnya sudah pudar dan suara teriakan jualan yang khas, mereka digusur, karena gerobak itu “merusak pemandangan”. Anak-anak jalanan yang dulu bermain di rerumputan dengan bola plastik yang sudah robek, mereka diusir oleh petugas keamanan, karena kehadiran mereka “mengganggu kenyamanan pengunjung”. Pengamen yang dulu menyanyi di sudut taman dengan gitar yang senarnya kurang satu, mereka tidak diberi izin, karena suara mereka “tidak sesuai dengan konsep taman”.
Setiap kata dalam tanda kutip itu adalah kata-kata yang sangat sopan, sangat netral, sangat administratif. Dan justru kesopanan itulah yang membuatnya begitu efektif sebagai mekanisme pengusiran. Tidak ada yang menyebutnya pengusiran. Yang ada hanyalah “penataan ulang”, “peningkatan kualitas ruang”, “penertiban demi kenyamanan bersama”.
Situasionis menyebut kota seperti ini sebagai produk dari unitary urbanism yang dikorupsi, sebuah visi tentang kota yang seharusnya dirancang sebagai keseluruhan yang hidup, di mana arsitektur, perilaku sosial, dan kehidupan sehari-hari saling menyatu dalam permainan yang konstan. Tapi yang terjadi sekarang adalah kebalikannya: kota dirancang sebagai keseluruhan yang mati, di mana setiap elemen yang tidak sesuai dengan skenario visual dihilangkan secara sistematis, sampai yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang indah, taman tanpa kehidupan yang benar-benar hidup di dalamnya, hanya kehidupan yang sudah disensor agar layak tampil.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah desain. Setiap bangku yang dipasang dengan sandaran tangan di tengah-tengah, agar tidak bisa digunakan untuk tidur oleh tunawisma, adalah keputusan desain yang sangat sadar. Setiap pencahayaan yang terang berlebihan di malam hari, yang membuat taman terasa seperti studio foto sepanjang waktu, adalah keputusan yang sangat sadar. Arsitektur represif tidak selalu berupa pagar dan tembok. Kadang ia berupa keindahan itu sendiri, keindahan yang fungsinya adalah untuk menyingkirkan apa pun yang tidak indah, termasuk kemiskinan, termasuk kekacauan, termasuk kita yang tidak selalu bisa tampil rapi.
Mengembalikan Dérive: Berjalan Tanpa Tujuan sebagai Tindakan Politik
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Saya tidak ingin menjawab dengan slogan, karena slogan, seperti yang sudah kita bahas, adalah salah satu hal yang paling mudah direcuperasi oleh sistem. “Rebut kembali ruang publik” bisa dengan mudah menjadi tagline kampanye pariwisata berikutnya jika kita tidak hati-hati.
Tapi saya ingin mengajak kita kembali pada satu praktik Situasionis yang sederhana namun, jika dilakukan secara kolektif dan sadar, bisa menjadi sangat mengganggu: dérive. Pengembaraan tanpa tujuan, di mana seseorang membiarkan dirinya dipandu oleh arsitektur dan suasana kota, bukan oleh rute yang sudah ditentukan, rute kerja, rute belanja, rute yang sudah dipetakan oleh kapital.
Dérive, ketika dilakukan di taman-taman yang sudah dikurasi ini, adalah tindakan kecil dari penolakan. Ia adalah menolak untuk bergerak sesuai dengan “jalur foto” yang sudah didesain. Ia adalah duduk di tempat yang tidak strategis untuk foto. Ia adalah berkumpul dalam jumlah besar tanpa alasan yang “produktif”, tidak untuk acara, tidak untuk kampanye, tidak untuk apa pun selain berada bersama. Ia adalah membawa makanan dari rumah dan makan bersama-sama di rerumputan yang “dilarang diinjak”, bukan sebagai pembangkangan dramatis, melainkan sebagai pengingat sederhana bahwa rumput, pada dasarnya, adalah rumput, dan rumput ada untuk diduduki.
Aktivasi ruang yang sesungguhnya tidak butuh izin, tidak butuh sponsor, tidak butuh hashtag resmi. Justru ketika sebuah tindakan di ruang publik membutuhkan persetujuan dari pihak yang mengelola citra ruang itu, tindakan tersebut sudah separuh jalan menuju recuperation. Diskusi tanpa izin, dapur umum yang muncul tiba-tiba, pertunjukan musik jalanan yang tidak terdaftar di kalender event resmi, ini semua bukan karena kita anti-aturan demi anti-aturan. Ini karena setiap kali kita melakukannya, kita mengirimkan satu pesan kecil namun jelas kepada logika tontonan: “ruang ini masih bisa digunakan untuk hal-hal yang tidak ada dalam rencanamu.”
Ada satu hal tentang kehidupan yang sesungguhnya, obrolan yang mengalir tanpa arah, tawa yang muncul dari lelucon yang konyol, perdebatan yang memanas lalu mereda, keheningan yang nyaman di antara orang-orang yang saling percaya, yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap kamera. Bukan karena kameranya kurang canggih. Tapi karena momen-momen seperti itu hanya punya makna di dalam pengalaman itu sendiri, bukan dalam representasinya.
Inilah, pada akhirnya, yang dipertaruhkan ketika kita membicarakan taman kota. Bukan sekadar estetika versus fungsi, atau pembangunan versus pelestarian. Yang dipertaruhkan adalah: apakah kita masih punya ruang untuk menjadi “manusia yang hidup”, dengan segala kekacauan dan ketidaksempurnaannya, atau kita akan terus dipaksa menjadi figuran yang rapi dalam sebuah tontonan tentang kota yang konon “layak huni”, tapi tidak benar-benar dihuni oleh siapa pun, hanya dikunjungi, di foto, dan ditinggalkan.
Debord menutup La Société du Spectacle dengan sebuah keyakinan bahwa tontonan, betapa pun totalnya ia tampak menguasai kehidupan, pada akhirnya bisa dipatahkan–karena tontonan butuh penonton yang pasif, dan kepasifan itu tidak alami, ia harus terus diproduksi dan direproduksi. Begitu kepasifan itu berhenti diproduksi–begitu orang-orang berhenti menonton dan mulai merasa “berada”, mulai “berbicara”, mulai “berkumpul tanpa tujuan”, mulai “mengganggu” komposisi visual yang rapi itu dengan kehadiran tubuh mereka yang berisik dan berkeringat–tontonan itu kehilangan bahan bakarnya.
Taman kota tidak butuh direvolusi dengan cara yang spektakuler. Ia hanya butuh diduduki, secara harfiah, oleh orang-orang yang menolak untuk hanya menjadi latar bagi gambar orang lain.
Duduklah di rumput itu. Lihat apa yang terjadi.
“Dunia yang sudah dibalik harus dibalik kembali.” —Guy Debord, La Société du Spectacle
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


