Antara Cikudapateuh dan Kiaracondong: Anak-anak Sebagai Situasionis Tanpa Nama
Kota yang oleh perencanaannya dilihat sebagai mesin ekonomi, oleh anak-anak itu dilihat sebagai medan imajinasi yang belum habis dieksplorasi.

JIM
Warga sipil
9 Juli 2026
BandungBergerak – Ada yang aneh dari cara kota ini berjalan, atau lebih tepatnya, cara kita diajarkan untuk berjalan di dalamnya. Kita bergerak dengan tujuan, dengan rute yang telah ditetapkan, dengan mata yang hanya melihat apa yang memang sudah dirancang untuk dilihat. Kita adalah konsumen ruang, bukan pemakainya.
Dua hari lalu saya mencoba keluar dari sana. Saya berjalan menyusuri jalur pinggiran rel antara Cikudapateuh dan Kiaracondong, bukan sebagai turis yang memotret keindahan kemiskinan untuk diunggah, bukan sebagai peneliti yang datang dengan clipboard penuh data, dan tentu bukan sebagai konsumen yang mengekor jalur yang sudah dipasarkan. Saya berjalan sebagai latihan–latihan untuk mempraktikkan apa yang oleh Situasionis Internasional disebut sebagai dérive: sebuah perjalanan tanpa tujuan yang ditentukan pasar, sebuah penyerahan diri pada arus psiko-geografis kota yang sesungguhnya, bukan kota yang dicitrakan dalam brosur investasi.
Dérive bukan sekadar jalan-jalan. Ini adalah pembangkangan epistemologis. Ini adalah cara untuk bertanya: kota ini milik siapa? Ruang ini untuk apa? Dan siapa yang berhak menikmatinya?
Di sepanjang jalur rel itu, saya menemukan sesuatu yang tidak akan pernah muncul dalam peta mental seorang investor properti. Kehidupan sosial yang sesungguhnya. Bukan kehidupan sosial ala mal, di mana manusia berkumpul untuk membeli dan dilihat membeli. Bukan kehidupan sosial yang dikelola CCTV dan diatur security. Di sini, di celah-celah kota yang dianggap “tidak produktif” secara ekonomi–ruang bernapas dengan cara yang berbeda. Setiap sudut adalah negosiasi antara manusia dan tempat. Setiap trotoar yang retak, setiap tembok yang bernoda, setiap gang sempit adalah bukti bahwa kota ini masih dihuni, bukan sekadar diakses.
Ini yang kerap dilupakan oleh mereka yang membangun kota dari balik meja meeting: ruang bukan hanya koordinat geografis. Ruang adalah relasi sosial yang mengendap menjadi tempat. Ketika kapitalisme mengomandoi tata ruang kota, yang sesungguhnya terjadi bukan hanya penggusuran fisik, tetapi penggusuran imajinasi. Ruang-ruang yang dulunya dihayati sebagai tempat diubah menjadi komoditas, dan dalam prosesnya, dimatikan sebagai ruang hidup.
Baca Juga: Ruang Hijau atau Ruang Bisnis, Siapa yang Diuntungkan dari Tata Ruang Kota Bandung?
Kapitalisme Budaya (Bukan) Soal Sesajen Saja
Catatan Atas Pameran PicuPacu Keliling Dunia: Belajar pada Kejujuran Anak-anak
Ruang Kota
Guy Debord tidak keliru: kita hidup di dalam Masyarakat Tontonan (The Society of the Spectacle) di mana pengalaman hidup yang nyata telah digantikan oleh representasi pengalaman yang siap dikonsumsi. Taman kota yang instagramable tapi tidak ada yang duduk mengobrol di sana. Ruang publik yang didesain untuk kamera drone tapi tidak untuk manusia yang berdiri di bawahnya. Pembangunan yang menjual mimpi kota modern tapi menyingkirkan orang-orang yang sesungguhnya membentuk kota itu dengan tubuh dan keringatnya.
Namun tepat ketika saya hampir mencapai ujung jalur rel Kiaracondong, sesuatu menghentikan langkah saya.
Sekelompok anak kecil sedang bermain voli.
Tapi bukan voli yang kita kenal dari fasilitas olahraga berbayar dengan net standar SNI dan lantai sintetis berlogo sponsor. Mereka bermain dengan bola plastik–bola murahan yang mungkin dibeli di warung dengan uang receh. Dan yang menjadi net di antara mereka? Sebuah pagar besi pembatas. Pagar yang dipasang bukan untuk mereka mainkan, melainkan untuk memisahkan, membatasi, mengatur.
Dalam satu pemandangan sederhana itu, saya menyaksikan sebuah praktik yang oleh Situasionis Internasional akan langsung dikenali sebagai détournement, pengalihfungsian radikal atas sebuah elemen sistem yang ada untuk melawannya, atau setidaknya, untuk keluar dari logikanya. Détournement bukan sekadar kreativitas karena keterbatasan. Ini adalah gestur politis, sadar atau tidak, yang menolak untuk menerima definisi tunggal atas sebuah ruang, sebuah benda, sebuah infrastruktur.
Pagar itu seharusnya menjadi alat kontrol. Alat yang berkata: ini batas, kau di sini, mereka di sana, dan keduanya tidak bercampur. Tapi di tangan anak-anak itu, pagar berubah fungsi. Ia menjadi fasilitas. Ia menjadi net. Ia menjadi syarat bagi kegembiraan kolektif yang tidak memerlukan modal untuk dirayakan.
Kapitalisme, dalam mengelola ruang kota, menjalankan sebuah proyek yang sangat spesifik: ia memastikan bahwa semua kesenangan memiliki harga masuk. Ingin bermain bola? Sewa lapangan. Ingin bermain voli? Bayar membership lapangan. Ingin sekadar duduk santai di ruang terbuka yang layak? Masuk ke mal, jadilah konsumen dulu baru kau berhak atas kursinya.
Bagi mereka yang berada di dasar piramida, yang tidak memiliki akses finansial untuk mengikuti logika pasar ruang perkotaan–pilihan yang tersisa adalah: (1) menerima pengucilan dan tidak bermain sama sekali, atau (2) mengimajinasikan ulang apa yang ada. Anak-anak itu memilih yang kedua. Dan dalam pilihan itu tersimpan kecerdasan yang jauh melampaui apa yang diajarkan dalam sistem pendidikan yang sejak awal memang dirancang untuk memproduksi tenaga kerja, bukan manusia yang merdeka berimajinasi.
Situasionis Alami
Ini yang membuat saya berpikir: mungkin anak-anak, dalam kepolosan yang belum sepenuhnya dijinakkan oleh mekanisme disiplin industri, adalah situasionis-situasionis alami. Mereka belum belajar untuk menerima definisi resmi atas sebuah benda. Pagar belum tentu pagar. Selokan bisa jadi lintasan balap. Tembok bisa jadi kanvas. Trotoar bisa jadi panggung. Kota yang oleh perencanaannya dilihat sebagai mesin ekonomi, oleh anak-anak itu dilihat sebagai medan imajinasi yang belum habis dieksplorasi.
Détournement paling murni bukan yang dilakukan seniman avant-garde di galeri Paris.
Détournement paling murni adalah yang dilakukan tanpa teori, tanpa manifesto, tanpa tahu bahwa Guy Debord pernah hidup, hanya karena imajinasi belum menyerah pada realitas yang ditawarkan.
Tapi kita harus jujur: ruang bagi mereka semakin sempit, secara harfiah.
Kota ini, seperti kota-kota lain yang tunduk pada logika pembangunan berbasis nilai ekonomi–terus memampatkan diri. Setiap meter tanah adalah angka dalam spreadsheet investasi. Ruang-ruang kosong yang dulu menjadi tempat anak-anak bermain, tempat orang dewasa mengobrol sore hari, tempat komunitas bernegosiasi tentang cara hidupnya sendiri–satu per satu dikonversi menjadi gedung, menjadi parkiran, menjadi sesuatu yang menghasilkan return.
Yang tersisa bagi mereka yang tidak punya modal adalah celah-celah. Tepian rel. Bibir sungai. Segitiga tanah di pertemuan jalan. Dan di celah-celah itulah kehidupan sosial yang sesungguhnya bertahan , bukan karena difasilitasi, tapi justru karena diabaikan. Karena belum sempat dikapitalisasi.
Dérive saya di jalur rel Kiaracondong mengajarkan bahwa mungkin cara terbaik untuk memahami sebuah kota bukan dengan membaca masterplan-nya, bukan dengan mengikuti tur berbayar, bukan dengan melihat dari atas di gedung pencakar langit yang baru selesai dibangun. Tapi dengan berjalan tanpa tujuan yang ditentukan pasar–membiarkan kaki membawa ke tempat yang tidak masuk dalam peta resmi siapa pun, dan di sana, jika cukup awas, kita akan menemukan bahwa kota sesungguhnya masih hidup, diam-diam, di tempat-tempat yang belum sempat dicuri.
Dan terkadang ia hidup dalam wujud sekelompok anak kecil yang bermain voli dengan pagar besi sebagai net, di bawah terik matahari yang tidak peduli apakah lapangan itu sudah bayar sewa atau belum.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


