• Opini
  • Catatan Atas Pameran PicuPacu Keliling Dunia: Belajar pada Kejujuran Anak-anak

Catatan Atas Pameran PicuPacu Keliling Dunia: Belajar pada Kejujuran Anak-anak

Keberanian membuat titik pertama pada kertas kosong oleh seorang anak bisa jadi sebuah pengalaman awal menjadi manusia yang berani mencipta.

Herry Dim

Seniman

Gambar #01 karya Alea Kinarian Taufan yang didampingkan dengan “Child Portraits karya Picasso. (Sumber: Herry Dim/BandungBergerak)

28 Mei 2026


BandungBergerak - Menikmati gambar atau lukisan karya anak-anak itu hampir selalu menyenangkan, membawa kita kembali pada alam yang bebas, liar, dan penuh kejutan. Di sana, kita kerap dipertemukan dengan citra-citra rupa yang tak terduga: segaris goresan, blabar warna, cipratan, hingga barik tangan anak-anak yang tampak sederhana, tetapi justru memancarkan rasa seni yang paling jujur.

Seni anak-anak belum tunduk pada ketentuan, belum dibebani keharusan-keharusan estetik selain ghirah untuk menggores, memblabar, menciprat, dan membarik itu sendiri. Barangkali karena itulah banyak seniman profesional terus mengejar kemungkinan kembali pada kemurnian semacam ini—yakni saat rupa lahir bukan dari perhitungan, melainkan dari dorongan batin yang paling bebas dan paling asli seperti yang terjadi pada anak-anak.

Kecenderungan anak-anak menggambar/melukis pula yang menggugah Picasso hingga menyatakan bahwa setiap anak adalah seniman. “Tantangannya,” ungkap Picasso, “terletak pada soal bagaimana mempertahankan semangat kesenimanan itu manakala mereka tumbuh dewasa.”

Picasso menekankan pentingnya menjaga kualitas kreatif seperti anak-anak dan kemampuan untuk mengekspresikan emosi melalui seni secara jujur dan murni. Ini pula yang kemudian “membentuk” Picasso manakala menjalani periode terakhir kesenimanannya, tercermin pada karya-karyanya yang menggambarkan tema ibu dan anak dengan goresan yang menunjukkan kedalaman emosional dan kepolosan anak-anak.

Sebagai ilustrasi sekadarnya, pada gambar #01 kita lihat imaji “Jepang” karya Alea Kinarian Taufan yang didampingkan dengan “Child Portraits” karya Picasso. Jukstaposisi ini, tentu, bukan berarti penyetaraan. Namun, yang perlu kita baca, bahwa bagaimana Picasso betul-betul “belajar” pada kebebasan dan “keliaran” anak-anak, seperti halnya “kemerdekaan” menggambar itu diperlihatkan oleh Alea dan umumnya anak-anak.  

Kesan itu muncul merata manakala memperhatikan satu demi satu karya anak-anak lainnya pada Pameran Sehari Karya Rupa Picu-Pacu Kreativitas Indonesia 2026 dengan tajuk “PicuPacu Keliling Dunia,” 13 Mei 2026, di Bandung Creative Hub (BCH). Yang perlu dicatat paling awal, bahwa semua anak-anak atas bimbingan Kak Andi Yudha Asfandiyar selaku guru sekaligus pendiri/kepala sekolah PicuPacu, itu tidak perah dperkenalkan kepada kebiasaan “mewarnai” gambar yang telah jadi. Ia yang memang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa di FSRD ITB, kiranya tahu persis bahwa untuk mengembangkan keberanian serta kreativitas anak-anak itu takmungkin jika dimulai dengan “jeratan” mewarnai gambar jadi yang secara teknis memang memiliki kecenderungan “mengungkung” anak-anak.

Maka sejumlah karya yang dipajang di lantai dasar BCH itu sungguh memperlihatkan ghirah sejujurnya anak-anak. Setiap anak, seperti tertera pada tajuk pamerannya, diajak berkelana keliling dunia. Mereka dipersilakan menggambarkan dunia atau negara-negara lain berdasarkan khayal atau pun yang pernah dialami.  

Karya anak-anak PicuPacu. (Sumber: Herry Dim)
Karya anak-anak PicuPacu. (Sumber: Herry Dim)

Ghirah dan Kegirangan Anak  

Melukis dan menggambar merupakan kegiatan yang selalu disukai serta memang dibutuhkan oleh anak-anak. Itu untuk mengatakan bahwa menggambar dan melukis tidak bisa dipisahkan dari kehidupan anak-anak. Meski tentu tidak bisa disamakan dengan kebutuhan makan dan minum atau pun kebutuhan menghirup udara bagi semua umat manusia, menggambar dan melukis praktis merupakan kebutuhan dasar manusia terutama di masa pertembuhan awal. 

Pengalaman anak-anak menggambar atau melukis, pada dasarnya bukan untuk tujuan akhir bahwa anak-anak itu nantinya menjadi tukang/ahli gambar atau pun misalnya menjadi seniman. Tapi anak-anak ke mana pun atau menjadi apapun kelak, itu hampir takmungkin jika tanpa pengalaman menggambar/melukis.

Menggambar/melukis, salah satu sisinya, adalah medium bagi anak-anak untuk mengenali semesta beserta isinya. Berikutnya, menggambar/melukis itu merupakan cara anak untuk “mencatat” dan “menceritakan” pengalaman serta persinggungannya dengan dunia yang ia kenali. Itu dilakukan bahkan ketika anak-anak belum mengenal atau masih terbatas dalam berkata-kata, belum pula bisa menulis aksara apalagi kalimat-kalimat tertulis.

Oleh karena itu peradaban dan kebudayaan seluruh umat manusia dimulai dengan menggambar. Kita tidak akan pernah sampai kepada peradaban terkini, misalnya teknologi kecerdasan buatan (AI), jika tidak pernah mengalami peradaban manusia yang menggambar di dinding-dinding goa jutaan tahun yang lalu. Mereka (manusia goa) pun menggambar sebelum mereka memiliki kata-kata untuk mengenali/menyebut setiap benda dan mahluk hidup lainnya, belum memiliki bahasa untuk menyampaikan pengalaman. Mereka memulai peradaban/kebudayaan dengan gambar. Bahkan sistem aksara, seperti yang kita kenal sekarang, pada mulanya adalah piktograf yaitu gambar yang mewakili benda sebelum berevolusi menjadi simbol fonetik (bunyi).

Itu untuk menyebutkan bahwa menggambar/melukis adalah ghirah yang telah menjadi fitrah atau given yang artinya bagian terberikan di dalam hidup manusia, dan umumnya menjadi ruang kegirangan bagi anak-anak. Maka hal yang sifatnya menjauhkan anak dari ghirah kegirangan bahkan menjadi paksaan semisal mewarnai tidak boleh keluar garis yang telah ditentukan, itu bisa dikatakan sebagai keluar dari fitrah dunia anak dan gambar-menggambar.  

Baca Juga: Lukisan-lukisan Menolak Kekerasan Seksual di Thee Huis Gallery
Bridging Cultures, Kolaborasi Seniman Bandung dan Jepang di Pojok Pasar Kosambi

Karya anak-anak PicuPacu. (Sumber: Herry Dim)
Karya anak-anak PicuPacu. (Sumber: Herry Dim)

Pengalaman Menggambar atau Melukis

SEMAKIN ke sini ada semacam tuntutan bahwa gambar/lukisan itu harus “persis” seperti benda yang digambarkannya. Ini harus segera dikatakan sebagai tuntutan yang salah jika diterapkannya kepada dunia anak-anak. Penjelasan untuk ihwal ini sesungguhnya merupakan perkara cukup luas dan menyangkut hal-hal lain. Namun, jika hendak disederhanakan, setidaknya ada dua hal:

Satu, anak pada tahap pra-operasional, usia antara 2 - 7 tahun, cenderung memahami realitas itu dengan simbol. Bagi ukuran penglihatan orang dewasa mungkin terlihat sebagai sistem berpikir yang tidak/belum terorganisir, masih tidak logis, tidak sistematis, tidak konsisten, dan bersifat egosentrisme;

Dua, penglihatan dan apalagi dalam konteks penggambaran pada usia tersebut, tidak/belum terikat perspektif dan tidak fotografis. Maka gambar-gambarnya cenderung kosmologis, berpola kerumunan, dan akrobatik sejak penempatan objek gambar atau pun hal lainnya.

Kedua hal itulah yang justru menjadi “mesin” kreatif, tempat berlimpahnya kemungkinan rupa tak terduga dan mengejutkan. Dua hal itu pula yang “dimainkan” Pablo Picasso dan di kemudian hari kental pada seluruh karya Jean-Michel Basquiat. Bahkan menjadi rujukan utama bagi seniman-seniman yang kemudian menamakan diri Fauvis seperti Henri Matisse, Raoul Dufy, Georges Rouault, dan Georges Braque.

Kalangan Fauvis faham betul, urusan “garis” misalnya tidak berurusan dengan rapih atau takrapih, pun bukan berurusan dengan kesempurnaan bentuk dasar (shape) lingkaran atau apa pun, misalnya. Tapi, sadar bahwa garis yang lahir dari kejujuran, tidak dibuat-buat, serta kemudian bentuk dasar; itu niscaya melahirkan watak, rasa, bicara dalam bahasa rupanya itu sendiri. Sebagai bandingan kita lihat coretan anak-anak yang bernama Jagi Tanaya Dwa (kiri) dan Raoul Dufy (kanan) seperti di bawah ini:

Coretan karya Jagi Tanaya Dwa (kiri) dan Raoul Dufy (kanan). (Sumber: Herry Dim)
Coretan karya Jagi Tanaya Dwa (kiri) dan Raoul Dufy (kanan). (Sumber: Herry Dim)

Kembali ke urusan “persis”, sesungguhnya dalam pembicaraan piktorial (hal yang berkenaan dengan gambar atau visual) itu bukanlah “tugas” dan “tujuan” dunia gambar-menggambar dan apalagi lukis-melukis, bagi zaman kita sekarang ini sesungguhnya amat mudah untuk menunjukkan bahwa itu tugasnya fotografi atau pun videografi. 

Hal yang terpenting di dalam dunia gambar/lukis (khususnya anak-anak) bukanlah pada persis atau tak persi, melainkan “pengalaman” menggambar atau melukisnya itu sendiri. Sesungguhnya amat luas dan banyak sekali hal yang berkenaan dengan “pengalaman seni” ini. Tapi, untuk sementara kita cukupkan pada dasar dan tujuan dibuatnya catatan ini, yaitu berlangsungnya Pameran Sehari Karya Rupa Picu-Pacu Kreativitas Indonesia 2026 dengan tajuk “PicuPacu Keliling Dunia.”

Pengalaman anak-anak dalam menggambar/melukis setidaknya mencakup dua hal, yaitu: (1) Pengalaman literal; dan (2) Pengalaman seni atau pengalaman menggambar/melukis itu sendiri.

Kedua pengalaman ini umumnya berjalan bersamaan. Silakan perhatikan, takjarang manakala anak-anak menggambar/melukis itu sambil berceloteh menceritakan apa-apa yang sedang digambarnya. Atau, bisa saja diam saat menggambar dalam arti disimpan dulu ceritanya baru kemudian ia bercerita ke mana-mana bahkan sampai jauh, kadang ke “cerita” yang takterbayangkan oleh kita selaku orang tua. 

Itu yang kita sebut pengalaman literal. Terbukti manakala satu demi satu anak PicuPacu naik panggung untuk menceritakan gambar/lukisan yang dipamerkan, taksatu pun anak yang “takterikat” dengan gambar/lukisannya. Semua anak fasih bercerita hingga detail gambar/lukisannya. Kadang penceritaannya itu membangkitkan haru semisal manakala bercerita tentang hubungan anak dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Bahkan hubungannya dengan hewan peliharaan, tanaman, bunga, kursi, sampai ke alam dinosaurus dalam khayal mereka. Kadang lucu, tapi bukan seperti lucunya komedi sampah yang tersebar di televisi-televisi dengan cara mentertawakan “kekuarngan” manusia; melainkan lucu yang muncul dari keluguan dan kejujuran anak-anak. Ihwal literal ini saja banyak hal yang bisa dipetik, dikaji, serta banyak pula manfaatnya bagi pertumbuhan anak. Sekadar untuk catatan ini, kita cukupkan dulu, dan langsung kepada pengalaman kedua yaitu pengalaman seni.

Catatan tentang pengalaman seni tentu kepentingan uraiannya bukanlah untuk anak-anak. Bagi mereka cukuplah “tenggelam” dan luruh dengan pengalamannya itu sendiri yang terjalani dengan kegirangan dan kebahagiaan. Kecuali jika kelak anak itu telah dewasa dan memang mendalami ilmu seni, bukan tidak mungkin kemudian memahami bahwa di balik pengalaman tersebut banyak keajaiban, berlimpah hal-hal takterduga, dan limpahan kemungkinan yang kita sebut kreativitas.

Apa arti pengalaman seni bagi anak-anak seperti yang dimaksud di dalam catatan ini?

Seperti telah diurai di atas, bahwa anak-anak PicuPacu tidak diajari praktik “mewarnai” gambar jadi. Semua anak-anak awal mulanya niscaya dihadapkan atau berhadapan dengan kertas hingga mungkin kanvas kosong. Tahukah Anda, bahwa manakala seorang anak sudah mulai membuat sebuah titik saja, itu artinya ia telah mengalahkan (mungkin saja) rasa takut, dan bermula dari ketidak-tahuan hendak apa; yang terpenting, ia kemudian menjadi “berani,” kertas/kanvas yang semula kosong mulai terisi. Sekali lagi, apa kiranya arti pengalaman ini?

Anak yang membuat titik ini kelak mungkin saja tidak jadi tukang gambar melainkan ilmuwan ataupun bidang-bidang lain. Kelak ia akan tahu bahwa untuk “menerobos” dan apalagi melahirkan ilmu baru, itu niscaya dimulai dengan seperti berhadapan dengan kertas/kanvas kosong. Material itu akan tetap kosong jika tidak dimulai dengan keberanian meski hanya dengan menerakan sebuah titik. Titik permulaan itu takbedanya dengan teriakan “Eureka” dari Archimedes, yang kemudian menemukan teori hukum berat dan gaya. 

Ternyata, dan bisa dibuktikan di mana pun, hampir tidak ada anak yang berhenti hanya pada satu titik. Ia niscaya melanjutkan pengelanaan menjadi garis-garis, menjadi bentuk-bentuk, di sana-sini memulasnya dengan warna-warna. Kertas/kanvas yang tadinya kosong itu kini menjadi “ada” isinya. Prinsip kemampuan mewujudkan sesuau dari tidak ada kemudian menjadi ada, itu seyogianya berada di bidang kecendekiaa apapun, dan menggambar/melukis sebagai pembuka pintu gerbangnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//