Ruang yang Hilang, Kota yang Mati Rasa: Dago Elos, Sukahaji, Melankolia di Kolong, dan Bagaimana Kita Merayakan Hidup
Ruang yang hidup adalah ruang yang menolak mengasingkan, menolak jadi melulu transaksional. Seperti yang terjadi di Dago Elos, Sukahaji, dan Melankolia di Kolong.

JIM
Warga sipil
15 Agustus 2026
BandungBergerak – “Di lingkungan-lingkungan yang lebih tua, jalanan telah merosot menjadi jalan tol, dan aktivitas waktu luang dikomersialkan serta dirusak oleh pariwisata. Hubungan sosial menjadi mustahil. Lingkungan yang baru dibangun hanya memiliki dua tema yang meresap ke segala lini: lalu lintas mobil dan kenyamanan rumah tangga—sebuah ekspresi kemiskinan dari kepuasan borjuis yang tidak memiliki rasa permainan (sense of play) sama sekali.” –CONSTANT
Saya jalan kaki. Bukan karena romantis, bukan karena ingin jadi flaneur kesiangan yang baca Baudelaire terus merasa jadi bagian dari sesuatu yang besar. Saya jalan kaki karena itu satu-satunya cara untuk benar-benar melihat kota ini membusuk pelan-pelan sambil tersenyum ke kamera. Bandung, kota yang saya tinggali, kota yang katanya kreatif, kota yang tiap sudutnya sekarang punya spot foto dan setiap spot foto itu punya harga.
Alun-alun Bandung dan Jalan Braga, terutama akhir pekan, ketika kota berubah jadi semacam pasar malam raksasa tempat manusia dijual balik ke dirinya sendiri sebagai pengunjung. Saya berdiri di situ, mengamati sirkulasi tubuh yang terus bertambah, berjejalan, berdesakan, dan trotoar, yang katanya untuk kaki manusia, diam-diam sudah diserahkan jadi lahan parkir motor. Tidak ada yang protes. Itu yang paling mengerikan: tidak ada yang protes, karena semua sudah dianggap wajar.
Dan dari situ saya sampai pada satu simpulan yang sebenarnya tidak original-original amat, sudah ribuan orang bilang ini sebelum saya: struktur kota besar di mana pun di muka bumi ini punya wajah yang nyaris kembar. Orang jalan-jalan, orang foto-foto, orang berburu titik yang photogenic, lalu–selesai. Pulang. Titik. Tidak ada yang tersisa selain jejak digital dan rasa lelah.
Baca Juga: Infrastruktur Sebagai Penjara: Catatan dari Pinggir Kota Bandung
Antara Cikudapateuh dan Kiaracondong: Anak-anak Sebagai Situasionis Tanpa Nama
Taman Kota yang Membunuhmu Sambil Tersenyum: Catatan dari Kota Bandung yang Sedang Difoto Sampai Mati
Anomali Kota
Guy Debord, di buku yang sudah jadi semacam kitab suci basi tapi tetap benar itu, bilang bahwa dalam masyarakat kapitalisme lanjut, kehidupan yang sesungguhnya digantikan oleh representasinya, hidup diubah jadi tontonan, jadi spectacle (tontonan). Dan apa yang saya lihat di Alun-alun dan Braga bukan sekadar keramaian biasa, itu adalah spectacle yang sudah menjelma sempurna: orang tidak lagi hadir untuk mengalami ruang, mereka hadir untuk memproduksi citra tentang dirinya sedang berada di ruang itu. Ruang publik berubah jadi studio foto raksasa yang gratis disewakan negara dan kapital, dan kita, dengan sukarela, jadi model sekaligus buruh produksi citra untuk diri sendiri.
Yang hilang dari pertemuan ribuan orang di kota ini–yang begitu kentara kalau kalian amati lebih dekat, adalah fungsi ruang sebagai ruang sosial. Orang-orang saling mengasingkan diri di tengah kerumunan. Kalaupun ada interaksi, hampir selalu berbau transaksional: jual-beli, foto berbayar, sewa kostum, spot Instagramable seharga tiket masuk. Situasionis Internasional sudah lama membaca gejala ini jauh sebelum kita punya kata “konten” dan “spot foto”: bahwa pembangunan kota dalam sistem kapital hari ini disusun bukan untuk manusia, melainkan untuk memuluskan sirkulasi kapital itu sendiri. Manusia yang bergerak di dalamnya yaitu kita, saya, kalian yang baca ini, diprogram sebagai fungsi dari kebutuhan modal untuk terus berputar, bukan sebagai subjek yang berhak atas ruangnya sendiri.
Taman-taman kota yang katanya “ruang terbuka hijau untuk warga” pada praktiknya dibangun dengan orientasi utama sebagai tempat orang mengumpulkan citra–latar foto, bukan latar hidup. Inilah yang oleh para Situasionis disebut sebagai keterasingan (alienation) yang paling halus: manusia teralienasi bukan cuma dari hasil kerjanya seperti kata Marx, tapi juga dari ruang hidupnya sendiri, dari waktu luangnya sendiri, bahkan dari caranya merasa. Kita didesain untuk mengalami kota lewat lensa, bukan lewat tubuh.
Tapi di tengah kota yang sudah dijinakkan jadi taman bermain kapital ini, ada yang menolak jinak.
Dago Elos jadi satu titik anomali di tengah kota yang lebih sibuk mengurus citra ketimbang nyawa warganya. Sejak 2015, ketika kabar penggusuran paksa oleh Muller cs dan PT Dago Inti Graha mulai beredar, warga Dago Elos tidak diam dan menunggu digusur sambil pasrah, mereka mulai mengaktivasi ruangnya sendiri. Gigs, nonton bareng, diskusi. Cukup penting untuk melihat hal ini dari kacamata Situasionis: apa yang mereka lakukan adalah bentuk détournement, membajak dan membalikkan fungsi ruang yang tadinya dikapling untuk kepentingan kapital properti, menjadi ruang yang bergerak, ruang bersosial, ruang untuk merayakan hidup sebagai bentuk perlawanan itu sendiri. Detournement bukan sekadar taktik seni avant-garde di ruang galeri, ia jadi alat hidup-mati warga kampung kota yang terancam gusur.
Begitu juga Dongker, yang bikin gigs Melankolia di kolong Jalan Layang Pasupati. Tentu ini bukan romantisasi kemiskinan atau eksotisasi bawah tanah–ini praktik konkret dari apa yang oleh Situasionis disebut unitary urbanism: gagasan bahwa ruang kota seharusnya direbut kembali dan dibentuk ulang berdasarkan kebutuhan hidup dan hasrat manusia, bukan berdasarkan logika sirkulasi kapital dan lalu lintas kendaraan. Solidaritas jadi pondasinya. Tiket, yang biasanya adalah tembok pemisah kelas, penentu siapa yang boleh menikmati dan siapa yang harus menonton dari luar pagar–dibalik fungsinya. Uang, yang dalam masyarakat spectacle adalah representasi murni dari nilai tukar, digantikan oleh sesuatu yang punya nilai guna langsung dalam hidup manusia: beras dan buku.
Orang yang biasa datang membawa uang digital, tiket yang sudah dipesan lewat aplikasi, sekarang datang menjinjing beras dan buku. Situasionis mengatakan ini lah bentuk dari detournement yang paling telanjang: mekanisme pasar (tiket, transaksi, nilai tukar) dibajak dan diisi ulang dengan logika lain. Logika gotong royong, logika saling merawat, logika yang menolak diterjemahkan ke dalam angka.
Dan beras serta buku itu tidak berhenti di kolong. Ia terus bergerak, ke Dago Elos, ke Sukahaji yang sedang melawan penggusurannya sendiri, ke Lio Genteng yang sedang berjuang mengaktivasi ulang kampungnya. Buku, yang tadinya cuma jadi pajangan di rak-rak kelas menengah, mulai berpindah tangan ke sudut-sudut kampung kota yang selama ini nyaris tak pernah dijangkau akses pengetahuan. Dalam kacamata Situasionis ini merupakan proses derive: bukan cuma tubuh yang menjelajah kota tanpa arah fungsional-kapitalistik, tapi juga barang dan pengetahuan yang dibiarkan mengalir menembus batas-batas kelas yang biasanya kaku dijaga oleh geografi kemiskinan kota.
Ruang yang Hidup
Dari Alun-alun Bandung, Jalan Braga, sampai Dago Elos, Sukahaji, dan Melankolia di Kolong, saya jadi paham satu hal yang sebenarnya sudah lama dikatakan orang-orang Situasionis sejak 1950-an tapi baru benar-benar saya rasakan di jalanan kota saya sendiri: ruang tidak boleh diam, kaku, dan membosankan. Kematian interaksi sosial di dalam ruang adalah kematian pelan-pelan atas kemungkinan manusia untuk hidup bersama, dan itu membuat kita semakin terasing dalam kehidupan kita sendiri–di kota kita sendiri, di ruang yang katanya milik publik tapi rasanya makin sempit untuk sekadar duduk tanpa membeli sesuatu.
Ruang yang hidup adalah ruang yang menolak mengasingkan, menolak jadi melulu transaksional–seperti yang terjadi, dengan segala keterbatasannya, di Dago Elos, Sukahaji, dan Melankolia di Kolong. Ruang di mana kita bisa merayakan hidup bukan sebagai konten, ruang di mana orang bisa mengimajinasikan kembali sesuatu yang sudah lama coba dimatikan oleh sistem: imajinasi itu sendiri.
Sistem tidak pernah, dan tidak akan pernah, peduli dengan bagaimana manusia bersosial. Itu bukan urusannya. Urusan sistem adalah sirkulasi, kendaraan, kapital, dan citra. Maka tugas kita, kalau memang masih mau menyebut diri hidup dan bukan sekadar berfungsi, adalah terus-menerus mengimajinasikan ulang bagaimana ruang ini seharusnya ada, dan lebih dari sekadar membayangkan, merebutnya kembali, sedikit demi sedikit, dari kolong Jalan Layang Pasupati sampai Alun-alun kota.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


