‘Bread & Circus’ dan Depolitisasi Masyarakat: Dari Juneval, Guy Debord, Marx, hingga Kuasa Algoritma
Seni yang paling radikal mungkin adalah seni yang menunjukkan dengan elegan bagaimana kita telah dikendalikan sepenuhnya dan tetap menari dalam kandang simulacrum.

JIM
Warga sipil
23 September 2026
BandungBergerak – Hampir satu dekade The Sigit membiarkan dirinya lenyap ke dalam keheningan yang paling elegan, seperti seorang dandy yang sengaja menghilang dari panggung bukan karena kekalahan, melainkan karena ia tahu bahwa absensi adalah satu-satunya pertunjukan yang benar-benar tak tergantikan. Kemudian, dengan keanggunan yang hampir terasa seperti penghinaan kepada mereka yang setia menunggu, mereka muncul kembali, membawa single berjudul Bread & Circus–sebuah judul yang begitu tajam, begitu penuh ironi, hingga terasa seolah Juvenal sendiri bangkit dari kuburnya hanya untuk menulis lirik itu dengan pena yang masih berlumur racun sejarah. Bongkar-pasang personel terjadi, tentu saja, prinsip bertabrakan dengan nafsu, ego bertemu dengan misteri yang tak pernah terucapkan, dan lahirlah formasi baru yang bahkan saya sendiri tak sepenuhnya mengenal wajahnya. Tapi bukankah itu hakikat seni yang sejati? Sebuah band yang tak gentar mati dan lahir kembali.
Mungkin The Sigit adalah sahabat karib dalam kekosongan masa sekolah saya dulu–ketika hard rock yang galak dan penuh amarah masih menjadi satu-satunya obat yang tidak memerlukan resep bagi jiwa remaja yang gelisah. Kini mereka bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih psychedelic, penuh synthesizer yang melayang-layang seperti asap opium dalam mimpi seorang estet yang bermabuk keindahan. Entah dari mana pengaruh itu datang–mungkin dari kabut London tahun 1960-an, mungkin juga dari gurun California yang berjemur dalam cahaya halusinogenik–tapi saya langsung teringat Stone Rider, band Amerika yang dengan keberanian aristokratik meninggalkan kekerasan riff demi kabut psychedelic yang lebih halus, lebih dalam, dan jauh lebih berbahaya bagi siapa pun yang terlena. Perubahan genre yang begitu drastis, begitu jomplang–tapi bukankah itu bukti bahwa seni yang benar-benar hidup tak pernah takut mengkhianati dirinya sendiri demi keindahan yang lebih tinggi, demi kebenaran yang lebih ironis?
Baca Juga: Taman Kota yang Membunuhmu Sambil Tersenyum: Catatan dari Kota Bandung yang Sedang Difoto Sampai Mati
Ruang yang Hilang, Kota yang Mati Rasa: Dago Elos, Sukahaji, Melankolia di Kolong, dan Bagaimana Kita Merayakan Hidup
Bandung, Interpol, dan ‘Disarankan Di Bandung’: Kota yang Terlalu Ramai untuk Dirasai
Bread & Circus
Namun bukan perpindahan genre yang ingin saya bicarakan malam ini. Yang menarik perhatian saya–yang sesungguhnya menghantui saya sejak pertama kali saya membaca judulnya yaitu Bread & Circus itu sendiri. Segera pikiran saya melayang ke penyair satir Kekaisaran Romawi yang paling tak sabaran, Juvenal. Dalam Satire X-nya, ia menulis “panem et circenses” (Roti dan sirkus) dengan nada seorang dokter yang menyampaikan diagnosis terminal. Inilah dua hal yang cukup untuk membuat rakyat lupa bahwa mereka sedang dirampok. Bagi Juvenal, ini bukan sekadar kebijakan populis, ini adalah rekayasa struktural dari ketidaksadaran politik. Berikan perut yang kenyang dan mata yang terhibur, maka Anda tidak memerlukan tentara untuk menjaga ketertiban, rakyat akan menjaga diri mereka sendiri dalam kebodohan yang paling sukarela. Alih-alih memberontak melawan tirani, mereka bertepuk tangan di arena. Alih-alih mempertanyakan korupsi yang sistemik, mereka tertawa saat gladiator mati demi hiburan mereka. Depolitisasi pertama dalam sejarah telah disempurnakan, mengubah warga negara menjadi penonton, menggantikan kesadaran kolektif dengan kenikmatan individual yang dangkal dan sekilas.
Lompat jauh ke Guy Debord dalam The Society of the Spectacle-nya yang ditulis tahun 1967 dengan amarah yang masih terasa membakar, mengajarkan kita bahwa kapitalisme modern telah menyempurnakan trik kuno Juvenal hingga ke taraf yang bahkan tak terbayangkan oleh para kaisar Roma. Debord memulai dengan tesis yang cukup menggetarkan yaitu “segala yang pernah dialami secara langsung telah surut menjadi representasi” Ini bukan hiperbola, ini adalah diagnosis tentang transformasi ontologis. Spektakel bagi Debord bukan sekadar hiburan atau media, ia adalah bentuk hubungan sosial yang dimediasi oleh citra. Kapitalisme, setelah menguasai produksi material, kini menguasai produksi pengalaman itu sendiri. Kehidupan yang autentik, kerja yang bermakna, hubungan antarmanusia, partisipasi politik, bahkan hasrat, telah dikolonisasi sepenuhnya oleh citra yang dimediasi oleh komoditas. Kekuasaan tidak lagi perlu bersembunyi di balik bayonet, ia merayakan dirinya dalam bentuk hiburan yang gemerlap. Politik menjadi pertunjukan, perlawanan menjadi estetika gaya, dan masyarakat berubah menjadi massa konsumen yang bahagia, atau setidaknya, yang percaya bahwa kebahagiaan mereka adalah pilihan bebas mereka sendiri.
Dari sinilah Karl Marx, dengan analisisnya tentang alienasi (Entfremdung) dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, memberikan fondasi yang lebih dalam dan lebih mengganggu. Bagi Marx, alienasi bukanlah perasaan eksistensial yang bisa disembuhkan dengan meditasi atau liburan, ia adalah kondisi struktural yang diproduksi secara sistematis oleh kapitalisme. Pekerja terasing dari produk kerjanya, ia menciptakan sesuatu yang kemudian menjadi milik orang lain dan berbalik melawannya sebagai kekuatan asing yang mengancam keberadaannya sendiri. Ia terasing dari proses kerjanya, yang berubah menjadi kerja paksa yang mekanis dan tak bermakna. Yang paling menghancurkan adalah, ia terasing dari species-being-nya, dari esensi kemanusiaannya sebagai makhluk yang kreatif, reflektif, dan sadar. Karena kreativitasnya direduksi menjadi instrumen bertahan hidup semata. Dalam masyarakat spektakel ala Debord, alienasi ini tidak lagi terkurung di pabrik, ia merembes ke seluruh ruang kehidupan. Kita terasing bukan hanya dari kerja kita, tapi dari pengalaman kita sendiri. Setiap like yang kita beri, setiap konten yang kita konsumsi, setiap momen yang kita rekam untuk diunggah–semua itu adalah kerja yang kita lakukan tanpa sadar dan tanpa upah. Data kita menjadi komoditas yang dijual kembali kepada kita sebagai “hiburan yang dipersonalisasi”. Kita memproduksi diri kita sendiri sebagai citra, lalu terasing dari citra itu hingga kita tak lagi mengenali wajah kita sendiri di cermin algoritma.
Jean Baudrillard melangkah ke wilayah yang bahkan lebih gelap, ke titik di mana diagnosa Marx dan Debord tampak terlalu optimistis, karena setidaknya mereka masih percaya bahwa realitas itu ada, hanya tersembunyi di balik ilusi. Dalam Simulacra and Simulation, Baudrillard memetakan empat fase tanda, yang pertama, tanda mencerminkan realitas yang dalam, kedua, ia menyembunyikan dan memutarbalikkan realitas itu, ketiga, ia menyembunyikan ketiadaan realitas, dan keempat–dan inilah yang paling mengerikan, tanda tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan realitas, karena ia adalah realitas itu sendiri. Ini yang ia sebut hyperreality, Simulacrum yang sempurna, model tanpa asli, kopi tanpa orisinal. Di era algoritma, kita hidup sepenuhnya di dalam fase keempat ini. Berita palsu bukan lagi sekadar kebohongan, ia lebih nyata daripada fakta, karena ia beresonansi lebih kuat dengan kerangka emosional yang telah dibentuk oleh algoritma.
Perlawanan politik bukan lagi aksi di jalanan, ia menjadi hashtag yang dalam hitungan jam diubah menjadi konten yang menguntungkan platform yang seharusnya ia lawan. Bahkan kemarahan kita pun telah disimulasikan dengan penuh perhatian. Algoritma mengetahui kapan kita marah, memberi kita lebih banyak konten yang memperbarui kemarahan itu, sehingga amarah menjadi loop yang tak berujung, sebuah mesin gerak abadi emosional yang tidak pernah berubah menjadi tindakan apa pun yang konsekuensial. Depolitisasi mencapai kesempurnaan absolutnya, yang di mana politik bukan lagi arena perjuangan, melainkan simulasi pertunjukan yang dipertontonkan kepada penonton yang percaya bahwa mereka adalah aktor.
Alienasi Marx
Di zaman algoritma–zaman yang bahkan Debord, Marx, dan Baudrillard sendiri mungkin tak sanggup membayangkannya dalam mimpi buruk mereka yang paling ambisius. Semua lapisan analisis ini bersatu menjadi satu mekanisme yang sekaligus mengerikan dan, bagi yang memiliki kesabaran untuk mengaguminya, menakjubkan secara intelektual. Alienasi Marx kini beroperasi bukan hanya di pabrik, tapi di setiap permukaan layar gawai yang menyentuh jari kita. Spektakel Debord kini tidak lagi memerlukan studio televisi atau bioskop–ia ada di kantong celana kita, menyala dua ratus kali sehari. Dan simulacra Baudrillard kini dikelola bukan oleh ideologi, melainkan oleh tensor matematika yang tidak memiliki ideologi sama sekali, yang jauh lebih efisien. Setiap scroll di timeline, setiap lagu yang muncul di playlist tanpa kita minta, setiap rekomendasi yang terasa seperti kebetulan yang terlalu tepat, adalah panem et circenses digital yang disesuaikan khusus untuk satu orang yaitu Anda sebagai konsumen. Bukan massa, bukan rakyat, bukan kelas pekerja–melainkan Anda, dengan preferensi Anda yang unik, trauma Anda yang spesifik, dan bias konfirmasi Anda yang telah dipetakan dengan presisi yang mengagumkan. Inilah pencapaian tertinggi kapitalisme yang spektakuler, sebuah personalisasi dari alienasi. Kita masing-masing kini hidup dalam gelembung kenikmatan yang sempurna dan soliter, di mana bahkan ketidakpuasan pun telah diubah menjadi konten yang bisa dikonsumsi, dikomentari, dan dilupakan sebelum rasa sakitnya sempat mendorong kita ke arah perubahan apa pun.
The Sigit, dengan Bread & Circus-nya yang memanggul kesadaran ironis seperti seorang bangsawan yang menolak berpura-pura tidak melihat kebusukan di sekelilingnya, mengingatkan saya pada paradoks yang paling indah sekaligus paling melelahkan dari zaman ini. Seni yang paling radikal mungkin adalah seni yang menunjukkan dengan elegan bagaimana kita telah dikendalikan sepenuhnya dan tetap menari di dalam kandang simulacrum itu dengan senyum yang tenang, seolah pengetahuan itu sendiri sudah cukup sebagai bentuk pembebasan. Karena pada akhirnya, seperti yang Pemuda L mungkin katakan dengan senyum yang mengandung dua puluh makna sekaligus:
“Kita semua hidup dalam sirkus yang megah, Sayang. Pertanyaannya bukan siapa yang memegang cambuk–pertanyaannya adalah apakah kita masih cukup jujur kepada diri sendiri untuk mengakui bahwa kita tidak hanya menonton pertunjukan, melainkan kita sendiri, dengan penuh semangat dan tanpa dibayar, adalah atraksi utamanya?”
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


