MALIPIR #59: Subjek Kalimat dan Tokoh Novel
Tokoh dan pencerita dalam novel Pulang karya Toha Mohtar seperti berbagi suratan nasib yang serupa. Menyuguhkan cerita tentang pulang yang tak mudah.

Hawe Setiawan
Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.
20 Oktober 2026
BandungBergerak – Ada pencerita yang terbawa hanyut ke dalam perasaan tokoh cerita. Setidaknya, itu kesan saya ketika membaca paragraf pembuka novel klasik, Pulang, karya Toha Mohtar:
"Rasanya tidaklah seperti menginjakkan kaki atas tanah sendiri, yang telah bertahun-tahun ditinggalkan. Bau tanah yang naik oleh turunnya air hujan sepanjang hari, seperti terasa menjalari seluruh rongga dada, seperti kuasa menggerakkan pembuluh darah sekujur tubuh. Ia pernah merasai hujan di mana-mana, sebagai serdadu pernah bergelut dengan lumpurnya jauh di seberang laut, tapi ini, di mana dia berdiri di pinggir desanya untuk pertama kali, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tersendiri, yang selama ini mampu menghidupkan mimpi dan kenangan yang begitu indah."
Paragraf di atas menceritakan perasaan pangling yang dialami oleh seseorang yang setelah tujuh tahun kembali menginjak tanah kelahirannya di kaki Gunung Wilis, Jawa Tengah. Dua kalimat pertama tidak menegaskan orang yang sedang diceritakan, seakan-akan perasaan yang sedang dilukiskan berasal dari hati penceritanya sendiri. Barulah dalam kalimat ketiga pembaca tahu bahwa perasaan demikian berasal dari hati tokoh cerita yang disebutkan dengan kata ganti orang ketiga, "ia".
Kalau dua kalimat pertama dipisahkan dari kalimat berikutnya ke dalam dua paragraf, tidak mustahil pembaca menyangka bahwa perasaan yang sedang digambarkan itu berasal dari dua pribadi yang berlainan. Karena ketiga kalimat tersebut ditempatkan dalam satu paragraf, maka pembaca bisa menangkap maksud bahwa kata "ditinggalkan" dalam kalimat pertama berarti "dia tinggalkan" dan kata "sekujur tubuh" dalam kalimat kedua berarti "sekujur tubuhnya".
Sampai di situ kita mendapat contoh subjek kalimat yang tersirat, tersembunyi di balik lukisan perasaan. Dalam bahasa-bahasa yang hidup di Indonesia, penyembunyian subjek kalimat adalah hal yang lumrah, terutama ketika pembicara pada dasarnya ragu mengenai sebutan yang tepat buat dirinya, orang yang diajak bicara, atau orang yang dibicarakan. Dalam bahasa Indonesia sehari-hari ada masanya pembicara lebih genah memakai "sini" dan "situ" ketimbang "aku" dan "engkau"–kalau tidak menyembunyikannya sama sekali.
Tentu, pencerita dalam novel ini punya pertimbangannya sendiri. Ketika pada saatnya dia menyebutkan subjek kalimat, jati dirinya tidak serta merta diinformasikan. Dalam hal ini kita mendapatkan sebentuk gaya bertutur, yang boleh jadi menimbulkan minat pembaca buat mengetahui siapa gerangan orang yang sedang dikisahkan. Diperlukan sebelas paragraf, hampir lima halaman, sebelum sang pencerita mempersilakan tokoh ceritanya menyebutkan sendiri namanya: "Aku Tamin, Mak!" seru sang tokoh kepada ibunya yang menanggapi suara itu dengan setengah percaya.
Baca Juga: MALIPIR #56: Biar tidak Mati Gaya Saat Menulis
MALIPIR #57: Kisah Odysseus, dari Yunani ke Tatar Sunda
MALIPIR #58: RTH dan Ensi
Profil Tokoh
Di halaman-halaman selanjutnya, lambat laun pembaca mendapat gambaran yang lebih lengkap mengenai profil Tamin. Di sinilah bedanya melihat dari membaca. Kalau kita melihat gambar, kita mencerap hubungan antarelemen visual sekaligus. Kalau kita membaca narasi, kita perlu waktu buat sedikit demi sedikit menghimpun informasi. Dengan kata lain, melihat bersifat spasial, sedangkan membaca bersifat temporal. Ketika temponya tiba, profil Tamin pun jadi lengkap dengan sendirinya.
Kalaupun membaca mau disamakan dengan melihat, maka kegiatan ini seperti melihat sesuatu yang bergerak di kaki langit dari kejauhan. Mula-mula yang terlihat hanya sebintik noktah hitam dalam riak fatamorgana, lambat-laun kian dekat hingga pada saatnya tahulah kita bahwa yang sedang bergerak itu adalah seorang kelana.
Kata si empunya cerita, Tamin pernah jadi serdadu Jepang di Burma. Ia menyaksikan dan turut merasakan kesengsaraan dan kemiskinan di sana, hingga dia jadi benci terhadap Jepang. Di akhir zaman pendudukan, ia bergabung dengan tentara Belanda yang mau "menindas pengacau, mengejar tentara perampok, dan sisa-sisa kekuatan Jepang". Di Burma dan Singapura ia tidak tahu bahwa sesungguhnya Belanda mau mencaplok kembali Indonesia, kawanan "perampok dan pengacau" yang dikejar-kejar oleh Tamin dan kawan-kawannya di Jawa sesungguhnya adalah para patriot yang mati-matian membela kemerdekaan bangsanya. Waktu dia kembali ke desanya, baru dia sadari betapa besar rasa hormat masyarakat kepada para pahlawan yang gugur melawan agresi Belanda, dan dia sendiri merasa jadi "pengkhianat seluruh kampung".
Jadi, novel yang oleh pengarangnya didedikasikan kepada ibunya tercinta ini menyuguhkan cerita tentang pulang yang tidak mudah. Sang tokoh kembali ke desa, berkumpul lagi dengan keluarga–reuni yang khas Indonesia–tapi bimbang antara menampilkan wajah yang sesungguhnya atau berpura-pura selaras dengan harapan orang sedesa. Ia memang sudah pulang ke kampungnya tapi merasa belum kembali ke dalam jati dirinya.
Gaya Bicara
Di dalam novel dan cerita pendek, pencerita turut hadir di dalam teks, seperti moderator di dalam seminar–tidak seperti pencerita dalam naskah drama, yang bersembunyi di balik petunjuk pementasan. Dialah, sang pencerita, yang membentangkan latar, memetakan jalan cerita, menampilkan tokoh, dan mengatur kapan dan di bagian mana tokoh cerita bicara langsung dalam dialog. Dalam uraian Jan van Luxemburg, salah seorang penulis buku Tentang Sastra (1987), di bawah koordinasi pencerita, tokoh-tokoh dalam cerita berperan sebagai "pembicara".
Hal yang menarik minat saya dari novel Pulang adalah gaya bicara sang pencerita. Kata "rasanya" yang mengawali penuturan cerita ini seakan memberikan isyarat kepada pembaca mengenai pokok soal yang hendak dikemukakan, yakni gejolak perasaan atau konflik batin Tamin ketika dia kembali ke desa. Selaras dengan temanya, dia memilih gaya bicara yang oleh penyunting buku ini dikatakan "liris".
Entah kebetulan entah bukan, saya melihat kesepadanan antara gaya bertutur sang pencerita yang tidak selalu menegaskan subjek kalimat dan kepribadian tokoh cerita yang bimbang dan merasa bersalah. Dalam lukisan perayaan masyarakat desa yang sedang mengenang para pahlawan, kita mendapatkan sosok "Tamin yang setengah menyembunyikan dirinya" di tengah kelimun.
Seperti subjek kalimat yang tidak serta merta memperlihatkan dirinya, Tamin sang tokoh novel sempat menutup diri, bahkan sempat minggat, sebelum berketetapan hati untuk menempatkan diri sewajarnya di tengah orang-orang dan tanah yang dicintainya.
Walhasil, subjek dalam kalimat dan tokoh dalam cerita seperti berbagi suratan nasib yang serupa.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


