MALIPIR #58: RTH dan Ensi
Rachmat Taufiq Hidayat (RTH) sedang menyiapkan karya utamanya yakni Ensiklopedi Sastra Nusantara, yang dikabarkan telah menghasilkan sekitar 4.000 entri rintisan.

Hawe Setiawan
Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.
3 Oktober 2026
BandungBergerak – Saya mengenal Kang Rachmat Taufiq Hidayat (RTH) sejak akhir 1990-an ketika saya ikut membantu Kang Ajip Rosidi, terutama di sekitar lingkungan kerja penerbit PT Dunia Pustaka Jaya dan Yayasan Kebudayaan Rancagé.
RTH cinta barang antik, mulai dari rongsokan pintu jati hingga kaset pita, dan punya koleksi buku cetakan pertama lengkap dengan tanda tangan penulisnya. Ia pun bergiat sebagai penulis, penyunting, dan penerbit, yang setelah meninggalkan Mizan merintis Kiblat Buku Utama di Bandung. Orangnya autodidak, tumbuh di luar universitas, dan gerak-geriknya tipikal anggota masyarakat pengumpul dan peramu yang suka bepergian, mulai dari seputar lapak loak Haji Undi di Cihapit hingga lorong-lorong Universiteit Bibliotheek di Leiden.
Waktu pergi ke Eropa, dia melihat dirinya seperti Bujangga Manik buat abad ke-21, mencari apus yang lebih banyak, baik apus ageung maupun apus alit.
Dalam kegiatan penyusunan dan penerbitan ensiklopedi, dia bukan orang baru. Salah satu buku yang penyusunan dan penerbitannya melibatkan dirinya adalah Almanak Alam Islami. Sejak 2006 RTH sedang menyiapkan karya utamanya, yakni Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN), yang dikabarkan telah menghasilkan "sekitar 4.000 entri rintisan".
Kalau dicetak, buku ini akan terdiri atas 5 jilid, dengan masing-masing jilidnya terdiri atas 500 halaman.
Baca Juga: MALIPIR #55: Terang dan Gelap dari Pelosok Priangan
MALIPIR #56: Biar tidak Mati Gaya Saat Menulis
MALIPIR #57: Kisah Odysseus, dari Yunani ke Tatar Sunda
Masih Perlukah Ensi?
Kerja besar seperti itu hari-hari ini sebetulnya terbilang ganjil: menyusun dan menerbitkan ensiklopedi ketika dunia kian mengandalkan mesin pencari Google, Wikipedia, dan media sosial.
Pada zaman digital menyimpan berjilid-jilid Encyclopaedia Britannica di rumah, untuk membantu kita mencari tahu dan membimbing anak-anak kita belajar, sepertinya sudah dianggap antik. Orang merasa bahwa gudang pengetahuan kian ringan dijinjing dan mudah dibawa, dan informasi dapat disedot lebih cepat daripada kilat. Juga sepertinya tidak akan ada lagi intelektual seperti Imam Ghazali yang memutuskan untuk menulis sendiri mukhtasyar dari karya utamanya, sebab berjilid-jilid Ihya 'Ulumuddin pada zamannya tidak mungkin beliau angkut ke sana-ke mari.
Sekarang koleksi buku elektronik dalam ponsel atau tablet kita adalah perpustakaan yang tidak kelihatan. Wikipedia yang dirintis oleh Jimmy Wales dan kawan-kawan sejak 2001 dengan melibatkan siapa saja sebagai kontributor dan editornya, mulai dari para pakar hingga kalangan awam–setiap orang adalah "wiki", terlibat dalam metode penyusunan ensiklopedi yang tidak dikenal sebelumnya–, telah menjadi gudang informasi dan pengetahuan yang amat besar dengan muatan yang terus diperbanyak.
Masih perlukah orang menulis dan mencetak ensiklopedi?
RTH sendiri sebetulnya sudah pula memanfaatkan kanal digital bagi proyek ensiklopedisnya, yakni dengan membuka layanan Sundadigi, akses dalam internet, lengkap dengan aplikasinya, ke dalam khazanah pengetahuan mengenai budaya Sunda. Namun, rupanya, etos kerja, kebiasaan, dan tata nilai dari peradaban cetak tidak hendak ditinggalkan, bahkan hendak dipertahankan melalui pengelolaan perpustakaan dan usaha penerbitan serta kegiatan pendokumentasian dan penulisan.
Lagi pula, ketika berbagai informasi dan pengetahuan tersebar lebih luas dan lebih lekas, orang yang terbiasa mengandalkan buku dan media cetakan sejenisnya memang bisa merasa sinting: informasi palsu, pengetahuan semu, dan kabar bohong tersebar luas sama pesatnya dengan informasi, pengetahuan, dan kabar yang dapat dipercaya. Beragam hoaks bahkan dimonetisasi dan sudah jadi produk industri tersendiri.
Dalam situasi seperti itu saya membayangkan RTH kiranya berpendirian seperti Simon Garfield, penulis All the Knowledge in the World: The Extraordinary History of the Encyclopedia (2022) dan kolektor ensiklopedi antik, yang mengatakan, “Proses pembuatan ensiklopedi mencerminkan nilai yang kita berikan pada isinya, dan mengabaikan nilai tersebut sama saja dengan membuka jalan bagi sebentuk amnesia budaya.”
Ciri Ensinya
Informasi yang disuguhkan dalam ensiklopedi ini mencakup antara lain istilah sastra, sosok penulis, karya tulis, dan kronik sastra. Penjelasan mengenai istilah sastra didasarkan atas referensi terpercaya. Contohnya adalah uraian mengenai istilah alih bahasa alias translasi atau terjemahan. Penjelasan mengenai arti istilah didasarkan atas sejumlah referensi, misalnya pendapat penerjemah dan penyair terkemuka Hartojo Andangdjaja. Ketika memberikan contoh terjemahan yang baik, RTH memetik puisi berbahasa Belanda karya Sentot (nama pena Sisco Roorda van Eysinga) yang terlampir dalam novel termasyhur Max Havelaar karya Multatuli. Puisi itu di Indonesiakan oleh penyair terkemuka Chairil Anwar, dan RTH memetik pula terjemahan itu. Dari situ RTH menyinggung-nyinggung kaitan terjemahan dengan bidang studi filologi. Tidak lupa, uraian diakhiri dengan saran mengenai buku-buku yang patut dibaca jika orang ingin memahami seluk-beluk terjemahan.
Dalam ulasan mengenai sosok penulis, ensiklopedi ini menunjukkan salah satu ciri khasnya, yakni foto diri tokoh sastra dan budaya yang dibubuhi tanda tangan sang tokoh. Lihat, misalnya, potret dan tanda tangan Asaham Alham.
Adapun informasi mengenai karya tulis, yang mencakup tulisan berbahasa Indonesia, daerah, dan asing, baik yang termasuk kanon maupun yang berada di luar kanon, disuguhkan dalam bentuk resensi singkat tapi padat, misalnya ulasan mengenai novel terkenal Atheis karya Achdiat K. Mihardja.
Dengan kata lain, tidak diragukan bahwa karya RTH yang satu ini memenuhi syarat-syarat ensiklopedi, dan dengan demikian niscaya akan memenuhi fungsinya di tengah jagat pustaka. Penulis dan penyunting seperti RTH niscaya terbiasa membuat kata putus: mana informasi yang bernilai dan mana pula yang tidak bernilai, bagaimana cara menyajikannya kepada khalayak ramai, dan bagaimana menjamin agar sajian informasi dan pengetahuan itu selain bernilai juga bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang?
Di jagat digital yang gaduh dan semakin gaduh, ikhtiar seperti itu pasti hanya akan menaikkan kadar asam lambung. Mungkin itu salah satu sebabnya RTH tetap dengan cara kerjanya yang sudah lama: menghimpun dan menyortir informasi dan pengetahuan, menuliskannya, dan mencetaknya dalam bentuk buku.
Masalah Nusantara
Setelah membaca sebagian kecil lembaran naskah Ensiklopedi Sastra Nusantara, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan seputar penamaan. Kenapa RTH memilih istilah Nusantara, bukan Indonesia?
Mungkin dia khawatir, istilah Indonesia dalam ensiklopedi ini hanya mencakup kekayaan tulisan berbahasa Indonesia, dan mengesampingkan kekayaan tulisan berbahasa "daerah". Kalau memang ada kekhawatiran demikian, tidakkah sekarang istilah sastra Indonesia ada baiknya diperluas, dalam arti selain mencakup tulisan berbahasa Indonesia juga mencakup tulisan berbahasa Sunda, Jawa, Bali, dan sebagainya?
Perluasan arti seperti itu kiranya akan selaras dengan amanat konstitusi Republik Indonesia yang menekankan bahwa beragam bahasa ibu di berbagai wilayah Indonesia dan budaya yang diwadahinya adalah bagian dari "kebudayaan Indonesia".
Kalau istilah Nusantara dianggap lebih tepat buat mencerminkan khazanah pengetahuan yang disediakan dalam ensiklopedi ini, tidakkah ada baiknya isi buku ini juga perlu mencakup tulisan-tulisan berbahasa Melayu di luar wilayah politik Indonesia, setidaknya di ujung tenggara daratan Asia?
Dalam hal ini, saya merasa perlu mengutip pendapat Prof. Slamet Muljana dalam bukunya, Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara (2017), yang berisi telaah atas perbandingan bahasa-bahasa di Asia dan Austronesia: "Nama Nusantara belum dikenal sebagai nama keserumpunan bahasa; namun sudah dikenal sebagai nama kepulauan antara empat benua, mempunyai pengertian yang sama dengan Austronesia. Demikianlah nama Nusantara digunakan di sini juga untuk menunjuk keserumpunan bahasa yang terdapat di Kepulauan Nusantara atau Austronesia."
Dalam Historical Dictionary of Indonesia (2004) susunan Robert Cribb & Audrey Kahin dicatat bahwa istilah Nusantara "dipakai dalam Nagarakrtagama untuk Pulau-pulau Luar yang berbeda dari Jawa, tapi muncul lagi pada awal abad ke-20 sebagai nama puitis bagi kepulauan Indonesia (used in the Nagarakrtagama for the Outer Islands as distinct from Java, but revived in the early 20th century as a poetic name for the Indonesian archipelago)". Adapun istilah "pulau-pulau luar" itu lebih kurang sama artinya dengan istilah "buitengewesten" pada zaman kolonial.
Keragaman bahasa dalam karya tulis yang tercakup dalam ESN antara lain mencakup bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing (Belanda dan Inggris) yang telah diindonesiakan. Itulah "Khazanah kesusastraan Nusantara".
Akhirnya, sedikit provokasi: di belakang ungkapan "Segera Terbit" pada kulit muka naskah ESN yang saya terima, saya bubuhkan tanda seru (!), biar ungkapan itu jadi bernada imperatif. Soalnya, sudah dua puluh tahun saya tak sabar menanti terbitnya ensiklopedi sastra karya RTH.
Segera terbit!
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


