• Kolom
  • MALIPIR #56: Biar tidak Mati Gaya Saat Menulis

MALIPIR #56: Biar tidak Mati Gaya Saat Menulis

Kita berupaya memahami cara sang penulis mengolah anasir-anasir literer seperti pilihan kata, tata kalimat, majas, dan sebagainya. Kita membaca sebagai penulis.

Hawe Setiawan

Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.

Tafsiran menggambar kata. (Ilustrasi: Hawe Setiawan)

26 Juli 2026


BandungBergerak – Saya membacakan buku di depan beberapa teman muda, di dua tempat berbeda di Kota Bandung: Kedai Janté di selatan dan kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di utara. Buku yang saya pilih adalah The Sense of Style karangan Steven Pinker, primbon literer buat mengasah keterampilan tulis-menulis.

Di tempat pertama, pendengarnya hanya dua kepala, dua-duanya editor muda Pustaka Jaya. Di tempat kedua hadirin lebih muda dan lebih banyak: delapan mahasiswa pegiat klub jurnalistik asuhan Pak Mif Baihaqi dari program studi Psikologi Pendidikan, UPI. Namun, di tempat pertama kegiatan kami berlangsung mingguan, sedangkan di tempat kedua hanya sekali kesempatan.

Sebetulnya, saya memilih buku ini buat melatih diri saya sendiri. Saya beruntung bisa bergaul dengan teman-teman muda seperti Fikri dan Hamid yang saya kenal sejak mereka masih kuliah dan mau diajak membaca panduan menulis. Saya pun beruntung punya teman Pak Mif yang sering mengajak saya ke dalam kegiatan pelatihan jurnalistik. Bersama merekalah saya berbagi bacaan dan pengalaman.

Selain ingin meningkatkan keterampilan menulis, saya ingin memperbaiki cara membaca, tak terkecuali membaca panduan menulis. Dalam hal ini, saya berikhtiar membaca buku-buku panduan menulis secara rileks saja. Tidak usah isinya diperlakukan seperti sepuluh perintah Tuhan yang diturunkan langsung dari puncak Sinai.

Buku Pinker, seperti tersurat dalam sub judulnya, ditujukan kepada generasi penulis abad ke-21. Namun, harap maklum, saya membacakannya dengan gaya abad ke-19, seperti orang Sunda membacakan wawacan atau orang Jawa mengadakan macapatan. Bedanya, saya tidak menyanyi, melainkan sekadar melisankan tulisan. Selain itu, tiap rampung satu paragraf, kami bercakap-cakap.

Tentu, lama membacanya. Perlu cepat-cepat ditambahkan bahwa sebegitu jauh saya baru sanggup membacakan dan mendiskusikan dua bab: bagian pengantar dan bab pertama yang membicarakan "tulisan bagus (good writing)".

Baca Juga: MALIPIR #53: Tamasya, Kota Literer, dan Panggilan Kisah
MALIPIR #54: Warga, Majalah Sunda dari Bogor
MALIPIR #55: Terang dan Gelap dari Pelosok Priangan

Kalimat Cerminan Nalar

Judul buku ini mengingatkan kita kepada judul buku sejenis dari William Strunk dan E.B. White, The Elements of Style, yang sudah jadi klasik dan memang disinggung-singgung dalam pengantar. Judulnya mencerminkan kecenderungannya: bertolak dari yang lama tapi bukan untuk mengamininya, melainkan untuk menyanggahnya dengan mengajukan pendekatan baru. 

Sebagai ahli psikologi kognitif, Pinker memandang perlu adanya panduan menulis yang mengedepankan nalar ilmiah untuk setiap saran kepengarangan. Sang pemandu diharap menopang saran-sarannya dengan alasan dan bukti, bukannya dengan otoritas dan mitos. Adapun sang pandu diharap menerapkan setiap saran secara kritis lagi bijak, bukannya secara naif.

Lagi pula, katanya, disiplin linguistik dan ilmu kognitif sudah membuahkan banyak temuan, misalnya menyangkut "dinamika mental dalam kegiatan membaca". Orang kini kian dimungkinkan untuk "membedakan aturan yang meningkatkan kejelasan, keanggunan, dan resonansi emosional dari aturan yang didasarkan pada mitos dan kesalahpahaman".

Waktu bercakap-cakap dengan sesama pembaca, saya masih merasa sukar untuk mengindonesiakan istilah sense dan style dalam urusan ini. Istilah yang terbersit dalam benak saya adalah "rasa" atau "kepekaan" dan "gaya". Kalau boleh saya adaptasi, judul buku ini barangkali bisa diterjemahkan jadi Melek Gaya.

“'The Sense of Style' mendua makna. Kata sense (rasa; kepekaan), seperti dalam “sense of sight (ketajaman penglihatan)” dan “sense of humor (selera humor)”, dapat mengacu pada kemampuan berpikir, dalam hal ini kemampuan memahami yang beresonansi dengan kalimat yang tersusun baik. Istilah ini juga dapat mengacu pada “good sense (akal sehat)” sebagai lawan dari “nonsense (omong kosong)”, dalam hal ini kemampuan untuk membedakan prinsip-prinsip yang meningkatkan kualitas prosa dari takhayul, fetisisme, dogma, dan jampi inisiasi yang diwariskan dalam tradisi pemakaian bahasa," urai Pinker.

Rekayasa Ulang Prosa Bagus

Menurut Pinker, para penulis yang mumpuni pada umumnya bisa menulis bagus bukan karena bantuan buku panduan menulis, melainkan karena mereka, sewaktu masih berlatih, telah membaca tulisan-tulisan bagus dari para penulis terdahulu. Mereka telah "menyerap perbendaharaan kata, ungkapan, susunan kalimat, kiasan, dan trik retorik yang sangat kaya". Dengan kata lain, "penulis yang baik adalah pembaca yang tekun".

Buku-buku panduan menulis dari abad yang telah berlalu dinilai cenderung merenggut kegembiraan dari kegiatan tulis-menulis. Ada baiknya orang berlatih menulis dengan cara yang menyenangkan sebagaimana belajar memasak, menggambar, dan memotret.

Ketimbang tersiksa oleh harus begini dan jangan begitu, ketimbang tertekan oleh perasaan takut salah, jauh lebih baik orang mencari atau menggali prosa bagus dari para maestro. Bukan untuk dielu-elukan, melainkan untuk dianalisis sedemikian rupa sehingga kita tahu, apa saja yang membuat tulisan mereka bagus.

Dalam hal ini ia memakai istilah reverse-engineering yang barangkali dapat kita adaptasi jadi "rekayasa ulang". Dengan itu, yang dimaksudkan adalah ikhtiar untuk menganalisis kualitas tulisan sedemikian rupa sehingga kita dapat merekonstruksi proses terbentuknya tulisan itu. Dengan kata lain, ketika kita membaca tulisan bagus, kita berupaya memahami cara sang penulis mengolah anasir-anasir literer seperti pilihan kata, tata kalimat, majas, dan sebagainya. Singkatnya, kita membaca sebagai penulis.

Dalam bab pertama Pinker menunjukkan caranya. Ia memetik empat karangan yang dianggap bagus dari empat penulis abad ke-21, kemudian ia menganalisis dan menjelaskan aspek-aspek stilistika yang menopang kualitasnya.

Setelah menganalisis dan menjelaskan keempat contoh tulisan itu, ia menginventarisasi ciri-ciri umum tulisan bagus: "mengandalkan ungkapan segar dan majas konkret ketimbang memakai kata-kata yang sudah usang dan ringkasan abstrak; mengindahkan titik pandang pembaca dan arah pandangan mereka; menempatkan kata atau ungkapan yang tidak umum secara bijaksana pada latar belakang nomina dan verba sederhana; memakai sintaksis paralel; sesekali membuat kejutan yang direncanakan; menyajikan rincian penting yang meniadakan pernyataan eksplisit; memakai metrum dan bunyi yang selaras dengan makna dan suasana".

Baru sampai di situ kami membaca buku ini. Bab-bab selanjutnya akan kami baca dari minggu ke minggu, sambil terus berlatih menulis.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//