• Kolom
  • MALIPIR #53: Tamasya, Kota Literer, dan Panggilan Kisah

MALIPIR #53: Tamasya, Kota Literer, dan Panggilan Kisah

Buat saya, membaca novel realis seperti Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan keluyuran mengunjungi tempat-tempat yang jadi latar cerita tidak bisa dipisahkan.

Hawe Setiawan

Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.

Tafsiran tamasya kota menelusuri latar kisah novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. (Ilustrasi: Hawe Setiawan)

9 Mei 2026


BandungBergerak – Kang Hazmir, Mang Ucup, dan kawan-kawan dari Pikiran Rakyat mau menghubungkan "sastra" dengan "wisata". Siang itu, 23 April lalu, saya diajak ke sebuah kedai kopi di Jalan Tamblong, Bandung. Di Kedai Abraham & Smith kami bertemu dengan sejumlah peminat jalan-jalan, juga beberapa peminat buku. Turut hadir, antara lain, Kang Ridwan Hutagalung dari Komunitas Aleut yang menulis buku sejarah Braga dan menyunting serta memperkenalkan lagi novel klasik Rasiah Bandoeng.

Panitia acara meminta saya membicarakan latar Bandung dalam novel klasik Atheis (1949) karya Achdiat Karta Mihardja (1911-2010). Itu gara-gara pada 15 November 2018 saya menulis kolom "Kota Atheis" dalam situs web Pikiran Rakyat. Ketika itu, dibantu oleh seorang rekan desainer dari Unpas, saya merekonstruksi peta Bandung akhir dasawarsa 1930-an atau awal dasawarsa 1940-an berdasarkan novel tersebut.

Supaya tidak mengulang apa yang telah disampaikan, kali ini pembicaraan saya mengenai novel itu saya kaitkan dengan dua buku lainnya dari pengarang yang sama: Polemik Kebudayaan (1948) dan Manifesto Kalifatullah (2005).

Anggapan saya pada intinya menekankan bahwa Pa Achdiat menulis novel Indonesia seraya melibatkan diri dalam pergulatan pikiran kaum terpelajar pada zamannya. Adapun religiositasnya tidak seperti religiositas protagonis Hasan dalam Atheis yang berujung dengan kebimbangan. Dalam usia senja, Pak Achdiat menyuguhkan untaian esai yang terbersit dari iman akan keberadaan Tuhan.

Buat saya, membaca novel realis seperti Atheis dan keluyuran mengunjungi tempat-tempat yang jadi latar cerita tidak bisa dipisahkan. Karena saya membaca novel itu, maka saya naik sepeda ke Jalan Sasakgantung, Pungkur, Gang Yuda, dll. Dengan kata lain tamasya kota merupakan akibat dari tamasya literer.

Seperti itu pula rupanya yang dilakukan oleh teman-teman dari Komunitas Aleut. Kata Kang Ridwan, sebelum mengunjungi satu tempat, mereka telah membaca sesuatu mengenai tempat itu. Bisa juga terjadi mereka tak sengaja singgah di satu tempat yang kisahnya sempat mereka baca dalam buku. Saya punya kecenderungan tambahan: mencari buku gara-gara ingin tahu lebih jauh riwayat tempat tertentu.

Baca Juga: MALIPIR #50: Membaca dengan 'Ain
MALIPIR #51: Shuffah, Supah, dan Sofa
MALIPIR #52: Anak, Ayah, dan sebuah Risalah

Kisah Kota dalam Koran

Esok harinya, 24 April, saya ikut hadir dalam acara puncak peringatan 60 tahun PR di Hotel Homann. Acara berlangsung dari selepas Magrib hingga menjelang tengah malam. Ada pameran cetakan koran lawas dan pameran foto jurnalistik, pidato para pembesar setempat, pentas musik dan tari, juga pemberian penghargaan dari direksi koran kepada sejumlah relasi.

Kiranya, itulah ikhtiar manajemen koran untuk meneruskan tradisi di tengah pergeseran platform komunikasi. Dalam hati saya menangkap ironi: ketika jurnalisme sepertinya kian tersingkir oleh beragam kreasi konten, saya justru membutuhkan lebih banyak jurnalisme. Mungkin itu sebabnya saya ikut hadir dalam perhelatan itu dengan perasaan campur aduk antara senang dan sedih.

Kebetulan saya ditempatkan semeja dengan, antara lain, Pak Entang Sastraatmadja dan Kang Kin Sanubary. Saya duduk di antara mereka berdua. Pa Entang adalah kolumnis pertanian sejak dasawarsa 1970-an. Ia mulai menulis kolom dalam PR Edisi Ciamis dengan topik menyangkut tétélo, penyakit mematikan pada ternak ayam. Adapun Kang Kin adalah kolektor koran dan majalah yang belakangan getol pula menulis. Meja kami agak jauh dari meja para pembesar, agak dekat ke pintu keluar. Jadi, cukup leluasa buat ngobrol dan minggat.

Ampun beribu ampun, sebetulnya saya tidak sepenuhnya memperhatikan apa yang sedang berlangsung di atas panggung. Selama sekitar 90 menit perhatian saya tersedot oleh siaran pertandingan Persib melawan Arema yang saya tangkap melalui live streaming pada ponsel. Beberapa tamu–saya tidak ingat siapa saja–menghampiri meja kami untuk bertanya, berapa skor? Apa boleh buat, pertandingan berakhir seri.

Dalam totebag pemberian panitia menjelang akhir perhelatan, ada cetakan baru buku lawas Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto. Pertama kali terbit 1984, buku ini telah dicetak ulang enam kali. Cetakan keenam, pada 2025, diproduksi dengan hard cover lengkap dengan jaket yang dikasih lambang 60 tahun PR. Kiranya inilah buku paling terkenal terbitan Granesia, penerbit PR.

Mendiang Pak Harry telah jadi role model tersendiri bagi para penulis generasi berikutnya yang berminat pada sejarah Bandung. Profilnya sudah terpola: mengoleksi buku antik dan dokumen, merekonstruksi nostalgia Bandung, dan menuliskan hasil temuannya di halaman koran, dari waktu ke waktu hingga terhimpun jadi buku. Itulah perjalanan dari buku ke buku.

Entah dikatakan entah tidak, disadari ataukah tidak, direksi koran yang sedang bertahan di tengah perubahan zaman, rupanya sudah menangkap isyarat. Kelangsungan tradisi jurnalistik itu tadi kiranya sedikit banyak akan bergantung pada kesanggupan meruwat ikatan, juga merawat ingatan, yang mempertautkan halaman koran dengan geliat kota.

Tafsiran visual panggilan kisah (the call of stories). (Ilustrasi: Hawe Setiawan)
Tafsiran visual panggilan kisah (the call of stories). (Ilustrasi: Hawe Setiawan)

Tamasya Sastra

Mungkin karena naik motor kehujanan, mungkin juga karena pulang ke rumah tengah malam, pada gilirannya saya jatuh sakit. Karena atmosfer pikiran masih terpaut pada topik obrolan di kedai kopi dan meja hotel, buku bacaan yang saya pilih buat berselonjor kaki dalam selimut adalah buku lawas, Imagined Places: Journeys into Literary America (1991) karya Michael Pearson.

Sastrawan Sori Siregar dan kawan-kawan pernah mengindonesiakan buku ini. Saya sempat membacanya, sebelum sempat membaca buku aslinya. Dalam perbincangan bersama Kang Hazmir dan kawan-kawan di kedai kopi, buku ini pula yang turut saya sebut-sebut sebagai pendorong ikhtiar keluyuran yang ditopang literasi.

"Panggilan sastra membisikkan kisah yang tiada habisnya kepada saya (The call of literature whispered its inexhaustible tale to me)," tulis Pearson, orang yang doyan baca sastra sejak masa kanak.

Dengan "panggilan" itu, Pearson menyelenggarakan proyek yang sebetulnya agak sinting: mengadakan sekian rangkaian perjalanan dalam tempo sekitar 15 bulan ke tempat-tempat yang jadi latar dalam karya sastra klasik Amerika karya enam penulis ternama: Robert Frost, William Faulkner, Flannery O'Connor,  Ernest Hemingway, John Steinbeck, dan Mark Twain. Ditemani oleh dua fotografer, ia mengunjungi, misalnya Vermont-nya penyair Robert Frost, mengamati lanskapnya, menemui sejumlah orang di sana–mulai dari kurator galeri hingga tukang cuci piring–menggali banyak informasi seraya memetik puisi karya sang penyair dan meninjau biografinya. Itulah perjalanan yang dia gambarkan sebagai "campuran antara rencana dan improvisasi (a blend of plan and improvisation)".

Saya kurang kerasan dengan istilah wisata dan pariwisata. Saya lebih suka tamasya. Cara kerja pembaca dan penulis seperti Pearson kiranya bisa dijadikan model tersendiri bagi ikhtiar tamasya yang tergugah oleh "panggilan sastra" atau–dalam istilah Robert Coles–"panggilan kisah" (the call of stories).

Setidaknya terasa betul betapa tamasya Pearson jadi penawar tersendiri buat saya di kala sakit. Saya memang hanya meringkuk di atas dipan, tidak bisa keluyuran, tapi buku yang sedang saya baca sesungguhnya membawa saya bepergian ke tempat-tempat yang tak terkira jauhnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//