MALIPIR #51: Shuffah, Supah, dan Sofa
Dari sekolah untuk mengajarkan keterampilan literasi di zaman Nabi Muhammad saw., nama kampung di Garut, hingga tempat selonjoran untuk membaca buku.

Hawe Setiawan
Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.
28 Maret 2026
BandungBergerak – Saya buka lagi buku yang belum tamat dibaca: The History of the Qur'anic Text (2003) karya Muhammad Mustafa Al-Azami. Tebal sekali, 651 halaman. Perlu waktu buat membaca dan membicarakannya. Saya baru sampai ke bab 4 yang membahas cara kitab suci dipelajari pada zaman Nabi.
Selagi membaca bagian itu perhatian saya tertumbuk pada satu istilah: "suffa". Istilah Arab ini dieja dengan aksara shad, fa, dan ta. Lidah orang Indonesia seperti saya lebih suka mengucapkannya shuffah.
Kalau boleh saya terjemahkan sambil lalu, begini penjelasan almarhum Profesor Al-Azami: "Ketika tiba di Madinah Kanjeng Rasul membuka shuffah, sekolah yang dimaksudkan untuk mengajarkan kepada para pengunjungnya keterampilan literasi, juga menyediakan bagi mereka makanan dan tempat tidur."
Untuk mendapatkan gambaran konkret suffah, saya membayangkan sebentuk platform bersahaja di lingkungan masjid Nabi. Di situlah para pengikut Muhammad saw. bisa duduk-duduk, selonjoran kaki, atau berbaring. Itulah tempat mereka menghayati ayat-ayat suci atau menyimak wejangan Kanjeng Nabi.
Kita tahu, di antara para pengikut Muhammad saw. yang turut hijrah ke Madinah, menghindari intimidasi dan persekusi elite Quraisy penguasa Makkah, ada yang tidak bersanak famili dan tidak pula berharta benda. Orang-orang zuhud itu tinggal di shuffah sehingga mereka dijuluki sebagai ahlus shuffah atau para penghuni shuffah.
Saya senang sekali dengan pemakaian istilah "sekolah" (school) dalam petikan di atas. Dengan itu, ruang dan kegiatan belajar mendapat penekanan dalam sejarah pencatatan wahyu dan kompilasi teks suci. Turunnya wahyu dari langit ditanggapi oleh manusia di muka bumi dengan kesanggupan membaca, menyimak, menangkap isyarat–singkatnya, kesanggupan belajar. Istilah itu juga turut menekankan bahwa kegiatan mengajar merupakan bagian penting dari peran kenabian di dalam sejarah.
"Sementara Kanjeng Rasul mewartakan Qur'an, orang-orang lainnya seperti Abdullah bin Sa'id bin al-'As, Ubada bin as-Samit, dan Ubay bin Ka'b mengajarkan dasar-dasar keterampilan baca tulis," tulis Profesor Al-Azami pula mengenai kegiatan di shuffah.
Baca Juga: MALIPIR #48: Membaca Lokatmala
MALIPIR #49: Harak dan Sang Ajengan
MALIPIR #50: Membaca dengan 'Ain
Supah di Garut
Seorang teman dari Bandung, wartawan muda yang masih getol keluyuran ke berbagai pelosok mencari bahan reportase, bercerita kepada saya tentang pengalamannya berkunjung ke sebuah kampung di Kecamatan Malangbong, Garut. Tempat itu dikenal sebagai Kampung Supah. Katanya, asal-usul toponimi yang satu ini bersangkut-paut dengan sejarah pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.
Informasi itu membuat saya tergugah. Soalnya, jejak "jaman gorombolan" telah membekaskan ingatan kolektif yang tidak enak dalam sastra Sunda. Ada sejumlah cerpen, puisi, dan novel sedih dalam bahasa Sunda yang digubah dengan latar sejarah dari periode genting yang satu itu. Silakan baca, misalnya, cerpen Saliara Sisi Jami karya Saléh Danasasmita, puisi Kembang Tanjung Panineungan karya Wahyu Wibisana, atau novel Lembur Singkur karya Abdullah Mustappa. Baru saya tahu bahwa jejak zaman itu membekas pula jadi nama tempat.
Dalam telaah C. Van Dijk, Rebellion Under the Banner of Islam (1981) dicatat bahwa Kartosuwiryo menggagas apa yang disebut "Lembaga Suffah" (Suffah Institute) pada 1940.
"Berada di Malangbong, Lembaga Suffah pada mulanya dimaksudkan untuk menyediakan pendidikan umum dan keagamaan, tapi, sebagaimana yang akan kita lihat, lembaga ini kemudian berubah jadi lembaga yang menyediakan pelatihan paramiliter selama pendudukan Jepang. Lembaga ini dikelola sebagaimana pesantren, madrasah, dan sekolah Islam. Lembaga pendidikan ini membentuk komunitas tertutup, yang murid-muridnya bekerja menggarap lahan sekolah, sehingga mereka bisa belajar hidup mandiri, dan memungkinkan terjalinnya ikatan erat antara guru dan murid. Di lembaga pendidikan yang memberikan pengajaran selama empat hingga enam bulan ini, Kartosuwiryo sendiri mengajarkan bahasa Belanda, astrologi, dan ilmu tauhid atau doktrin tentang Keesaan Tuhan," tulis Van Dijk.
Cerita teman saya tentang Kampung Supah bersesuaian dengan catatan Van Dijk mengenai tempat-tempat di sekitar Gunung Guntur dan Gunung Cikuray. Katanya, dalam pandangan gerilyawan Darul Islam, tempat-tempat itu merupakan "wilayah Suffah".
Mengenai asal-usul istilah suffah atau shuffah itu sendiri, yang mengacu hingga ke dalam sejarah Nabi, Van Dijk berpijak pada hasil-hasil penelitian terdahulu, antara lain dari Deliar Noer, akademisi muslim Indonesia terkemuka, penulis buku The Modernist Muslim Movement in Indonesia: 1900-1942 (1973).
Sofa di Rumah Saya
Di lingkungan keluarga kami, horor tentang "jaman gorombolan" membekas di hati nenek dan kakek, terutama dari pihak ibu. Rumah nenek di kaki gunung terbakar hingga seluruh keluarga mesti pindah ke lembah yang lebih aman. Adik nenek satu-satunya tewas dalam perjalanan, disergap orang-orang bersenjata.
Saya sendiri, sebagai anak Indonesia kelahiran dasawarsa 1960-an, tentu lain lagi cerita horornya, dan hal itu berada di luar cakupan catatan singkat ini. Yang patut saya catat di sini, dalam kaitan dengan istilah shuffah itu tadi, adalah istilah tersendiri yang mengacu kepada cara hidup yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan pengalaman para leluhur. Istilah yang saya maksud adalah sofa.
Baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris, ejaannya memang sofa. Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebagaimana kamus bahasa Inggris, menerangkan arti istilah itu sebagai "kursi panjang bertangan dan bersandaran". Jika kita runut etimologinya, terutama dalam bahasa Inggris, kita mendapat keterangan bahwa istilah sofa berasal dari istilah Arab, suffah atau shuffah.
Kebetulan, di rumah kami, saya biasa membaca buku di atas sofa. Punggung bersandar pada salah satu tangan kursi, sedangkan kedua kaki diselonjorkan. Tidak jarang, selagi membaca, saya terkantuk-kantuk, bahkan tertidur di atas kursi panjang itu.
Kenyamanan demikian saya dapatkan dari keluyuran ke lapak-lapak kayu jati rongsokan. Sekali pernah saya dapatkan kursi panjang tua yang kayunya masih keras dan hanya perlu sedikit reparasi. Di waktu lain saya hanya mendapatkan kayu sehingga saya harus mendesain sendiri sebelum memesan kursi. Di antara barang-barang buangan yang masih bermanfaat itu, ada yang saya tempatkan di beranda, ruang tamu, ruang tengah, juga dapur. Itulah tempat-tempat yang biasa saya duduki buat membaca, menulis, dan menggambar.
Saban ada kesempatan saya selalu membersihkan kursi-kursi panjang itu sambil meyakin-yakinkan diri bahwa boleh jadi ada yang langgeng sejak zaman Nabi. Itulah kesanggupan untuk menyediakan platform bersahaja tempat orang bisa melangsungkan ikhtiar belajar. Setidaknya, buat diri saya sendiri, kursi panjang alias sofa adalah platform terbaik tempat saya membaca buku, tak terkecuali buku karya almarhum Profesor Al-Azami yang belum tamat dibaca.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

