MALIPIR #49: Harak dan Sang Ajengan
Pengarang terampil betul membetot simpati pembaca atas dunia pengalaman Harak yang langsung bercerita sejak awal novel.

Hawe Setiawan
Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.
7 Maret 2026
BandungBergerak – Salah satu buku yang saya jadikan bacaan bulan Ramadan adalah novel Ajengan Anjing (2025) karya Ridwan Malik (awas tertukar dengan Ridwan Kamil). Buku saku 330 halaman ini menyuguhkan lukisan literer mengenai perubahan sosial di lingkungan pesantren salafiah tradisional di Tatar Sunda. Fokusnya diletakkan pada hubungan antara anjing yang dianggap mengandung najis dan manusia yang sesungguhnya berlumur dosa.
Judulnya memang kayak headline: membetot perhatian dan bisa membikin orang menduga-duga. Ajengan adalah istilah Sunda buat "kiai" atau pemimpin pesantren. Apakah kita sedang berhadapan dengan seekor anjing yang bijak ataukah seorang kiai yang sedang dikecam? Tentu, sebaiknya teman-teman baca sendiri.
Kebetulan saya kenal baik penulisnya: kasép dan santun. Dalam penglihatan saya, teman muda yang satu ini tipe penyayang binatang. Dalam sebuah bengkel penulisan di Cicalengka, sekian waktu lalu, ada seekor anak anjing yang ikut nimbrung. Saya lihat tidak ada teman yang sebaik Ridwan dalam meladeni tingkah polah peserta workshop yang suka menggonggong itu: ia mengelus-elus hewan kecil itu dan memberinya makan.
Buku terbitan Maliré, Garut, ini saya baca perlahan-lahan saja, sambil menunggu tibanya saat berbuka puasa. Perlu waktu lebih kurang seminggu buat menamatkannya. Sehabis membaca, saya jadi mafhum bahwa Ridwan bukan hanya bersahabat dengan gogog melainkan juga mengenal betul lingkungan budaya yang melatari kisahnya. Saya tidak sangsi dia memang santri.
Realisme Sunda dan Jangkar Salawat
Di luar sana, terutama negeri yang berbahasa Inggris, kisah anjing sudah jadi rumpun literasi tersendiri. Ingat saja, misalnya, novel klasik dari Jack London, The Call of the Wild, yang menceritakan seekor anjing gedongan yang terperangkap ke dunia liar. Di jajaran karya mutakhir, saya sendiri teringat novel Sigrid Nunez, The Friend, tentang persahabatan yang lambat laun terjalin antara seekor anjing dan seorang perempuan yang baru ditinggal mati kekasihnya.
Dari sejarah sastra Indonesia, di antara yang tidak banyak, kisah sejenis yang saya ingat adalah novel Mahbub Junaidi, Angin Musim, tapi hewan yang punya lakon di situ bukan anjing melainkan kucing. Di situ sang kucing jadi narator cerita politik.
Kisah anjing yang jadi favorit para santri, sudah pasti, dipetik dari kitab suci. Itulah kisah tentang Qithmir, seekor anjing yang mendapat akses ke surga atas loyalitas dan dedikasinya menemani dan menjaga tujuh pemuda salih yang berkelit dari tirani. Kalau boleh saya menduga, kisah itu turut meresap ke dalam proses kreatif Ridwan.
Harak, narator dalam kisah ini, adalah seekor anjing. Namanya–yang diambil dari istilah Sunda yang berarti "bengis"–berbanding terbalik dengan kelembutan hatinya. Dikisahkan, ia anjing berdarah campuran. Dari garis ayah, ia turunan anjing pemburu yang tinggi besar serta asal-usulnya bisa dirunut hingga ke Qithmir. Dari garis ibu, ia turunan ajag yang sanggup mencabik-cabik tubuh babi hutan.
Dengan penokohan Harak, realisme tentang transformasi pesantren tradisional di Priangan mendapat modifikasi. Perubahan sosial itu dituturkan dan dievaluasi dari sudut pandang seekor anjing yang terlibat di dalam pokok cerita dan bisa bercakap-cakap dengan manusia.
Sang anjing jadi korban perubahan itu, bahkan korban yang paling mengenaskan, dan kisah ini dituturkan dari perspektif korban. Ia menggugat penyingkiran kawanan anjing dari lingkungan Pasantren Bahrul Ulum di Citamiang ketika fiqih ajengan baru yang masih muda jadi picik dan tak mau menggubris keberatan publik.
Ajengan Anjing mengingatkan saya pada kebiasaan sewaktu belajar ngaji di Cisalak, Subang. Waktu itu, saban pekan atau hari penting, guru kami Mang Yayan mengajak anak-anak mendawamkan salawat nariyah, seratus kali setiap orang.
Salawat adalah untaian kata yang baik dan indah, berisi pujian dan penghormatan atas diri Kanjeng Nabi Muhammad berserta keluarganya. Muslim umumnya membacakan salawat tiap saat, tak terkecuali dalam ritual salat. Bahkan Allah dan para malaikat pun membacakan salawat.
Dalam novel ini tergambar bahwa kehidupan masyarakat di lingkungan pesantren tradisional, dalam naungan kharisma, teladan, dan kepemimpinan seorang ajengan, berporos pada kebajikan salawat. Dikatakan di situ bahwa "solawat adalah kunci" dan "solawat jadi darah, jadi tulang, jadi daging".
Dengan lantunan salawat tiap saat, agama dihayati dan dilakoni dengan gembira. Hidup sehari-hari masyarakat setempat terkena berkahnya. Kawanan anjing dan para santri berinteraksi, bersahabat, satu menjaga yang lain merawat, satu makan yang lain kecipratan. Bahkan istilah santri itu sendiri dalam novel ini meliputi kawanan anjing yang suka ikut menyimak ceramah ajengan melalui pengeras suara masjid. Sayang, dalam novel ini, kegembiraan seperti itu tidak abadi, terutama ketika kepemimpinan pesantren beralih generasi.
Baca Juga: MALIPIR #48: Membaca Lokatmala
MALIPIR #47: Puisi Tujuh Belas Tahun
Turbulensi Generasi Ketiga
Tidak sedikit lembaga, mulai dari usaha keluarga di bidang kuliner hingga perusahaan media massa, khususnya di Jawa Barat, yang surut pada generasi ketiga, entah karena perbedaan wawasan pengelolanya entah karena perubahan zaman yang melingkupinya. Dalam karangan Ridwan, kita mendapat gambaran mengenai turbulensi generasi ketiga dalam pengelolaan lembaga pendidikan pesantren.
Ketiga generasi yang menandai perjalanan Bahrul Ulum-nya Ridwan terdiri atas generasi Mama Ajengan Aleh kemudian beralih ke generasi anaknya, Ajengan Oyong, sebelum beralih lagi ke cucunya, Céng Aom. Acéng–sebagaimana Acép–adalah sapaan lazim buat anak ajengan. Dari generasi Mama Aleh ke Ajengan Oyong, yang meliputi zaman pemberontakan Darul Islam dan zaman huru-hara 1965, fondasi salawat masih terpelihara. Sejak generasi Céng Aom, timbullah guncangan sebagai akibat pembaharuan kurikulum dan pemutakhiran sarana informasi dan komunikasi, tapi terutama akibat kekakuan penerapan fiqih.
Najis yang terkandung dalam air liur anjing jadi masalah yang dibesar-besarkan. Padahal dalam zaman dua ajengan sebelumnya tidak demikian. Toh semua orang sudah tahu prosedur bersuci. Lagi pula masyarakat setempat sudah sekian generasi terbiasa hidup bersama kawanan anjing sebagai teman, pembantu di tempat kerja, juga penjaga keamanan. Ajengan baru menyerukan penyingkiran anjing dan memprakarsai pembangunan benteng yang sesungguhnya memisahkan pesantren dari masyarakat sekitar. Klimaksnya adalah amuk Madsahdi, buruh tani korban persekusi zaman 1965, dan kematian Harak.
Pengarang terampil betul membetot simpati pembaca atas dunia pengalaman Harak yang langsung bercerita sejak awal novel. Pangkal dan latar masalah yang jadi fokus perkisahan ditaruh di belakang dalam novel yang dibagi ke dalam tiga bagian ini.
Selaras dengan latarnya, banyak istilah dari bahasa Sunda yang terserap ke dalam cerita, antara lain ajengan, balong, bungah, gorombolan, harak, kukut, kudu, mama, euceu, modar, nyai, dan rungsing. Pasti, novel ini turut memperkaya bahasa Indonesia. Namun, saya kira, akan lebih baik jika cetakan berikutnya disertai lampiran istilah.
Penyuntingan lebih cermat kiranya juga diperlukan, terutama buat memangkas repetisi dalam rincian cerita yang tidak perlu, misalnya soal pentingnya salawat dan asal-usul Harak.
Terlepas dari itu, saya pada dasarnya senang sekali membaca novel ini: sebuah cerita nan segar, pemerkaya kegiatan saya mengisi waktu di sela-sela kegembiraan tadarusan dalam suasana indah bulan suci Ramadan. Tabé, Mang!
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

