MALIPIR #47: Puisi Tujuh Belas Tahun
Hampir dua dasawarsa Majelis Sastra Bandung (MSB) telah menjalankan peran sosial yang patut dihargai untuk puisi dan peminatnya.

Hawe Setiawan
Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.
1 Februari 2026
BandungBergerak.id – Untuk menandai ulang tahunnya yang ke-17, Majelis Sastra Bandung (MSB) belum lama ini mengadakan sawala dengan tema "kondisi (ke)penyair(an) di Jawa Barat hari ini". Buat saya, tema tersebut kelewat berat. Perlu riset cermat. Saya hanya bisa menangkap kilasannya, misalnya dari beberapa antologi puisi yang terbit belakangan ini. Setidaknya, saya beranggapan bahwa kondisi penyair tercermin dari puisinya.
Catatan singkat ini merupakan penghormatan saya kepada MSB, komunitas yang berdiri pada 2009. Dari komunitas ini telah lahir sejumlah antologi puisi, antara lain Ziarah Kata 44 Penyair (2010), Bersama Gerimis (2011), Wirid Angin (2012), Ustadz Televisi karya Matdon (2014), Hanya Waktu karya Matdon (2025). Antologi terbaru, yang diterbitkan dalam momen ulang tahun ini, adalah Negeri Omon-Omon (2026).
Salah satu bahan refleksi saya adalah dokumentasi dalam blog MSB, yang sayang sekali tidak diteruskan sejak Mei 2014. Dari situ saya mendapat gambaran mengenai kandungan arti dalam slogan komunitas ini: "ruang sastra yang sebenarnya".
MSB lahir di Gedung Indonesia Menggugat (bekas landraad), dan ulang tahunnya yang ke-17 diselenggarakan di Museum Sejarah Kota Bandung. Kedua gedung tua itu merawat spirit kota dengan cara masing-masing, dan para penyair yang berhimpun di MSB rupanya punya cara tersendiri untuk berhubungan dengannya.
Kawan-kawan seiring dari luar kota (Jakarta, Tangerang, Banten, Cianjur, Tasikmalaya, Surabaya, Lampung, dan Madura) berdatangan ke acara ulang tahun MSB. Pertemuan nan akrab dan hangat terjalin di sela-sela dan setelah acara. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hadir pula, dan kata Matdon, baru kali ini acara MSB dihadiri pejabat pemerintah.
Kalau dirangkum, selama hampir dua dasawarsa MSB telah menjalankan peran sosial yang patut dihargai, yakni menghimpun peminat puisi, menyelenggarakan sawala puisi, menerbitkan buku puisi, dan menyelenggarakan lomba penulisan puisi. Singkatnya, para penghayat puisi yang berhimpun di MSB seperti sirih atau rumput teki: sekali tertanam, selanjutnya menjalar untuk menciptakan ruangnya sendiri.
Baca Juga: MALIPIR #44: Sang Penulis di Masa Kritis
MALIPIR #45: Kampungmu dalam Bacaanmu
MALIPIR #46: Sketsa tentang Puisi
Di antara Dua Bahasa
Di Jawa Barat, para penyair umumnya memiliki sedikitnya dua pilihan bahasa: Indonesia dan Sunda. Ada yang menulis hanya dalam bahasa Indonesia dan ada lagi yang menulis hanya dalam bahasa Sunda, tapi ada juga sejumlah penyair yang menulis dalam dua bahasa tersebut.
Salah satu koleksi puisi Sunda yang terbit akhir-akhir ini adalah Beling: Sajak Nyeri Haté Aing (2025) karya Muhammad Akmal Firmansyah. Antologi 23 halaman ini diterbitkan oleh Malapah Gedang, Bandung, dan dikasih ilustrasi serta gambar sampul oleh Fatal Kys. Selepas kerusuhan Agustus 2025, polisi di Bandung menyita sejumlah "barang bukti" dari lingkungan aktivis yang dicurigai, dan salah satu barang itu adalah buku puisi yang satu ini. Mata polisi semata sepertinya terarah kepada kosa kata dan gambar molotov. Kalau dibaca, selaras dengan judulnya, puisi Akmal umumnya merupakan puisi putus cinta.
Antologi sajak berbahasa Sunda yang terbit dalam tahun 2025 juga datang dari proses kreatif Willy Fahmy Agiska, Tihang (2025). Saya sempat ikut menyimak presentasinya di Toko Buku Pelagia, Bandung, 27 Desember 2025. Willy bersal dari Ciamis, kuliah di Bandung, lalu bekerja di Jakarta. Sebelumnya, ia menulis dalam bahasa Indonesia. Kali ini–dalam kata-katanya sendiri–ia menyuguhkan "éstétika kukulutus". Satu frasa menarik minat saya dari antologi tersebut: undak-usuk cimata.
Dalam hal pilihan bahasa, Akmal dan Willy memperlihatkan keadaan serupa. Bahasa mereka tidak seperti bahasa para pendahulunya yang umumnya selaras dengan bahasa yang dibakukan. Bahasa mereka lebih dekat dengan subkultur generasi baru dalam pergaulan sehari-hari. Bandingkan saja bahasa Akmal dan Willy dengan bahasa Ari Andriansyah, yang beberapa tahun lebih tua daripada mereka dan pada tahun 2025 juga menerbitkan antologi puisinya yang terbaru: Urat Jagat. Bahasa Ari cenderung baku, seperti lazimna bahasa guru.
Tentu, ada bedanya. Jika Akmal lebih spontan, Willy kelihatannya lebih sadar puisi. Lagi pula, seperti halnya Ari, Willy belajar bahasa secara formal. Kentara dia punya keantengan mencari idiom, mengolah metafora, hingga lahir ungkapan baru, semisal undak-usuk cimata.
Dari jajaran penyair senior ada pula kumpulan puisi Lokatmala karya Nita Widiati Efsa. Penyair ini lahir pada 1964, pernah belajar di bidang pertanian tapi kemudian memilih karir kesastraan, seakan menuruti jejak langkah sang ayah: Johar Efsa. Antologi 98 halaman ini terbit pada 2024, memuat sajak-sajak Nita dari 1986 hingga 2014. Terlihat perjalanan yang cukup panjang di jalur lirik: ada renungan tentang cinta, ada pula lukisan pemandangan, juga ada catatan perjalanan yang bersenyawa dengan biografi sang penyair.
Di antara Dua Arah
Ketika kumpulan puisi Hanya Waktu (2025) karya Matdon disawalakan di Kedai Janté, penyair Gujur Mahesa melihat dua kecenderungan: lirisisme sufistik yang disebutnya sebagai "bahasa Cipasung" dan satire sosial politik yang rupanya lebih disukai oleh Gusjur sendiri. Matdon memang datang dari lingkungan santri dan sehari bergiat di lapangan jurnalistik.
Masalah orientasi seperti itu, sedikit banyak, tercermin pula dalam Gado-gado tanpa Mazhab (2025) karya Ganjar Kurnia yang menghimpun puisi dari tahun 2024 ke sini.
Pokok persajakannya Kang Ganjar berkaitan dengan waktu, perjalanan hidup, ketimpangan sosial, korupsi, lanskap, dan renungan. Kang GK, mantan atase kebudayaan di Prancis dan mantan rektor Unpad, sesungguhnya bukan orang baru di dunia seni. Ia merintis gedung kesenian Balé Rumawat Pajajaran dan sering berkolaborasi dengan seniman karawitan. Puisi-puisinya seperti catatan harian: mencatat apa yang terlihat, mengungkapkan apa yang dirasakan pada rincian hidup sehari-hari, memberikan suara tersendiri bagi pokok perhayian orang banyak dari waktu ke waktu, juga menyampaikan semacam catatan perjalanan.
Terlepas dari arah mana yang hendak dituju, Matdon dan kawan-kawan dari MSB mendapat tambahan kekuatan untuk terus menapaki jalan puisi. Dari lingkungan akademisi, misalnya, selain Kang Ganjar, ada pula Septiawan Santana Kurnia, Ari J. Purwawidjana, dan Asep Salahudin, yang belakangan ini juga mengumumkan kumpulan puisi masing-masing dan, tentu saja, turut menyemarakkan lanskap puisi di Jawa Barat.
Bahasa Puisi dan Rintangan Ekspresi
Komunitas Sastra Dewi Sartika asuhan Tetet Cahyati meluncurkan Rahim Kata (2025). Seperti diberitakan dalam lembaran "Khazanah" Pikiran Rakyat (Sabtu, 3 Januari 2026, hal. 7), antologi tersebut menghimpun apa yang disebut "puisi self healing" karya para ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan menulis puisi di bawah arahan para penyair dari Bandung, Yogyakarta, dan Seoul. Pelatihan menulis dan publikasi hasilnya diupayakan melalui kerja sama antara komunitas sastra dari ketiga kota tersebut dan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, tempat mengabdi penyair Nenden Lilis Aisyah.
Ikhtiar serupa juga diprakarsai oleh Komunitas Kirik Nguyuh di Majalengka dengan para peserta berasal dari kalangan buruh pabrik. Mereka mengikuti workshop menulis puisi dan prosa juga menggambar. Karya mereka dipamerkan dan diterbitkan dalam bentuk buku.
Bahasa politik orang Indonesia di bawah Prabowo mungkin akan kembali bersifat simbolis, bahkan mungkin berlindung dalam puisi, ketika ruang-ruang ekspresi dibatasi rupa-rupa ancaman hukuman dari si empunya kekuasaan. Namun, saya beranggapan bahwa puisi Indonesia akan kian berkembang jika Indonesia kian demokratis. Kita dapat mengolah kata jika lidah kita tidak dibelenggu.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

