• Kolom
  • MALIPIR #46: Sketsa tentang Puisi

MALIPIR #46: Sketsa tentang Puisi

Antologi puisi Ganjar Kurnia dalam Gado-gado tanpa Mazhab (2025) meneguhkan kecenderungan buat menjadikan seni sebagai bagian hakiki dari laku hidup sehari-hari.

Hawe Setiawan

Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.

Buku adalah teman dialog yang menggugah nalar dan rasa. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

21 Januari 2026


BandungBergerak.id – Saya ikut membaca Gado-gado tanpa Mazhab (2025), kumpulan puisi karya Ganjar Kurnia, sambil melihat diri sendiri. Pengalaman Kang Ganjar dalam tulis-menulis puisi, sedikit banyak, sebangun dengan pengalaman saya dalam corat-coret menggambar: minat sejak kecil yang baru mendapatkan jalan setelah tua. Sudah lama ada dorongan berkarya, tapi selalu ada kekhawatiran, bahkan ketakutan, jangan-jangan karya yang dihasilkan tidak memenuhi syarat dan dianggap jahat. Ia ingin menulis puisi tapi takut menghadapi "pengadilan puisi", seperti saya yang ingin menggambar tapi takut oleh sorot mata Dewi Kesenian. Seolah-olah yang bukan penyair dilarang menggubah puisi, seakan-akan yang bukan pelukis dilarang menggambar. Syukurlah, pada saatnya kekhawatiran itu menghilang, seperti hantu yang tidak lagi mengganggu, terutama ketika citra diri bukan lagi urusan yang harus dirisaukan. Catatan perjalanan ke Venesia tahun 1985 akhirnya mendapatkan jalan puitis pada tahun 2025. Lagi pula, yang penting buat Kang Ganjar kiranya bukan menjadi penyair, melainkan menulis puisi, sebagaimana yang penting buat saya bukan menjadi seniman melainkan menggambar. Singkatnya, entah dengan puisi atau sketsa, orang kan bisa mencatat apa yang terlihat, menangkap rincian hidup yang serba singkat, sebelum mati.

Dengan kata lain, buat saya, antologi terbitan Unesa ini telah ikut meneguhkan kecenderungan buat menjadikan seni sebagai bagian hakiki dari laku hidup sehari-hari. Nilainya toh amat penting: sebagaimana healing atau terapi bisa kita dapatkan dengan ikut kursus meditasi atau bergabung dengan kelompok pendaki gunung, merawat kewarasan badan dan pikiran bisa juga kita dapatkan dengan menulis puisi dan menggambar. Anggap saja menulis puisi atau menggambar itu hobi. Kenapa tidak? Namun, perlu segera ditambahkan satu hal lain. Dari sudut pandang seperti ini, saya pun membaca kredo kepenulisan Kang Ganjar, yang tercermin dalam puisi yang judulnya dijadikan judul antologi. Pernyataannya bahwa "aku hanya penyair-penyairan" kiranya tidak perlu dibaca sebagai pernyataan mediokritas–sekiranya ada padanan Indonesia buat mediocrity–melainkan sebagai cerminan kerendahan hati untuk menyadari semacam jalan permulaan di dalam proses kreatif menggubah puisi. Saya yakin, orang seperti Kang Ganjar, yang menggagas gedung kesenian Balé Rumawat Pajajaran dan sekian kali berkolaborasi dengan seniman karawitan, sangat menyadari bahwa begitu kita menanam seni, maka selanjutnya kita terus berlatih saban hari. Mana ada seni tanpa latihan? Dan saya ikut menyaksikan konsekuensi itu: ketimbang menyia-nyiakan media sosial buat meneruskan demagogi dari sana-sini atau mengumbar curhat tanpa arah, belakangan ini saya sering mendapat kiriman puisi terbaru Kang Ganjar. 

Sebagai akademisi setingkat profesor, yang bahkan pernah jadi rektor di almamater saya, juga sebagai muslim yang saya lihat terbilang taat, lumrah kiranya jika Kang Ganjar terdengar agak gelisah dengan perkara "mazhab". Ia mungkin bertanya-tanya, di mana gerangan dia hendak berpijak: apakah dalam bahasa liris sufistik Kang Acep dari Cipasung ataukah dalam satire sosial politik Mas Gusjur dari Cimahi, atau mungkin dalam bahasa lain lagi? Sejak zaman Aristoteles, tugas para akademisi, sebagaimana tugas para pengolah limbah, adalah mengikhtiarkan kategorisasi: botol plastik tidak di satukan dengan sisa sayuran, kardus bukan teman sekarung jarum suntik. Lain kawih lain tembang, lain pula tembang anyar. Kategori perlu mereka buat biar nalar bisa menganalisis, dan itulah tugas amat berat buat menyiasati dunia manusia yang pada dasarnya kacau balau dan tidak bisa diramalkan menjadi tertata rapi seperti buku-buku di perpustakaan yang diatur dengan katalog, bagai perjalanan muskil dari chaos ke cosmos. Sebelum merasa mantap dalam perkara itu, Kang Ganjar kedengarannya lagi-lagi berendah hati dengan menyatakan bahwa dirinya sekadar "ikut-ikutan" berpuisi dengan menyajikan sejenis "gado-gado". 

Baca Juga: MALIPIR #43: Risalah buat Pencari Nafkah
MALIPIR #44: Sang Penulis di Masa Kritis
MALIPIR #45: Kampungmu dalam Bacaanmu

Menurut saya, taklid bukanlah kejahatan, dan "gado-gado" bukan tidak mungkin jadi solusi tersendiri bagi kelaparan. Ketika Kang Ganjar menggubah puisi, urusan "mazhab" sebaiknya kita serahkan kepada para fugaha atau para mufasir kesastraan. Ketika menulis atau menggambar, kita toh sedang bergerak di tataran ortopraksi, bukannya di tataran ortodoksi. Hal terpenting di tataran itu adalah merayakan puisi dalam hidup sehari-hari.

Dengan pikiran seperti itu, saya ikut menyimak, antara lain, cara pandang Kang Ganjar ketika menonton pertandingan Persib melawan PSM Makassar dan cara dia mendengarkan lagu-lagu balada Bah Iwan Abdurachman. Ia adalah penonton bola yang berupaya terbang melampaui stadion untuk mendapatkan alegori tentang kefanaan hidup manusia. Ia pun pendengar lagu balada yang melalui parafrase, lengkap dengan catatan kaki, berupaya menerakan jejak puluhan lagu di sepanjang jalan hidupnya sendiri. Baik di Bandung maupun di Paris, ia menangkap ironi: ada kota yang penuh mitos cinta dan "nostalgia" tapi membiarkan dirinya "menjadi renta" dengan "panasnya aspal dan kepul debu", juga ada kota yang meraup untung dengan memamerkan tengkorak para kuli tambang. Ada kalanya ia ingin jadi pacar laut ketika ada orang mau bikin usaha dengan membuat pagar laut. Tuhan sering disapa, dengan "Mu" dan "Nya" kapital, sebagai poros kebatinan dalam banyak renungan.

Pilihan favorit saya adalah "Puisi Asam Urat". Kata si sakit, "Kaki yang dulu bisa diajak lari / kini terpenjara di tempat tidur". Namun, itu bukan pernyataan akhir bagi tulis-menulis puisi. Itu hanya salah satu rincian hidup sehari-hari yang menemukan jalannya sendiri ke dalam puisi. Lagi pula, semua penyair pada dasarnya menderita. Bahkan penderitaan mereka kian berat tatkala timbul tuntutan untuk membawa derita partikular ke dalam derita universal. Selamat berjuang, Kang Ganjar.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//