MALIPIR #44: Sang Penulis di Masa Kritis
Seperti revolusi dulu melenceng ke lain penjuru, begitu pula reformasi kini dibajak oleh para aktornya sendiri.

Hawe Setiawan
Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.
30 November 2025
BandungBergerak – Sekiranya kata revolusi yang dipakai oleh Ramadhan K.H. (1927-2006) kita ganti dengan reformasi, maka kisah Indonesia berlatar 1950-an dalam Royan Revolusi seperti sedang menggambarkan Indonesia hari ini. Itu sebabnya novel ini patut dibaca lagi, katakanlah sebagai bahan perhitungan kini.
Tergambar di dalamnya, agenda perjuangan berganti dengan penyelewengan kekuasaan, aktivis kemarin jadi koruptor saat ini, suara kritis dibungkam, partai jadi segalanya. Royan, sejenis penyakit setelah melahirkan, berjangkit di berbagai sektor, bahkan mewabah di rumah-rumah. Rakyat tetap melarat dan tiada hentinya ditipu oleh para pembesar dan kaki tangannya.
Bukankah gambaran demikian masih kentara hari ini? Seperti revolusi dulu melenceng ke lain penjuru, begitu pula reformasi kini dibajak oleh para aktornya sendiri.
Awal reformasi ditandai dengan mundurnya Presiden Suharto pada 1998 setelah lebih dari tiga dasawarsa berkuasa. Akhir reformasi, saya kira, ditandai dengan ditetapkannya Suharto sebagai pahlawan nasional. Itulah yang membuat saya teringat kepada novel Kang Atun–begitu saya biasa menyapa Ramadhan K.H.–yang ditulis pada 1961 dan pertama kali terbit pada 1970. Naskahnya memenangi sayembara penulisan oleh UNESCO dan IKAPI pada 1968.
Memang ada ironi. Di masa tuanya, Kang Atun juga menulis biografi Suharto meski ditentang oleh sejumlah sahabatnya. Namun, kalaupun rasa kangen saya kepada sang pengarang terganggu oleh hal itu, saya pun patut mencatat bahwa penulis yang sama juga menyusun biografi tokoh-tokoh pengritik Suharto, misalnya Ali Sadikin. Biarlah hal itu jadi rincian dari hidup nan pelik.
Novel tentang Novelis
Novel 328 halaman ini menampilkan tokoh utama Indra Idrus, pemuda asal Cianjur, mantan pejuang kemerdekaan, yang setelah Indonesia merdeka ingin menulis novel sebagai jalan hidupnya. Obsesi itulah yang membuatnya meninggalkan kuliah pertanian, melawat ke Belanda dan Finlandia, sebelum kembali ke Indonesia dan memilih tinggal di desa sambil bercocok tanam.
Inilah novel tentang novelis. "Dia dirangsang oleh perasaan untuk menuangkan segala pengalaman dan angan-angannya di atas kertas. Betapa tidak! Masa-masa yang dilaluinya, masa-masa merebut kemerdekaan yang disambung dengan royan revolusi mendorong semua orang untuk bercerita, melepaskan isi hati dan menyampaikan pikiran-pikiran tentangnya," tutur pencerita novel ini mengenai tokoh utamanya.
Sang novelis pada dasarnya kecewa oleh keadaan negerinya, terutama oleh tindak-tanduk mereka yang sedang memerintah. Melalui psike tokoh ini, pembaca dapat menyimak rincian suasana zaman beserta pergulatan pikiran di dalamnya tatkala Indonesia belum lama terbebas dari penjajahan bangsa asing.
Idrus menemukan dirinya berada di tengah pusaran godaan untuk ikut arus, main sogok, manipulasi, dan sejenisnya. Ia berupaya mengambil jarak dan sedapat mungkin berikhtiar merealisasikan cita-citanya, meski hal itu berarti harus berhadapan dengan bekas teman-teman seperjuangannya.
Baca Juga: MALIPIR #43: Risalah buat Pencari Nafkah
MALIPIR #42: Dari mana Datangnya Trisilas?
Indonesia Zaman Bung Besar
Realisme Kang Atun kiranya mengambil bahan-bahannya dari pengalaman sejarah. Periode yang jadi acuannya berkisar di sekitar peralihan dari zaman demokrasi liberal ke zaman demokrasi terpimpin. Sosok "Bung Besar" beberapa kali disinggung-singgung. Isu komoditas gula menghilang dari pasaran, yang pernah menggelaja pada 1950-an, tersebut-sebut pula. Begitu pula kasus penahanan "wartawan M.L."–kiranya Mochtar Lubis–tanpa pengadilan, tak ketinggalan. Itu sebagian di antaranya.
Sosok Idrus, yang sempat bekerja di bidang jurnalistik sebelum memusatkan perhatian dalam bidang penulisan fiksi, mengingatkan saya kepada sosok Kang Atun sendiri. Ia pun berasal dari Cianjur, anak seorang patih, sempat bekerja sebagai wartawan, bepergian ke Eropa, dan menulis puisi, novel, serta biografi.
Pengalaman di bidang jurnalistik kiranya sangat membantu proses kreatif Kang Atun dalam menulis novel. Dengan itu, ia terbiasa mengumpulkan dan mengolah informasi dari lungkungan masyarakat luas, jadi data dan pijakan tersendiri bagi imajinasinya untuk menghidupkan toloh cerita beserta suasana umum yang mengitarinya.
Jika dikaitkan dengan situasi politiknya, sosok Idrus kiranya mewakili pergulatan pikiran Indonesia dari lingkungan non-komunis. Itu terutama kentara dari percakapan Idrus dengan kakak dan temannya seraya melihat dari jauh suasana rapat umum partai "merah".
Beberapa tokoh perempuan memainkan peranan penting dalam hidup Idrus: Juwita dari Bandung, Eya Kuusela dari Helsinki, dan Rukiah dari Ciamis. Yang tak kurang pentingnya, kalau bukan yang terpenting, adalah Mamah, ibunya sendiri, di Cianjur. Ia sangat menghormati ibu, sedangkan dengan ayah, di Bandung, ia memendam masalah.
Sejumlah kata serapan dari bahasa Sunda memperkaya penuturan cerita. Sayang, dalam lampiran keterangan istilah cetakan kedua (1986), istilah kikitir (sejenis pajak zaman dulu) rupanya tertukar dengan kitri (benih kelapa).
Perlawanan Rakyat
Hingga novel berakhir, Idrus sesungguhnya belum menulis apa yang ingin dia tulis. Yang terlahir dari tangannya baru surat-surat, terutama buat Eya di Finlandia.
Kisah tentang novelnya mungkin tidak penting. Pergulatan pikiran dan pendiriannya di tengah krisis itulah yang dikedepankan. Klimaksnya adalah perlawanan rakyat tani yang mencuat di Cianjur ketika pemerasan, pengisapan, dan penghinaan oleh pejabat, cukong, dan calo tidak bisa ditanggung lagi.
"Tambah hari aku bertambah yakin, bahwa kita harus melawan dan tak boleh menangguhkan perlawanan terhadap segala bentuk pemerasan, kepalsuan, dan penipuan. Aku tidak puas dengan dunia seperti sekarang ini," tulis Idrus dalam dua halaman terakhir novel ini.
Buat saya, renungan demikian terdengar seperti surat Cianjur untuk Indonesia, bukan saja pada masa seusai revolusi dulu, melainkan juga pada masa seusai reformasi kini. Kalaupun hingga sekarang novel ini belum kembali dicetak ulang, kisahnya tetap patut dikenang.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

