• Kolom
  • MALIPIR #50: Membaca dengan 'Ain

MALIPIR #50: Membaca dengan 'Ain

Tanda huruf 'ain di garis tepi halaman Al-Qur-an jadi patokan jeda membaca. Juga menjadi semacam partisi atau bilik pemisah tema atau pokok bahasan dalam surat.

Hawe Setiawan

Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.

Tafsiran visual hufur ‘ain dalam Al-Qur’an. (Ilustrasi: Hawe Setiawan)

16 Maret 2026


BandungBergerak – Seperti yang dilakukan oleh banyak muslim lainnya dalam bulan suci Ramadan, saya ikut tadarusan, yakni memdawamkan Al-Qur'an dari hari ke hari bersama rekan-rekan semajelis. Dari kegiatan itulah saya tertarik oleh huruf 'ain yang tertera di marjin kiri atau kanan kitab suci tiap sekian halaman.

Dalam cetakan Qur'an yang saya dapatkan dari Madinah dan Mekah garis tepi teks suci memang tidak menghadirkan huruf 'ain. Hanya ada tanda bintang atau kembang di ujung ayat-ayat tertentu. Adapun dalam cetakan Qur'an yang kita dapatkan dari kota-kota di Indonesia lazimnya kita melihat huruf 'ain yang hadir di marjin.

Sebagai orang awam dalam urusan Qur'an, saya baru belakangan menyadari peran huruf yang satu itu, sebagaimana yang akan saya singgung-singgung nanti.

Teman-teman mungkin sempat membaca telaah Pak Henri Chambert-Loir, "Kisah Petualangan Sebuah Huruf Arab di Indonesia" dalam buku Lima Belas Karangan tentang Sastra Indonesia Lama (2014). Huruf Arab yang dimaksud di situ adalah 'ain. Kalau saya tak salah baca, penelitian Pak Henri–saya malafalkannya angri–terpaut pada disiplin filologi, khususnya menyangkut peliknya cara mempribumikan huruf asing yang satu itu ke dalam tradisi pernaskahan Nusantara.

Adapun urusan 'ain yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman di sini tidak pelik sama sekali. Maksud saya hanya berbagi secuil pengalaman membaca teks suci dengan menyesuaikan diri dengan kehadiran kaligrafi 'ain dalam iluminasi alias ornamen visual di pinggiran baris-baris yang dibaca.

Baca Juga: MALIPIR #47: Puisi Tujuh Belas Tahun
MALIPIR #48: Membaca Lokatmala
MALIPIR #49: Harak dan Sang Ajengan

Jeda Membaca

Buat teman-teman yang tidak akrab dengan aksara Arab, saya melihat 'ain sebagai huruf yang terbentuk dari dua garis lengkung, meliuk dari atas ke bawah. Lengkungan bagian atas lebih kecil daripada lengkungan bagian bawah, seperti bulan sabit yang hinggap di pangkal pedang.

Dalam tadarusan tanda 'ain jadi patokan untuk jeda membaca. Ketika suara saya mulai serak dan langgam bacaan mulai terseok-seok seperti berjalan dalam lumpur, saya akan berhenti pada ujung ayat yang letaknya tepat sejajar dengan tanda 'ain di garis pinggir. Rekan semajelis akan meneruskan pembacaan dimulai dari situ hingga ia memutuskan untuk jeda setelah melewati sekian 'ain berikutnya.

Tanda 'ain lazim pula disebut ruku. Adapun ruku sebetulnya merupakan istilah buat gerak merunduk dalam ritual salat ketika orang yang sedang mendirikan salat membisikkan pujian atas kesucian dan kebesaran Tuhan.

Sebelum ruku, selagi masih tegak berdiri, orang yang sedang melaksanakan salat membacakan ayat-ayat dari kitab suci yang dia hafal. Nah, lazimnya dia akan melakukan ruku manakala ayat-ayat suci yang dia dawamkan telah sampai ke ujung ayat yang dalam kitab letaknya bertepatan dengan kehadiran tanda 'ain.

Bilik Tematis

Huruf 'ain di garis tepi halaman kitab suci juga berfungsi untuk menandai semacam bilik tematis. Dalam satu surat, teristimewa surat nan panjang, terdapat sekian tema atau pokok bahasan, misalnya kabar gembira bagi orang beriman serta peringatan bagi orang ingkar, bersambung dengan tata cara pembagian warisan, lalu berseling dengan kisah para nabi. Nah, partisi untuk kandungan tematis yang sangat kaya itu ditandai dengan huruf 'ain.

Buat pembaca awam seperti saya, tanda 'ain seperti batas kota dalam bentangan geografi yang sedang saya jelajahi. Dengan bantuan tanda itu, saya bisa berhenti sejenak, memikir-mikirkan apa yang telah terbaca, sebelum memutuskan untuk bergerak lebih jauh ke daerah jelajah berikutnya.

Betapa besar jasa para leluhur yang dahulu bekerja keras menghimpun catatan firman lalu menyusun mushaf untuk dibaca dan dibacakan, bahkan untuk dihafalkan, dari satu ke lain zaman. Pembaca seperti saya tinggal enaknya saja.

Bukan hanya itu. Dalam metode pembelajaran baca Qur'an berikut maknanya, sebagaimana yang diterapkan oleh mendiang Abdul Karim Parekh dari Nagpur, India, partisi 'ain dijadikan patokan praktis untuk menghafal kata-kata kunci dari tiap surat. Syekh Abdul Karim mempersilakan para pembelajar untuk menghafal kata-kata kunci itu per-'ain. Setelah hafal satu 'ain, cobalah baca teks Qur'an, Insyaallah sang pembaca tidak akan begitu bergantung pada terjemahan. Habis itu, silakan bergerak ke 'ain berikutnya.

Kalau teman-teman percaya, jelek-jelek begini saya termasuk orang yang ikut merasakan manfaat metode klasik itu meski, terus terang saja, kesanggupan saya sejauh ini baru sebatas satu dua 'ain dari "Al-Baqarah", surat kedua dalam mushaf. Kebetulan, panduan itu kemudian diterbitkan di Kualalumpur pada 2003 dengan judul, Complete Easy Dictionary of the Qur'an. Buat saya, itulah salah satu buku yang sangat membantu.

Boleh dong saya tambahkan sedikit hal lain. Buat saya, pengalaman ikut tadarusan, termasuk pengalaman berakrab-akraban dengan tanda 'ain, telah memulihkan kebersamaan. Pada zaman ketika kita sibuk main gawai, bikin koneksi digital ke sana sini, kita justru sering merasakan kehilangan koneksi insani yang bermakna.

Dari pengalaman tadarusan, saya merasakan lagi komunalitas. Dalam kegiatan itu, membaca atau membacakan tulisan dilakoni bersama-sama di ruang publik, tempat kita bisa saling mengenal suara masing-masing serta bergerak bersama daru satu ke lain tapal batas wacana.

Teman-teman bisa membayangkan, selama menyatukan diri dengan suasana bulan suci, kita sepakat bertemu saban hari, entah siang atau malam hari, untuk bersama-sama membacakan teks suci, se'ain demi se'ain hingga tiba saatnya kita sampai ke garis khatam.

Saya menulis catatan singkat ini ketika Ramadan tinggal beberapa hari lagi. Saya selalu berharap, mudah-mudahan saya masih punya kesempatan untuk merasakan lagi suasananya pada tahun berikutnya, untuk ikut tadarusan lagi. Amin.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//