• Kolom
  • MALIPIR #52: Anak, Ayah, dan sebuah Risalah

MALIPIR #52: Anak, Ayah, dan sebuah Risalah

Risalah klasik "Ayyuhal Walad" karya Imam Ghazali tentang wejangan guru pada kaum muda yang sedang mencari ilmu, membekaskan jejak diskursif nan panjang.

Hawe Setiawan

Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.

Buku sebagai sumber ilmu pengetahuan. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

16 April 2026


BandungBergerak – Anak saya baru rampung SMA. Kami sekeluarga mendorongnya terus kuliah. Di antara tiga lubang jarum yang tersedia baginya, tinggal dua yang masih terbuka: "ujian tulis" dan "seleksi mandiri". Ia ikut bimbingan belajar buat berlatih menghadapi tes.

Sementara itu, dalam dua pekan terakhir, saya berkunjung ke beberapa kampus. Saya gali informasi mengenai kuota dan passing grade sambil menangkap atmosfer akademis, khususnya yang berkaitan dengan program studi pilihan sang anak. Saya tahu kapasitas anak saya, dan sebegitu jauh saya berkesimpulan bahwa tantangannya lumayan berat.

Saya merasa bahwa buat anak saya sekolah dan kuliah tidak begitu menarik. Namun, kalau sampai dia tidak pergi ke universitas, rasa-rasanya kekhawatiran kami bakal menjadi-jadi. Itu sebabnya, sedapat mungkin kami beri dia dorongan semangat, juga dorongan doa dan selawat.

Sebetulnya, dalam keadaan demikian, saya merasa bahwa saya tidak punya bekal apa-apa yang patut diberikan kepada anak saya biar dia tahu jalan yang mesti ditempuh dan sanggup melakoninya. Apa yang pantas saya sampaikan kepada generasi baru yang hendak terus belajar?

Keadaan itulah yang mendorong saya berpaling kepada risalah klasik Ayyuhal Walad (= Wahai, Anak) karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H), semoga rahmat Allah tercurah padanya. Dari judulnya, tertangkap ciri khas pesan dan cara penyampaiannya: wejangan guru atau mentor kepada kaum muda yang sedang mencari ilmu. Buat saya, buku ini patut dibaca dan dibaca lagi, terutama manakala timbul pertanyaan seputar adab yang patut diindahkan dalam proses belajar.

Baca Juga: MALIPIR #49: Harak dan Sang Ajengan
MALIPIR #50: Membaca dengan 'Ain
MALIPIR #51: Shuffah, Supah, dan Sofa

Atas Permohonan seorang Murid

Menurut filolog George Henry Scherer, Ayyuhal Walad mulanya ditulis dalam bahasa Persia sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Sayang, peneliti tidak menemukan manuskrip aslinya. Setahu saya, terjemahannya dalam berbagai bahasa, tak terkecuali dalam bahasa Indonesia, didasarkan atas edisi Arab.

Edisi Arab yang ada pada saya adalah suntingan Ibnu Harju Al-Jawi, terbitan At-Turmusy Litturots, Jakarta, 2021, 89 halaman. Karena saya belet bahasa Arab, saya mengandalkan dua terjemahan Inggris, salah satunya adalah lampiran disertasi Scherer, Al-Ghazali's Ayyuhal Walad, yang terbit di Beirut pada 1933, dan versi digitalnya bisa kita unduh secara gratis. Dalam bahasa Indonesia tersedia  lebih dari satu terjemahan, di antaranya Wahai Anak (2019) karya para mahasiswa bahasa dan sastra Arab IAIN Surakarta.

Dalam suntingan Ibnu Harju Al-Jawi, risalah warisan Al-Ghazali mendapat verifikasi (tahqiq), referensi (takjrij), dan anotasi (ta'liq). Ikhtiar ini ditempuh dengan membandingkan lima manuskrip dan tiga teks cetakan.

Adapun salah satu pertimbangan saya mengandalkan lampiran disertasi Scherer adalah caranya menghadapi nama Allah. Dia tidak menginggriskan nama itu menjadi God, melainkan tetap menyebut Allah. Selain itu, tentu saja, dia mencari sejumlah manuskrip bandingan yang telah ditelaah oleh para peneliti sebelumnya sebelum memilih manuskrip Ayyuhal Walad yang tersimpan di Landesbibliothek, Dresden, seraya menyertakan pindaian teks Arabnya.

Saya memimpikan ada terjemahannya dalam bahasa Sunda, dan seketika teringat pada judul untaian wejangan ayah kepada anaknya karya sastrawan Wahyu Wibisana, Anaking Jimat Awaking. Apakah almarhum Kang Wahyu membaca Ghazali? Jika teman-teman menemukan adaptasi Sunda atas Ayyuhal Walad, kasih tahu saya dong.

Dari pengantar risalah, kita menangkap asal-usulnya. Konon, ada pembelajar, seorang syaikh, yang menulis sepucuk surat kepada sang imam. Ia telah banyak membaca dan belajar tapi tetap gelisah. Ia memohon petunjuk dari sang imam mengenai jalan yang patut ditempuh agar ia beroleh ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan akan menghiburnya di dalam kubur kelak. Ia butuh panduan yang ringan dijinjing mudah dibawa, dan bisa dijalankan saban saat.

Begitulah kemudian Imam Ghazali menulis risalahnya dengan gaya seperti sedang menyapa sahabat pena.

Dari edisi Arab yang saya andalkan, kita tahu Ayyuhal Walad telah mendorong terbitnya risalah tersendiri dari kalangan ulama setelah Al-Ghazali. Disebut-sebut, antara lain, karya Syaikh Abdurahman bin Ahmad bin Umar Ar-Rumi Al-Hanafi (w. 1139 H), Ihya al-Akhi fii Syarah Ayyuhal Walad (Wahai Saudara: Penjelasan atas "Wahai, Anak") dan karya Syaikh Muhammad bin Mustafa bin Usman al-Husaini (w. 1176 H), Sirojul Dhulumati fii Syarah Ayyuhal Walad (Lampu Penerang: Penjelasan atas "Wahai, Anak").

Kentara betapa karya Imam Ghazali yang uraiannya pendek ini telah membekaskan jejak diskursif nan panjang.

Kelana Spiritual

Saya tidak sanggup merangkum isi risalah. Lagi pula, sedikit pun tiada kapasitas pada diri saya untuk melakukan hal itu. Lebih baik teman-teman baca sendiri, toh risalah ini tipis. Amat sangat tipis jika dibandingkan dengan Ihya 'Ulumuddin, karya termasyhur dari Imam Ghazali, yang saking tebalnya sang imam sendiri sampai menulis buku khusus sebagai rangkumannya, yakni Mukhtashar Ihya 'Ulumuddin.

Sekadar gambaran umum, saya mencatat bahwa kitab ini berisi 25 butir wejangan. Butir pertama mencatat permohonan sang murid, sedangkan butir ke-25–sebagaimana yang diminta–berisi doa yang indah. Penomoran memudahkan pembacaan. Sekiranya tiap-tiap wejangan kita jadikan bahan refleksi harian, bisa juga kita baca kitab ini dalam tempo sekitar tiga pekan.

Di antara beberapa terjemahan Inggris, ada yang mengartikan istilah Arab al-walad jadi my beloved son (anakku tercinta), ada pula–semisal, terjemahan Scherer–yang mengartikannya jadi youth (kaum muda). Kepada merekalah, risalah sang imam dialamatkan. Tiap-tiap butir renungannya selalu diawali dengan seruan, "Wahai, anak!" Gaya menulis seperti ini, saya kira, selain menyiratkan otoritas pada penulisnya juga memungkinkan terjalinnya kedekatan dengan para pembaca: personal, akrab, hangat.

Dalam risalah ini orang-orang yang sedang menempuh proses belajar disebut "pengelana di jalan kebenaran". Kebenaran dimaksud bukan kebenaran para filsuf, berupa spekulasi abstrak, melainkan kebenaran hamba Allah yang taat, yang substansinya adalah mengetahui caranya mengindahkan perintah dan larangan Sang Khalik.

"Wahai, anak! Begitu panjang malam-malam ketika engkau tetap terjaga buat mengulang-ulang ilmu dan mencurahkan perhatian pada buku-buku sampai-sampai engkau rela tidak tidur barang sekejap! Aku tidak tahu apa tujuan itu semua! Jika itu dimaksudkan untuk menggapai tujuan-tujuan duniawi, menjaga keangkuhan, meninggikan wibawa, dan mengungguli orang-orang di sekitarmu, betapa malangnya dirimu, dan sungguh malang. Namun, jika tujuanmu adalah menerapkan ajaran Rasulullah saw., menggembleng watakmu, dan menjauhkan jiwamu dari kejahatan, maka berbahagialah dirimu, dan sungguh bahagia," begitu salah satu contoh wejangan dalam risalah ini–kalau boleh saya adaptasi di sini.

Kalau saya tidak keliru membaca, ikhtiar mencari ilmu dan pengetahuan yang dibicarakan dalam risalah ini meletakkan tujuannya bukan pada askese intelektual melainkan pada pemahaman dan kesadaran yang mendorong perbuatan, kerja, dan peribadatan.

"Meski engkau belajar seratus tahun dan mengumpulkan buku seribu, engkau tidak dapat menyiapkan diri untuk menerima rahmat Allah Yang Maha Agung kecuali dengan bekerja," ujar sang imam pula.

Dengan kata lain, pada hemat saya, apa yang disampaikan sang imam kepada kaum muda adalah bimbingan belajar yang pada intinya memandu perjalanan spiritual.

Saya pun termangu-mangu, meninjau diri sendiri, serta berharap moga-moga anak saya mendapat kesempatan masuk ke lingkungan kampus tempat risalah Al-Ghazali dibaca oleh dosen dan mahasiswa, dipetik di dalam kelas, dijadikan bagian dari proses belajar nan panjang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//