• Kolom
  • MALIPIR #55: Terang dan Gelap dari Pelosok Priangan

MALIPIR #55: Terang dan Gelap dari Pelosok Priangan

Cahaya dan Bayang-bayang dari Jawa (2025) karya Franz Junghuhn terjemahan Malik Ar Rahiem sarat dengan deskripsi bentang alam, lingkungan hayati, rincian budaya.

Hawe Setiawan

Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.

Sampul buku Cahaya dan Bayang-bayang dari Jawa (2025) karya Franz Junghuhn terjemahan Malik Ar Rahiem. (Foto: Hawe Setiawan)

13 Juli 2026


BandungBergerak – Di sekitar tahun 2009 saya mencari tahu tentang tapak jelajah Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), dokter asal Jerman yang jadi peneliti sejarah alam di Hindia Belanda.

Waktu itu bahan bacaan dalam bahasa Indonesia tentang orang yang satu ini masih langka.  Hanya ada satu-dua, tidak lengkap pula, misalnya nukilan dalam antologi sastra Hindia Belanda yang diadaptasi oleh Dick Hartoko dari karya Rob Nieuwenhuys dalam bahasa Belanda.

Buat pembaca Indonesia seperti saya, bahasa Belanda adalah jurang menganga yang merintangi pencarian informasi. Memang ada robot penerjemah dalam internet, tapi  teks yang dihasilkan sering mengerikan, tak ubahnya dengan tuturan orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia.

Terpaksa saya harus beringsut dengan membolak-balik kamus, bertanya ke kiri dan kanan, bergerak lebih lambat ketimbang ulat.

Baca Juga: MALIPIR #52: Anak, Ayah, dan sebuah Risalah
MALIPIR #53: Tamasya, Kota Literer, dan Panggilan Kisah
MALIPIR #54: Warga, Majalah Sunda dari Bogor

Malik dan Terjemahan

Alhamdulillah, keadaan sekarang lebih baik.  Sudah terbit beberapa buku dalam bahasa Indonesia mengenai jejak langkah Franz Junghuhn, terutama hasil kerja keras Malik Ar Rahiem.

Kang Malik adalah orang yang tepat buat ikhtiar ini. Ia belajar ilmu kebumian di ITB kemudian melanjutkan pendidikan ke Jerman.

Dalam dua atau tiga tahun terakhir ia telah menerjemahkan dan menyunting beberapa buku yang isinya berkaitan dengan Franz Junghuhn, tak terkecuali karangan sang naturalis itu sendiri.

Karya Franz Junghuhn yang sudah diindonesiakannya adalah Cahaya dan Bayang-bayang dari Jawa (2025).

Setahu saya buku ini ditulis dalam bahasa Belanda dengan judul utama, Licht- en Schaduwbeelden uit de Binnenlanden van Java, dan mulai terbit pada 1854, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Kang Malik mengindonesiakan buku ini dari edisi Jerman.

Kalau saya tidak salah, belum ada terjemahannya dalam bahasa Inggris kecuali nukilannya dalam antologi sastra Hindia Belanda suntingan E.M. Beekman, Fugitive Dreams.

Dengan kata lain, setelah sekitar 170 tahun buku ini terbit, Kang Malik adalah orang pertama yang menerjemahkannya secara utuh ke dalam bahasa di luar bahasa Belanda dan Jerman.

Iman dalam Ilmu Alam

Buku ini berisi catatan perjalanan di pelosok Priangan. Dalam perjalanannya sang penulis, yang menamakan dirinya Siang, berdiskusi intensif terutama dengan saudaranya, Malam.

Pokok perdebatan mereka berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan dan hal-ihwal yang jadi konsekuensinya. Tegasnya, penulis buku ini menyatakan pendiriannya bahwa jalan yang tepat buat mengenal hukum Tuhan adalah ilmu pengetahuan alam.

Berdasarkan pretensinya, buku ini seperti mau jadi bibel bagi vrijdenker, yakni mereka yang tidak mau terkungkung oleh lembaga agama. Singkatnya, penulis buku ini percaya kepada Tuhan tapi tidak merasa perlu beragama.

Buku ini memang bukan karya terpenting Franz Junghuhn. Namun, pada zamannya buku ini  kontroversial. Mula-mula buku ini terbit secara anonim, kemudian terbit lagi dengan nama pengarangnya setelah dia  wafat.

Lain Indonesia, Lain Belanda

Edisi Indonesia saya bandingkan dengan pegangan saya, Licht- en Schaduwbeelden, yakni edisi Belanda, terbitan F. Gunst tahun 1867.

Ada sedikit perbedaan. Nama-nama tempat dalam edisi Belanda disamarkan dengan cara ditulis terbalik, misalnya Gnoerag, Gnoetnig, dan Tji-nagnéak. Dalam edisi Indonesia, toponimi tersebut dinyatakan, yakni Garung, Gintung, dan Ci-kaéngan.

Kang Malik tidak hanya menerjemahkan, melainkan juga membubuhkan catatan atau menambahkan keterangan. Contohnya, kita dikasih tahu bahwa Garung dan Gintung  termasuk wilayah Garut kini.

Sejumlah ilustrasi, tak terkecuali peta, memperkaya edisi Indonesia, sedangkan dalam edisi Belanda tidak ada gambar apa pun.

Bentang Alam dan Proyek Pencerahan

Buku ini, tentu, warisan abad ke-19. Prasangka dan semangat zaman itu ikut masuk ke dalam tulisan.

Menurut prasangka rasial sang penulis, manusia kulit putih lebih unggul ketimbang kelompok lain. Adapun semangatnya khas filsafat "pencerahan". Menurut pandangan ini, ilmu pengetahuan alam perlu diperkenalkan kepada kaum yang masih bersahaja demi kemajuan harkat kemanusiaannya.

Hari ini, sudah pasti, anggapan demikian sudah ketinggalan zaman. Namun, terlepas dari urusan itu, buku ini sarat dengan deskripsi bentang alam, lingkungan hayati, rincian budaya. Buat peminat sejarah bentang alam Priangan, khususnya, buku ini masih layak dibaca.

Ambil contoh soal lingkungan hayati. Tercatat dalam buku ini bahwa harimau alias maung sesekali turun gunung, masuk kampung, menyeret kambing, bahkan menerkam penduduk desa.

Ada pula gambaran drama alam yang tiada bandingannya. Bayangkan, di gelap malam, di pelosok hutan pinggir pantai, kawanan penyu muncul seperti hendak menyapa bulan. Datang kawanan buaya memangsa mereka. Buaya dirongrong serombongan anjing hutan. Dan akhirnya muncullah sang harimau yang menggentarkan semua pihak, tak terkecuali tuan-tuan Eropa beserta para jongos dan kuli yang diam-diam menyaksikan adegan itu.

Orang Jawa dan Orang Sunda

Buat pembaca hari ini, khususnya yang berminat pada sejarah Priangan, ada satu hal yang patut dicatat dari buku terjemahan ini. Hal itu berkaitan dengan sebutan Jawa, baik menyangkut lanskap maupun menyangkut masyarakat.

Dalam edisi Belanda, memang, Franz Junghuhn menyebut Java untuk latar kisahnya dan Javaan serta Javanen untuk individu dan masyarakat yang dia jumpai di lapangan. Karena itu Kang Malik menerjemahkannya jadi Jawa untuk latar dan orang Jawa tokoh cerita.

Karena latar kisah ini terletak di Garut, sebagaimana yang ditelusuri oleh Kang Malik,   sebutan Jawa dalam buku ini sebetulnya mengacu ke Priangan atau Tatar Sunda. Adapun manusia yang disebut orang Jawa dalam buku ini kiranya lebih tepat disebut "orang Sunda" atau sekurang-kurangnya "penduduk Pulau Jawa".

Sebetulnya Franz Junghuhn dalam buku ini memakai pula sebutan Soendalanden (Tatar Sunda) dan Soendanezen (orang Sunda) tapi pemakaiannya sambil lalu.

Seperti lazimnya penulis asal Eropa abad ke-19, kiranya dia memakai istilah Java beserta variannya tidak dalam arti khusus menyangkut lingkungan adat atau budaya, melainkan menyangkut lingkungan geografis.

Yang pasti, dengan terbitnya terjemahan Licht- en Schaduwbeelden dalam bahasa Indonesia, saya ikut merasa terbantu. Séwu nuhun, Kang Malik.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//