• Kolom
  • MALIPIR #54: Warga, Majalah Sunda dari Bogor

MALIPIR #54: Warga, Majalah Sunda dari Bogor

Majalah Warga tahun 1955 merekam aspirasi politik kalangan nonoman (pemuda) Sunda dan pertukaran pendapat para penyair mengenai estetika puisi Sunda.

Hawe Setiawan

Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.

Sampul Warga Madjalah Sunda edisi 10 Februari 1956. (Foto: Dokumentasi Hawe Setiawan)

29 Juni 2026


BandungBergerak – Di Jasinga, Bogor, atas undangan teman-teman pegiat literasi dan budaya, 27 Juni 2026, saya berbagi catatan tentang sebuah majalah yang kini tak ada lagi. Namanya, Warga.

Catatan saya belum lengkap, hanya didasarkan atas bundel Warga dari tahun 1955, ditambah data dari satu-dua almanak pers. Dalam sawala yang diselenggarakan oleh Yayasan Halimun Salaka dan kawan-kawan, saya hanya membuka salah satu jendela buat melihat sumbangan Bogor kepada perjalanan sastra Sunda.

Warga adalah majalah umum berbahasa Sunda yang terbit di Bogor dari 1951 hingga 1964. Kantornya berada di Jalan Polisi II No. 15, dekat Stasiun Paledang, tak jauh dari markas polisi.

Majalah ini sekitar enam tahun lebih tua daripada Manglé, yang juga memulai perjalanannya di Bogor, meski perjalanannya jauh lebih singkat. Jika Manglé kemudian hijrah ke Bandung, Warga tetap di Bogor selama 13 tahun kiprahnya.

Periodisitasnya berubah-ubah. Mula-mula majalah ini terbit dua kali sebulan, saban tanggal 15 dan 30, kemudian tiga kali sebulan, tiap tanggal 10, 20, dan 30, sebelum bisa terbit mingguan sejak Juli 1955.

Hal itu mencerminkan sumber daya yang menopangnya. Ketika memulai perjalanannya, majalah ini terbit dengan modal seadanya. Setelah mendapat sambutan yang baik dari khalayak pembaca, barulah ia dapat berjalan lancar.

Penerbit majalah ini berubah-ubah pula. Pada masa-masa awal perjalanannya, majalah ini diterbitkan oleh  Pantjawitra. Dalam perkembangannya majalah ini diterbitkan oleh Yayasan Sunda Budaya.

Salah seorang pengasuhnya, di seksi redaksi, adalah Pak Nanie Sudarma. Ia adalah pengarang Sunda asal Bandung dari generasi sebelum Perang Dunia II. Ia sering mengumumkan karangan antara lain dalam majalah Parahiangan terbitan Balai Pustaka pada 1930-an. Karyanya yang terkenal adalah  Rasiah Geulang Rantay (1940), novel tentang seorang lelaki yang meninggalkan seorang perempuan justru karena ia mencintainya. Dalam Warga ia menulis kolom dengan nama pena Bung Poksang. Poksang adalah istilah Sunda yang berarti "tanpa tedeng aling-aling".

Pengasuh lainnya, terutama di bagian tata usaha, adalah Ibu Rd. Djuhriah. Tentang tokoh yang satu ini, belum diperoleh keterangan terperinci. Seperti yang ditulis oleh redaksi Warga sewaktu mensyukuri ulang tahun keempat, Bu Djuhriah adalah orang yang turut menyediakan modal ketika majalah ini hendak mulai terbit.

Selain kedua nama tersebut, pengasuh majalah ini adalah Sutiya Trisnawidjaja yang pernah jadi pemimpin redaksi dan Wahyu Wibisana yang kelak jadi sastrawan Sunda terkemuka. Ketika turut mengisi Warga Pak Wahyu yang berasal dari Tasikmalaya baru berusia 20-an tahun. Dalam karangan-karangannya yang berbentuk prosa ada kalanya ia memakai nama pena Oey Haw, sedangkan dalam puisi ia memakai nama asli.

Menurut Almanak Pers Indonesia 1954-1955 terbitan Yayasan Lembaga Pers dan Pendapat Umum pada 1955, tiras majalah 32 halaman ini 6000 eksemplar. Harga berlangganan Rp8 per bulan, sedangkan harga ecerannya Rp3 per eksemplar.

Untuk majalah yang dimulai dengan sumber daya seadanya, oplah sebesar itu terbilang mengagumkan, meski masyarakat penutur bahasa Sunda masa itu lebih kurang 15 juta jiwa. Harga majalah terbilang layak. Kala itu harga beras Rp2,7 hingga Rp3,7 per kilogram.

Majalah ini dicetak oleh Tampomas N.V. di Jakarta yang sering ikut membantu mencarikan kertas. Adapun Bank PGRI Bogor sering pula turut membantu dalam urusan keuangan.

Baca Juga: MALIPIR #51: Shuffah, Supah, dan Sofa
MALIPIR #52: Anak, Ayah, dan sebuah Risalah
MALIPIR #53: Tamasya, Kota Literer, dan Panggilan Kisah

Nasionalis Sunda Berhaluan Islam

Dalam pandangan sekilas, sajian Warga terlihat datang dari lingkungan para pencinta bahasa, sastra, dan budaya Sunda yang keyakinan religiusnya berpijak pada nilai-nilai Islam.

Dalam kata-kata para pengasuhnya, majalah ini mengibarkan "bandéra Sunda" (bendera Sunda) dengan tujuan "ngaronjatkeun harkat-darajat bangsa katut Tanah Sunda, sangkan jadi 'tihang' anu khas di nagara Bhineka Tunggal Ika" (meningkatkan harkat-derajat bangsa dan Tanah Sunda, supaya jadi "tiang" yang khas di negara Bhineka Tunggal Ika).

Dengan tujuan itu, majalah ini menyediakan ruangan buat sajak, cerita pendek, cerita bersambung, catatan perjalanan, laporan jurnalistik, materi pengajaran bahasa dan sastra, humor, surat pembaca, dan siraman rohani.

Ada pula ruangan khusus buat perempuan, satu halaman, yang pengasuhnya memakai nama Tétéh. Dalam edisi ulang tahun ke-4, ruangan ini diisi oleh W.W. (kiranya Wahyu Wibisana) yang menyapa pembacanya dengan sebutan "Wargawati".

Kaum muda terpelajar disambut baik. Sering majalah ini menampilkan foto dan profil sarjana yang baru lulus dari Institut Pertanian Bogor. Pembaca dari kalangan muda pula sepertinya yang hendak dituju oleh cerita bersambung Pamuda Désa.

Di antara mereka yang menulis dalam majalah ini ada nama-nama senior sekaliber Sjarif Amin dan R. Satjadibrata dan nama-nama dari kalangan yang lebih muda seperti Wahyu dan rekan-rekan segenerasinya.

Tafsiran visual Warga Madjalah Sunda tahun 1950-an dari Bogor. (Ilustrasi: Hawe Setiawan)
Tafsiran visual Warga Madjalah Sunda tahun 1950-an dari Bogor. (Ilustrasi: Hawe Setiawan)

Politik Pemuda dan Polemik Puisi

Dari bundel Warga tahun 1955 dapat dicatat sedikitnya dua pokok soal penting. Pertama, aspirasi politik kalangan nonoman (pemuda) yang menghendaki peningkatan harkat masyarakat Sunda. Kedua, pertukaran pendapat mengenai estetika puisi Sunda.

Pokok soal pertama diekspresikan terutama melalui artikel-artikel Adeng Samdan Kusumawijaya yang ada kalanya menyingkat namanya jadi Askawi. The angry young man yang juga good looking ini adalah salah seorang pemuka organisasi Daya Nonoman Sunda.

Askawi pada dasarnya berpendapat bahwa masyarakat Sunda belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan bangsanya, malah seperti keluar dari penjajahan yang satu masuk ke dalam penjajahan lainnya. Figur-figur pemimpinnya terpinggirkan, kesejahteraan masyarakatnya terbengkalai.

Ia mengritik kalangan tua yang dinilainya konservatif dan terjerembap ke dalam kepentingan sempit seraya berseru kepada para senior yang dinilainya progresif. Ia sependapat dengan penulis senior R. A. F. (Rahmatullah Ading Affandie) yang menyerukan agar organisasi-organisasi pemuda Sunda bersatu untuk menyuarakan aspirasi bersama.

Cetusan pendapat yang disuarakan oleh Askawi dan kawan-kawan pada gilirannya turut mendorong timbulnya gerakan Front Pemuda Sunda. Dari lingkungan yang sama kemudian muncul inisiatif untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda Sunda di Bandung yang menghasilkan sejumlah usulan strategis. Pendirian Universitas Padjadjaran, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari rekomendasi kongres tersebut.

Pokok soal kedua terutama disuarakan oleh Wahyu Wibisana dan Yuyu Yuliati. Ada penulis yang  mengatakan bahwa kedua nama tersebut adalah orang yang sama, tapi saya tidak punya data buat mengukuhkan atau menyanggah anggapan demikian. Yang pasti, dalam beberapa nomor publikasi Warga pada 1955 kedua  nama tersebut, juga satu-dua nama lainnya seperti Muh. Hamid dan Kusnadi Ps., bersilang pendapat seputar titik tolak dan titik tuju estetika puisi Sunda.

Penyair seperti Wahyu–yang kelak jadi salah satu tonggak dalam sejarah puisi Sunda modern–menghendaki agar puisi Sunda beringsut dari bentuk-bentuk ekspresi lama untuk mengisi hari baru yang lebih leluasa. Penulis seperti Yuyu menekankan bahwa puisi Sunda punya tradisinya sendiri, dalam wadah puisi terikat yang disebut dangding, dan para penyair Sunda sebaiknya mengindahkan para pendahulu dan masyarakat pembacanya.

Polemik tersebut kiranya turut menandai salah satu periode dalam perjalanan sastra Sunda umumnya, puisi Sunda khususnya. Dalam kata-kata Wahyu Wibisana. "Bareng jeung Ki Warga mangkat sawawa kasusastraan Sunda ogé milu cumarita (Seiring dengan Warga yang tumbuh dewasa, kesusastraan Sunda pun turut memperdengarkan suaranya)". Jalan terbuka bagi "kasusastraan anyar (kesusastraan baru)".

Ketika berbagi catatan sementara ini kepada teman-teman di Jasinga, saya mendapat berbagai masukan berharga. Siapa tahu itu bakal mendorong kerja bersama di hari-hari berikutnya, khususnya dalam ikhtiar menggali data seputar kontribusi Bogor dalam sastra Sunda.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//