MALIPIR #57: Kisah Odysseus, dari Yunani ke Tatar Sunda
Setiap orang toh bisa seperti Odysseus: menempuh perjalanan panjang, sempat "kasarung" alias tersesat, lalu bersusah payah mencari jalan pulang.

Hawe Setiawan
Sehari-sehari mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS, ikut mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi. Menulis, menyunting, dan menerjemahkan buku.
22 Agustus 2026
BandungBergerak – Disebabkan oleh blockbuster dari Christopher Nolan, orang terpapar demam Odysseus. Anak saya pergi ke teater terdekat di Ciwalk. Saya membolak-balik dua buku klasik, hasil adaptasi atas wiracarita The Odyssey, yang bersumber dari Homer. Dialah pujangga Yunani yang juga diyakini melahirkan Iliad.
Kedua buku yang saya baca memperlihatkan dua bentuk tulisan, yang masing-masing mencerminkan pendekatan berlainan dalam ihtiar meneruskan warisan tradisi lisan. Yang pertama adalah hasil terjemahan George Chapman berbentuk puisi epik yang disusun memakai metrum. Yang kedua adalah hasil terjemahan T.E. Shaw alias T.E. Lawrence alias "Lawrence dari Arab" berbentuk novel yang tentu saja bahasanya prosais.
Yang ada pada saya, kedua buku itu diterbitkan oleh Wordsworth, berupa paperback, dengan harga terjangkau, ringan ditenteng dan mudah dibawa-bawa. Mungkin karena saya bukan penutur bahasa Inggris, saya mendahulukan terjemahan Lawrence, yang terasa lebih mudah dibaca, terutama untuk dibaca sunyi dalam hati, sungguh layak jadi teman duduk. Adapun terjemahan Chapman terasa lebih nyeni.
Saya ingat, buku poket terjemahan Lawrence saya beli pada 1997 dari Toko Buku Jawa di Jalan Braga yang kini tak ada lagi. Pengalaman belanja buku di situ, rasanya, mustahil berulang. Waktu itu belum ada CCTV yang mencatat segala amal perbuatan kita, tapi sudah ada penunggu toko yang diam-diam selalu menguntit di balik punggung kita seakan-akan setiap pengunjung adalah pencuri–kiranya seperti Poseidon yang selalu mengawasi gerak-gerik Odysseus atau mungkin seperti informan di lapangan yang selalu siap mengirim laporan kepada agen rahasia Kolonel Lawrence.
Adapun terjemahan Chapman, saya kira, lebih cocok buat dideklamasikan, dengan permainan bunyi di ujung setiap dua larik, seperti pasangan maik-manik. Sayang, memang, Homer tidak datang ke sekolah dasar dan menengah yang pernah saya masuki. Anak-anak sekolahan seperti saya, yang kurikulumnya boleh dibilang di luar kanon Barat, tidak punya pengalaman mendengar suara guru membunyikan larik-larik Homeric. Untungnya, dalam bahasa Sunda, yakni bahasa ibu saya, ada pula tradisi purwakanti dengan guru lagu dan guru wilangan, yang memungkinkan orang merasakan eloknya permainan bunyi kata. Jadi, ada sedikit landasan buat ikut membaca(kan) suntingan Chapman.
Kebetulan, terjemahan Chapman saya dapatkan setelah saya mengenal terjemahan Lawrence. Terus terang, awalnya saya ragu, cukup sabarkah saya untuk terbata-bata membaca larik-larik epik yang ribuan jumlahnya sebelum tiba dalam doa dan keterangan berbahasa Latin: "Deo Opt. Max. Gloria" dan "finis"? Seakan-akan itu adalah jalur pendakian tersendiri ke puncak Olympus. Adapun salah satu penguat semangat untuk ikut membacanya, sudah pasti, adalah soneta dari John Keats, "Kali Pertama Melihat Homer-nya Chapman (On First Looking into Chapman's Homer)". Semangat, Mang! Ini dia terjemahan yang dibaca penyair Keats!
Pada kasus saya, kisah Homer dibaca tidak sekaligus, melainkan terputus-putus: belum rampung sudah disimpan, lalu terlupakan, dan baru sekian waktu kemudian teringat kembali lantas dibaca lagi. Belakangan ini situasinya tepat: musim liburan, dan saya hanya perlu duduk-duduk beberapa hari buat mengikuti kisah itu hingga rampung.
Baca Juga: MALIPIR #54: Warga, Majalah Sunda dari Bogor
MALIPIR #55: Terang dan Gelap dari Pelosok Priangan
MALIPIR #56: Biar tidak Mati Gaya Saat Menulis
Pahlawan Kasarung
Semua orang tahu, seusai Perang Troy, Odysseus bin Laertes tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Ithaca. Amuk laut mendamparkannya ke sebuah pulau terpencil tempat Lady Calypso menawannya di sebuah gua. Bertahun-tahun dia terpenjara di sana, merasa sebatang kara, akibat dendam Poseidon yang marah karena tombak Odysseus pernah mencongkel mata Cyclop, anak kesayangan sang penguasa lautan. Sementara di Ithaca, istri Odysseus, Penelope, tentu saja bersusah hati seperti Ibu Pertiwi, dirongrong para pelamar yang menggila dan berharap Odysseus mati tak tentu rimbanya. Untungnya Pallas Athena bersimpati pada Odysseus, mengajukan proposal kepada Zeus di puncak Olympus agar membebaskan sang pahlawan. Dengan restu Sang Bapak, meluncurlah Athena ke bumi, merancang siasat bersama Telemachus, anak Odysseus, buat menyambut sang pahlawan dan memulihkan keadaan di Ithaca. Odysseus akhirnya bisa kembali, meski prosesnya muskil.
Tentu saja, kisahnya tidak sesederhana itu. Kalau mau disebut kisah perjalanan, kisah ini menyajikan sedikitnya dua trayek: perjalanan pulang Odysseus dari Troy menuju Ithaca di satu pihak, dan perjalanan Telemachus dari Ithaca ke laut lepas buat mencari informasi mengenai sang ayah di pihak lain. Kisah perang tercakup pula, terutama dalam kilas balik tuturan Odysseus di hadapan Raja Alcinous dan kaum Phaeacian. Namun, sebagaimana The iliad menonjolkan kisah perang, The Odyssey menonjolkan kisah perjalanan atau petualangan.
Petualangan yang panjang dan berliku rupanya dimungkinkan oleh bentangan lautan yang terhubung dengan sungai-sunga dan mesti diarungi dengan kapal dan perahu. Di jalur-jalur perjalanan itu, ada monster seperti Cyclops, ada pula suara-suara yang menghanyutkan seperti yang diperdengarkan oleh Sirens. Dalam bentangan lanskapnya, tentu, ada pula gunung-gunung serta kota-kota lengkap dengan --meminjam istilah Chapman–manners, minds, dan fashions-nya.
Adapun manusia yang menjalankan peran dalam kisah Homeric umumnya kalangan raja dan pangeran yang, di samping mengobarkan perang dan menjalin cinta, juga getol menyembelih hewan kurban dan menghaturkan sesajian, serta giat menyelenggaran olah raga, mulai dari balap lari hingga adu boksen. Sudah pasti, ada pula pentas seni, teristimewa pertunjukan musik dan puisi. Instrumen lyre dipetik, maka meluncurkan puisi epik.
Buat membantu pembacaan, saya mengandalkan buku klasik lainnya, yakni Mythology karya Edith Hamilton yang mendeskripsikan alam pikiran Yunani, juga Romawi, dan uraiannya bersifat ensiklopedis. Buku ini sangat bermanfaat untuk mengenal tabiat tiap-tiap tokoh cerita, hubungan kekerabatan satu dengan lainnya, serta rincian lakon yang mereka mainkan. Dari buku ini saya mencatat satu kesan: dewa dan dewi dalam alam pikiran Yunani terlihat manusiawi. Kalangan langitan bisa berbuat keliru, bisa cinta serta cemburu pada manusia.
Meski aktornya para raja dan pangeran, tapi pergulatan hidupnya lumrah terjadi pada tiap manusia. Dalam kesan saya, setiap orang toh bisa seperti Odysseus: menempuh perjalanan panjang, sempat kasarung alias tersesat, lalu bersusah payah mencari jalan pulang. Dalam suasana Agustusan ketika saya membaca kisah ini, saya mendapat kesan bahwa tidak mustahili seperti itu pula para patriot Indonesia yang lama bergulat dengan gagasan di Laut Utara sebelum jalan yang panjang dan berliku membawa sang patriot kembali ke dalam pelukan Ibu Pertiwi.
Sang Prabu dalam Bahasa Ibu
Pada 1928 penerbit Balai Pustaka di Jakarta menerbitkan adaptasi kisah Odysseus dalam bahasa Sunda. Buku 78 halaman yang dilengkapi dengan beberapa gambar ilustrasi itu berjudul, Wawatjan Praboe Odysseus. Pengarangnya, yang bernama Kartadinata, memilih bentuk wawacan, genre sastra yang hingga saat itu galib disukai oleh khalayak pembaca dari kalangan penutur bahasa Sunda.
Di lingkungan budaya Sunda wawacan merupakan teks yang dapat dinyanyikan. Dalam kata-kata Kartadinata, karangannya digubah "pikeun diaos hariring (buat didendangkan)". Kisahnya diwadahi dalam untaian puisi terikat yang disebut pupuh. Idealnya wawacan dibacakan oleh seorang pembaca dan didengarkan oleh sejumlah orang lainnya yang mengitari dirinya. Bentuk karangan ini pada dasarnya dimaksudkan buat dinaca secara komunal. Namun, berkatan teknologi percetalan dan usaha penerbitan, buku wawacan lazim pula dibaca secara personal atau individual.
Sesungguhnya, budaya Sunda memiliki warisan tradisi lisan yang pada hemat saya atmosfer literernya lebih cocok dengan atmosfer literer yang kita rasakan dari kisah-kisah Homeric. Warisan budaya yang saya maksudkan dikenal dengan sebutan carita pantun, yakni wiracarita yang lazimnya dituturkan oleh seorang pencerita yang disebut jurupantun dengan iringan instrumen petik yang disebut kacapi. Bandingkan dengan adegan dalam The Odyssey ketika Odysseus dan Raja Alcinous mempersilakan seorang bard mendendangkan puisi dengan iringan instrumen petik yang disebut lyre.
Sebagaimana yang terjadi pada warisan tradisi lisan di lingkungan budaya lainnya di berbagai pelosok bumi, carita pantun di Tatar Sunda, misalnya kisah tentang Lutung Kasarung atau Ciung Wanara, juga mengalami transformasi dari teater tutur ke dalam berbagai bentuk ekspresi, seperti teks sastra, panggung teater, lagu dalam kaset pita, komik, dan film.
Kenapa kisah Homeric tidak diadaptasi ke dalam bentuk yang menyerupai teks carita pantun? Saya tidak tahu. Kiranya, baru pengarang sekaliber almarhum Sayudi yang pada 1980-an sanggup menulis apa yang disebut "carita pantun modéren", sejenis novel yang bahasanya tidak begitu prosais melainkan lebih cenderung murwakanti tapi tidak seperti wawacan. Barangkali, pada zaman kejayaan percetakan dan usaha penerbitan, wawacan dianggap lebih praktis buat mewadahi adaptasi wiracarita.
Yang pasti, perubahan teknologi dan pergeseran platform komunikasi, juga perubahan teknik menulis dan cara membaca, mendorong timbulnya berbagai ihtiar buat menyampaikan wiracarita ke khalayak luas. Sekadar gambaran, menurut artikel Michael Schulman dalam majalah New Yorker, 3 Agustus 2026, kru sineas Nolan mengangkut kawanan babi dengan helikopter ke puncak bukit untuk membuat latar adegan yang menampilkan tokoh Emaeus, sang swineherd yang amat loyal kepada Odysseus.
Singkatnya, pergeseran dari zaman Homer ke zaman Christopher Nolan adalah odyssey tersendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


