Ancaman Transhumanisme Bagi Hakikat Manusia
Wacana dan kecemasan tentang AI (Artificial Intelligence) berakar pada isu filosofis besar: transhumanisme.

Yohanes Slamet Purwadi
Dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
2 November 2026
BandungBergerak – Wacana tentang AI (Artificial Intelligence) telah merambah ke pelbagai urat nadi kehidupan. Terlepas dari apakah ada pihak yang mampu mengaksesnya atau tidak, AI adalah titik trajektori dunia dan peradaban kiwari. Sama ketika dulu dunia heboh dengan Megatrends 2000, yang ditulis Naisbitt dan Patricia Aburdene, menjelang pergantian abad 20 ke 21. Buku ini menyuarakan “10 arah baru” peradaban manusia dari booming ekonomi hingga ke kejayaan individu. Secara evolutif, gelegar kedua fenomena peradaban ini mencerminkan perluasan signifikan dari kemampuan manusia. Namun, sejak revolusi industri awal, perluasan semacam ini diiringi juga potensi kecemasan yang mengancam kemanusiaan yang hakiki.
Bukan hanya kecemasan itu terasa “riil” tetapi kini kecemasan itu kian bersifat metafisik mengingat fenomena AI memiliki trajektori yang agak berbeda. Setiap orang tentu mengakui kehebatan cara kerja AI. Namun jika dicermati secara metafisik, trajektori AI itu langsung menghunjam kodrat: tergerusnya identitas dan hakikat kemanusiaan. Dalam skala besar, kini jutaan aktivitas manusia dijalankan lewat AI, powered by AI, yang berakibat banyak orang menjadi konsumen pasif. Hampir sebagian besar pekerjaan, konsep, dan mungkin pergaulan sosial diserahkan kepada algoritma AI. Akibatnya manusia kesulitan mengokohkan dirinya sebagai pusat kehidupan dan peradaban, karena posisi itu diganti mesin. Bagi mesin yang terpenting adalah “data”, bukan “makna”.
Jarang kita sadari bahwa sebetulnya wacana dan kecemasan tentang AI ini berakar pada isu filosofis besar: transhumanisme. Transhumanisme adalah sebuah gerakan intelektual dan ilmiah yang memperjuangkan transformasi kondisi manusia melalui akal budi, khususnya dengan mengembangkan iptek guna mengakselerasi homo sapiens beralih ke homo superior (John Kennedy Phillips, 2026). Gagasan ini disebut mirip dengan “transendensi manusia” atau theosis, yakni divinisasi atau ikhtiar menyatu dengan yang Ilahi (Michael Baggot, 2026).
Belum lama, sejarawan Yuval Noah Harari menegaskan bahwa manusia kini berada di ambang langkah berikutnya dalam proses evolusi berkat kecerdasan yang mereka miliki. Bahwa kekuasaan kini beralih dari kehendak bebas manusia menuju sistem digital non-manusia yang digerakkan oleh data. Ia berspekulasi bahwa algoritma super cerdas bakal mempercepat transformasi manusia. Sistem semacam ini bahkan konon bakal mampu memisahkan kesadaran dari substrat biologis berikut keterbatasan fisik sepenuhnya. Lompatan kualitatif ini juga bisa dipandang sebagai evolusi yang diiringi kepunahan bagi umat manusia, karena entitas tanpa tubuh yang diciptakan oleh kecerdasan super perlahan akan menggantikan hominid berdaging yang rapuh. Inilah yang disebut proses “menyempurnakan evolusi biologis”. Di sinilah isu tergerusnya identitas manusia muncul. Bahwa perubahan radikal pada bentuk fisik manusia serta pengunggahan kesadaran ke dalam ranah digital tampak mereduksi nilai martabat manusia yang alami, keberadaan fisik (embodiment), dan rasa mengalami hidup yang riil (Rikardus Kristian Sarang dan Septiana Dwiputri Maharani, 2026: hlm. 127-128).
Sementara itu pada 2024 enterpreneur Elon Musk mengumumkan keberhasilan penanaman cip otak nirkabel pertama pada seorang pasien melalui perusahaannya, Neuralink. Proyek ini nantinya berkontribusi untuk tahap berikutnya dari misi Neuralink yang berambisi menggenjot potensi manusia di masa depan dengan meningkatkan fungsi kognitif serta memberdayakan berbagai kemungkinan mental yang baru.
Baca Juga: Meretas Bias Pendidikan Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan dan Kecerdasan Majemuk
Sophie’s Choice, Kecerdasan Buatan, dan Upaya Pemberantasan Korupsi
Wajah Baru Pemusnahan Buku di Era Kecerdasan Buatan
Pandangan Kaum Transhumanis
Kaum transhumanis sekular meyakini bahwa evolusi itu mengandung keterbatasan-keterbatasan sehingga memerlukan intervensi iptek (Paschal M. Corby, 2024). Mereka mengusung gagasan untuk meningkatkan dan merekonstruksi tubuh manusia, yang berpuncak pada konsep keabadian virtual–yaitu memindahkan pikiran seseorang ke dalam perangkat lunak pada substrat yang bisa bertahan lebih lama (“pengunggahan pikiran” atau mind uploading) (Thomas Fuchs, 2021). Konsep-konsep seperti pengunggahan pikiran atau keabadian digital ini mengandaikan pemisahan tegas antara pikiran dan tubuh.
Namun para kritikus menggarisbawahi bahwa manusia merupakan organisme hidup yang terintegrasi berkat adanya personalitas atau “diri” (self). Manusia bukan sekadar perangkat lunak yang beroperasi dalam sebuah perangkat keras berupa otak. Maka memindahkan suatu pola mental ke dalam substrat digital justru hanya menciptakan “salinan” belaka, alih-alih melestarikan kehidupan manusia secara berkesinambungan dan utuh. Dengan kata lain, adalah persoalan besar meng-upload “self” sebagai prinsip integrasi yang menjadikan individu sebagai “seseorang” ke dalam perangkat digital (Joachim Diederich, 2021: hlm. 6-9).
Selanjutnya transhumanis kontemporer mengabaikan kontribusi model-model humanistik yang lain selain model “sekular”. Mereka mengekstrapolasi filsafat ateistik dalam konteks evolusi ilmiah, lalu sampai pada kesimpulan filosofis yang melampaui ranah sains–tanpa mempertimbangkan model evolusi lain yang bersifat teistik. Transhumanisme menolak batasan alami manusia dan memandang kefanaan semata-mata sebagai kesalahan teknis rekayasa oleh alam, alih-alih sebagai bagian intrinsik dari kodrat manusia. Dalam konteks ini, Nick Bostrom, pakar kecerdasan super (superintelligence), berpandangan bahwa agama-agama terorganisasi tampaknya menawarkan jalan keselamatan yang tidak efektif, yang menurutnya harus digantikan oleh jalur ilmiah: Transhumanisme!. Agama menjanjikan masa depan yang sulit dibuktikan. Sementara para penganut transhumanisme berupaya mewujudkan impian mereka di dunia ini–bukan dengan mengandalkan kekuatan supranatural, melainkan melalui rasionalitas dan empirisisme, lewat pengembangan kontinu di bidang sains, teknologi, ekonomi, dan kemanusiaan. Karena itu, teknosains bukan sekadar pelengkap bagi kebijaksanaan teologis, melainkan menggantikannya (Michael Baggot, 2026).
Namun pandangan sekuler ini membuat kaum transhumanis kehilangan perangkat konseptual untuk menyebut "peningkatan" (enhancement) sebagai suatu perbaikan di dalam ranah hakikat yang bertujuan. Mereka hanya bisa berbicara sebatas tentang “perubahan”, hanya sampai di situ tetapi tidak ada dimensi “hakikat” atau tujuan akhir (telos) yang seharusnya dituju oleh evolusi. Celah teoretis dalam pemikiran transhumanis ini menjadi sangat mencolok ketika dikaitkan dengan aspirasi untuk mencapai peningkatan moral melalui sarana teknis. Upaya apa pun untuk pertumbuhan moral semacam itu semestinya mengandaikan adanya gagasan tentang apa yang baik atau buruk bagi manusia yang berada di luar sarana teknis (Michael Baggot, 2026). Absennya gagasan yang kokoh mengenai hakikat manusia membuat pemikiran Transhumanis mengusung konsep identitas manusia yang bersifat cair.
Jadi model evolusioner ateistik yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh, seperti, Bostrom, Buchanan, Savulescu, Persson, dan lainnya tampaknya tidak menyisakan dasar apa pun untuk memberikan nilai khusus dan khas kepada manusia. Dalam pandangan transhumanis sekuler, pada akhirnya, manusia tidak terikat untuk menghormati nilai alami sesamanya, ataupun mematuhi tujuan moral dan dinamika intrinsik yang melekat pada kodrat mereka.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


