Tetap Setia Mendengarkan Musik Progresif Metal
Kita ini sudah intoleran dalam hal ideologi politik, apakah masih ingin intoleran dalam hal selera musik?

Farouq Syahrul Huda
Alumni Program Studi Hukum Pidana Islam UIN Surakarta.
2 Oktober 2026
BandungBergerak – Sebagai makhluk homo ludens, manusia adalah sebuah entitas hidup yang membutuhkan hiburan untuk membangkitkan apa yang disebut zat dopamin, hormon yang mengolah kebahagiaan seseorang. Salah satunya yaitu dengan mendengarkan musik– berupa lagu-lagu memberi relaksasi dan ketenangan batin bagi yang mendengarkannya.
Mendengarkan musik juga kadang-kadang dapat mengatasi stres akibat kegiatan berat seperti bekerja dan aktivitas tinggi lainnya. Di samping itu, musik juga dapat menjadi “kawan” yang menemani segala kegiatan aktivitas kita dari mulai menyapu rumah, mencuci baju, memasang atap rumah, ataupun ketika melakukan pekerjaan lainnya.
Setiap orang mempunyai selera musiknya tersendiri tergantung genre yang disukainya dari rock, jazz, pop, metal, hingga keroncong dan dangdut. Sebagai masyarakat Indonesia khususnya dalam konteks di Jawa, tentu saja saya adalah bagian dari minoritas di antara banyaknya penikmat musik dangdut terutama subgenre dangdut koplo karena saya adalah pendengar setia musik heavy metal.
Saya menyukai lagu-lagu bergenre cadas ini semenjak duduk di bangku SMP. Awalnya tak sengaja mendengar lagu slow rock dari Avenged Sevenfold berjudul Dear God ketika masih gandrungnya anak muda pada zaman itu bermain gim di warnet (warung internet) yang diselingi lagu tersebut dari sang operator warnet. Setelah itu saya beranjak ke lagu-lagu lain dari band berakronim “A7X” itu sampai-sampai saya mengoleksi beberapa albumnya meskipun hasil unduhan dari internet.
Naik ke tingkat SMA, wawasan selera musik saya mulai merambah ke Slipknot hingga Metallica. Bahkan hampir setiap hari saya memutar lagu yang sama berulang kali dari grup musik metal tersebut. Setelah lulus SMA dan masuk ke dunia perkuliahan, kesukaan musik heavy metal saya bertambah dan makin tak terhitung dari Dragonforce, Megadeth, Pantera, Dream Theater, dan masih banyak lagi.
Genre heavy metal memang cocok untuk segala situasi dalam kegiatan dan beraktivitas, bagi saya musik metal dapat membangkitkan “adrenalin” kebahagiaan dan semangat berkehidupan. Genre tersebut memang terfragmentasi menjadi banyak subgenre dari thrash metal, groove metal, power metal, nu metal, progressive metal, hingga black/death metal.
Baca Juga: Deru Musik di Kampung Kota, Aktivasi Seni Membela Warga Dago Elos
Membaca Kembali Permasalahan Komunitas Musik Tradisi
Tak Ada Lapangan Sepak Bola, Taman Musik pun Jadi
Musik Metal Berkemajuan, Progresif Metal!
Akhir-akhir ini saya masih konsisten mendengarkan subgenre progresif metal dari yang disebut-sebut sebagai sang pelopor yaitu Dream Theater dan tentu saja band sampingan dari Mike Portnoy dan kawan-kawan bernama Liquid Tension Experiment. Progresif metal merupakan subgenre heavy metal yang cukup unik. Durasi lagunya cenderung lebih panjang dengan paduan permainan teknik gitar, bas, dan kibor yang sangat eksploratif juga ketukan drum yang terkadang iramanya sulit ditebak.
Lirik-lirik lagu dari genre progresif metal juga bermakna filosofis seperti lagu berjudul Octavarium dari Dream Theater yang berdurasi hampir setengah jam. Lagu tersebut menceritakan siklus kehidupan manusia yang tak berujung seperti lingkaran dan terus berulang.
Tak jarang juga Dream Theater menampilkan lagu-lagunya tanpa vokal dan lirik (murni instrumental) yang sangat kreatif seperti Stream of Consciousness, The Dance of Eternity, dan Ytse Jam. Inilah yang membuat saya selalu “ketagihan” mendengarkan genre progresif metal seperti band Dream Theater ini dan mungkin menjadi subgenre terfavorit bagi saya dari sekian banyak lagu-lagu heavy metal.
Saya jarang mendengarkan musik band-band metal lokal di Indonesia, beberapa kali hanya mendengarkan lagu-lagu dari band seperti BurgerKill ataupun DeadSquad. Jarang mendengarkan band-band metal lokal bukan karena tak suka, tetapi dari remaja saya terbiasa mendengarkan band-band metal dari luar negeri terutama dari Amerika Serikat dan Inggris, jadi lebih familiar di telinga. Dan tentunya bagi saya band-band metal lokal lagunya tetap bagus-bagus serta sangat recommended untuk didengar.
Lalu bagaimana dengan stigma atau anggapan negatif dari orang-orang awam pada musik bergenre cadas tersebut?
Secara langsung saya tak pernah mendengar stereotip negatif musik metal di masyarakat, hanya saja beberapa kali saya mendapati opini orang-orang di media sosial tentang musik metal yang anti-Tuhan, pemuja setan, penista agama, dan sering tampil kontroversial ketika sedang konser. Pendapat tersebut memang tidak salah dan juga belum tentu sepenuhnya benar.
Maksud saya memang kasus band-band seperti itu memang benar adanya tetapi sepemahaman saya hanya ada di subgenre death/black metal yang sering tampil dengan pertunjukkan ekstrem. Seperti band Gorgoroth yang pernah tampil dengan potongan kepala kambing asli yang ditancapkan di salib dengan posisi terbalik ketika menjalani konser di Polandia pada tahun 2004 yang membuat mereka harus berurusan dengan polisi karena dianggap menistakan agama.
Dan jika melihat yang lebih sadis atau radikal maka ada juga band black metal bernama Mayhem, vokalisnya yang bernama Dead ditemukan tewas dalam keadaan kepalanya hancur setelah ia menembak kepalanya sendiri dengan senapan api yang ia miliki. Tragedi bunuh diri tersebut terjadi pada 8 April 1991, pertama kali diketahui oleh sang gitaris band tersebut bernama Euronymous dan konyolnya tindakan awal yang dilakukan sang gitaris justru memotret jasad kawannya itu untuk dijadikan cover album Dawn of The Black Hearts. Euronymous juga dikabarkan mengambil serpihan tengkorak dari kepala Dead untuk dijadikan kalung.
Saya pribadi tak begitu tertarik untuk menikmati musik genre black metal. Salah satu alasannya karena irama musik dan liriknya sulit untuk dicerna dan dipahami. Dan tentu saja saya sangat menghormati teman-teman yang mendengarkan genre “ngeri” tersebut, semua kembali pada selera masing-masing.
Ruang untuk Semua Penikmat Musik
Hidup di desa pada umumnya akan beririsan dengan kultur yang sudah menjadi kebiasaan mayoritas masyarakat desa di mana pun termasuk selera musik. Di desa saya dan kemungkinan banyak juga desa-desa lain di Jawa, tak jauh beda perihal apa yang setiap hari didengarkan dalam hal musik. Tentu saja adalah musik dangdut ataupun paling banter adalah dangdut koplo.
Musik dangdut menjadi semacam konsensus publik masyarakat Jawa dalam ritual kultur dari kelas bawah hingga kelas atas “borjuis” sekalipun. Di dalam musik dangdut sendiri ada sebuah ikatan sosial yang menyatukan antarlintas generasi dari yang muda hingga yang tua, seakan ada kesepakatan tidak tertulis bahwa segala hal yang berkaitan dengan acara rakyat seperti di desa maupun hajatan privat dan apa pun itu harus ada hiburan musik dangdut.
Setiap waktu dan setiap tempat selalu saja lewat dan terdengar di telinga saya entah itu di acara resepsi pernikahan, makan di angkringan, nongkrong di rumah teman hingga acara perayaan kemerdekaan di malam tirakatan kemarin. Dan tentu saja juga di acara jalan sehat tujuh belasan ketika di kampung tempat tinggal saya “nanggap” dangdut koplo seharian hingga sore hari menjelang magrib.
Tentu saja saya tidak bermaksud menyalahkan ‘adat rakyat’ tersebut atau mencela total kebiasaan turun-temurun dari kultur tersebut. Hanya saja ruang bernapas bagi mereka yang berselera musik selain dangdut serasa sesak dan sempit, apalagi selera musik berat heavy metal yang saya sukai selama bertahun-tahun.
Kembali lagi pada tesis sebelumnya, saya sepakat akan “semua kembali pada selera masing-masing”. Dan kita semua tahu selera musik tidak boleh dimonopoli oleh aliran musik tertentu, yang pasti dan perlu diketahui adalah tidak semua masyarakat di Jawa itu suka musik dangdut, termasuk saya.
Manifesto pendek ini tidak bermaksud untuk menciptakan konflik horizontal. Tidak. Tapi supaya menjadi pengertian bersama bahwa pluralitas itu spektrumnya luas, kita ini sudah intoleran dalam hal ideologi politik apakah masih ingin intoleran dalam hal selera musik?
Musik menyatukan segala perbedaan, sedangkan selera musik memungkinkan adanya perbedaan. Saya masih konsisten mendengarkan heavy metal yang “nyangkut” di telinga saya selama bertahun-tahun, bahkan yang paling progresif sekalipun seperti Dream Theater.
Andaikan Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, ataupun Che Guevara masih hidup, mungkin mereka akan mendengarkan musik progresif metal. Karena saya paham bahwa progresif metal adalah musik yang revolusioner dan kekiri-kirian”, tentu saja itu menurut saya pribadi. Mari semuanya mendengarkan musik metal.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


