Tak Ada Lapangan Sepak Bola, Taman Musik pun Jadi
Lapangan sepak bola cuma-cuma di Bandung semakin langka. Orang muda maupun bobotoh Persib menciptakan ruang bermain sendiri.
Penulis Ryan D.Afriliyana 5 September 2026
BandungBergerak - Sejak sore, Bagas dan Wildan telah bersiap di pinggir lapangan Taman Musik, Jumat, 4 September 2026. Keduanya menanti agenda sepak bola jalanan mingguan yang digelar komunitas Friday Football Street (FFS), sebuah ruang sosial yang tumbuh dari keresahan anak-anak muda terhadap semakin terbatasnya ruang publik di Bandung, terutama untuk bermain sepak bola.
Tak lama kemudian, mereka bergabung dengan para penggila bola lainnya. Permainan berlangsung di tengah riuh percakapan dan debu jalanan yang kering diterpa kemarau. Di tempat itu, sepak bola hadir bukan sekadar olahraga, tetapi menjadi cara untuk bertemu, bermain, dan melepas penat.
Bagi Bagas, kehadiran FFS di Taman Musik menjadi ruang yang sulit ia temukan di tempat lain. Lapangan yang dapat digunakan secara cuma-cuma semakin sedikit, sementara fasilitas olahraga yang tersedia umumnya harus disewa. Kondisi itu membuat olahraga yang selama ini lekat dengan masyarakat kelas bawah dan menengah perlahan semakin sulit diakses.
“Sekarang pengin main bola teh sesah, teu aya tempatna, karena dibangun lapangan padel. Aya lapang futsal tapi kan berbayar,” ungkap Bagas di sela-sela kegiatan Friday Football Street.
Bagas baru bergabung dengan FFS sekitar setengah tahun lalu, setelah momen Persib meraih gelar juara secara beruntun. Ia sempat ragu datang karena tidak mengenal siapa pun. Keraguan itu perlahan hilang setelah ia diterima dan diajak bermain bersama peserta lain.
Di FFS, seseorang tidak perlu membawa tim sendiri untuk bisa bermain. Peserta yang datang dapat langsung bergabung dan membentuk tim secara mendadak seperti tahu bulat. Pola tersebut membuat siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk turun ke lapangan.
“Makin ke sini dirangkul sama pengurus FFS sebelumnya, akhirnya bergabunglah ke sini,” ucap Bagas.
Bagi Bagas, penerimaan itu bukan hanya membuatnya nyaman bermain, tetapi juga mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki kecintaan serupa terhadap Persib. Di antara para pemain, identitas sebagai bobotoh menjadi salah satu ikatan yang mempererat pergaulan.
Kecintaan Bagas terhadap Persib telah berlangsung lama. Ia bahkan pernah melakukan perjalanan ke tiga kota untuk menyaksikan dan mendukung klub kebanggaannya itu, meski saat itu kondisi kesehatannya sedang tidak baik.
“Ti lubuk hati abdi nu paling dalam mah. Sih abdi keur kaayaan nganggur atau sakit paru-paru oge, tapi abdi angkat ka tilu kota ngadukung Persib. Saking cintana kitu (Dari lubuk hati terdalam. Saya dalam kondisi sakit paru-paru juga berangkat ke tiga kota demi mendukung Persib),” tutur Bagas.
Cerita serupa datang dari Wildan Arqila. Pelajar kelas 10 itu menjadikan Friday Football Street sebagai tempat melepas penat setelah menjalani aktivitas sekolah. Ia telah mengikuti kegiatan tersebut sejak masih duduk di bangku SMP.
“Buat menghilangkan stres sih, udah beres sekolah atau bekerja, terus Jumat malam main bola. Kan memang happy ya sebagai lelaki mah,” kata Wildan.
Bagi keduanya, menjadi bobotoh tidak berhenti pada pertandingan Persib. Identitas itu tumbuh dari pengalaman sehari-hari: bermain sepak bola, berkumpul, berbincang, dan berbagi kecintaan terhadap klub yang sama. Kecintaan yang mereka dapat dari keluarga itu kemudian mereka jalani sebagai pilihan personal.
“Bahasa hate eta mah. Moal bisa digantikeun,” tandas Wildan.

Pengalaman Bagas dan Wildan memperlihatkan fungsi lain Friday Football Street. Komunitas ini tidak hanya menyediakan tempat bermain, tetapi juga menciptakan ruang perjumpaan yang terbuka bagi siapa saja.
FFS bukan komunitas formal dengan struktur organisasi yang kaku. Tidak ada keanggotaan yang rumit atau kewajiban membayar untuk ikut bermain. Orang cukup datang dan bergabung dengan permainan yang sedang berlangsung.
Ruby Hermawan, salah satu pengurus FFS, mengatakan komunitas tersebut berawal dari aktivitas sederhana sejumlah anak muda yang kerap nongkrong di kawasan Saparua sepulang kerja. Seiring waktu, kegiatan itu berkembang menjadi agenda rutin.
“Tidak ada leader di sini. Semuanya sama, penafsiran harus kumpul dulu. Dirundingin gitu, jadi enggak ada leader lah pokoknya,” ujar Ruby.
Setiap Jumat sore hingga malam, Taman Musik menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok usia dan latar belakang. Anak sekolah, mahasiswa, pekerja, hingga orang tua datang untuk bermain. Perempuan dan laki-laki juga dapat ikut dalam aktivitas tersebut.
Menurut Ruby, keterbukaan FFS bahkan menarik perhatian orang-orang dari luar negeri. Beberapa warga asing yang mengetahui kegiatan tersebut melalui media sosial datang dan ikut bermain.
“Dia pengin main ke sini. Kayak nge-DM ke akun Friday Football Street gitu, main ke sini,” kata Ruby.
Namun, mempertahankan kegiatan tersebut tidak selalu mudah. Ketersediaan ruang menjadi persoalan yang terus dihadapi FFS. Sebelum menetap di Taman Musik, komunitas ini beberapa kali harus berpindah karena ruang yang digunakan tidak lagi dapat dipakai.
Kini, FFS telah memperoleh izin dari dinas terkait, pengurus RT dan RW, serta pedagang setempat untuk menggunakan kawasan Taman Musik setiap Jumat malam. Dukungan warga sekitar menjadi salah satu alasan kegiatan tersebut dapat bertahan.
Bagi FFS, keberadaan Taman Musik bukan sekadar soal memiliki lapangan untuk bermain. Ruang tersebut menjadi cara untuk mempertahankan sepak bola jalanan tetap hidup ketika pilihan tempat bermain semakin terbatas.
Baca Juga: Sepak Bola adalah Perlawanan
Di Luar 90 Menit: Ketika Rivalitas Menemukan Batasnya

Bobotoh dan Ruang Sepak Bola
Keterbatasan ruang menjadi salah satu persoalan yang mempertemukan para pemain FFS. Namun, bagi sebagian bobotoh, keresahan itu juga berkaitan dengan perubahan hubungan mereka dengan sepak bola dan stadion.
Stadion bagi suporter selama ini bukan hanya tempat menyaksikan pertandingan. Ia menjadi ruang berkumpul, berekspresi, dan membangun solidaritas. Ketika berbagai persoalan dalam pengelolaan sepak bola membuat sebagian suporter memilih menjauh dari stadion, kecintaan terhadap permainan tersebut tidak serta-merta ikut hilang.
FFS menjadi salah satu ruang alternatif untuk mempertahankan hubungan itu. Sepak bola dikembalikan ke bentuk yang lebih sederhana: bermain bersama, bertemu dengan orang baru, dan menikmati permainan tanpa harus membeli tiket atau menyewa lapangan.
Di tempat itu, identitas bobotoh juga tumbuh melalui pergaulan sehari-hari. Anak sekolah dapat bermain bersama pekerja, pemain yang datang sendiri dapat bergabung dengan tim yang baru dibentuk, sementara orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat berinteraksi hanya karena memiliki kegemaran yang sama.
Menurut Ruby, regenerasi pencinta sepak bola dan bobotoh justru terlihat dari banyaknya pelajar yang datang mengikuti kegiatan FFS. Mereka bukan hanya belajar bermain bola, tetapi juga mengenal kultur kebersamaan yang tumbuh di dalamnya.
FFS menunjukkan bahwa sepak bola tidak selalu membutuhkan stadion untuk tetap hidup. Ketika ruang bermain semakin terbatas, warga menciptakan ruangnya sendiri. Di Taman Musik, Bagas, Wildan, dan puluhan pemain lainnya menemukan tempat untuk bermain, bertemu, dan merawat kecintaan terhadap sepak bola.
Debu jalanan, lapangan seadanya, dan permainan yang dibentuk spontan menjadi bagian dari keseharian mereka. Selama masih ada ruang untuk berkumpul, sepak bola tetap menemukan jalannya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


