Di Luar 90 Menit: Ketika Rivalitas Menemukan Batasnya
Mungkin suatu hari Viking dan The Jakmania bisa membawa satu spanduk yang sama: SEPAK BOLA TIDAK BOLEH MEMBUNUH.

Dodi Rokhdian
Antropolog lulusan Unpad dan UI, konsens pada etnografi dan lingkungan. Pendiri Sokola Rimba sekaligus salah satu pendiri Viking Persib Club.
30 Agustus 2026
BandungBergerak – Ada rivalitas sepak bola yang sulit dibayangkan akan berakhir. Di Indonesia, salah satunya adalah rivalitas antara Viking Persib Club, pendukung Persib Bandung, dan The Jakmania, pendukung Persija Jakarta. Selama lebih dari dua dekade, keduanya tumbuh dengan identitas, simbol, sejarah, dan ingatan kolektif masing-masing.
Bagi mereka yang memahami kultur tribun, rivalitas antara kedua pihak tidak berhenti begitu saja di lapangan. Ia terbawa ke jalanan, media sosial, kehidupan sehari-hari, bahkan kadang terbawa sampai ke dalam mimpi. Ia dilanggengkan melalui berbagai simbol klub: warna jersey, chant, bendera, spanduk, dan koreografi. Ia juga hidup dalam cerita tentang kemenangan, kekalahan, bentrokan, dan berbagai konflik yang terus diwariskan.
Identitas kemudian membentuk batas yang tegas antara “kita” dan “mereka”. Siapa kawan, siapa lawan. Siapa yang berada di pihak kita dan siapa yang berada di seberang.
Dari luar, mungkin semua itu terlihat berlebihan. Orang bisa saja mengira bahwa sepak bola hanya berlangsung selama 90 menit, ditambah waktu tambahan yang diberikan wasit. Setelah peluit panjang berbunyi, pertandingan selesai. Yang menang pulang membawa kegembiraan, yang kalah membawa kekecewaan. Besoknya, kehidupan kembali berjalan seperti biasa dan emosi pertandingan perlahan surut ditelan rutinitas sehari-hari. Namun bagi mereka yang hidup di dalam kultur suporter, ternyata tidak sesederhana itu.
Mendukung sebuah klub punya cara yang ajaib untuk membuat hasil pertandingan tetap tinggal dalam ingatan. Ia hidup melalui chant, spanduk, bendera, koreografi, dan cerita yang terus diwariskan. Media sosial kemudian membuat semuanya bertahan lebih lama: pertandingan terus diperdebatkan, gol diputar ulang, rival diserang dengan sindiran dan ejekan, dan identitas klub terus ditampilkan melalui jersey, syal, stiker, dan berbagai simbol lainnya. Dalam bentuknya yang paling gelap, rivalitas bahkan bisa mewariskan kebencian kepada orang yang tidak pernah kita kenal.
Di titik itulah sepak bola menjadi lebih dari sekadar olahraga; ia menjadi identitas.

Baca Juga: Persib dan Politik Kebudayaan
Mengukur Seberapa Jauh Jarak Bobotoh dengan Persib
Di Kairo, di Istanbul
Dan identitas selalu punya dua sisi. Di satu sisi, ia membuat seseorang merasa memiliki sesuatu bersama orang lain. Di sisi lain, ia menciptakan batas dengan mereka yang dianggap berbeda. Identitas membuat kita tahu siapa “kita” dan siapa “mereka”.
Identitas punya kemampuan yang menarik. Ia bisa membuat kita menarik garis dengan orang lain, tetapi sekaligus membuat kita merapat dengan mereka yang kita anggap sebagai bagian dari diri kita. Dari rasa memiliki itu lahir kepercayaan, solidaritas, dan kemampuan untuk bertindak bersama. Ribuan orang bisa bergerak karena merasa sedang membawa sesuatu yang sama.
Lalu, bagaimana jika pada suatu ketika mereka yang selama ini berdiri di dua sisi yang berbeda menemukan alasan untuk berdiri di sisi yang sama?
Pertanyaan itu membawa saya melihat dua peristiwa di tempat yang berbeda: Kairo pada 2011 dan Istanbul pada 2013. Dua kota dengan konteks politik yang berbeda, tetapi memiliki satu cerita yang menarik tentang kultur suporter.
Mesir sedang bergolak. Selama hampir tiga dekade, Hosni Mubarak memimpin negara itu. Pada Januari 2011, ribuan orang turun ke jalan menuntut kebebasan, keadilan sosial, perubahan politik, dan penghentian kekerasan aparat. Tahrir Square kemudian menjadi pusat gerakan. Di antara ribuan orang yang memenuhi jalan itu terdapat wajah-wajah yang sebelumnya lebih akrab dengan tribun stadion: Ultras Ahlawy, pendukung Al Ahly, dan Ultras White Knights, pendukung Zamalek.
Al Ahly dan Zamalek adalah dua klub besar sekaligus rival utama di Kairo. Di stadion, mereka berada di sisi yang berseberangan. Tetapi di Tahrir, batas itu menjadi kurang penting.
Dalam berbagai bentrokan selama revolusi, kedua kelompok ultras berada di garis depan menghadapi aparat. Pengalaman mereka berhadapan dengan polisi di stadion membantu mereka bertahan di jalan. Salah satu momen penting terjadi pada 2 Februari 2011, ketika pendukung Mubarak menyerang demonstran di Tahrir dengan menunggangi kuda dan unta. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Battle of the Camel itu menjadi salah satu bentrokan paling terkenal, dan para ultras ikut mempertahankan lapangan bersama demonstran lainnya.
Yang menarik, mereka tidak turun ke jalan karena memiliki agenda politik yang sama. Menurut laporan Sherif Tarek di Ahram Online, anggota ultras bergerak terutama sebagai individu. Mereka membawa ke Tahrir pengalaman yang sudah terbentuk di tribun: kemampuan berkumpul, mengorganisasi diri, membangun solidaritas, dan menghadapi polisi. Hubungan mereka dengan aparat memang sudah lama buruk. Karena itu, ketika berhadapan dengan polisi di jalan, mereka menghadapi musuh yang sudah mereka kenal dari stadion.
Pengalaman kekerasan dan permusuhan dengan aparat menjadi salah satu alasan kuat yang mendorong mereka ikut melawan. Mereka tidak datang dengan agenda politik yang sudah tersusun. Tetapi ketika berada di Tahrir, pengalaman yang selama ini terbentuk di tribun menemukan fungsi yang berbeda.
Di situlah paradoksnya menjadi jelas. Mereka tidak membutuhkan ideologi politik yang sama untuk bergerak bersama. Mereka memiliki pengalaman yang sama dan menemukan persoalan yang sama.
Solidaritas, komunikasi, jaringan, keberanian, kemampuan berkumpul, dan pengalaman menghadapi aparat yang selama ini mereka bangun sebagai bagian dari kultur suporter menjadi modal ketika berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sepak bola.
Mubarak akhirnya jatuh, tetapi revolusi Mesir tentu tidak bisa diceritakan sebagai kemenangan para ultras. Kejatuhan Mubarak merupakan hasil dari gerakan yang jauh lebih luas, melibatkan banyak kelompok, kepentingan, dan ketidakpuasan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Karena itu, yang penting dari kisah para ultras tersebut bukanlah peran mereka dalam menjatuhkan Mubarak, melainkan apa yang mereka bawa dari stadion ke jalanan saat unjuk rasa: pengalaman mengorganisasi, membangun solidaritas, menjaga kelompok, menghadapi tekanan, dan bergerak bersama dalam jumlah besar. Semua itu sudah mereka bangun jauh sebelum revolusi berlangsung.
Hal yang hampir mirip terjadi di Istanbul, Turki. Pada 2013, Gezi Park menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang menolak rencana pembangunan yang akan mengubah ruang hijau di pusat kota. Polisi kemudian membubarkan aksi tersebut dengan kekerasan. Dari sebuah taman, persoalannya melebar ke mana-mana. Mahasiswa, aktivis lingkungan, kelompok kiri dan sekuler, organisasi masyarakat sipil, sampai suporter sepak bola ikut turun ke jalan.
Salah satu kelompok yang cukup menonjol adalah Carsi, kelompok suporter Besiktas. Mereka sudah terbiasa dengan suasana stadion yang keras dan penuh tekanan. Di Gezi Park, pengalaman itu mereka bawa ke tempat lain. Mereka tahu bagaimana mengumpulkan dan mengorganisir massa, bagaimana berkomunikasi dalam suasana chaos, bagaimana menjaga kelompok, dan bagaimana menghadapi aparat keamanan.
Kairo dan Istanbul punya konteks masing-masing. Mesir bukan Turki, dan keduanya tentu bukan Indonesia. Tetapi keduanya menunjukkan satu hal bahwa tribun bisa menjadi tempat kita belajar bergerak bersama, dan kemampuan itu bisa dibawa ke luar stadion ketika muncul persoalan yang lebih besar.
Tak Harus Menunggu Tragedi
Saya kemudian berpikir tentang Indonesia.
Kita juga punya kultur suporter dan rivalitas yang panjang. Salah satu yang paling keras adalah Persib dan Persija, Viking dan The Jakmania. Rivalitas itu sudah berlangsung lama, dengan cerita tentang bentrokan, ejekan, provokasi, dendam, dan korban yang terus diwariskan.
Seseorang bisa masuk ke dalam kultur suporter dengan membawa cerita yang sudah ada sebelum ia mengenal sepak bola. Ia belajar lagu, warna, siapa kawan dan siapa lawan. Kadang, tanpa sadar, ia juga belajar siapa yang harus dibenci. Karena itu, rivalitas tidak selalu membutuhkan pertandingan untuk tetap hidup. Ia sudah menjadi bagian dari identitas.
Saya tidak menganggap rivalitas harus dihilangkan. Sebagai suporter, saya masih ingin melihat Persib menang melawan Persija, mendengar tribun bernyanyi lebih keras, dan merasakan ketegangan sebelum pertandingan dimulai. Masalahnya muncul ketika rivalitas dibawa terlalu jauh: ketika orang yang memakai warna berbeda tidak lagi dilihat sebagai suporter klub lain, tetapi sebagai orang yang boleh disakiti.
Kita pernah melihat akibatnya di Kanjuruhan.
Pada 1 Oktober 2022, pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan berakhir dengan tragedi. Gas air mata ditembakkan ke dalam stadion, penonton panik dan berdesakan mencari jalan keluar. Lebih dari 130 orang meninggal dan ratusan lainnya terluka.
Setelah tragedi itu, solidaritas muncul dari berbagai kelompok suporter: doa bersama, kunjungan, penggalangan bantuan, pernyataan sikap, hingga pertemuan antar-rival. Semua itu tentu tidak menghapus sejarah konflik. Tetapi setidaknya, untuk sesaat, orang di seberang tribun bisa dilihat bukan sebagai lawan, melainkan sesama suporter.
Lalu saya berpikir: apakah kita harus selalu menunggu tragedi untuk menemukan persoalan bersama?
Bukankah ada banyak hal yang sebenarnya kita hadapi bersama: stadion yang tidak aman, kekerasan terhadap suporter, perlindungan perempuan dan kelompok rentan, transparansi dalam penyelenggaraan liga atau turnamen, serta partisipasi bermakna dalam keputusan federasi yang menyangkut kehidupan suporter?
Untuk memperjuangkan semua itu, Viking tidak perlu melupakan rivalitasnya dengan The Jakmania. Persib tetap Persib. Persija tetap Persija. Rivalitas tetap ada. Di situlah urusan suporter mulai keluar dari 90 menit. Saya tidak ingin sepak bola kehilangan rivalitas. Dua tribun tetap boleh berbeda warna. Tetapi ketika ruang bagi suporter away kembali terbuka di musim ini, mungkin kita juga perlu belajar menjalani rivalitas tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Mungkin suatu hari Viking dan The Jakmania bisa membawa satu spanduk yang sama: SEPAK BOLA TIDAK BOLEH MEMBUNUH. Bukan karena rivalitas telah hilang. Bukan pula karena semua perbedaan telah usai. Namun karena ada hal-hal yang jauh lebih penting daripada sekadar kemenangan dalam 90 menit.
Pertandingan selesai. Tribun perlahan kosong, kemeriahan berhenti, dan orang-orang berjalan pulang. Mungkin di situlah rivalitas sepak bola seharusnya menemukan batasnya. Ia boleh tetap membara saat di tribun, tetapi harus padam mendingin ketika ke luar stadion.
Sebab pada akhirnya, di balik setiap warna, jersey, dan identitas yang kita banggakan, ada manusia yang ingin kembali kepada orang-orang yang mencintainya di rumah. Sembilan puluh menit boleh memisahkan kita, tetapi setelah itu, biarkan kemanusiaan mempertemukan kita kembali.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


