• Opini
  • Persib dan Politik Kebudayaan

Persib dan Politik Kebudayaan

Loyalitas bobotoh Persib tidak selalu dibangun oleh kemenangan. Kadang justru tumbuh dari luka yang dipikul dan diwariskan bersama.

Dodi Rokhdian

Antropolog lulusan Unpad dan UI, konsens pada etnografi dan lingkungan. Pendiri Sokola Rimba sekaligus salah satu pendiri Viking Persib Club.

Ilustrasi – Sepak bola. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

28 Mei 2026


BandungBergerak - Ada satu hal yang sering tidak benar-benar dipahami orang luar tentang Persib Bandung: mengapa klub ini terasa begitu emosional bagi masyarakat Sunda. Mengapa kemenangan Persib mampu mengubah jalanan Bandung menjadi pesta rakyat. Mengapa kekalahan bisa meninggalkan murung berjamaah selama berhari-hari. Dan mengapa bagi sebagian besar bobotoh, Persib terasa lebih dekat secara emosional ketimbang ormas, parpol, atau pun institusi pemerintahan formal mana pun.

Sebab di tanah Sunda, Persib sejak lama tidak lagi semata urusan sepak bola.

Ia telah menjelma menjadi ruang kebudayaan: tempat orang Sunda menyimpan ingatan kolektif, merawat solidaritas sosial, membangun harga diri bersama, bahkan menyatakan kehadiran simboliknya di tengah orbit kekuasaan Indonesia kontemporer.

Dalam perspektif Benedict Anderson melalui konsep imagined community, sebuah komunitas tidak selalu terbentuk karena anggotanya saling mengenal secara langsung. Tapi terbentuk karena orang-orang merasa berbagi pengalaman emosional yang sama, meski terhalang ruang dan waktu. Yang menyatukan mereka bukan kedekatan ragawi, melainkan imajinasi kolektif tentang rasa memiliki.

Dan Persib bekerja dalam kehidupan harian bobotoh persis dengan cara seperti itu.

Bobotoh di Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sukabumi, Subang, hingga diaspora Sunda di luar negeri mungkin tidak pernah saling mengenal. Tetapi ketika Persib bermain, mereka masuk ke ruang emosional yang sama: tegang pada menit-menit akhir, marah kepada wasit, menyanyikan chant yang sama, menunggu skor sambil menahan napas, lalu tenggelam dalam euforia yang sama ketika Persib menang.

Karena itu, pengalaman menjadi bobotoh tidak hanya hadir di stadion. Ia hidup dalam praktik keseharian yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat kaya nuansa kultural.

Di banyak kampung di pelosok Jawa Barat, suasana malam bisa berubah hanya karena Persib sedang bertanding dalam siaran televisi. Warung kopi yang biasanya lengang mendadak penuh. Kursi plastik ditarik mendekati televisi. Obrolan yang tadinya soal harga sembako, kusutnya MBG,  pekerjaan, atau urusan kampung perlahan bergeser menjadi susunan pemain, peluang juara, hingga umpatan kepada wasit yang dianggap tidak adil.

“Ah, wasit goblog!” teriak seseorang dari sudut warung. Dan semua orang tertawa seolah memahami kekesalan tersebut walau mereka tidak saling mengenal.

Pedagang gorengan memasang televisi kecil seadanya khusus untuk nobar Persib. Layarnya kadang buram. Antena harus diputar-putar sambil diarahkan orang ramai di sekitar.

“Ka kenca saeutik… ulah ka katuhu… eta mah ngarah ka wilayah Saritem, lain ka arah stadion, nu muncul engke lain Persib!” celetuk seseorang.

“Kehed siah!” gerutu si pedagang sambil tetap tertawa.

Ketika akhirnya siaran muncul, suara televisi sering kalah oleh deru motor dan mobil di jalan. Tetapi orang-orang tetap bertahan berjam-jam. Sebab yang mereka cari bukan semata hasil pertandingan, melainkan pengalaman menonton bersama: rasa menjadi bagian dari komunitas emosional yang sama.

Dan ketika Persib mencetak gol, ruang-ruang kecil itu langsung berubah menjadi ledakan emosi kolektif. Orang yang tidak saling kenal mendadak saling tos. Ada yang berdiri sambil berteriak. Ada yang memukul meja. Ada yang spontan menyanyikan salah satu chant tribun.

Bahkan grup WhatsApp keluarga Sunda yang biasanya sepi mendadak ramai hanya karena satu kata via chat anggota keluarga: “GOOOOLLLL!”

Lalu ratusan pesan lain menyusul merespons hampir bersamaan: stiker Persib, emoji api biru, foto pencetak gol, foto suasana nonton televisi dari rumah masing-masing, hingga doa agar skor kemenangan bertahan sampai peluit panjang berbunyi.

Hal-hal seperti itu tampak sederhana. Tetapi justru di situlah komunitas bernama bobotoh bekerja sebagai realitas sosial. Itu artinya, bobotoh bukan semata kumpulan pengemar klub bola, lebih jauh dari itu, ia serupa jejaring sosial yang membentuk rasa kebersamaan, solidaritas, identitas, bahkan cara orang menjalani kehidupan sehari-hari.

Bahkan di jalanan Bandung, seseorang bisa merasa dekat dengan orang asing hanya karena atribut Persib. Dua orang yang tidak pernah saling mengenal bisa otomatis saling mengangguk ketika berpapasan memakai jersey biru.

Kadang cukup satu teriakan pendek: “Hidup Persib!”

Dan jarak sosial pun seketika mencair jika diteriakan di satu momen interaksi sosial tertentu.

Ikatan itu Melampaui Batas Geografis

Teman saya, seorang perantau Sunda di Britania Raya, rela begadang demi menonton Persib yang kick-off tengah malam waktu setempat. Baginya, Persib bukan hanya klub bola, tetapi juga simbol pemersatu diaspora Sunda.

“Pokona mah geus ditandaan kalender jang Persib mah. Wajib eta mah, lain salat hungkul,” katanya sambil tertawa.

Di Jepang, Australia, Timur Tengah, Eropa, atau Amerika, para diaspora Sunda menonton dengan berbagai cara: sendirian di apartemen kecil sambil memegang kopi, atau berkumpul beberapa orang demi nobar sederhana. Tetapi pada saat yang sama, mereka tahu ada jutaan bobotoh lain yang sedang mengalami ketegangan serupa di Stadion GBLA, di warung kopi kampung, atau di rumah-rumah kecil di Bandung, Garut, Tasikmalaya, Lebak, Sukabumi, Cikampek, Cianjur, Purwakarta, Subang, dan lainnya

Pada titik itulah Persib benar-benar bekerja sebagai “rumah imajiner”: menghadirkan rasa dekat di antara orang-orang yang tidak pernah benar-benar saling mengenal, tetapi merasa memiliki satu emosi, satu ingatan, dan satu kebanggaan bersama.

Baca Juga: Persib dan Hal-hal yang Diwariskan
Di Bawah Langit Cicalengka, Persib Menjadi Cerita

Persib dan Politik Kebudayaan

Tetapi magis Persib tidak hanya berhenti pada solidaritas emosional. Ia juga menyentuh lapisan politik kebudayaan yang lebih dalam. Jero pisan, pokona mah.

Secara statistik, masyarakat Sunda sungguh sangat besar. Jawa Barat merupakan provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia. Orang Sunda tersebar di berbagai kota dunia. Bahasa dan tradisinya kuat. Tetapi dalam sejarah politik nasional, masyarakat Sunda merasa hanya besar secara statistik dan demografis semata, namun tidak dominan di pusat kekuasaan.

Dalam sejarah republik ini, orang Sunda nyaris tidak pernah diberi jalan politis menjadi “R1”. Representasi tertinggi yang pernah dicapai sebatas posisi wakil, seperti Umar Wirahadikusumah. Selebihnya, menjadi penonton dalam orbit kekuasaan nasional.

Dan justru karena itulah Persib menjadi jauh lebih penting daripada sekadar klub sepak bola.

Ia menjadi ruang artikulasi harga diri kolektif. Semacam “perlawanan simbolik” berbasis budaya. Persib hadir sebagai panggung alternatif untuk mengatakan: kami ada, kami besar, kami solid, kami kreatif, dan kami tidak bisa diremehkan.

Dalam konteks ini, politik kebudayaan bukan berarti politik praktis atau dukung-mendukung kekuasaan. Ia lebih merujuk pada cara sebuah komunitas budaya menyatakan eksistensi, harga diri, dan solidaritasnya melalui simbol, ritual, dan praktik keseharian. Dan di tanah Sunda, salah satu medium paling hidup untuk itu adalah Persib Bandung.

Karena itu, kemenangan Persib sering terasa melampaui olahraga. Yang bersorak bukan hanya supporter klub, tetapi sebuah identitas kebudayaan yang merasa menemukan ruang paling otentik untuk menunjukkan eksistensinya dihadapan publik dan kekuasaan pusat.

Maka ketika tribun timur Stadion GBLA pada 23 Mei 2026 membentangkan spanduk: “Our football culture is the greatest and always will be the greatest in the world,” itu sesungguhnya bukan kesombongan komunitas suporter. Di dalamnya ada sejarah panjang loyalitas, solidaritas, kreativitas tribun, militansi budaya, dan rasa memiliki yang diwariskan lintas generasi.

Itu adalah cara orang Sunda menyatakan dirinya kepada pusat kekuasaan Indonesia: bahwa boleh saja kami tidak dominan dalam pusaran politik nasional, tetapi kami memiliki satu ruang tempat eksistensi kolektif berdiri paling solid, paling kreatif, dan paling sulit dikalahkan: Persib Bandung.

Bandung, Subkultur, dan Tribun Stadion

Jika ditarik lebih jauh, hubungan antara Bandung, Persib, dan identitas kolektif etnis Sunda sesungguhnya lahir dari lanskap sosial dan historis kota Bandung sendiri.

Kota Bandung memiliki memori historis sebagai ruang solidaritas dan ekspresi simbolik. Salah satu penandanya adalah Bandung Conference (Konferensi Asia Afrika) tahun 1955 yang menjadikan Bandung dikenal sebagai kota perlawanan terhadap dominasi kolonial global.

Jejak sejarah itu ikut membentuk atmosfer Bandung sebagai kota yang kreatif, ekspresif, kaya subkultur, dan kuat dalam solidaritas urban. Dari musik independen, mural jalanan, kuliner, fesyen, hingga kultur tribun sepak bola, Bandung memiliki tradisi panjang sebagai kota pionir. Kebudayaan tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium ekspresi kolektif; ruang tempat warganya menegaskan identitas, solidaritas, dan keberadaannya.

Karena itu, kultur bobotoh tumbuh bukan di ruang sosial yang netral. Ia lahir dari tradisi kota yang terbiasa mengekspresikan dirinya melalui kreativitas kolektif dan solidaritas komunal.

Tribun Persib akhirnya tidak hanya menjadi tempat menonton pertandingan. Ia menjelma menjadi arena kebudayaan: tempat kreativitas, militansi simbolik, identitas urban, dan kebanggaan kolektif masyarakat Bandung dan Sunda terus diproduksi, dipertunjukkan, dan diwariskan lintas generasi.

Namun kekuatan Persib bagi masyarakat Sunda sesungguhnya tidak berhenti di ruang publik dan tribun stadion. Ia perlahan masuk ke ruang-ruang paling personal dalam kehidupan sehari-hari: rumah, keluarga, percakapan kecil, hingga cara orang-orang saling menjaga satu sama lain.

Dari Tribun ke Ruang Keluarga

Bagi banyak orang Sunda, Persib bukan hanya identitas komunal yang hidup di jalanan kota atau di tribun stadion. Ia juga hadir diam-diam di meja makan, di ruang tamu, di percakapan sehari-hari, bahkan di kegelisahan kecil dalam rumah tangga.

Istri saya misalnya, akhirnya memahami bahwa menikahi seorang bobotoh berarti juga menerima seluruh dunia yang hidup di dalam diri suaminya: stadion, perjalanan tandang, ketegangan pertandingan, dan kerinduan yang aneh kepada kota bernama Bandung.

Ia tahu bahwa ketika saya berangkat ke stadion, yang saya cari bukan hanya pertandingan sepak bola. Kadang yang dicari justru adalah perasaan pulang: kepada masa kecil, persahabatan, kenangan tentang kota asal, dan identitas yang sejak lama tumbuh bersama Persib.

Karena itu ada ritual-ritual sederhana yang terus berulang dalam kehidupan seorang bobotoh: menyiapkan bekal sebelum berangkat, mengingatkan membawa jas hujan, memastikan tiket aman, hingga diam-diam berdoa agar orang yang dicintainya pulang dengan selamat.

Gestur-gestur kecil seperti itu menunjukkan bahwa sepak bola di Bandung tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan relasi sosial, ingatan keluarga, dan emosi keseharian yang hidup jauh di luar stadion.

Di balik riuhnya tribun, flare yang menyala, chant yang bergemuruh, dan ribuan orang yang melompat bersama, selalu ada orang-orang yang ikut menjaga dari kejauhan. Ada ibu yang menunggu anaknya pulang setelah pertandingan. Ada istri yang terus memantau kabar di media sosial ketika suaminya nyetadion. Ada keluarga yang menunggu pesan singkat bertuliskan, “Geus aman nuju di jalan.”

Mereka mungkin tidak ikut bernyanyi di tribun. Tidak dikenal sebagai bagian dari kelompok suporter mana pun. Tetapi dengan caranya sendiri, mereka juga menjadi bagian dari ekosistem emosional bernama Persib.

Karena itu, bagi banyak bobotoh, stadion sesungguhnya tidak pernah dimulai ketika peluit kick-off dibunyikan. Ia dimulai dari rumah: dari bekal yang disiapkan, dari jas hujan yang diingatkan, dari pertanyaan sederhana seperti “tiket aman?”, hingga dari doa-doa kecil yang nyaris tidak pernah diumumkan, tetapi selalu menyertai perjalanan.

Dan mungkin justru di situlah sisi paling manusiawi dari sepak bola: ketika cinta kepada klub ternyata tidak hanya dirawat oleh mereka yang berada di tribun, tetapi juga oleh orang-orang tersayang yang memilih mencintai dalam diam di kejauhan.

Luka Kolektif, Loyalitas, dan Lima Bintang

Saya sendiri tumbuh bersama luka dan harapan yang diwariskan Persib lintas generasi.

Tahun 1983, ketika masih duduk di bangku SD, saya pertama kali diajak ke Stadion Utama Senayan untuk menyaksikan final Perserikatan antara Persib Bandung melawan PSMS Medan. Kami berangkat dari Bandung bersama ribuan bobotoh melewati jalur Puncak menuju Jakarta: bus, truk terbuka, lagu-lagu spontan, dan bendera biru sepanjang jalan.

Bagi anak kecil seperti saya, perjalanan itu terasa seperti arus besar manusia yang bergerak bersama membawa satu identitas menuju stadion. Dan ketika Persib kalah lewat adu penalti, saya mulai memahami bahwa sepak bola ternyata bisa menghadirkan kesedihan massal yang terasa sangat melukai secara kolektif.

Dua tahun kemudian saya kembali datang ke final yang sama. Dan Persib kembali kalah lewat penalti.

Dari pengalaman-pengalaman itulah saya perlahan belajar bahwa loyalitas ternyata tidak selalu dibangun oleh kemenangan. Kadang justru ia tumbuh dari luka yang dipikul dan diwariskan bersama.

Lalu datang tahun 1986. Final melawan Perseman Manokwari. Di tribun saya melihat sebuah spanduk besar bertuliskan: “Nista, Maja, Utama.”

Dalam falsafah Sunda, nista adalah penderitaan, maja adalah tempaan hidup, dan utama adalah kemuliaan yang lahir setelah melewati ujian panjang. Spanduk itu mungkin sederhana. Tetapi di tribun hari itu, ia terasa seperti cermin perjalanan panjang Persib dan bobotohnya sendiri: jatuh, terluka, bertahan, lalu bangkit kembali.

Ketika Persib akhirnya menjadi juara pada tahun itu, kemenangan terasa jauh melampaui sepak bola. Ia seperti pelepasan luka kolektif yang selama bertahun-tahun dipendam bersama. Orang-orang menangis, berpelukan, dan bernyanyi tanpa henti.

Dan mungkin sejak saat itu saya memahami bahwa bagi banyak orang Sunda, Persib Bandung bukan hanya klub sepak bola yang bermain selama sembilan puluh menit di lapangan.

Ia adalah kenangan masa kecil.

Ia adalah perjalanan pulang.

Ia adalah persahabatan, luka, harapan, dan rasa memiliki yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, ketika lima bintang mulai tersemat di dada Persib, yang bersorak sesungguhnya bukan hanya tribun stadion, tetapi juga ingatan kolektif sebuah masyarakat yang selama puluhan tahun tumbuh bersama klub ini.

Dan mungkin benar bahwa di balik seluruh gegap gempita sepak bola, di Bandung khususnya, yang dicari bobotoh sesungguhnya bukan hanya kemenangan, melainkan perasaan bahwa mereka selalu memiliki tempat untuk pulang dan memiliki orang-orang yang membuat mereka tidak pernah benar-benar sendiri.

Mungkin karena itulah, hidup boleh berubah dan generasi boleh berganti, tetapi selama masih ada orang yang menyebut dirinya bobotoh, rumah bernama Persib Bandung itu akan terus hidup melampaui zaman. Seperti judul lagu Perunggu,”Ini Abadi, ….. Bandung kan selalu memelukmu!”.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//