Persib dan Hal-hal yang Diwariskan
Untuk mama dan bapa yang sengaja membelikan baju Persib sebelum bintang lima di dada.

Muhammad Akmal Firmansyah
Mahasiswa Ilmu Sejarah UIN SGD Bandung dan Jurnalis BandungBergerak.id sejak 12 Juni 2022
26 Mei 2026
BandungBergerak - Tahun 2014 menjadi salah satu musim ketika sepak bola menghadirkan haru paling dalam bagi saya. Pada malam 7 November 2014, saya menyaksikan Persib Bandung menaklukkan Persipura Jayapura lewat drama adu penalti di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. Dari layar proyektor sebuah acara nonton bareng di kawasan Dago, saya mengikuti setiap detik pertandingan dengan dada penuh tegang dan cemas. Lalu, ketika tendangan terakhir Achmad Jufriyanto bersarang di gawang dan memastikan gelar Liga Indonesia bagi Persib, air mata saya tumpah tanpa bisa ditahan.
Semua sujud syukur, sorak-sorai bersahutan. Saya terbawa hanyut dalam lautan manusia dari arah Dago hingga menaiki flyover Pasopati. Malam itu dirayakan dengan perasaan campur aduk antara haru, tak percaya, dan bahagia.
Sejak kecil, saya memang terlalu rewel soal Persib. Ibu sering mengenang bagaimana saya bisa menangis meraung-raung jika tidak diajak menonton Persib di Stadion Siliwangi atau Stadion Si Jalak Harupat. Saya juga kerap merengek minta diantar melihat sesi latihan Persib di Stadion Sidolig. Saat itu, idola saya cuma satu: Hariono, gelandang gondrong bernomor punggung 24 yang kakinya seperti baja dan dijuluki “The Last Man Standing”.
Entah sejak kapan rasa cinta itu bermula. Mungkin sejak saya kecil dan diajak bapak ke stadion. Di tribun, saya merasa leluasa menjadi diri sendiri: berteriak, mengumpat, tertawa, menari, bahkan menangis.
Jika Persib menang, perjalanan pulang terasa begitu ringan, seolah semua omelan mama bisa dijawab dengan senyum puas. Kalau kalah, mabok lagi—nggak dong, haram itu mah dosa—cuma kecewa berkepanjangan saja.
Saya menduga, kecintaan kepada Persib mula-mula diwariskan oleh bapak. Setelah itu semuanya mengalir begitu saja. Cinta kepada Persib seperti sesuatu yang tumbuh diam-diam dan meresap ke dalam hidup. Sulit dijelaskan. Meski berkali-kali patah hati, sempat berjarak, bahkan pernah tak lagi hafal nama pemain atau lawan-lawan Persib, saya tetap merasa bahagia setiap kali menyaksikan Maung Bandung juara: 2014, 2024, dan 2025. Tahun 2026, hattrick, bismillah.
Kalau tidak dianggap berlebihan, saya kadang merasa Persib adalah cinta pertama bapak sebelum akhirnya ia menikahi mama dan memiliki kami, anak-anaknya. Setiap pulang dari stadion, bapak selalu mengulang cerita-cerita heroiknya pada masa muda. Ia sering bercerita tentang bagaimana ia bisa menyelinap masuk ke Stadion Siliwangi tanpa tiket. Kisah itu diceritakan berkali-kali, seolah menjadi legenda keluarga yang tak pernah usang.
Suatu hari, ketika saya masih kecil, bapak mengajak saya menonton Persib di Stadion Si Jalak Harupat. Jangan tanya itu era siapa; yang saya ingat, kami kesulitan mendapatkan tiket. Dan seperti kisah-kisah yang selalu ia banggakan, bapak mengajak saya menerobos masuk. Suasana itu sulit dilupakan. Namun, yang paling saya ingat di tribun stadion justru penjual kerupuk oranye dan nasi kuning. Sampai sekarang saya masih ingat suara pedagang itu yang berteriak nyaring di tengah riuh penonton: “Kerupuk The Jack, kerupuk The Jack, jeung sangu koneng!”
Sekian tahun berjarak dengan Persib. Sampai akhirnya saya kembali merasakan euforia kemenangan Persib setelah sekian lama puasa gelar. Persib Nu Aing menang melawan Madura United pada babak final Championship Series Liga 1 2023/2024. Saya kembali terbawa hanyut dalam lautan manusia: mereka yang menggendong anaknya di atas pundak, ibu yang sengaja membiarkan anaknya berdiri sambil berteriak, “Persib juara!”.
Jika pada tahun 2014 saya hanya remaja kecil yang ikut-ikutan, pada tahun 2024 saya menjadi jurnalis yang mengabarkan bagaimana euforia berjalan ramai dan bahagia.
Di tengah kebahagiaan itu, saya menyaksikan orang-orang yang pulang away mengawal Persib juara dari Stadion Gelora Bangkalan membawa bendera Palestina. Tak lama kemudian, sebuah bendera besar bertuliskan “Stop Genocide, All Eyes on Rafah” membentang pada Sabtu, 1 Juni 2024 itu.
Ribuan bobotoh membanjiri jalanan menjemput rombongan pemain Persib dari Gerbang Tol Pasteur menuju Gedung Sate. Lautan biru ada di mana-mana; suara knalpot, flare, yel-yel kemenangan, dan kibaran bendera Persib menyatu dengan bendera Palestina. Beberapa ofisial dan pemain Persib bahkan terlihat mengenakan atribut Palestina sebagai bentuk dukungan terhadap warga Gaza yang terus dibombardir Israel.
Kebahagiaan sebagai bobotoh tak berhenti di sana. Tahun 2025, back-to-back juara dengan euforia yang sama. Lautan membiru di kawasan Dago hingga Pasteur, sementara komposisi skuad perlahan berubah seusai juara. Nama-nama seperti Ciro Alves, David da Silva, dan Nick Kuipers perlahan meninggalkan Maung Bandung.
Pada tahun 2025, banyak isu sosial turut dikawal para suporter. Di tengah menurunnya kepercayaan terhadap politik dan praktik demokrasi, sepak bola hadir sebagai perekat sosial, seperti yang terjadi di Sukahaji dan Cicalengka.
Spanduk putih seadanya, proyektor dan laptop pinjaman, semuanya dilakukan secara udunan saat menonton bersama Persib di tengah bayang-bayang penggusuran dan buldoser. Mereka tetap bertahan dan menyanyikan lagu-lagu semangat untuk tim kebanggaan.
Musim 2025, seusai Persib Bandung mengalahkan Persis Solo dan dipastikan juara, saya kembali teringat bapak. Dulu ia yang mengajak saya ke stadion; pada momentum euforia juara back-to-back itu, ia sengaja memesan secara online baju-baju Persib untuk cucu-cucunya. Kecintaan terhadap klub kebanggaan itu terus-menerus diwariskan.
Kelak, jika nanti saya memiliki kekasih, setia, menikah, punya anak, lalu cucu, cinta ini akan saya wariskan juga: kecintaan terhadap klub lokal kebanggaan, Persib Bandung.
Baca Juga: Persib Juara Tiga Kali Beruntun, Euforia Bobotoh Menjelma Solidaritas dan Berkah Ekonomi Warga Bandung
KESAKSIAN BOBOTOH PEREMPUAN: Ketika Persib Menjadi Napas
Air Mata dan Persib Bandung
Haru dan menangis karena sepak bola bukan aib bagi suporternya. Tangis haru karena tim kebanggaan memenangkan pertandingan, tangis kekecewaan sebab kesebelasan gagal meraih kemenangan adalah hal biasa. Seperti itulah realistis dan magisnya sepak bola.
Siapa yang tidak tegang saat laga tandang terakhir musim 2025/2026, ketika Persib Bandung melawan PSM Makassar? Di menit-menit terakhir, papan skor berubah menjadi 2-1 seusai tandukan Julio Cesar dari tendangan sudut Thom Haye membuahkan gol.
Sekian tahun saya tak merasakan ketegangan, debar kegelisahan, dan terus bergumam dalam doa agar Persib bisa memenangkan laga di Stadion BJ Habibie. Jika dua belas tahun lalu saya nobar final kemenangan dengan rasa degdegan, pada pertandingan tandang melawan PSM Makassar itu rasa degdegan kembali hadir dengan atmosfer berbeda.
Saya menonton bersama warga Dago Elos yang bertahun-tahun melawan mafia tanah yang membayang-bayangi ruang hidup mereka. Seperti biasa, spanduk besar berlatar putih dipasang, laptop dan proyektor pinjaman digunakan, sementara jaringan internet streaming yang kadang buffering terus di-refresh agar pertandingan berjalan lancar. Namun, semua itu tak menyurutkan semangat dan doa agar keajaiban tercipta serta membuahkan gol.
Keajaiban itu benar-benar datang. Julio memasukkan bola bundar itu ke gawang PSM.
Layar yang selama lebih dari sembilan puluh menit menampilkan pertandingan penuh ketegangan lalu menghitam, dan orang-orang bersorak-sorai merayakan kemenangan. Di depan saya, anak-anak dan orang tua saling berpelukan. Di antara mereka ada yang tak percaya hingga meneteskan air mata.
Pada titik itu, saya teringat tulisan Sindhunata dalam Air Mata Bola: Catatan Sepak Bola Sindhunata (2002): “Sepak bola memberikan ilusi, yang tidak pernah diberikan oleh segala macam utopi sosial dan janji keselamatan. Dalam ilusi itu orang-orang mengkhayalkan: mereka yang kaya bersatu dengan mereka yang miskin, serigala merumput bersama anak domba, dan kedamaian lahir menggantikan nasib yang kejam.”
Bola yang bundar, kata Sindhunata, menghadirkan ilusi yang tidak bisa dipuaskan dalam hidup sehari-hari. Kepuasan itu mencapai puncaknya ketika bola disepak dan tercipta gol.
Masih mengutip Sindhunata, Nick Hornby sastrawan Inggris pernah menulis: “Hidup yang rutin ini tidak memberikan intensitas kepada manusia. Sepak bola dapat memberikan pengalaman akan intensitas itu, bila bola berubah menjadi gol. Dari tadi orang menanti gol, ia tidak tahu kapan gol itu terjadi. Tiba-tiba gol itu terjadi tanpa terduga dan takkan dapat terulangi lagi. Di sinilah bola membentur kehidupan yang kosong dan rutin. Dan dalam benturan itulah bola memberikan keindahan.”
Pengalaman itu terjadi saat Achmad Jufriyanto menjadi penentu gol terakhir ke gawang Persipura Jayapura, saat Tyronne del Pino mencetak gol ke gawang Persis Solo, saat skuad Ciro Alves bertahan dan memenangkan laga di Bangkalan, saat sundulan Julio Cesar membuat semua orang kagum tak percaya, dan kini Pangeran Biru berhasil menahan imbang Persijap Jepara. Wilujeng, Sib.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


