• Narasi
  • KESAKSIAN BOBOTOH PEREMPUAN: Ketika Persib Menjadi Napas

KESAKSIAN BOBOTOH PEREMPUAN: Ketika Persib Menjadi Napas

Aku menyadari bahwa Persib belum sempurna.

Sri Maulani

Bobotoh Persib sekaligus pekerja di salah satu media daring di Kota Bandung

Menonton laga Persib vs Borneo FC di GBLA Kota Bandung, Jumat, 5 Desember 2025. (Foto: Sri Maulani)

24 Mei 2026


BandungBergerak – Jumat malam, 7 November 2014, aku dan kedua kakak perempuanku saling berpegangan dan terus merapalkan doa agar Persib memenangi drama adu penalti melawan Persipura di laga final Indonesia Super League (ISL) 2014. Dan ketika mereka menang, kami bertiga saling berpelukan dan menangis terharu. Persib kembali merebut piala paling bergengsi di Tanah Air setelah puasa gelar 19 tahun lamanya!

Dan begitulah momen ‘sederhana’ nan mendebarkan ini membuat ikatan persaudaraan kami lebih kuat dari sebelumnya. Kami semakin sering menghabiskan waktu bersama. Menonton Persib bertiga bukan hanya kami lakukan di depan layar televisi, tapi sesekali juga di stadion.

Dari bangku penonton, atmosfer menyaksikan laga klub kebanggaan sungguh berbeda. Pengalaman istimewa yang biasanya terjadi di akhir pekan ini mampu mengisi kembali energi yang terkuras untuk beraktivitas selama satu pekan kerja. Banyak emosi tumpah di sana: kegembiraan melihat performa klub terus meningkat di lapangan, amarah menyaksikan tim kecolongan gol atau dicurangi petugas, dan keharuan mengetahui Persib berhasil meraih kemenangan.

Menonton dan mendukung Persib adalah healing dari kepenatan. Akhir pekan tanpa pertandingan terasa sangat hampa.

Namun tak hanya di akhir pekan, Persib hadir konstan dalam keseharian. Ia seperti napas.

Ikut konveri Persib juara 2024. (Foto: Sri Maulani)
Ikut konveri Persib juara 2024. (Foto: Sri Maulani)

Dari Kampus ke Stadion

Saat memasuki masa perkuliahan, aku bergabung dengan komunitas pendukung Persib. Di Viking UIN Bandung, atau kami menyebutnya VUB, aku bertemu dengan teman-teman yang kemudian menjadi seperti keluarga. Latar belakang jurusan kuliah kami berbeda, tapi bersatu sebagai sesama pendukung Persib.

Dari Persib, bahan diskusi di VUB merambat ke mana-mana. Mulai dari tugas kuliah sampai urusan budaya. Setelah lulus, obrolannya bergeser ke pekerjaan dan informasi lowongan pekerjaan.

Selama bergabung dengan VUB, aku semakin sering ke stadion, semakin sering bertemu dengan beragam karakter orang. Di sana, persaudaraan semakin terasa. Simpul-simpul yang mengikatnya adalah momen-momen perayaan khusus seperti acara peringatan ulang tahun Persib dan konvoi juara.

Di momen konvoi Persib juara Liga 1 2024, aku menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana orang yang sama sekali tidak saling kenal sebelumnya, bisa tiba-tiba akrab. Bukan hanya bernyanyi dan menyambut Persib bersama, kami juga berbagi makanan dan saling membantu satu sama lain. Di beberapa ruas jalan, beberapa orang dan kelompok bahkan secara sengaja menggelar 'hajatan' atas juaranya sang kebanggaan.

Ada juga cerita viral tentang tiga orang remaja asal Bandung Selatan yang tidak tahu arah jalan pulang usai konvoi Persib juara. Mereka kebingungan sebelum akhirnya ditolong oleh sesama pendukung Persib.

Aku ingat, di momen yang sama, adikku sendiri juga mengalami hal serupa. Kami terpisah saat konvoi dan HP-nya kehabisan baterai. Padahal adikku jarang main ke wilayah Bandung kota dan tidak tahu rute pulang ke rumah karena sebagian besar jalan ditutup saat malam hari. Dia dan temannya hampir nyasar. Beruntung, ada para pendukung Persib peserta konvoi yang mengantar sampai jalan dekat rumah.

Menjadi pendukung Persib juga memperpanjang silaturahmi. Entah sudah berapa banyak kenalan yang aku dapat. Beberapa temanku bahkan menemukan pasangan hidup dari sana.

Baca Juga: CERITA DARI LAPANGAN BARUTUNGGAL: Persib dan Terasingnya Sepak Bola Tarkam
Persib, Bandung, dan Kota yang Belajar Percaya pada Kemustahilan

Menjadi Sandaran Hidup dan Referensi

Bukan hanya urusan personal, Persib sudah menjadi sumber kehidupan bagi para pelaku usaha kecil, mulai dari kuliner hingga fesyen. Nama klub ini ditempelkan dalam beramcam produk mereka: cireng Persib, cilok Persib, mie ayam Persib, atau cuanki Persib.

Penambahan embel-embel Persib tersebut, menurutku, bukan semata karena para pelaku usaha tersebut pendukung Persib. Lebih dari itu, dengan basis pendukung Persib yang besar, mereka berharap strategi itu akan mendongkrak daya jual produknya. Nama adalah doa. Aku sendiri kerap memilih jajanan yang ada embel-embel Persib-nya.

Di sektor fesyen, penjual atribut Persib menjamur di berbagai daerah. Dari distro dan pertokoan hingga pinggir jalan. Setiap ada pemain baru Persib, tak butuh waktu lama bagi para penjual jersey di pinggir jalan untuk menjualnya.

Meskipun menyadari produknya tidak original, mereka meniatkan usaha sebagai alternatif bagi para pendukung Persib yang tetap ingin mendukung tim kebanggaannya dengan menggunakan jersey tapi tak mampu membeli jersey original yang harganya dibanderol ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah. Jersey versi low budget jadi pilihan.

Demam Persib juga merambah ke usaha pangkas rambut. Aku sering menyaksikan, tidak sedikit para pendukung ingin meniru gaya potongan rambut para bintang Persib yang sering mengubah gaya.

Performa Persib yang terus meningkat juga menjadi angin segar bagi para pelaku industri kreatif seperti kreator konten. Saat ini banyak kanal di YouTube dan kreator konten di media sosial seperti Tiktok dan Instagram yang lebih sering membahas Persib dibanding klub bola lainnya. Pembahasan terkait klub bola asal Bandung ini dapat menarik penonton lebih luas, baik para pendukung maupun penikmat sepak bola Tanah Air.

Aku menyadari bahwa Persib belum sempurna. Masih banyak hal yang perlu dibenahi, baik oleh tim, manajemen, atau juga kami sebagai pendukungnya. Mulai dari kegagalan Persib di babak 16 besar Asian Champions League Two hingga reaksi sejumlah oknum pendukung yang kerap turun ke lapangan sebagai bentuk kekecewaan.

Namun di luar itu semua, aku melihat bahwa Persib kini mulai layak dijadikan referensi, yang tak jarang memuat iri. Performa yang terus meningkat didukung oleh fasilitas dan tata kelola manajemen yang semakin baik, serta kedekatan hubungan dengan suporter.

Terima kasih, Tuhan, aku Bobotoh!

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//