Deru Musik di Kampung Kota, Aktivasi Seni Membela Warga Dago Elos
Festival musik eksperimental di Dago Elos menjadikan seni bukan sekadar pertunjukan, melainkan strategi menjaga ruang hidup dan membangun solidaritas.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah3 Juni 2026
BandungBergerak - Dengung modular synthesizer memecah udara Terminal Dago Elos. Bunyi elektronik yang ritmis sesekali mengajak kepala mengayun dan kaki bergerak pelan. Namun suasana itu segera retak oleh distorsi, letupan, dan gema yang keluar dari synthesizer, sampler, drum machine, hingga perangkat lunak di laptop para musisi.
Selama tiga hari, 29–31 Mei 2026, Terminal Dago Elos berubah menjadi ruang pertemuan puluhan musisi noise dan eksperimental dari berbagai daerah. Melalui Experimental Festival (Expfest) bertajuk The Land of Nausea, sekitar 32 musisi bergantian menampilkan komposisi berbasis dengung mesin, frekuensi elektronik, rekaman lapangan, hingga suara-suara yang kerap dianggap gangguan.
Namun festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik. Di tengah sengketa lahan yang masih dihadapi warga Dago Elos, Expfest menjadi bagian dari upaya menghidupkan ruang yang terus terancam kehilangan fungsi sosialnya. Kampung kota yang dihuni sekitar 300 kepala keluarga di lahan seluas 6,3 hektare itu masih menunggu proses Peninjauan Kembali (PK) kedua di Mahkamah Agung.
Di Dago Elos, seni tidak berdiri sebagai hiburan. Ia menjadi aktivasi ruang—cara untuk mempertahankan kampung agar tetap hidup sebagai tempat tinggal, berkumpul, dan bersuara. Panggung musik, pertunjukan visual, dan pertemuan komunitas mengembalikan fungsi ruang yang dipertaruhkan. Cahaya visual dari Cultura dan Scarlet Motif memperkuat suasana, menjadikan terminal sebagai ruang kolektif antara warga, seniman, dan publik yang memberi dukungan.
Ayang, warga Dago Elos, berdiri di antara kerumunan pengunjung. Ia mengenakan jaket dan bucket hat, matanya terpejam menikmati dentuman bunyi yang memenuhi ruangan.
“Kalau dari jauh rasanya berbeda. Tapi kalau berdiri dekat perangkatnya, dentumannya terasa sampai dada dan jantung. Sensasinya justru menyenangkan,” ujarnya.
Bagi Ayang, tidak semua warga akrab dengan musik noise. Namun rangkaian kegiatan seni yang hadir di Dago Elos membuka ruang perjumpaan yang lebih luas antara warga dan publik luar.
Dari berbagai acara yang berlangsung selama bertahun-tahun, ia melihat dukungan datang dari banyak arah: musisi, seniman, mahasiswa, hingga komunitas yang sebelumnya tidak mengenal persoalan kampung ini.
“Kalau orang lain keluar rumah untuk memperjuangkan kita, sementara kita diam di rumah, itu tidak baik,” katanya.
Kesadaran itu tumbuh seiring panjangnya konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Bagi warga Dago Elos, mempertahankan ruang tidak hanya dilakukan melalui jalur hukum, tetapi juga dengan menghidupkan kembali kampung melalui seni, budaya, dan pertemuan kolektif.
“Perhatian yang mereka berikan kepada perjuangan kami. Semua itu sangat berarti,” ujar Ayang.
Baca Juga: Warga Dago Elos ke Jakarta Lagi, Mengawal PK Kedua dan Menagih Peran Negara
Warga Dago Elos Geruduk Jakarta demi Hak atas Tanah
Seni sebagai Jaringan Solidaritas
Di tengah lapisan bunyi yang padat, Poppie Airil berdiri di balik meja kecil yang dipenuhi kabel dan pedal efek. Ia memutar kenop, menyusun dengung, desis, dan distorsi yang perlahan memenuhi ruangan. Sesekali suara terputus, menyisakan hening singkat sebelum kembali meledak.
Dalam proyek harsh noise bernama Sunyi, bassist Efek Rumah Kaca itu justru menemukan makna di sela-sela kebisingan. Ada momen ketika suara berhenti beberapa detik. Menurut Poppie, justru bagian itu yang penting.
“Karena itu saya memilih nama Sunyi, meskipun teman-teman sering bercanda bahwa musik saya sama sekali tidak sunyi," ujar Poppie.
Meski baru beberapa tahun aktif di skena noise, Poppie melihat ekosistem musik eksperimental di Indonesia tumbuh dari jaringan komunitas yang saling menopang. Ruang-ruang kecil di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, hingga berbagai kota lain terhubung melalui pertunjukan mandiri, tur kecil, dan kolaborasi lintas kota.
Semangat itu, menurutnya, sejalan dengan kultur punk dan hardcore yang bertumpu pada kemandirian komunitas. Pertunjukan kecil menjadi titik temu antara musisi, seniman, dan kelompok-kelompok yang tengah memperjuangkan ruang hidupnya masing-masing.
Ruang tersebut dinilai penting karena mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Hal serupa disampaikan Tjoet Ayu atau Icut, musisi technoise yang tampil bersama suaminya. Ia melihat noise bukan hanya ekspresi artistik, tetapi juga ruang sosial yang memungkinkan emosi dan pengalaman dibagi secara kolektif.
“Bagi kami, musik ini bukan sekadar bunyi-bunyian yang berisik, tetapi ruang untuk bertemu, berekspresi, dan membangun komunitas,” jelasnya.
Terkait Dago Elos, pertemuan itu melampaui panggung. Tapi menjadi medium solidaritas yang mempertemukan warga dengan publik luar, serta memperluas dukungan terhadap perjuangan mempertahankan ruang hidup dari ancaman penggusuran.
Expfest sendiri memasuki tahun ketiganya dengan model penyelenggaraan mandiri. Pendanaan festival dihimpun dari penjualan merchandise dan dukungan komunitas, tanpa bergantung pada sponsor.
Bagi Udin, salah satu penyelenggara, kemandirian itu adalah sikap untuk menjaga ruang tetap berada di tangan komunitas.
“Yang kami inginkan sederhana, ini menjadi ruang silaturahmi bagi teman-teman yang memainkan musik elektronik dan eksperimental, terutama di Bandung,” ujarnya.
Pemilihan Dago Elos sebagai lokasi festival berangkat dari kesadaran atas krisis ruang yang terjadi di banyak kota. Di tengah semakin menyempitnya ruang publik dan konflik lahan yang berulang, Dago Elos menjadi representasi persoalan tersebut.
Karena itu, Expfest tidak hanya dipahami sebagai festival musik. Tapi menjadi bentuk aktivasi ruang—cara untuk menjaga agar kampung tetap hidup di tengah ancaman penggusuran.
Udin menegaskan, musik eksperimental bukan hanya soal bunyi melainkan juga cara membaca situasi sosial.
Seiring waktu, festival ini berkembang menjadi ruang perjumpaan antara warga, seniman, dan komunitas dari berbagai daerah. Mereka bertukar pengalaman, membangun jejaring, dan memperluas solidaritas di luar forum formal.
Mengusung tema The Land of Nausea, Expfest mengajak publik membaca ulang realitas perkotaan yang ditandai narasi pembangunan dan urbanisasi. Di tengah arus itu, festival menjadi pengingat bahwa ruang hidup, ruang berekspresi, dan ruang berkumpul adalah hal yang terus dipertaruhkan.
Udin menjelaskan, noise bukan sekadar gangguan. Ia juga dapat dibaca sebagai ekspresi kegelisahan atas ketidakadilan dan tekanan yang dialami warga sehari-hari.
Minggu malam menjadi penutup festival. Panitia membongkar panggung, menggulung kabel, dan merapikan peralatan. Perlahan, dengung yang selama tiga hari memenuhi Terminal Dago Elos menghilang.
Namun aktivasi ruang yang dibangun tidak ikut selesai. Di tengah sengketa yang belum tuntas, Dago Elos kembali menunjukkan bahwa mempertahankan kampung tidak hanya berlangsung di ruang sidang. Seni, pertemuan warga, dan aktivitas kolektif menjadi cara lain untuk menjaga ruang tetap hidup, digunakan, dan diingat.
Selama ruang itu terus diisi oleh pertemuan dan solidaritas, kampung tidak berhenti menjadi ruang hidup—meski status hukumnya masih dipertaruhkan.
Aktivasi Seni dalam Konflik Ruang Kota Bandung
Di Bandung, kesenian kerap hadir bukan hanya sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai respons atas konflik ruang kota. Pameran, pertunjukan musik, diskusi, hingga festival kampung menjadi medium solidaritas di tengah ancaman penggusuran.
Catatan LBH Bandung mencatat sedikitnya delapan kasus penggusuran paksa sepanjang 2015–2022, mulai dari Kampung Kolase, Kebon Waru, Kebon Jeruk, Tamansari, Binong Jati, Anyer Dalam, hingga Jalan Laswi. Sejumlah kawasan lain seperti Dago Elos, Jalan Bima, Jalan Samba, dan Kiaracondong masih menghadapi ancaman serupa.
Di berbagai kasus tersebut, seni dan aktivitas budaya muncul sebagai bagian dari respons warga dan jaringan solidaritas. Ia tidak berdiri di luar konflik, melainkan menjadi cara untuk menjaga ingatan, memperluas dukungan, dan mempertahankan keberadaan ruang yang terancam hilang.
Dalam satu dekade terakhir, kampung-kampung kota di Bandung juga menghadapi tekanan proyek pembangunan dan klaim kepemilikan lahan. Kampung Kolase berubah menjadi Teras Cihampelas, Tamansari digusur untuk proyek rumah deret, sementara Anyer Dalam dan Jalan Laswi terdampak kebijakan pengamanan aset PT KAI. Konflik serupa juga terjadi di Sukahaji, di mana sejumlah RW menghadapi ancaman penggusuran akibat sengketa lahan.
Di tengah situasi itu, berbagai inisiatif kebudayaan terus muncul sebagai bentuk aktivasi ruang. Festival Kampung Kota (FKK) digelar pertama kali di Dago Elos pada 2017, berlanjut di Tamansari pada 2019, dan kembali di Dago Elos pada 2023.
Selain itu, berbagai kegiatan lain juga digelar, seperti Festival Keadilan (2024), konser musik cadas “Muller Penipu” (2023), Festival Bandung Menggugat (2025), hingga “Malam Solidaritas Sukahaji Melawan” di Sukahaji pada April 2025.
Rangkaian itu menunjukkan bahwa seni di kampung kota tidak pernah sepenuhnya terpisah dari persoalan ruang. Seni justru menjadi bagian dari cara warga dan jaringan pendukungnya menjaga keberadaan kampung—bukan hanya sebagai lokasi fisik, tetapi sebagai ruang hidup yang terus dipertahankan.
* Mari membaca tulisan-tulisan lain Muhammad Andi Firmansyah, atau artikel-artikel lain tentang Perjuangan Warga Dago Elos


