CATATAN SI BOB #44: Haiku Acep Zamzam Noor, Sebuah Latihan Memerhatikan
Kumpulan haiku Acep Zamzam Noor dalam Remang Jalan ke Surau, menyodorkan bentuk yang hemat sebagai penawar atas inflasi kata-kata yang melanda kebudayaan kita.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
8 Oktober 2026
BandungBergerak – Di layar ponsel yang menyala dan gelisah saban detik, amarah diproduksi tanpa henti. Saya teringat survei yang menempatkan netizen Indonesia pada tingkat kesopanan paling rendah di Asia Tenggara, sebuah statistik yang tak mengejutkan sebenarnya. Di jalan-jalan, di kolom komentar, di panggung politik, orang-orang saling berteriak dan memekik. Kita hidup di era ketika tiap orang merasa wajib punya pandangan mutlak atas segalanya, tapi kurang punya waktu untuk mendengar.
Yang lebih celaka adalah pangkal dari kebisingan itu: tumpulnya rasa peka. Konon, rentang daya perhatian manusia hari ini lebih pendek dari seekor ikan mas. Kita tak sanggup lagi menatap satu objek lebih dari delapan detik tanpa jemari gatal menggeser layar. Ketika perhatian terus disedot hal-hal besar, dan kadang histeris; kekuasaan, angka saham, bencana alam, atau jeritan moral; hal-hal kecil di sekitarnya perlahan lenyap.
Kita, seakan, berjalan menyeberangi hari demi hari tanpa sempat lagi melihat bagaimana langit berganti.
Di tengah situasi sumpek inilah, kumpulan haiku Acep Zamzam Noor (AZN), Remang Jalan ke Surau (Pustaka Jaya, 2026), sampai ke hadapan kita. Pada bagian pertamanya, Ayam Berkokok, rangkaian 72 haiku yang ditulis Acep sepanjang tahun 2015, ada sebuah laku yang hening: sebuah latihan memerhatikan.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #41: Konser Pejalan
CATATAN SI BOB #42: Kisah Peta Naga
CATATAN SI BOB #43: Formulir Puisi
Haiku Priangan
Haiku, kita tahu, bukan permainan kata yang pelit. Ketika Basho menyusuri jalan sempit ke pedalaman utara Jepang di abad ke-17, ia tak sedang mencatat pemandangan untuk brosur wisata. Ia menangkap mono no aware: kesadaran yang getir bahwa benda-benda di sekitar terasa indah justru karena mereka fana. Haiku hadir bukan cuma untuk memberi nasihat. Lebih dari itu, membedah bagaimana mata menatap dunia tanpa niat menguasainya.
Sejak abad ke-17, haiku mengembara jauh keluar dari kepulauan Jepang. Haiku merembes ke Barat, mengilhami gerakan Imagism Ezra Pound yang memangkas dekorasi bahasa, lalu masuk ke Indonesia dan dicoba oleh Subagio Sastrowardoyo hingga Saini KM. Memang ada risiko ketika bentuk ini disalin: hanya jadi cangkang eksotisme atau sekadar tiruan Zen yang terasing dari kenyataan lokal. Namun di tangan AZN, jebakan itu luruh. Ia tak berpura-pura menjelma petapa di Kyoto yang terpesona sakura. Haiku diserapnya menjadi bagian dari bau tanah, warna lembayung, dan napas Priangan.
AZN bukan orang baru di panggung puisi kita. Sejak Tamansari di era 80-an, lirik-liriknya dikenal kaya akan citraan visual: sebuah kepekaan seorang pelukis lulusan ITB yang paham bagaimana cahaya bekerja di atas kanvas. Dalam disiplin haiku yang ketat, kepekaan itu tak meluap jadi dekorasi. Ia justru memadatkannya hingga ke batas paling ‘sari’.
Tengok konstruksi larik haiku nomor 2: “pagi berlalu / embun di daun talas / bergulir pelan”. Larik pertama menetapkan sangkala yang abstrak (pagi berlalu), tetapi larik kedua dan ketiga mendadak bergeser menjadi sesuatu yang konkret dan ringkih (embun di daun talas / bergulir pelan). AZN memanfaatkan teknik dasar haiku: menyejajarkan dua hal yang kontras tanpa kata penghubung.
Dalam haiku tersebut, waktu bergeser tak tertahan, langsung beradu dengan setetes air di atas daun licin. Tak ada verba agresif di sana. Kata "bergulir" bukan sekadar gerak, melainkan penundaan: momen yang sengaja ditahan oleh mata penyair sebelum embun itu jatuh, hilang ditelan tanah. Fenomena itu seperti tamparan untuk manusia hari ini yang melulu rusuh. Begitu terobsesi mengejar masa depan hingga lupa bahwa keindahan justru bersembunyi pada detik-detik yang hendak musnah.
Ketegangan kian terasa tatkala fenomena alam berkelindan dengan ruang spiritual, seperti dalam haiku nomor 71: “menjelang subuh / di surau pinggir kolam / kerlip lentera”. AZN menyusun transisi imaji visual layaknya kamera yang melakukan zooming in. Larik pertama memancangkan batas waktu. Larik kedua memberi jangkar tempat bersahaja. Dan larik ketiga mempersempit sudut pandang pada satu-satunya fokus: kerlip lentera. Di tengah zaman, ketika agama dipamerkan secara kolosal dan penuh pengeras suara intimidatif, AZN seakan ingin mengembalikan pencarian spiritual ke titik yang intim dan terancam padam, bukan pada kubah kemegahan.
AZN pun berkali-kali menegaskan kepekaan dengan ruang dengar. Pada haiku nomor 38, “sayup karinding / di sepertiga malam / betapa hening”, ia tak menggambarkan keheningan ruang kosong. Keheningan, baginya, justru hadir lewat instrumen bambu yang tipis (sayup karinding). Ada paradoks menakjubkan: bunyi tak lagi merusak kesunyian, namun jadi alat ukur seberapa dalam keheningan itu sendiri. Kita yang biasa dijejali bising notifikasi atau dentum musik komersial, tiba-tiba diingatkan bahwa telinga kita, barangkali, telah tuli akan bisikan-bisikan murni.
Begitu pula pada haiku nomor 49 dan 50, ketika AZN menukik pada pengalaman indrawi yang purba: “sehabis hujan - / aroma lumpur hitam / samar tercium” serta “buliran embun / di ujung daun pisang / pematang basah”. Ia memungut petrichor, aroma tanah basah, bukan untuk pamer romantisasi desa. Ia menggunakannya sebagai terapi eksistensial, seakan memaksa kita mengingat bahwa sebelum menjadi konsumen data dan angka-angka produktivitas, kita adalah bagian dari lumpur, air, dan daun yang membusuk.
Perjalanan tersebut memuncak pada haiku nomor 72 yang menutup bagian pertama: “menuju surau / lewat pematang basah / ayam berkokok”. AZN tak menutup siklusnya dengan kesimpulan muluk filosofis atau frasa moralis. Ia justru hanya menyejajarkan gerak tubuh (menuju surau), sentuhan fisik (pematang basah), dan bunyi fajar (ayam berkokok). Ritme ini sederhana, tetapi mengembalikan fungsi bahasa ke wilayah yang murni: mencatat keberadaan tanpa niat menilai.
Barikade Sunyi
Pilihan struktur hemat dan terkesan bersahaja ini, menjadi krusial di tengah situasi hari ini. Di Jawa Barat, ribuan hektar sawah dan bukit lenyap saban tahun. Digilas beton industri dan real estate. Ketika alam perlahan dihancurkan dan ruang hidup kita makin terisolasi dalam citra artifisial, larik-larik AZN dalam kumpulan haiku ini seakan bekerja bagai barikade sunyi. Ia menolak Bahasa Indonesia yang riuh oleh retorika buzzer, janji politik, dan slogan heroik, lalu menyodorkan kembali bahasa yang bersih, dingin, dan murni dari propaganda.
Memerhatikan, dalam haiku-haiku ini, akhirnya bukan lagi sekadar teknik menulis puisi. Tapi sikap hidup. Kedudukan kumpulan haiku Acep Zamzam Noor ini adalah penanda dalam peta sastra kita karena menolak jadi besar. Tak ada pamer ketangkasan atau teoretis. Ia menyodorkan bentuk yang hemat sebagai penawar atas inflasi kata-kata yang melanda kebudayaan kita akhir-akhir ini, di tengah glamornya sayembara dan panggung-panggung seni.
Sepanjang membaca, saya seperti diajak berdiri di atas pematang yang makin menyempit, sendiri, tugur dalam refleksi, menatapi dunia yang tak pernah sepenuhnya bisa kita kuasai.
07/10/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


