CATATAN SI BOB #43: Formulir Puisi
Tak ada yang tahu pasti di gerbang mana kejujuran sebuah puisi lebih mungkin diuji.

Bob Anwar
Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]
25 September 2026
BandungBergerak – Di sebuah gang sempit Dago Pojok, seorang pedagang menata gerobak sebelum subuh. Di balik terpalnya, ada map plastik berisi fotokopi KTP, surat keterangan domisili, formulir yang harus diperbarui tiap tahun. Ketika petugas datang, bukan rasa dagangan yang ditanya. Bukan pula sisa kerugian semalam. Yang dicari nomor registrasi. Lapak yang sah bukan lapak yang enak, lapak yang terdata.
Puisi Jawa Barat, kini punya map plastiknya sendiri. Sayembara meminta formulir digital: nama lengkap, nomor kontak, tema wajib, jumlah baris maksimal, tenggat yang tak bisa ditawar. Kurasi antologi meminta CV kepenyairan: rekam jejak yang terverifikasi, bukti tampil di panggung yang diakui. Siapa lolos, dipersilakan. Siapa yang tak melampirkan riwayat, tenggelam seolah tak menulis apa-apa. Kecuali di lini masa. Di sana tak ada kolom bionarasi, tak ada tenggat yang mengunci. Puisi berpindah dari satu layar ke layar lain tanpa nomor registrasi. Pada akhirnya, lini masa Bandung tak beda dengan lini masa kota mana pun di republik ini.
Tapi bebas dari formulir bukan bebas dari geografi. Dinas boleh berhenti bertanya nomor registrasi begitu puisi sampai gawai, tapi kabut di Puncak Bogor tetap membawa dingin yang lain dari kabut yang menyelinap ke pemukiman padat di balik Terminal Ledeng. Seorang penyair tetap membawa jejak tanahnya ke dalam larik, sadar atau tidak, bahkan setelah puisinya lepas dari verifikasi apa pun.
Baca Juga: CATATAN SI BOB #40: Setelah Trik Putu Wijaya
CATATAN SI BOB #41: Konser Pejalan
CATATAN SI BOB #42: Kisah Peta Naga
Tiga Gerbang
Map plastik yang menuntut riwayat dan tenggat itu tak muncul dari kekosongan. Koran dengan kolom budaya mingguan sudah nyaris punah dan sirkuit festival-sayembara mengambil alih sebagian fungsinya tapi dengan logika berbeda: kebanggaan kini datang bukan dari karya yang mengendap di ingatan pembaca, melainkan dari menang, diundang, tampil di panggung. Sementara itu, penyelenggara mulai mengukur dengan bahasa pasar: berapa peserta, berapa sponsor, berapa terjual. Bandung Berpuisi, salah satu gerakan literasi komunal di kota ini, mencatat lonjakan kiriman sajak dari volume ke volume. Bukti minat memang deras, meski itu belum menjawab inti pertanyaan: sedang berlatih apa sebenarnya orang-orang itu, ketika menulis.
Gerbang kedua lebih tua dan sunyi, tumbuh jauh sebelum gawai: dualisme corak yang mewarisi dua nama besar. Di satu sisi, lirik pastoral-religius ala epigonisme Acep Zamzam Noor. Di sisi lain eksperimentasi objek kota yang meniru mentah-mentah kelebatan bahasa Afrizal Malna. Kedua formulir tak tertulis ini diwariskan dari dekade ke dekade lewat ruang komunitas dan rubrik sastra lokal, jauh sebelum algoritma ada untuk dituduh sebagai biang keladinya.
Gerbang ketiga paling baru, dan justru paling telanjang bentuknya: template.
Canva menyediakan ratusan kerangka siap pakai; kotak putih, huruf serif tipis, latar warna pastel; dan menurut riset Nur Amelia (2026) di Universitas Samudra, puisi media sosial memang bergeser dari "puisi batin" menuju "puisi performatif-visual," di mana tipografi digital menjadi bagian struktur makna itu sendiri. Riset atas akun @sajakliar oleh Universitas Pendidikan Ganesha mencatat gejala yang sama lebih dini. Corak yang dulu diperdebatkan meluruh jadi diksi latah: "hujan", "sepi", "malam", "ketiadaan", dipajang di atas foto senja yang itu-itu saja.
Nirwan Dewanto menyampaikan dalam ceramahnya di Borobudur Writers and Cultural Festival, November 2024, bahwa era digital mempercepat matinya kebiasaan membaca dekat, kritik sastra, dan kajian sastra bandingan. Sebuah kajian di Jurnal Salaka pada 2019 sudah lebih dulu mencatat pertengkaran serupa: kritikus senior yang meragukan kualitas, versus mereka yang merayakan demokrasi sastra. Tujuh tahun kemudian, kedua kubu itu masih berdiri di tempat yang sama, hanya lebih lelah.
Di seberang lini masa yang serba instan itu, berdiri gerbang lain yang tak kalah dingin: lorong-lorong kampus, akademisi, dan jurnal-jurnal penelitian yang terkunci rapat, tempat sastra sering dibebani jargon-jargon berdebu, seolah pengetahuan hanya berhak hidup-menghidupi mereka yang bergelar. Berdiri di antara dua kutub itu; lini masa yang terlalu longgar dan menara gading yang terlalu tertutup; adalah posisi yang cemas. Tak ada yang tahu pasti di gerbang mana kejujuran sebuah puisi lebih mungkin diuji.
Keotentikan
Ada yang tak menunggu jawaban atas pertanyaan itu. Dari Jakarta, buku Seberapa Indie karya Hamzah Muhammad, diterbitkan Warning Books 2025, masuk Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Ia membawa kembali spirit Puisi Mbeling era 1970-an yang dibidani Remy Sylado di Bandung lewat majalah Aktuil: menolak keangkuhan estetika lewat humor, satire, dan dekonstruksi. Sebagaimana dicatat Afrizal Malna dalam epilognya, Hamzah mengembalikan puisi ke akar tuturan lisan urban.
Dian Hartati menempuh jalan berlawanan. Penyair asal Bandung ini tak perlu mengisi formulir sayembara atau menunggu pengumuman daftar pendek. Pengakuannya datang dari mulut Acep Zamzam Noor sendiri, yang menyebut pergulatannya dengan kata sebagai sesuatu yang keras, namun tetap mampu menyajikan persoalan abstrak dengan kekentalan. Dalam Tubuhku Dalam Percintaan Platonik, Masangin, Kopula, dan Akolade, ia menggugat lewat simbol tubuh, bukan lewat kelakar seperti Hamzah. Legitimasinya bukan dari panitia atau juri, melainkan dari sesama penyair yang mengenali pergulatan serupa.
Pierre Bourdieu membedah dua kutub produksi budaya: medan tertutup yang menolak logika laku-tidaknya karya, dan pasar seluas-luasnya tempat nilai ditentukan angka. Hamzah diakui lewat kolom yang disediakan lembaga; Dian diakui tanpa kolom sama sekali. Dua jalan berlawanan arah, sampai ke titik yang sama: diakui karena menolak kerangka yang tersedia, atau karena kerangka itu memang tak pernah relevan baginya sejak awal.
Penyeragaman, tentu saja, sudah lama ada sebelum algoritma diciptakan, hanya dulu butuh bertahun untuk menular dari guru ke murid, sementara kini cukup semalam lewat salinan digital. Ahmad Faisal Imron pernah menegaskan itu lebih sederhana, dalam sebuah residensi puisi di Lemburawi tahun 2012: carilah rujukan lain, jangan melulu Kang Acep, jangan melulu Kang Acep.
Acep Zamzam Noor sendiri mulai menulis 1976, menerbitkan Tamparlah Mukaku! pada 1982, dan masih dikaji sampai sekarang. Ratna Ayu Budhiarti menempuh jalan yang lebih panjang lagi, dari Magma, Sebelas Hari Istimewa, hingga Dada yang Terbelah. Dua nama, dua kecepatan berbeda, satu pola yang sama: endapan kesabaran sebagai modal untuk mengasah bentuk di dalam keriuhan, bukan pelarian darinya.
Apakah memilih nama-nama tua dan pengecualian langka ini cuma cara menutup mata dari deras arus yang sebenarnya? Bisa jadi. Tapi ada beda antara penghiburan yang menutup pertanyaan dan penghiburan yang justru memaksanya tetap terbuka.
Puisi performatif-visual yang disebut Amelia, pada akhirnya, adalah wajah yang dipoles untuk dilihat, bukan suara yang digali untuk didengar. Nietzsche, sudah menduga kenapa manusia nyaris tak pernah punya Trieb zur Wahrheit atau “dorongan murni”: mereka terlalu asyik dengan tipu daya, sanjungan, dan pentas. Bedanya cuma satu: dulu topeng harus diukir sendiri, sekarang tinggal diunduh. Dan yang membedakan satu penyair dari seribu lainnya bukan lagi ketekunan, melainkan siapa yang masih bersedia mengukirnya sendiri, sementara sembilan ratus sembilan puluh sembilan yang lain sudah keburu mengunduh yang gratis.
24/09/2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


