• Kolom
  • CATATAN SI BOB #40: Setelah Trik Putu Wijaya

CATATAN SI BOB #40: Setelah Trik Putu Wijaya

Monolog “Trik” karya Putu Wijaya bercerita tentang orang yang mencintai negerinya dengan gelisah, yang menolak berpura-pura tak melihat apa yang keliru.

Bob Anwar

Musisi dan penulis asal Kota Bandung. Dapat di hubungi di Instagram @bobanwar_ atau [email protected]

Membaca buku bukan kejahatan. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

20 Agustus 2026


BandungBergerak – Bangsa, tulis Benedict Anderson, adalah komunitas yang dibayangkan, sebuah kesepakatan kolektif untuk percaya bahwa jutaan orang yang tak saling bertemu adalah "kita". Kesepakatan itu butuh pemeliharaan terus-menerus: bendera, lagu, upacara, kata-kata yang diulang sampai terasa alami. Tapi kesepakatan macam itu biasanya rapuh. Kerapuhannya justru tampak pada saat-saat dipertahankan.

Trik, monolog pendek Putu Wijaya, dimulai dari kerapuhan tersebut. Seorang lelaki ditanya wartawan apakah ia bangga menjadi orang Indonesia, dan ia menjawab, "Tanpa berpikir lagi... singkat, tegas lugas: Tidak," sebuah jawaban spontan seseorang pada waktu yang salah. Jujur tanpa muatan gerakan politik apa pun.

Dalam hitungan jam, jawaban itu pindah tangan berkali-kali: dari kolom ke mulut, dari koran ke tetangga, dari warga ke aparat, dari hukuman ke agenda calon gubernur bernama Pak Amdal. Tak satu pun peduli pada konteksnya. Mereka hanya mengukur kegunaannya: sebagai alasan mengusir, dalih menampar, dan akhirnya, bahan pidato kampanye.

Yang paling licik dari lakon ini justru terasa lunak pada mulanya. Bukan kekerasan fisiknya yang berlebih: batu yang berhamburan, pistol yang dikokang, sel penuh bromocorah yang mendadak berhak marah demi kehormatan bangsa. Yang paling licik adalah adegan penyelamatan itu sendiri. Pak Amdal tak menghukum "Aku". Ia justru memungutnya dari amuk massa, lalu di depan puluhan mikrofon mengubah penyelamatan itu menjadi pertunjukan kearifan calon pemimpin, dilengkapi pidato tentang sembilan bencana nasional, seolah satu kalimat jujur seorang warga biasa layak disejajarkan dengan tsunami.

Tokoh "Aku" pulang, tapi tak lagi sebagai orang bebas. Ia pulang sebagai orang yang kalimatnya sudah ditebus, dengan mobil dan seorang menantu. Yang tersisa darinya hanya pengakuan di depan kamera: "Sekarang aku insaf dan bersumpah akan tetap bangga kepada Indonesia apa pun yang sudah dan akan terjadi. Biar para pemimpin korupsi aku akan terus berbakti!"

Baca Juga: CATATAN SI BOB #37: Beser di Bandara
CATATAN SI BOB #38: Ternyata Buku Puisi Bisa Sejelas ini
CATATAN SI BOB #39: Membaca Antologi Patah Hati

Keserupaan

Delapan belas tahun kemudian, di sebuah arena olahraga di Jakarta, kalimat dengan struktur serupa terdengar lagi. Kali ini suaranya berasal dari podium kenegaraan, bukan dari mulut warga yang ketakutan. "Bagi siapa yang menganggap masa depan Indonesia suram, dipersilakan mencari negara lain, sebab tak ada yang melarang." Demikian disampaikan presiden dalam sebuah peringatan hari koperasi.

Saya tak hendak menuduh pidato itu berniat jahat. Nasionalisme, sebagaimana pernah ditulis Orwell dalam esai lamanya, tak selalu tampil sebagai kebencian. Ia kerap muncul sebagai kegusaran kepala keluarga yang disalahpahami, dan karena itu berkata: kalau tak suka rumah ini, carilah rumah lain. Kalimat tersebut terdengar sabar, meski melupakan satu hal: rumah tak pernah menjadi milik satu orang yang kebetulan memegang kunci.

Yang menyusul kemudian bukan pengepungan seperti dalam Trik, melainkan fenomena yang lebih ganjil: sindiran massal. Warga rantau berbondong-bondong memotret diri di depan gedung-gedung asing, mengunggahnya dengan keterangan seolah melapor. Di balik gurauan itu, menurut sejumlah laporan media, tersembunyi angka yang tak bisa lagi dianggap lelucon. Ratusan warga negara dikabarkan mengajukan permohonan melepas status kewarganegaraan. Fenomena tersebut cukup menunjukkan sindiran itu tak sepenuhnya kosong.

Pidato itu, saya kira, hanyalah percikan, dan percikan jarang berdiri sendiri. Beberapa pekan sebelumnya, ribuan mahasiswa berkumpul di bundaran HI Jakarta. Mereka menyebut negeri ini menuju bangkrut, menuntut hal-hal yang tak muluk: harga bahan bakar yang wajar, anggaran yang tak diboroskan, pengakuan bahwa ada yang keliru dalam cara negeri ini dikelola. Tuntutan macam itu tak membutuhkan kata besar seperti "kebangsaan". Cukup dijelaskan oleh selisih angka di kuitansi, angka yang jauh lebih sulit dibantah ketimbang tuduhan kurang cinta tanah air.

Dan di sinilah, saya kira, lakon lama itu bertaut dengan hari ini. Ada kemiripan refleks kekuasaan ketika kritik terasa terlalu dekat dengan cermin. Yang muncul kali ini adalah kecurigaan, bukan percik solusi: bahwa aksi mahasiswa digerakkan oleh campur tangan asing. Diksinya memang telah berganti, dulu "provokator" dan "subversif" kini "intervensi asing", tapi fungsinya masih identik: memindahkan perkara dari kebijakan yang bisa diperdebatkan ke kesetiaan yang hanya ditakuti.

Ada cara lain, lebih sunyi, untuk mencapai hal yang sama, membuat keraguan sendiri terasa seperti dosa, tanpa perlu mencari musuh di luar sama sekali. Anggapan ini yang saya kira layak dipersoalkan: bahwa keraguan adalah lawan dari cinta. Dalam banyak tafsir keagamaan, keraguan justru dianggap tahap yang harus dilalui menuju iman yang matang, bukan pengkhianatan. Nasionalisme, berbeda dari keimanan, jarang sabar menunggu proses semacam itu. Ia menuntut jawaban final, diucapkan segera, di depan kamera.

Tokoh "Aku" dalam Trik adalah orang yang menolak memberi jawaban final itu dengan jujur, dan penolakannya itulah yang membuatnya berbahaya di mata orang-orang di sekeliling.

Menolak Berpura-pura

Barangkali yang ditakuti kekuasaan justru terlalu jelas untuk dikenali sebagai musuh: kebencian mudah diidentifikasi dan dilawan. Yang lebih ditakuti adalah orang yang mencintai negerinya dengan gelisah, yang menolak berpura-pura tak melihat apa yang keliru. Tokoh "Aku" menyimpan kalimat semacam itu di tenggorokannya sepanjang lakon. "Lahar panas" yang, katanya, "hanya tersangkut di tenggorokan, lalu dengan sekuat tenaga aku telan kembali masuk ke dalam perut", tanpa sempat diteriakkan di depan orang-orang yang justru paling perlu mendengarnya.

Menelan itulah kekalahannya yang sesungguhnya, lebih telak dari batu, dari pistol, dari sel tahanan sekalipun.

Pertanyaan yang diajukan wartawan di awal lakon itu, apakah kau bangga menjadi orang Indonesia, hanya tampak layak dijawab ya atau tidak. Setiap kali sebuah bangsa memaksakan jawaban tunggal atas pertanyaan yang sebenarnya rumit, yang sedang dipertahankan adalah ilusi bahwa kebangsaan itu tunggal, sederhana, dan tak boleh diragukan.

Republik yang sungguh percaya diri tak pernah perlu menagih bukti cinta dari warganya, sebagaimana rumah yang layak tak pernah perlu mengusir penghuninya yang mengeluh tentang atap yang bocor.

19/08/2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//